Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 33
Cahaya matahari yang menyaring melalui dedaunan pohon cedar menciptakan pola bayangan yang kontras di wajah Clara.
Gadis itu mengerutkan keningnya, alisnya yang tipis bertaut saat ia mencoba mencerna istilah yang baru saja meluncur dari bibir sepupunya.
"Sang Pencipta?" ulang Clara, suaranya terdengar ragu dan penuh kebingungan.
"Apa maksudmu dengan itu, Ilwa? Bukankah para pendeta selalu mengatakan bahwa dewa-dewalah yang membentuk kita dari debu dan cahaya?"
Ilwa menyandarkan punggungnya lebih rileks ke batang pohon, matanya menatap lurus ke arah cakrawala yang jauh, seolah ia sedang menembus ruang dan waktu.
"Itu hanya sebutan yang aku gunakan sendiri, Clara. Sebuah label untuk sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar patung emas di dalam sana."
Ilwa menoleh perlahan, menatap mata Clara dengan intensitas yang tidak biasa bagi seorang anak berusia delapan tahun. "Pernahkah kau berpikir, dari mana sebenarnya asal-usul manusia? Jika kau menelusuri sejarah hingga ke titik paling awal, sebelum ada kuil atau kitab suci, apakah ada yang benar-benar bisa menjawab bagaimana kehidupan pertama kali tercipta? Sains memiliki teorinya, agama memiliki dongengnya, tapi tak satu pun dari mereka yang memegang kunci kebenaran absolut."
Clara hanya diam, bibirnya terkatup rapat, namun telinganya mendengarkan setiap kata dengan saksama.
"Ketahuilah," lanjut Ilwa, suaranya merendah namun berwibawa,
"para dewa yang disembah orang-orang saat ini... mereka tidak pernah secara eksplisit mengklaim bahwa mereka yang menciptakan ras manusia. Jika kau membaca teks kuno yang belum disensor oleh gereja, para dewa hanyalah 'pemberi'. Mereka memberikan umat manusia akses terhadap mana, mereka memberikan teknik, dan mereka memberikan perlindungan sebagai imbalan atas pengabdian. Namun, karena budaya kepercayaan ini sudah mengakar selama ribuan tahun, narasi itu mulai melenceng. Dewa-dewa itu mulai dilebih-lebihkan, dianggap sebagai arsitek alam semesta, padahal mereka mungkin hanyalah entitas yang lebih dulu ada dengan kekuatan yang lebih besar."
Ilwa menarik napas panjang, memberikan jeda agar atmosfer dingin di antara mereka semakin terasa nyata.
"Apa yang kau katakan tadi... ada bagian yang benar, dan ada juga bagian yang salah," ucap Ilwa pelan. "Bagian benarnya adalah, keberadaan mereka memang memiliki fungsi. Para dewa bertindak sebagai jangkar bagi tatanan dunia. Tanpa adanya sosok yang disembah, manusia akan kehilangan kompas moral dan arah tujuan. Kehadiran mereka dalam bentuk 'kekuatan mana' yang dialirkan kepada para pendeta atau ksatria suci adalah bukti bahwa mereka memang ada di suatu tempat, di dimensi yang berbeda. Mereka adalah sumber energi yang nyata, bukan sekadar khayalan."
Ilwa berhenti sejenak, wajahnya berubah menjadi lebih dingin, seolah-olah sebuah memori pahit dari masa lalunya sebagai Albus—saat ia melihat para dewa hanya menonton kehancuran dari atas singgasana mereka—kembali menghantui jiwanya.
"Namun, bagian salahnya adalah harapanmu agar mereka turun ke bumi. Kau benar bahwa mereka tidak pernah turun untuk melihat pengikutnya, tapi itu bukan karena mereka melupakan kita. Bagian yang salah dari pemikiranmu adalah menganggap mereka 'peduli'. Dewa-dewa itu memandang dunia ini seperti kita memandang sebuah akuarium. Mereka melihat, mereka mengatur aliran energinya, tapi mereka tidak akan mencelupkan tangan mereka hanya untuk menyelamatkan satu ekor ikan yang sakit. Bagi mereka, waktu manusia hanyalah kedipan mata. Mereka tidak memiliki empati yang sama dengan kita. Mereka ada, tapi mereka jauh—sangat jauh hingga doa-doamu mungkin hanya terdengar seperti desis angin bagi mereka."
Ilwa terdiam, memori tentang peperangan lima puluh tahun lalu di mana ribuan orang mati sambil meneriakkan nama dewa namun tetap tak ada jawaban, membuat hatinya terasa seperti ditusuk jarum es.
