Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Perangkap Sendiri
Setelah sampai di rumahnya, Rayyan langsung menelepon ibunya. Dia menceritakan semua obrolannya dengan Ayra tadi.
"Kurang ajar, berani banget tuh perempuan! Pakai mengancam gugat balik segala, kayak yang mengerti hukum saja," gerutu Elly di seberang telepon dengan nada meremehkan. Suaranya keras, sampai Rayyan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tapi apa yang dia omongkan itu benar, Bu. Kalau aku memanipulasi data harta yang dihasilkan di dalam pernikahan kami, maka aku akan dianggap memberikan keterangan palsu dan itu melawan hukum, Bu."
"Halah! Kamu jangan mau ditakut-takuti sama si Ayra, Rayyan!" Elly menyahut dengan sengit.
"Dia itu cuma ibu rumah tangga yang kerjanya di dapur. Paling dia cuma dengar-dengar dari televisi atau baca di internet. Kamu itu yang punya posisi di perusahaan besar, masa kalah gertak sama perempuan seperti dia?"
Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih terbayang sorot mata Ayra yang begitu tenang namun mematikan.
"Tapi Masalahnya, Bu, cara dia bicara tadi beda. Ayra bukan seperti Ayra yang biasanya. Dia tahu pasal-pasal dan istilah hukum yang bahkan aku sendiri tidak paham."
"Itu cuma akting supaya kamu takut dan kasih dia uang banyak!" potong Elly cepat. "Pokoknya ibu tidak mau tahu. Kamu harus pastikan dia tidak dapat sepeser pun. Harta kamu itu hasil kerja keras kamu sendiri, dia tidak ada andil apa-apa selain menghabiskan uangmu untuk makan dan tinggal di rumah kamu."
Rayyan terdiam. Kata-kata ibunya selalu berhasil memengaruhi logikanya, meskipun nuraninya berkata bahwa Ayra tidak sedang menggertak sambal.
"Dengar ya, Rayyan," suara Elly merendah namun penuh penekanan.
"Segera bereskan urusan perceraian ini. Jangan sampai bos kamu di kantor tahu kalau kamu punya masalah rumah tangga yang berbelit-belit. Bisa-bisa kariermu terhambat kalau dianggap tidak becus mengurus masalah pribadi."
Mendengar kata "bos", Rayyan langsung teringat pada Zavian. Ibunya benar. Apalagi Zavian adalah sosok yang perfeksionis. Jika ada sedikit saja kesalahan, maka kepercayaan laki-laki itu padanya akan hilang. Dan itu akan mempengaruhi posisinya di kantor.
Namun yang tidak Rayyan ketahui adalah, bahwa pria yang ia segani itu baru saja berdiri di depan pintu rumah yang baru ia tinggalkan.
"Iya, Bu. Aku akan coba cari cara lain supaya dia mau tanda tangan tanpa banyak tuntutan," jawab Rayyan akhirnya, meski keraguan masih menggelayuti pikirannya
Rayyan menghela napas panjang setelah memutus sambungan telepon dengan ibunya. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Kata-kata ibunya memang selalu membakar semangatnya, tapi bayangan ketegasan Ayra tadi tidak bisa hilang begitu saja.
"Sita marital?" gumam Rayyan dengan dahi berkerut. Ia mulai merasa terancam. Ia tahu ada beberapa aset yang ia beli atas namanya sendiri selama setahun terakhir ini, termasuk simpanan rahasia yang ia kumpulkan dari bonus kantor tanpa sepengetahuan Ayra.
Rayyan meraih kembali ponselnya. Alih-alih merasa bersalah, egonya justru semakin memuncak. Ia merasa tidak rela jika harus membagi hasil kerjanya dengan wanita yang menurutnya hanya "menumpang hidup" dari hasil kerjanya.
Ia kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Ayra dengan nada yang masih mencoba menekan:
"Ayra, jangan mimpi terlalu tinggi soal harta gono-gini. Kamu tahu sendiri posisi kamu di mata keluargaku seperti apa. Kalau kamu tetap bersikeras mau menggugat balik, aku tidak akan segan-segan membeberkan kepada semua orang kalau kamu adalah istri yang tidak bisa menjaga kandungan. Kamu yang lalai sampai kita kehilangan anak itu. Apa kamu mau namamu rusak karena dianggap tidak becus jadi ibu?"
Rayyan tersenyum sinis setelah menekan tombol kirim. Ia merasa telah menemukan kartu as untuk membungkam Ayra. Ia tahu betapa hancurnya Ayra saat keguguran kemarin, dan ia yakin menyerang titik lemah itu akan membuat Ayra menyerah dan segera menandatangani surat perceraian tanpa tuntutan apa pun.
Tapi Rayyan tidak sadar, bahwa setiap kata yang ia ketik justru akan menjadi bukti tambahan bagi Ayra untuk menunjukkan betapa buruknya perlakuan suaminya itu selama ini.
