NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELUARGA

Arsa menatap jalanan Bandung malam yang lebih sepi dari Jakarta. "Saya tumbuh besar di sini sampai SMA. Lalu kuliah di Jakarta dan tidak pernah benar-benar pulang."

"Tidak pernah?"

"Sesekali. Lebaran, ulang tahun orang tua." Ia memutar cangkir wedang di tangannya. "Tapi pulang yang benar-benar terasa seperti pulang — tidak."

"Kenapa?"

Pertanyaan yang simple tapi Arsa butuh beberapa detik untuk menjawabnya. "Karena setelah Raka pergi, rumah terasa seperti tempat yang penuh dengan versi-versi dari hal yang sudah tidak ada. Lebih mudah menjaga jarak."

Wren mengangguk pelan. Tidak memaksa lanjutan.

"Besok pagi," katanya setelah hening sebentar, "Anda akan masuk ke rumah itu lagi. Apakah Anda siap?"

"Tidak tahu." Kejujuran yang sudah menjadi defaultnya di sekitar Wren. "Tapi saya akan masuk tetap."

"Itu cukup." Wren mengangkat cangkirnya. "Untuk sekarang, minum wedang jahe yang terlalu manisnya dulu."

Arsa tertawa — bukan tawa keras, lebih ke hembusan napas yang membawa senyum. Tapi Wren mendengarnya dan ada sesuatu di sudut matanya yang bergerak seperti seseorang yang menyimpan sesuatu kecil dan hangat.

Rumah di Bandung itu lebih kecil dari yang Arsa ingat.

Atau mungkin ia yang sudah terlalu terbiasa dengan apartemennya yang terasa besar justru karena minimalis — ruang tanpa terlalu banyak objek, tanpa terlalu banyak lapisan waktu yang tertinggal di tiap sudutnya. Rumah ini punya lapisan. Tiga puluh tahun keluarga yang menempel di dinding, di lantai kayu yang berderit di tempat yang sama sejak ia kecil, di aroma yang tidak berubah apapun yang terjadi di dunia di luar.

Ibunya membuka pintu.

Perempuan enam puluh dua tahun dengan rambut yang sudah lebih putih dari terakhir ia lihat dan cara berdiri yang sedikit lebih membungkuk — bukan karena sakit, Arsa tahu, tapi karena tubuh menyimpan beban dengan caranya sendiri. Tapi matanya sama. Selalu sama — cokelat tua, sedikit lebih besar dari rata-rata. Mata yang ia warisi sebagian, dan yang Raka warisi lebih banyak.

"Arsa." Hanya itu. Nama yang diucapkan ibunya dengan cara yang tidak berubah sejak ia berusia lima tahun.

"Ma." Ia masuk. Pelukan yang sebentar tapi nyata — keduanya bukan tipe yang berpelukan lama, tapi keduanya tahu nilai dari yang sebentar itu.

Ibunya memandang ke belakangnya. Ke Wren yang berdiri di ambang pintu.

"Ini Wren, Ma," kata Arsa. "Yang—"

"Yang membacakan surat-surat Raka." Ibunya melengkapi kalimat itu dengan nada yang tidak bisa langsung dibaca — campuran banyak hal yang belum tersortir. Tapi ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk, Wren."

Siang itu ada lima orang di ruang makan yang tidak pernah terasa cukup besar untuk semua yang perlu dikatakan di dalamnya.

Ibu Sari dengan postur rapinya yang sedikit lebih tegang dari biasanya. Sari — adik tengah yang baru Arsa kenal lewat telepon sebelumnya, perempuan dua puluh sembilan yang ternyata sangat mirip dengan Ibu Sari tapi dengan cara bicara yang lebih langsung dan kurang terkelola — duduk di sebelahnya dengan tangan dilipat di meja. Ibunya di ujung, cara duduk yang mengatakan ini mejanya, rumahnya, tapi juga ia tamu di topik ini sama seperti yang lain. Dan Wren, yang duduk di sisi Arsa dengan cara yang netral tapi keberadaannya tetap terasa.

Arsa meletakkan kotak kayu di tengah meja.

Ibunya memandang kotak itu lama tanpa bicara. Tangannya di atas meja bergerak sedikit — hampir menyentuh, tapi berhenti setengah jalan.

"Dari mana kotak ini bisa sampai ke toko antik?" kata Ibu Sari akhirnya. Pertanyaan yang sudah ada sejak awal, yang belum punya jawaban.

"Saya punya teori," kata Arsa. "Tapi saya butuh konfirmasi dari Mama dulu." Ia menatap ibunya. "Ma, apakah Raka pernah cerita tentang seseorang bernama Dito?"

