Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Pengkhianatan Raja Es
Angin di perbatasan timur Benua Utara tidak lagi sekadar dingin; ia membawa aroma kematian yang purba. Di hadapan Li Chen, sebuah gunung es yang telah membeku selama sepuluh ribu tahun terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah gerbang perunggu raksasa yang tertutup lumut es abadi. Di atas gerbang itu, terukir sebaris kalimat yang membuat darah Li Chen berdesir: "Li Ye, Jenderal Terakhir Bintang, Beristirahat dalam Penantian."
Li Chen mendarat di depan gerbang, langkah kakinya menghancurkan lapisan es sedalam satu meter. Sembilan bintang di punggungnya bergetar hebat, bereaksi terhadap aura yang sangat akrab di balik pintu tersebut.
"Hati-hati, Nak," suara Kaisar Pedang bergema, penuh kewaspadaan. "Aura ini... ini bukan hanya tempat peristirahatan. Ini adalah segel. Dan segel ini sedang ditarik dari dua arah—dari dalam, dan dari luar."
Tepat saat Li Chen hendak menyentuh gerbang perunggu itu, sebuah tawa dingin yang menggetarkan atmosfer terdengar dari balik badai salju.
"Li Chen, Pemimpin Sekte Iblis Bintang... kau benar-benar membawa dirimu ke lubang kuburmu sendiri," suara itu tenang, namun membawa wibawa ranah Transformasi Dewa (Deity Transformation).
Sesosok pria paruh baya dengan jubah biru es murni muncul dari udara hampa. Rambutnya putih panjang dan matanya biru kristal tanpa pupil. Di tangannya, ia memegang tongkat yang terbuat dari tulang naga es. Ia adalah Raja Es Han, penguasa mutlak Benua Utara.
Li Chen berbalik perlahan, pedang Penelan Surga di tangannya mulai memancarkan uap hitam yang haus darah. "Raja Es Han. Aku pikir kau akan bersembunyi di istanamu setelah aku menghancurkan sepuluh ribu anjingmu."
Raja Es Han tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Sepuluh ribu prajurit itu hanyalah sampah yang perlu dibersihkan. Aku membiarkanmu membantai mereka agar kau merasa cukup kuat untuk datang ke sini. Kau tahu, Li Chen? Langit Atas memberikan penawaran yang tidak bisa kutolak: Kepuasan abadi atas Benua Utara, asalkan garis keturunan Li Ye tidak pernah bangkit kembali."
"Jadi, kau adalah anjing penjaga mereka selama ini?" desis Li Chen. "Kau menjaga makam ayahku bukan untuk menghormatinya, tapi untuk memastikan dia tetap membusuk?"
"Tepat sekali," Raja Es mengangkat tongkatnya. "Dan hari ini, aku akan menggunakan esensi jiwamu untuk memperkuat segel ini selamanya!"
Seketika, ribuan rantai es muncul dari tanah di sekitar Li Chen, melilit kakinya dan mencoba membekukan meridiannya. Namun, Li Chen tidak lagi di ranah Jiwa Baru biasa. Ia telah menelan energi Matahari Murni dan esensi Dewi Teratai.
"Seni Penelan Bintang: Pemecah Segel!"
Li Chen meledakkan Qi hitamnya. Rantai-rantai es itu hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuhnya. Ia melesat maju, pedangnya mengayun secara vertikal, menciptakan garis kehampaan yang membelah badai salju.
DHUARRRR!
Raja Es Han menangkis serangan itu dengan dinding es abadi. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan puncak-puncak gunung di sekitarnya.
"Kau kuat, Nak. Tapi kau belum memahami hukum Benua Utara!" Raja Es Han berteriak. "Teknik Terlarang: Domain Nol Absolut!"
Suhu di sekitar Li Chen turun secara drastis hingga mencapai titik di mana molekul udara pun berhenti bergerak. Waktu seolah-olah membeku. Gerakan Li Chen melambat, dan lapisan es kristal mulai menutupi zirah sisik hitamnya.
Roh Sang Jenderal
Di saat Li Chen hampir membeku sepenuhnya, sebuah suara berat dan penuh wibawa terdengar dari balik gerbang perunggu.
"Siapa... yang berani... mengganggu tidurku?"
Gerbang perunggu itu meledak terbuka dari dalam. Sebuah pilar cahaya perak murni melesat keluar, menghancurkan Domain Nol Absolut milik Raja Es. Dari dalam kegelapan makam, muncullah sesosok bayangan raksasa mengenakan jubah perang perak yang compang-camping. Meskipun hanya berupa roh, tekanan yang dipancarkannya membuat Raja Es Han pun terpaksa mundur beberapa langkah.
Itu adalah Li Ye, ayah Li Chen.
Mata roh Li Ye yang berwarna perak redup menatap Li Chen. Sesaat, ada kelembutan yang melintas di wajahnya yang kaku. "Anakku... kau telah kembali dengan beban yang begitu berat di bahumu."
"Ayah..." suara Li Chen bergetar.
Namun, momen haru itu terputus saat Raja Es Han kembali menyerang. "Mati kau, Roh Tua! Pedang Langit Pembeku!"
