Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Jangan lupa Follow Instagram Author
@arvn_63
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bayangan di Ujung Sapu
Matahari senja telah lama tertelan barisan pegunungan, menyisakan semburat ungu kelam di ufuk barat. Angin malam mulai melolong, membawa serta butiran salju yang tajam seperti jarum.
Di pelataran gudang murid pelayan, belasan pemuda duduk meringkuk saling berpelukan. Bibir mereka membiru. Tidak ada yang berbicara, karena setiap embusan napas membuang sisa kehangatan tubuh yang berharga.
Greeek... greeek...
Suara roda kayu bergesekan dengan jalanan berbatu yang tertutup es memecah keheningan.
Dari balik tirai badai salju, sebuah siluet merangsek maju. Shen Yuan berjalan dengan napas terengah-engah, tubuhnya condong ke depan, menarik tali rami tebal yang melintang di bahunya. Di belakangnya, sebuah kereta dorong kayu berderit keras, menahan beban hampir tiga puluh gelondong kayu pinus yang ditumpuk menjulang.
Mata Li Mu membelalak lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Ia melompat berdiri, melupakan udara dingin yang sedari tadi menyiksanya.
"Dewa Langit yang Agung..." gumam Li Mu tidak percaya. Ia berlari menghampiri kereta itu, mengelus batang pinus yang masih beraroma getah segar. "Yuan! Kau tidak dirasuki hantu penunggu hutan, kan? Bagaimana kau bisa menebang dan menarik semua ini sendirian?!"
Shen Yuan melepaskan tali raminya dan jatuh terduduk di atas salju, membiarkan dadanya naik turun dengan kasar. Wajahnya pucat, dipenuhi keringat dingin yang mulai membeku di pelipisnya.
Tentu saja, semua kelelahan itu hanyalah akting. Dengan kekuatan Lapisan Kelima, menarik kayu seberat ini tidak lebih melelahkan daripada bernapas. Namun, jika ia terlihat segar bugar setelah kembali dari Hutan Pinus Hitam dengan tangkapan sebanyak ini, Mandor Zhao pasti akan menyeretnya ke Balai Interogasi sekte.
Bahkan, sebelum kembali, Shen Yuan menghabiskan waktu setengah dupa untuk memukulkan kapaknya secara asal-asalan ke ujung setiap gelondong kayu. Ia menghancurkan bukti tebasan mulusnya di Bab 3, membuat kayu-kayu itu terlihat seolah ditebang dengan susah payah oleh seorang pemula berkapak tumpul.
Mandor Zhao melangkah keluar dari ruangannya, matanya menyipit menatap tumpukan kayu tersebut. Ia memeriksa ujung potongannya yang kasar dan bergerigi, lalu menatap telapak tangan Shen Yuan yang—secara kebetulan—memang selalu penuh kapalan.
Kecurigaan sesaat di mata Mandor Zhao perlahan memudar, digantikan oleh kilatan apresiasi yang jarang terjadi.
"Kerja bagus, Shen Yuan," ucap Mandor Zhao, suaranya sedikit lebih hangat dari biasanya. Ia melemparkan sebuah kantong kertas kecil yang langsung ditangkap oleh Shen Yuan. Benda itu masih hangat. Dua buah bakpao daging. "Kau menyelamatkan nyawa pelataran ini malam ini. Sebagai imbalannya, besok pagi kau tidak perlu membelah kayu atau menguras sumur. Pergilah menyapu Pelataran Bela Diri Luar. Itu pekerjaan ringan."
Pelataran Bela Diri Luar.
Jantung Shen Yuan berdegup satu ketukan lebih cepat, namun wajahnya tetap sedatar papan kayu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Terima kasih atas kemurahan hati Mandor."
Malam itu, tungku raksasa di pelataran pelayan akhirnya menyala terang. Lidah api berwarna jingga menjilat-jilat udara, mengusir dingin yang mematikan. Li Mu dan para pelayan lainnya tertawa, memanggang sisa ubi dan bercerita. Di sudut ruangan, Shen Yuan mengunyah bakpao dagingnya dalam diam. Rencananya berjalan sempurna. Ia tidak hanya menyembunyikan kekuatannya, tapi juga mendapatkan akses sah ke tempat yang paling ia butuhkan besok pagi.