Ia menoleh kembali ke arah Clara, bermaksud melihat reaksi sepupunya atas penjelasan filosofis yang berat itu.
Namun, Ilwa tersentak kecil.
Di hadapannya, Clara tampak benar-benar linglung.
Mata gadis itu tampak kosong dan sedikit berkaca-kaca, kepalanya miring ke satu sisi seolah-olah beban informasi yang baru saja ia terima telah menghancurkan kapasitas logikanya.
Ia terlihat pusing luar biasa, mencoba memproses istilah molekuler, asal-usul mana, dan perbedaan antara "Pencipta" serta "Dewa" yang dijelaskan Ilwa dengan begitu lancar.
Bagi seorang anak kecil, meskipun ia jenius seperti Clara, penjelasan Ilwa barusan bukanlah sebuah diskusi, melainkan sebuah ledakan informasi yang melampaui zaman.
Clara memegangi keningnya, napasnya sedikit terengah karena kebingungan yang sangat dalam.
"Ilwa... aku... aku tidak mengerti..." gumam Clara dengan suara lemas, tampak benar-benar pening setelah mencoba mengikuti alur pemikiran sepupunya yang terlalu dalam.
Ilwa hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa ia baru saja tanpa sengaja memberikan kuliah filsafat tingkat tinggi kepada seorang bocah yang sebenarnya hanya ingin mengeluh tentang khotbah yang membosankan.
-----
Ilwa hanya menghela napas panjang, menatap Clara yang masih memegangi pelipisnya dengan raut wajah yang tampak benar-benar pening.
Ia menyadari bahwa ia baru saja menjejalkan konsep eksistensialisme yang terlalu berat ke dalam benak seorang gadis kecil, bahkan bagi seorang jenius seperti Clara sekalipun.
"Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Ilwa pelan, suaranya kembali ke nada datar yang biasa.
"Terlalu lama di kamar mandi hanya akan membuat Martha panik dan mulai mengerahkan pasukan pencari." Batinya.
Tanpa menunggu jawaban dari Clara yang masih tampak linglung, Ilwa berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam aula gereja yang dingin.
Begitu ia duduk di samping Martha, khotbah yang tadinya menggebu-gebu itu mulai mencapai puncaknya yang membosankan sebelum akhirnya lonceng besar berdentang, menandakan berakhirnya ritual suci tersebut.
---
Beberapa menit berlalu, kerumunan jemaat mulai mengalir keluar dari pintu ek raksasa.
Ilwa berjalan dengan langkah kaki yang diseret pelan, mengikuti Martha menuju area parkir kereta kuda.
Namun, langkah mereka terhenti ketika sosok Clara, yang kini didampingi oleh seorang pelayan wanita berseragam rapi, melintas di jalur yang sama.
"Ah, Tuan Putri Clara!" Martha membungkuk sangat dalam, menunjukkan rasa hormat yang tulus. "Sebuah kehormatan melihat Anda di sini."
Clara mengangguk kecil, ekspresi datarnya telah kembali meskipun matanya sempat melirik ke arah Ilwa dengan tatapan yang sulit diartikan—seolah ia masih mencoba menyusun serpihan kata-kata Ilwa tadi di dalam otaknya.
"Kau akan pulang sekarang, Ilwa?" tanya Clara dingin, suaranya tetap jernih namun terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.
"Benar. Ibadah sudah selesai, dan aku butuh istirahat," jawab Ilwa pendek.
"Begitu ya. Sampai jumpa di pelatihan inti nanti," ucap Clara singkat sebelum ia memberi isyarat kepada pelayannya untuk lanjut berjalan.
Martha kembali menundukkan kepalanya hingga kereta kuda keluarga Astheria menjauh.
"Tuan Muda, Anda harus lebih sering mengobrol dengan Nona Clara. Beliau adalah masa depan klan kita," puji Martha sambil menuntun Ilwa masuk ke dalam kereta kuda mereka sendiri.
Selama perjalanan pulang, Ilwa tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Ia menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi kulit yang empuk, menatap keluar jendela ke arah jalanan ibu kota yang mulai menjauh.
Perlahan, kelopak matanya terasa berat. Goncangan kereta yang ritmis dan rasa lelah setelah memanipulasi mana serta berdebat filosofis membuatnya terlelap.
---
Masa lalu....
Kegelapan menyelimuti kesadarannya, namun itu bukan kegelapan yang tenang. Seketika, lingkungan di sekitarnya berubah.
Aroma kayu terbakar dan bau anyir besi yang menyengat memenuhi indra penciumannya.
Dunia di sekelilingnya adalah sebuah desa kecil yang kini telah menjadi neraka.
