Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - PERTEMUAN DI HUTAN KELABU
Hutan Kelabu yang memisahkan Kota Gerbang Merah dengan wilayah selatan bukanlah tempat untuk mereka yang berhati lemah. Pohon-pohon di sini memiliki kulit berwarna perak kusam dengan daun-daun yang mengeluarkan aroma sulfur. Di tengah kesunyian hutan yang mencekik, Domain Kesunyian Kaelan menangkap getaran logam yang beradu dan teriakan tertahan.
"Tetap di belakangku, Rian," perintah Kaelan pelan.
Mereka mendekati sebuah rawa kecil di mana seorang wanita sedang dikepung oleh kawanan Serigala Taring Besi. Wanita itu mengenakan zirah kulit yang praktis namun penuh dengan goresan. Rambutnya diikat tinggi, dan di tangannya ia menggenggam sebuah tombak pendek yang ujungnya memancarkan cahaya hijau samar.
"Sialan kalian semua!" teriak wanita itu, menebaskan tombaknya untuk menghalau serigala yang mencoba menerjang lehernya. Di punggungnya, terikat sebuah kotak kayu medis yang ia lindungi dengan nyawanya.
Kaelan mengamati dari dahan pohon. Wanita itu memiliki teknik bertarung yang bersih, namun ia jelas kelelahan. Salah satu serigala, yang berukuran dua kali lebih besar dari yang lain, melompat dari balik semak-semak menuju titik butanya.
Srat!
Kaelan meluncur turun. Dalam satu gerakan yang hampir tidak terlihat, belati hitamnya memotong udara. Serigala itu terbelah dua sebelum sempat menyentuh tanah, tubuhnya membeku seketika menjadi bongkahan daging es.
Wanita itu tersentak mundur, mengarahkan tombaknya ke arah Kaelan. "Siapa kau?! Jangan mendekat!"
Kaelan berdiri dengan tenang, jubahnya sedikit terbuka memperlihatkan rambut putih susunya. "Hanya orang lewat."
Melihat pemimpin mereka tewas dalam sekejap, sisa kawanan serigala itu mundur ketakutan ke dalam kegelapan hutan. Wanita itu menurunkan tombaknya sedikit, namun matanya tetap waspada. Ia menatap rambut Kaelan dengan ekspresi campur aduk.
"Kau... bukan dari sekitar sini. Dan teknik es itu... kau pembunuh dari utara?" tanya wanita itu. "Namaku Elara. Aku tentara bayaran independen."
"Kaelan," jawabnya singkat. Rian muncul dari balik semak-semak, masih tampak ketakutan.
Elara melihat ke arah Rian, lalu ke arah tas yang dibawa Rian. "Kalian menuju selatan? Ke wilayah Laboratorium Bunga Hitam?"
Kaelan menyipitkan matanya. "Bagaimana kau tahu?"
"Hanya ada satu alasan orang dengan aura mematikan sepertimu pergi ke tempat terkutuk itu," Elara menghela napas, ia tampak sangat lelah. "Aku juga ke sana. Adikku terkena racun saraf 'Layu Rembulan', dan satu-satunya penawarnya hanya ada di gudang laboratorium itu. Aku sudah mencoba menyelinap dua kali, tapi penjagaan mereka... mereka bukan manusia."
Kaelan teringat pada Tentara Mayat Es yang ia bantai di sekte. "Maksudmu mereka adalah boneka alkimia?"
Elara mengangguk. "Lebih buruk. Mereka adalah penggabungan manusia dan tanaman beracun. Jika kau memang ingin ke sana, kita punya tujuan yang sama. Aku tahu jalur tikus untuk masuk tanpa memicu alarm utama, tapi aku butuh kekuatan tempur sepertimu."
Kaelan terdiam sejenak. Ia tidak suka bekerja sama, namun pengetahuan Elara tentang medan selatan bisa mempercepat tujuannya. Terlebih lagi, nama racun "Layu Rembulan" terdengar sangat mirip dengan komponen yang ada di dalam darahnya sendiri.
"Hanya sampai ke gerbang laboratorium," ucap Kaelan akhirnya. "Setelah itu, kau urus urusanmu, aku urus urusanku."
Elara tersenyum pahit, namun ada secercah harapan di matanya. "Kesepakatan yang adil bagi seorang pembunuh. Ayo, kita tidak punya banyak waktu. Patroli Aliansi Langit Merah sering menyisir area ini sebelum fajar."
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Elara memimpin di depan, sementara Kaelan tetap menjaga jarak di belakang, indranya terus memindai setiap pergerakan di hutan. Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman Laboratorium Bunga Hitam, sebuah cermin air menangkap bayangan mereka.
"Subjek yang melarikan diri telah membawa kunci baru," bisik sebuah suara serak dari kegelapan laboratorium. "Biarkan mereka masuk. Aku ingin melihat seberapa kuat darah yang sudah matang itu."