Pagi hari di Pelataran Bela Diri Luar terasa jauh berbeda dengan pelataran pelayan.
Lantai pualam putih bersih membentang seluas danau kecil. Ratusan rak senjata dari kayu ulin berjajar rapi, memamerkan pedang, tombak, dan golok yang berkilat ditimpa cahaya matahari pagi. Udara di sini tidak dipenuhi bau arak murah, melainkan aroma dupa cendana yang membakar semangat.
Srak... srak...
Shen Yuan berada di pinggiran pelataran, mengayunkan sapu lidinya dengan ritme konstan. Posturnya membungkuk, wajahnya setengah tertutup topi bambu lebar. Ia hanyalah bagian dari dekorasi tak kasat mata di mata para kultivator.
Tepat di tengah pelataran, sekitar lima puluh murid luar berseragam putih berkumpul membentuk setengah lingkaran. Di depan mereka, Instruktur Han—seorang pria paruh baya dengan aura tajam Lapisan Kedelapan Kondensasi Qi—berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
"Dunia bela diri bukan sekadar adu otot!" Suara Instruktur Han menggelegar, dilapisi energi Qi yang membuat telinga berdengung. "Tanpa pijakan yang benar, pukulan terkuatmu hanya akan memukul angin. Hari ini, aku akan mengajarkan dasar dari Langkah Awan Mengambang."
Di sudut pelataran, gerakan menyapu Shen Yuan melambat sepersekian detik. Telinganya menajam, matanya mencuri pandang dari balik pinggiran topi bambunya.
"Perhatikan baik-baik. Titik berat ada di Yongquan (telapak kaki). Tarik Qi dari Dantian, alirkan melalui meridian kaki, lalu ledakkan saat tumit menyentuh tanah!"
Instruktur Han mengambil satu langkah ke depan.
Wush!
Bagi murid luar yang rata-rata berada di Lapisan Ketiga dan Keempat, Instruktur Han terlihat seolah menghilang dan tiba-tiba muncul lima tombak di depan mereka, meninggalkan bayangan buram. Seruan takjub serentak bergema di pelataran.
Namun, di mata Shen Yuan, pemandangan itu sama sekali berbeda.
Berkat Kitab Penelan Surga yang telah membersihkan sumsumnya dan meningkatkan indranya hingga ke tahap yang mengerikan, dunia di matanya bergerak lebih lambat. Ia tidak hanya melihat gerakan fisik Instruktur Han; ia bisa "melihat" untaian tipis energi Qi berwarna putih yang mengalir dari perut pria itu, turun ke paha, berbelok di lutut, dan meledak di telapak kakinya.
Shen Yuan memejamkan mata. Otaknya yang kini bekerja setajam mata pisau mulai merekonstruksi gerakan itu. Titik berat di telapak... tarik energi... ledakkan.
Tanpa sadar, gagang sapu di tangannya menjadi penyeimbang. Sambil berpura-pura menyapu setumpuk daun pinus yang membeku, Shen Yuan menggeser kaki kanannya seukuran setengah jengkal. Ia mengalirkan setetes kecil Qi dari Dantian-nya, meniru persis jalur meridian yang digunakan Instruktur Han.
Sreett...
Ujung sapu Shen Yuan bergeser. Dalam sekejap mata, tubuhnya telah meluncur sejauh satu tombak ke samping tanpa membuat suara gesekan sedikit pun di atas salju. Gerakannya semulus awan yang ditiup angin.
Shen Yuan menahan napasnya, segera menghentikan alirannya. Jantungnya berdebar liar. Aku berhasil. Sesederhana itu? Ia menatap kakinya sendiri dengan tidak percaya. Para jenius di sekte membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melatih keseimbangan Langkah Awan Mengambang, tapi ia memahaminya hanya dengan satu kali tatap. Benih hitam di Dantian-nya tidak hanya merampas energi alam, tapi juga "merampas" pemahaman dan logika di balik aliran Qi.