Ibunya menatapnya. Sesuatu bergerak di matanya — bukan terkejut. Lebih seperti seseorang yang sudah menduga pertanyaan ini akan datang suatu hari.

"Pernah," katanya pelan. "Sekali. Beberapa bulan sebelum ia pergi." Jarinya yang hampir menyentuh kotak tadi sekarang menarik kembali ke pangkuannya. "Ia datang ke sini — Raka, maksud saya. Datang sendiri, tidak bilang ada apa. Duduk di kursi itu." Ia menunjuk kursi di sudut ruang tamu yang bisa terlihat dari sini — kursi rotan tua yang sudah ada sejak Arsa kecil. "Duduk lama. Saya buat teh. Kami tidak banyak bicara." Suaranya turun sedikit. "Lalu ia bilang: 'Ma, teman Raka meninggal.' Hanya itu. Saya tidak tanya siapa. Saya hanya bilang innalillahi dan duduk di sebelahnya."

Ruangan diam.

"Dito meninggal setahun sebelum Raka," kata Arsa pelan. "Mereka berteman sejak kuliah. Dekat."

Ibunya mengangguk — bukan anggukan yang terkejut, tapi anggukan yang menerima. "Saya sudah rasa ada seseorang yang penting." Matanya ke kotak kayu lagi. "Dari cara Raka pulang waktu itu. Ada hal-hal yang tidak bisa disembunyikan dari ibu, walau anak pikir bisa."

"Kenapa Mama tidak tanya?" Sari yang bicara — langsung, seperti caranya.

Ibunya menatap anak tengahnya. "Karena Raka tidak pernah bisa ditanya langsung tentang hal yang ia tidak siap ceritakan. Saya tanya, ia pergi lebih jauh." Ekspresinya tidak menyalahkan dirinya sendiri — lebih seperti seseorang yang sudah lama damai dengan sebuah keputusan meski keputusan itu tidak mudah. "Jadi saya tunggu."

"Dan tidak pernah ada waktu untuk menunggu selesai," kata Arsa.

"Tidak pernah ada." Ibunya mengambil napas. Tangannya akhirnya menyentuh kotak kayu itu — dengan ujung jari saja, seperti mengetes suhunya. "Surat-surat ini — Wren, kamu sudah baca semuanya?"

"Sudah, Bu." Wren bicara untuk pertama kalinya di pertemuan ini, dengan nada yang tepat — tidak terlalu formal, tidak terlalu intim. Suara yang tahu kapan harus ada dan kapan memberi ruang. "Semua dua belas, termasuk yang belum saya bacakan di podcast."

"Dan surat dari anak Pak Wahyu — dari Dito — untuk Raka?"

"Sudah."

Ibunya menatap Wren. Tatapan yang menilai tapi tidak dingin. "Bagaimana rasanya membacakan surat-surat itu?"

Pertanyaan yang tidak ada yang mengantisipasi. Wren juga tidak — tapi ia tidak terlihat tidak siap. Ia berpikir sebentar.

"Seperti dipercayakan sesuatu yang bukan milik saya," katanya akhirnya. "Dan tanggung jawab itu — saya tidak pernah lupa."

Ibunya mengangguk. Satu kali, lambat. "Raka pilih orang yang tepat."

"Raka tidak memilih saya, Bu. Saya yang kebetulan menemukan kotak itu."

"Tidak ada yang kebetulan dalam hal seperti ini." Ibunya berdiri, berjalan ke dapur. Suara sendok dan cangkir — ia membuat teh dengan gerakan yang sudah otomatis, cara seseorang yang mengolah sesuatu bukan dengan kata-kata tapi dengan tangan. "Kamu mau teh, Wren?"

"Mau, Bu. Terima kasih."

Ibu Sari menatap Arsa dengan ekspresi yang mengatakan banyak hal sekaligus tanpa satu pun diucapkan. Arsa balas menatap dengan ekspresi yang mengatakan saya juga tidak mengira hari ini akan seperti ini.

Sari menyentuh lengan Arsa pelan. "Mas — kotak itu sudah di tempat yang tepat. Dengan Mas." Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Raka tahu kamu akan menemukannya kalau sudah waktunya."

Arsa menatap adiknya. Perempuan yang tidak pernah benar-benar ia kenal dengan baik — gap usia yang membuat mereka tumbuh di fase kehidupan yang berbeda, dan setelah Raka pergi, semua energi keluarga masuk ke mode bertahan masing-masing.

"Terima kasih, Ri," katanya. Dua kata yang terasa kecil untuk semua yang ada di baliknya.

Sari hanya mengangguk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!