Di bawah naungan langit malam yang tak berbintang, mayat-mayat penduduk desa bergeletakan di atas tanah berlumpur.
Api berkobar di beberapa atap rumah, memercikkan bara ke udara yang mati.
Di tengah kehancuran itu, seorang anak laki-laki berusia sekitar 11 atau 12 tahun bersimpuh di atas tanah.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan jelaga.
Di hadapannya, terbujur kaku dua sosok yang paling ia cintai—ayah dan ibunya.
Darah mereka telah mendingin, meresap ke dalam tanah yang mereka tanami seumur hidup mereka.
"Ayah... Ibu... bangunlah... kumohon..." isak anak itu, suaranya parau hingga hampir hilang.
Ia mengguncang bahu ayahnya, namun tak ada jawaban selain kekakuan maut.
Dalam keputusasaan yang memuncak, anak itu mendongak ke langit yang hitam pekat.
Ia berteriak dengan segenap sisa kekuatannya, memanggil entitas yang selalu diagungkan dalam kitab-kitab suci.
"Dewa! Siapa pun! Ares! Dewa Cahaya! Tolonglah aku! Selamatkan mereka!" teriaknya sambil memohon, tangannya terulur ke arah langit seolah mencoba menggapai tangan ilahi.
"Kumohon... keajaiban... berikan aku satu keajaiban saja!"
Namun, langit tetap diam.
Tak ada kilat yang menyambar, tak ada suara guntur yang menyahut.
Hanya suara api yang berderak dan angin malam yang dingin yang membalas permohonannya.
Dewa yang ia panggil tetap bersembunyi di balik keheningan mereka yang angkuh.
Frustasi dan amarah mulai mengakar di hatinya yang hancur.
Saat itulah, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang berat dan percakapan dua orang pria dari balik bayang-bayang rumah yang runtuh.
"Apakah masih ada yang selamat di sektor ini?" tanya sebuah suara kasar.
"Mana aku tahu. Makanya kita disuruh menyisir tempat ini. Jangan biarkan ada satu pun saksi hidup yang tersisa," sahut suara lainnya dengan nada dingin tanpa belas kasihan.
Anak laki-laki itu tersentak.
Ketakutan murni kini menggantikan kesedihannya.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia terpaksa melepaskan genggaman tangan ibunya.
Ia harus lari.
Ia harus bertahan hidup, meskipun separuh dari jiwanya telah mati di desa itu.
Ia berlari menembus kegelapan, melewati mayat-mayat tetangganya.
Kakinya yang telanjang terluka oleh serpihan kayu dan batu tajam, rasa sakit menusuk di setiap langkahnya, namun ia terus memacu dirinya.
Napasnya tersengal, dadanya terasa terbakar, namun suara langkah kaki para pembantai itu seolah terus mengejarnya di belakang.
"Tuan Muda! Tuan Muda!"
Suara itu... suara itu terasa asing namun sangat akrab.
---
Kembali masa sekarang....
"Tuan Muda Ilwa! Bangunlah, kita sudah sampai!"
Ilwa tersentak bangun, matanya terbuka lebar dengan napas yang memburu.
Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia melihat ke sekeliling dengan tatapan linglung sejenak, jantungnya masih berdegup kencang seirama dengan pelariannya di dalam mimpi tadi.
Ternyata ia berada di dalam kereta kuda. Aroma kemenyan gereja telah hilang, digantikan oleh aroma taman bunga di halaman rumahnya.
Martha berdiri di depan pintu kereta yang terbuka, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Tuan Muda? Anda baik-baik saja? Anda tampak sedang mengalami mimpi buruk yang sangat hebat," tanya Martha sambil memegang tangan Ilwa yang terasa dingin.
Ilwa menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya dan menghapus sisa-sisa memori kelam tentang desa yang terbakar itu dari pikirannya.
Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan jas putihnya yang suci.
"Aku baik-baik saja, Martha. Hanya... perjalanan ini sedikit lebih melelahkan dari yang kukira," jawab Ilwa datar, suaranya perlahan kembali stabil.
Ia melangkah turun dari kereta kuda, menapakkan kakinya di tanah paviliunnya yang aman.
Sejenak pada kenangan pahit itu—sebuah pengingat abadi mengapa ia tidak akan pernah sudi bersimpuh di depan patung dewa mana pun.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan Muda," ucap Martha lembut.
Ilwa hanya mengangguk kecil, berjalan menuju pintu besar paviliunnya dengan tatapan mata yang kini jauh lebih tajam dan penuh tekad dari sebelumnya.
Mimpi itu bukanlah sekadar bunga tidur; itu adalah bahan bakar bagi api ambisinya yang takkan pernah padam.
**BERSAMBUNG.**