"Hei, Anjing Pelayan! Minggir!"
Sebuah bentakan arogan tiba-tiba menyadarkan Shen Yuan dari lamunannya.
Shen Yuan menoleh. Tiga orang murid luar berseragam putih berjalan ke arahnya. Yang memimpin di depan adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan dagu terangkat tinggi. Lin Hai. Sepupu jauh dari Tuan Muda Lin Feng. Walaupun hanya berstatus keluarga cabang dan kultivasinya baru mencapai puncak Lapisan Keempat, kesombongannya melebihi tinggi gunung.
Lin Hai tidak berniat menghindar. Ia berjalan lurus ke arah Shen Yuan, sengaja menendang ember berisi air kotor bekas pel yang ada di dekat kaki Shen Yuan.
Air kotor bercampur lumpur hitam yang hampir membeku itu melesat ke udara, tumpah ke arah wajah dan dada Shen Yuan. Di musim dingin ini, pakaian basah berbau lumpur di tengah pelataran adalah bentuk penghinaan publik yang sangat kejam.
Murid-murid luar lainnya menoleh, beberapa tersenyum mengejek, menunggu melihat pelayan itu basah kuyup dan menggigil memohon ampun.
Dalam sepersekian detik, perhitungan melintas di mata Shen Yuan.
Jika ia menghindar dengan kecepatan Lapisan Kelima, ia akan dicurigai. Jika ia menggunakan tinju, ia akan dihukum mati karena menyerang murid resmi. Ia harus menerima air kotor itu, tapi instingnya menolak dihina oleh serangga seperti Lin Hai.
Setetes air lumpur pertama hampir menyentuh hidungnya.
Shen Yuan mengendurkan cengkeramannya pada sapu. Ia menggeser kaki kirinya setengah inci, meminjam ritme dari Langkah Awan Mengambang yang baru saja ia curi, namun ia sengaja memutarnya secara terbalik agar terlihat canggung.
Tubuh Shen Yuan seolah "terpeleset" es dengan sangat natural. Ia terhuyung ke belakang sambil merendahkan bahunya.
Bruk!
Air lumpur kotor itu meleset dari wajahnya, hanya menyerempet ujung bawah kemejanya. Namun, karena Shen Yuan terhuyung dengan gerakan yang terlihat sangat kikuk, gagang kayu panjang dari sapu lidinya terayun ke atas dengan sudut yang mematikan, persis seperti jungkat-jungkit.
Ujung kayu keras itu melesat lurus ke arah pangkal paha Lin Hai yang sedang melangkah maju sambil tertawa arogan.
Pletakk!
"Ukh—!"
Tawa Lin Hai terhenti di tenggorokan. Matanya melotot lebar hingga urat-urat merah muncul di sklera matanya. Wajahnya yang tadinya merona karena bangga, kini seketika berubah menjadi ungu kebiruan bak terung busuk. Ia tidak bisa berteriak, napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya.
Lin Hai menjatuhkan diri berlutut di atas salju, memegangi area di antara kedua kakinya dengan tangan gemetar.
Shen Yuan segera menjatuhkan diri di atas es, menunjukkan wajah panik yang luar biasa. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan Muda! Saya terpeleset es! Tolong ampuni pelayan bodoh ini! Saya sungguh tidak sengaja!"
Suasana di pelataran seketika hening. Instruktur Han menoleh dari kejauhan, mengerutkan dahi melihat kekacauan itu. Murid-murid luar lainnya menahan tawa yang meledak, melihat preman pelataran seperti Lin Hai berlutut di depan seorang pelayan sambil menahan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Shen Yuan masih menunduk ketakutan, namun di balik bayangan topi bambunya, lengkungan senyum tipis sekeras baja terbentuk di bibirnya.
Teknik kaki yang bagus, Instruktur Han, batin Shen Yuan dingin. Dan teknik akting yang bagus dari diriku sendiri.
Hari ini ia belajar dua hal: Cara melangkah secepat angin, dan cara menjatuhkan orang arogan tanpa mengotori tangannya sendiri.