NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Ada perbedaan mendasar antara cara orang melihat dunia dari atas balkon istana yang dilapisi marmer putih dan dari atas tangga kayu yang reyot. Di atas balkon, dunia tampak seperti maket yang rapi, di mana setiap orang bergerak sesuai garis yang sudah ditentukan. Namun di atas tangga kayu, dunia terasa bergetar. Setiap embusan angin bisa menjatuhkanmu, dan setiap jengkal noda adalah bukti bahwa kau sedang berjuang untuk hidup, bukan sekadar bernapas.

Arlo Valerius mengenal balkon itu sejak dia bisa merangkak. Baginya, pemandangan indah Aethelgard dari ketinggian hanyalah pengingat bahwa dia tidak memiliki tempat untuk jatuh. Dia dipaksa untuk selalu berdiri tegak.

Pagi ini, matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di ruang sarapan pribadi kerajaan, namun cahayanya tidak terasa hangat di kulit Arlo. Ia duduk berhadapan dengan Putri Helena, yang tampak seolah-olah dia baru saja melangkah keluar dari sampul majalah mode paling bergengsi di benua ini.

Helena mengenakan gaun pagi berwarna krem dengan potongan leher rendah yang dihiasi renda-renda halus. Rambut pirang platinanya ditata bergelombang sempurna, dan setiap kali dia menggerakkan tangannya untuk menyendok selai jeruk, aroma parfum melati yang sangat kuat menyerbak, menindas aroma kopi hitam di depan Arlo.

"Anda terlihat sangat tidak fokus pagi ini, Arlo," Helena memulai, suaranya jernih dan tajam, seperti denting kristal yang diadu. Ia mengoleskan selai ke rotinya dengan presisi yang menakutkan, memastikan tidak ada satu remah pun yang jatuh ke taplak meja. "Ataukah ini memang cara Anda menyambut tamu dari Vandellia? Dengan tatapan kosong dan kemeja yang... tunggu, apakah itu noda di kerah Anda?"

Jari-jari Helena yang mengenakan cincin berlian besar menunjuk ke arah leher Arlo.

Arlo secara refleks meraba kerah kemejanya. Ia tahu itu bukan noda makanan. Itu adalah jejak kecil kapur putih yang entah bagaimana masih tertinggal meski pelayannya sudah mencoba membersihkannya habis-habisan.

"Ini hanya debu dari Sayap Barat," jawab Arlo pendek. Ia menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu membakar lidahnya.

Helena meletakkan pisau rotinya dengan suara ting yang tidak menyenangkan. "Sayap Barat lagi. Saya tidak mengerti mengapa calon suamiku begitu terobsesi dengan tumpukan puing dan tukang-tukang kasar. Bukankah kita punya kepala pelayan untuk mengurus itu? Anda seharusnya menemani saya ke taman mawar, atau setidaknya mendengarkan rencana saya tentang palet warna untuk aula dansa nanti."

"Aku sudah mendengarnya semalaman, Helena," Arlo menyandarkan punggungnya, menatap Helena dengan mata yang menunjukkan rasa jengah yang tidak disembunyikan. "Warna ungu muda, perak, dan kristal dari pegunungan utara. Kau sudah mengatakannya berulang kali."

"Karena itu penting!" Helena sedikit menaikkan nadanya, meskipun wajahnya tetap terlihat tenang dan cantik—keahlian yang sangat Arlo benci. "Citra adalah segalanya. Vandellia tidak akan membiarkan putri mereka menikah di tempat yang terlihat seperti bangunan terbengkalai. Saya ingin semuanya terlihat baru, bersih, dan mahal. Tanpa cela."

Arlo menatap Helena dengan dingin. "Kadang-kadang, sesuatu yang terlalu bersih justru terlihat mati, Helena."

"Itu adalah pemikiran paling konyol yang pernah saya dengar," Helena membalas dengan tawa hambar yang merendahkan. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet sutra. "Sekarang, ganti baju Anda. Kita akan bertemu dengan perancang busana dari ibu kota dalam satu jam. Dan tolong, jauhkan diri Anda dari Sayap Barat. Saya tidak ingin calon tunangan saya tercium seperti kapur murahan saat sedang diukur bajunya."

Arlo tidak menjawab. Ia berdiri, meninggalkan rotinya yang sama sekali tidak disentuh. Tanpa menoleh pada Helena yang masih menuntut perhatian, ia melangkah keluar dari ruang sarapan.

Langkah kaki Arlo tidak membawanya ke kamar untuk berganti baju. Sebaliknya, ia melangkah lebar melewati koridor utama, berbelok ke jalur yang semakin lama semakin sepi, hingga aroma parfum melati itu benar-benar hilang, digantikan oleh bau lembap dan debu konstruksi yang kini terasa seperti aroma kebebasan.

Ia sampai di aula Sayap Barat lebih cepat dari biasanya. Pintu aula itu terbuka sedikit, memperlihatkan kesibukan di dalamnya. Suara gergaji kayu dan hantaman palu memenuhi udara. Arlo mencari satu sosok yang kini mendominasi pikirannya.