***
Pesan singkat dari Rayyan masuk saat Ayra sedang membersihkan sisa teh di meja. Begitu membaca isinya, tangan Ayra sempat bergetar. Hatinya perih saat Rayyan dengan teganya menggunakan tragedi kegugurannya sebagai senjata untuk mengancamnya. Kehilangan janin itu adalah luka terdalam bagi Ayra, dan kini suaminya sendiri justru menaburkan garam di atas luka tersebut.
Namun, Ayra segera memejamkan mata dan menarik napas panjang. Ia teringat salah satu materi kuliahnya tentang pembuktian. Ia tidak boleh tenggelam dalam kesedihan yang diinginkan Rayyan.
Dengan tangan yang kini lebih tenang, Ayra mengambil ponselnya. Ia tidak membalas dengan kemarahan atau makian. Ia justru membalas dengan cara yang sangat rasional.
"Terima kasih sudah mengakui secara tertulis melalui pesan ini bahwa kamu berniat melakukan pencemaran nama baik dan menggunakan trauma keguguranku sebagai ancaman," tulis Ayra dalam balasannya.
Ia menjeda sebentar sebelum melanjutkan ketikannya.
"Perlu kamu tahu, Mas, rekam medis dari rumah sakit menyatakan bahwa keguguran itu terjadi karena stres berat dan kelelahan fisik yang luar biasa, bukan kelalaianku. Ancamanmu barusan justru semakin memperkuat bukti adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga secara psikis yang kamu lakukan padaku. Silakan kirim pesan ancaman lagi jika kamu ingin hukumanmu di pengadilan nanti semakin berat."
Setelah mengirim pesan itu, Ayra tidak menunggu balasan. Ia langsung melakukan tangkapan layar pada percakapan tersebut, lalu mengirimkannya ke alamat email pribadinya sebagai cadangan barang bukti.
Ayra meletakkan ponselnya dengan mantap. Tidak ada air mata yang jatuh kali ini. Ancaman Rayyan yang semula ditujukan untuk menghancurkan mentalnya, justru menjadi bumerang yang memberikan Ayra bukti tambahan untuk memenangkan posisinya di mata hukum.
Ia tahu, Rayyan di seberang sana pasti sedang dilanda kepanikan karena menyadari bahwa setiap kata yang ia kirimkan sekarang bisa menjadi jerat bagi dirinya sendiri.
***
Di apartemennya, Rayyan yang awalnya merasa di atas angin tiba-tiba mematung. Matanya melotot menatap layar ponsel, membaca pesan balasan Ayra berulang kali. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Sial! Siapa sebenarnya si Ayra ini? Setahuku, dia bukan perempuan berpendidikan tinggi, tapi kenapa wawasannya bisa sejauh ini?" Tanya Rayyan dengan umpatnya pelan.
Ia baru menyadari kebodohannya. Niat hati ingin mengintimidasi mental Ayra, justru ia yang memberikan bukti nyata tentang ancaman dan KDRT psikis secara tertulis. Kata-kata Ayra tentang "rekam medis" dan "pencemaran nama baik" benar-benar membuatnya kehilangan nyali.
Rayyan segera mencoba menghapus pesan yang ia kirim tadi. Jarinya bergerak cepat menekan pilihan delete for everyone. Namun, ia kembali teringat balasan Ayra yang mengatakan bahwa wanita itu sudah menganggapnya sebagai pengakuan tertulis.
"Kalau dia sudah melakukan tangkapan layar, mau dihapus seribu kali pun percuma," gumamnya frustrasi.
Ia melempar ponselnya ke sofa, lalu menjambak rambutnya sendiri. Rayyan merasa seperti tikus yang masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Selama ini ia menganggap Ayra hanya wanita rumahan yang penurut dan bisa ia setir sesuka hati. Ia tidak pernah menduga bahwa di balik diamnya Ayra, ada pikiran yang bekerja sangat tajam.
Kini ia mulai ketakutan. Jika Ayra benar-benar membawa bukti pesan itu ke pengadilan, bukan hanya harta gono-gini yang harus ia bagi, tapi nama baiknya di kantor dan di depan keluarga besarnya akan hancur total. Ia bisa dicap sebagai suami yang kejam.
Dalam kepanikannya, Rayyan kembali meraih ponselnya. Ia ingin menelepon ibunya untuk meminta saran, namun ia ragu. Ia tahu ibunya hanya akan menyuruhnya untuk terus menyerang, padahal sekarang posisinya sudah terpojok secara hukum.
Rayyan akhirnya hanya bisa mondar-mandir di ruang tamu dengan napas yang memburu, mencoba memikirkan cara lain untuk menjinakkan Ayra sebelum segalanya terlambat.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"