Raja Es Han menciptakan pedang es raksasa di langit yang memancarkan aura suci Langit Atas. Ternyata, Raja Es Han telah menerima Pemberkatan Dewa dari Langit Atas, memberinya kekuatan setengah langkah menuju ranah Kultivasi Abadi (Immortal).
Li Ye mengangkat tangannya yang transparan. "Li Chen, tangkap ini! Ini adalah bagian kedua dari takdirmu!"
Sebuah benda meluncur dari kedalaman makam. Itu adalah sebuah bilah pedang hitam yang terlihat biasa saja, namun saat mendekati Li Chen, pedang Penelan Surga yang patah di tangannya mulai bergetar hebat.
KLIK!
Dua bagian pedang itu menyatu dengan sempurna. Cahaya hitam-merah meledak dari pedang tersebut, menciptakan pedang panjang yang indah namun mengerikan, dengan ukiran sembilan bintang yang kini bersinar terang.
Pedang Takdir Sembilan Bintang: Bentuk Sempurna.
Duel di Ambang Kematian
Dengan pedang yang kini utuh, Li Chen merasakan kekuatannya melonjak melampaui batas. Ia tidak lagi hanya menyerap energi; ia menjadi pusat dari segala energi di Benua Utara.
"Raja Es Han! Hari ini, aku akan menunjukkan padamu apa arti 'Penelan' yang sebenarnya!"
Li Chen melesat ke langit. Ia memegang pedangnya dengan kedua tangan.
"Gerbang Kesebelas: Pemakan Dimensi!"
Ini adalah teknik yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Pedangnya tidak memotong fisik, tapi memotong realitas itu sendiri. Saat ia mengayunkan pedangnya, langit di atas Benua Utara terbelah, menyingkap kegelapan ruang angkasa yang dipenuhi bintang-bintang.
Raja Es Han mencoba bertahan dengan seluruh kekuatannya. "Aku adalah penguasa es! Aku tidak bisa kalah dari bocah pelarian!"
Ia meledakkan seluruh Inti Dewa yang diberikan Langit Atas, menciptakan ledakan es yang mampu membekukan satu benua. Namun, tebasan Li Chen melewati ledakan itu seolah-olah itu hanya kabut.
SRAKKKK!
Tongkat tulang naga milik Raja Es Han terpotong menjadi dua. Tubuhnya terbelah oleh garis hitam tipis.
"Tidak... Langit menjanjikanku keabadian..." rintih Raja Es Han saat tubuhnya mulai menguap menjadi partikel hitam, tersedot ke dalam pedang Li Chen.
"Langit berbohong padamu, Han," kata Li Chen dingin. "Mereka tidak butuh sekutu, mereka hanya butuh budak."
Li Chen mendarat di depan ayahnya. Roh Li Ye mulai memudar, energinya habis setelah membantu Li Chen menembus segel.
"Anakku... waktuku singkat," bisik Li Ye. "Raja Es Han hanyalah permulaan. Di pusat istananya, terdapat sebuah portal rahasia yang terhubung langsung ke Penjara Cahaya Abadi. Gunakan pedang ini untuk membukanya. Bebaskan ibumu... dan bawa klan kita kembali ke tempat yang seharusnya."
"Ayah, ikutlah bersamaku!" Li Chen mencoba meraih roh ayahnya.
Li Ye tersenyum, lalu menunjuk ke arah dahi Li Chen. "Aku akan selalu bersamamu. Jantung Bintang yang kau cari... ada di dalam dirimu sendiri. Kau hanya perlu berani untuk melahap kegelapanmu sendiri."
Roh Li Ye meledak menjadi ribuan kunang-kunang perak yang masuk ke dalam pedang Sembilan Bintang. Pedang itu kini memiliki jiwa.
Kebangkitan Sang Penguasa
Li Chen berdiri sendirian di depan reruntuhan makam. Raja Es Han telah tewas, namun pengkhianatannya telah mengungkap peta jalan yang harus ditempuh Li Chen.
Ia menoleh ke arah pengikutnya dari Sekte Iblis Bintang yang mulai berdatangan ke lokasi. Kahn memimpin mereka, berlutut di depan Li Chen.
"Tuanku, Raja Es Han telah jatuh. Benua Utara kini menjadi milik Sekte Iblis Bintang!" seru Kahn.
Li Chen menatap pedang sempurnanya. "Kahn, siapkan pasukan. Kita tidak akan tinggal di Benua Utara. Kita akan menuju Istana Es Abadi. Kita akan mengambil portal itu dan menyerang Langit Atas dari bawah tanah mereka."
Li Chen mengangkat pedangnya ke langit. "Langit Atas mengira mereka telah membunuh ayahku. Mereka mengira mereka telah memenjarakan ibuku. Sekarang, mereka akan belajar bahwa mereka hanya membiarkan aku tumbuh untuk menjadi pemangsa mereka!"
Satu benua telah ditaklukkan. Sekarang, Sang Penelan Bintang tidak lagi hanya seorang pelarian. Ia adalah seorang Kaisar yang sedang dalam perjalanan untuk menuntut kembali tahtanya.