Ia menemukannya di ujung ruangan.

Kalea sedang berdiri di atas tangga kayu yang tingginya mencapai tiga meter. Hari ini dia mengenakan baju yang lebih kusam lagi—mungkin itu baju ayahnya yang sudah sangat tua. Lengan bajunya digulung kasar melampaui siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang bekerja keras saat dia menyapukan kuas panjang ke langit-langit aula.

Arlo berjalan mendekat, berhenti tepat di bawah tangga. Ia tidak bersuara, hanya memerhatikan bagaimana tetesan cat putih jatuh mengenai pipi Kalea, namun gadis itu tidak peduli. Kalea justru terlihat sedang bertarung dengan dinding itu, seolah-olah dinding itu adalah musuh yang harus dia taklukkan.

"Kau masih menggunakan warna putih itu," ucap Arlo datar.

Tangga kayu itu berderit keras saat Kalea tersentak. Ia hampir kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset satu anak tangga sebelum dia mencengkeram tiang penyangga dengan kuat. Ia menunduk, dan begitu melihat siapa yang berdiri di sana, matanya langsung berkilat marah.

"Demi langit dan bumi!" Kalea berteriak, suaranya memantul di dinding-dinding aula. "Bisakah Anda berhenti muncul seperti hantu di bawah tangga orang? Anda benar-benar ingin saya mati ya?"

Kalea menuruni tangga dengan gerakan yang sangat cepat dan marah. Begitu kakinya menyentuh lantai, dia langsung berdiri menghadap Arlo, kuas yang penuh cat putih dia acungkan tepat di depan dada pria itu.

"Apa lagi sekarang, Yang Mulia?" Kalea menekankan kata 'Yang Mulia' dengan nada sarkasme yang sangat kental. "Tidak ada lagi lantai yang harus digosok. Dan saya tidak butuh saran warna dari orang yang bahkan tidak tahu cara memegang palu."

Arlo menatap kuas yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari kemeja mahalnya. "Aku hanya mengamati. Kenapa kau sensitif sekali?"

"Sensitif?" Kalea tertawa kasar, ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan goresan cat lagi di sana. "Saya sudah di sini sejak subuh karena pengawas bilang bagian ini harus selesai sore ini. Saya lelah, saya lapar, dan sekarang ada seorang pangeran yang tidak berguna berdiri di sini hanya untuk mengkritik pekerjaan saya. Tentu saja saya sensitif!"

Arlo memerhatikan wajah Kalea yang memerah karena amarah dan kelelahan. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. "Kenapa kau harus menyelesaikannya sore ini? Bukankah renovasi ini masih punya waktu sebulan?"

Kalea mendecak, ia berbalik menuju ember catnya. "Karena Putri Helena-mu yang terhormat itu baru saja mengirim pesan lewat kepala pelayan. Dia ingin aula ini digunakan untuk latihan dansa pribadinya besok pagi. Dia bilang dia tidak bisa berlatih di aula utama karena lantainya 'kurang bercahaya'. Jadi, tukang cat rendahan seperti saya harus bekerja seperti budak supaya sang putri bisa berputar-putar dengan gaun mahalnya."

Arlo terdiam. Ia merasakan denyut kemarahan di pelipisnya. Helena baru saja sarapan dengannya dan tidak mengatakan sepatah kata pun tentang ini. Baginya, menyuruh orang bekerja sampai mati hanyalah soal teknis kecil yang tidak perlu dibicarakan.

"Berhenti," ucap Arlo.

Kalea, yang baru saja hendak mencelupkan kuasnya, menoleh dengan dahi berkerut. "Apa?"

"Berhenti bekerja. Istirahatlah," Arlo melangkah maju, tangannya bergerak untuk mengambil kuas dari tangan Kalea.

Kalea menarik tangannya menjauh. "Jangan konyol. Kalau saya berhenti, saya tidak akan dibayar untuk lembur ini. Dan kalau saya tidak dibayar, ayah saya tidak bisa membeli obatnya. Anda pikir dunia ini berjalan dengan perintah 'berhenti' saja?"

"Aku akan memastikan kau tetap dibayar," Arlo mencoba meraih kuas itu lagi, namun Kalea justru mendorong dadanya dengan telapak tangan yang bersih dari cat, meski tenaganya tidak sebanding dengan Arlo.

"Jangan menyentuh saya dengan uang Anda, Tuan Pangeran!" Kalea menatap mata Arlo dengan tajam, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap. "Anda pikir semua hal bisa diselesaikan dengan koin emas? Anda datang ke sini, berpura-pura peduli, membantu menggosok lantai selama sepuluh menit, lalu merasa sudah menjadi pahlawan? Bagi Anda, ini mungkin petualangan seru untuk melarikan diri dari kebosanan istana. Tapi bagi saya, ini adalah hidup. Kehadiran Anda di sini hanya membuat saya terlihat semakin menyedihkan!"

Arlo terpaku. Kata-kata Kalea terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik mana pun. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bersih, lalu menatap Kalea yang gemetar karena amarah.

"Aku tidak bermaksud begitu, Kalea," suara Arlo melunak, kehilangan semua keangkuhannya.

"Tapi itulah kenyataannya!" Kalea berteriak, suaranya sedikit pecah. "Anda tidak tahu rasanya harus memilih antara membeli roti atau memperbaiki atap yang bocor. Anda tidak tahu rasanya melihat ayah Anda meringis kesakitan tapi dia tetap memaksa bangun karena dia tahu anaknya tidak bisa menanggung beban ini sendirian. Jadi tolong... pergilah. Kembali ke pelukan Putri Helena Anda. Nikmati dunia sutra Anda, dan biarkan saya tetap di dunia kapur saya."

Kalea berbalik, membelakangi Arlo. Ia menempelkan dahinya ke dinding batu yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Bahunya yang kecil tampak bergetar hebat.

Arlo berdiri membeku di tengah aula yang luas itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat kecil. Semua kemewahan, gelar, dan kekuasaan yang ia miliki terasa seperti sampah di depan kejujuran rasa sakit gadis ini.

Tanpa suara, Arlo melepas jaket kulitnya dan meletakkannya di atas tumpukan kayu di samping tangga. Ia tidak pergi. Ia justru berjalan menuju sudut aula di mana terdapat beberapa ember air bersih yang digunakan tukang untuk mencuci alat.

Ia mengambil sebuah spons besar, memerasnya hingga airnya tuntas, lalu berjalan kembali ke arah Kalea.

Kalea tidak bergerak sampai dia merasakan sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh kulit pipinya. Ia tersentak, mencoba menghindar, namun tangan Arlo yang lain memegang bahunya dengan lembut tapi sangat kokoh.

"Diam," bisik Arlo.

Kalea terpaku saat Arlo mulai mengusap noda cat di pipi Kalea dengan sangat perlahan. Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Arlo bisa melihat setiap butiran debu yang menempel di bulu mata Kalea, dan Kalea bisa melihat kesungguhan yang menyakitkan di mata biru Arlo.

"Aku tidak mencoba menjadi pahlawan," ucap Arlo sambil terus membersihkan noda itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah dia sedang membersihkan artefak yang paling rapuh di dunia. "Aku hanya sedang mencoba menjadi manusia. Dan kau adalah satu-satunya orang di sini yang tidak membuatku merasa seperti pajangan."

Kalea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Keberaniannya untuk marah seolah menguap begitu saja saat merasakan sentuhan lembut jari Arlo di bawah rahangnya. "Anda tetap akan menikahinya, kan?"

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Arlo terhenti. Ia menatap bibir Kalea yang sedikit gemetar. "Aku tidak punya pilihan, Kalea. Mahkota ini bukan milikku, aku hanya peminjamnya."

"Maka Anda adalah pengecut paling tampan yang pernah saya temui," Kalea berbisik, ada nada pedih dalam suaranya yang kini tidak lagi terdengar galak.

Kalea melepaskan diri dari pegangan Arlo. Ia mengambil kembali kuasnya, namun kali ini gerakannya tidak lagi agresif. Ia menaiki tangga kayu itu perlahan, tidak lagi menatap ke bawah.

"Pergilah, Arlo," ucap Kalea tanpa menoleh. "Helena menunggu Anda. Jangan biarkan dia melihat debu Sayap Barat di wajah Anda. Itu tidak 'pantas' untuknya."

Arlo menatap punggung Kalea cukup lama. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjanjikan sesuatu yang mustahil, namun ia tahu itu hanya akan menambah beban Kalea. Ia memungut jaket kulitnya, lalu berjalan keluar dari aula.

Di koridor, ia bertemu dengan Lord Cedric yang tampak panik mencari keberadaannya. "Yang Mulia! Perancang busana sudah menunggu! Putri Helena sangat marah!"

Arlo tidak menanggapi. Ia berjalan melewati Cedric begitu saja. Saat ia sampai di depan cermin besar di kamarnya, ia melihat pantulannya sendiri. Ia mengenakan sutra, namun hatinya penuh dengan debu kapur. Ia melihat noda putih di ujung kemejanya—jejak dari Kalea—dan alih-alih merasa jijik, ia justru merasa itu adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang masih memiliki nyawa.

Hari itu, saat Arlo berdiri di depan Helena dan membiarkan para perancang mengukur tubuhnya, pikirannya tidak ada di sana. Pikirannya tertinggal di sebuah aula yang berdebu, pada seorang gadis yang mengajarinya bahwa keindahan yang sebenarnya bukan terletak pada ketiadaan cela, melainkan pada keberanian untuk terus berdiri meski tangga kayunya bergoyang.

Perang dalam diri Arlo bukan lagi soal menolak pernikahan, tapi soal bagaimana dia bisa menyelamatkan satu-satunya kejujuran yang pernah dia temukan di istana yang penuh dengan kebohongan ini. Dan dia tahu, harganya mungkin adalah mahkota yang dia pakai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!