NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Hari kedua cuti seharusnya menjadi hari yang menenangkan, namun bagi Alisa, terjebak di dalam rumah besar yang sunyi bersama pria sedingin kutub utara seperti Vino justru membuatnya hampir gila karena bosan. Vino hampir sepanjang pagi mengunci diri di ruang kerja atau berada di ruang gym. Alisa merasa seperti hiasan rumah yang mahal namun tidak punya fungsi.

"Bi, Alisa boleh undang teman ke sini?" tanya Alisa saat membantu Bi Ijah menyiram tanaman di halaman belakang yang tertutup tembok tinggi.

"Tentu saja boleh, Non. Den Vino tidak pernah melarang tamu datang, asalkan Non Alisa yang mengundang. Biasanya rumah ini sepi sekali seperti kuburan," jawab Bi Ijah sambil terkekeh.

Alisa segera mengambil ponselnya dan menghubungi Fani. Tidak butuh waktu lama bagi sahabatnya itu untuk setuju. Dua jam kemudian, mobil merah Fani sudah terparkir di garasi.

"Wah, Al! Ini sih bukan rumah dinas, ini namanya mansion!" seru Fani begitu masuk ke ruang tamu yang bergaya industrial modern. "Polisimu itu ternyata punya selera yang sangat maskulin tapi mewah ya."

Alisa tertawa kecil, menarik tangan Fani menuju dapur. "Sudahlah, jangan mulai. Aku mengundangmu ke sini untuk membantuku membuat kue. Aku bosan setengah mati hanya duduk diam."

Di dapur, suasana mendadak ramai. Alisa, Fani, dan Bi Ijah mulai sibuk dengan tepung, mentega, dan cokelat. Mereka memutuskan untuk membuat fudgy brownies dan beberapa loyang cookies gandum.

"Jadi, ceritakan padaku," bisik Fani sambil mengaduk adonan cokelat, melirik ke arah tangga untuk memastikan Vino tidak ada di sana. "Bagaimana malam pertamamu? Apa dia... kau tahu, sedikit lebih hangat?"

Alisa mendengus, memasukkan loyang ke dalam oven. "Hangat apanya? Aku sebelumnya tidak pernah tidur dengan seorang pria di kamar yang sama. Alhasil Dia membangun benteng dari guling di tengah kasur, Fan. Kami tidur seperti dua orang yang sedang ikut lomba tidak saling menyentuh."

Fani tertawa terbahak-bahak hingga Bi Ijah ikut tersenyum. "Guling? Di zaman sekarang masih ada pria yang pakai pembatas guling? Tapi Al, jujur saja, melihat postur tubuhnya kemarin saat akad... dia pasti punya fisik yang luar biasa, kan?"

Alisa teringat saat Vino masuk ke dapur dengan kaos yang basah oleh keringat kemarin pagi. Ia tidak bisa memungkiri bahwa suaminya memiliki proporsi tubuh yang sempurna sebagai seorang perwira. Namun, kekaguman itu segera tertutup oleh kejengkelannya pada sikap kaku pria itu.

"Dia itu disiplinnya keterlaluan, Fan. Tapi ada satu hal yang membuatku kesal," keluh Alisa. "Dia punya kebiasaan buruk setelah mandi."

"Apa? Dia tidak pakai sabun?" canda Fani.

"Bukan! Dia sering keluar kamar mandi hanya pakai handuk yang dililit di pinggang, dan setelah itu... handuk basahnya diletakkan begitu saja di atas kasur! Padahal aku sudah bilang itu bisa jadi sarang bakteri," Alisa mengadu dengan wajah bersungut-sungut.

Tepat saat itu, aroma harum kue mulai memenuhi ruangan. Bi Ijah memuji keahlian Alisa dalam menghias cookies. Setidaknya, kegiatan ini membuat Alisa merasa sedikit lebih hidup.

Sementara itu, di lantai atas, Vino baru saja menyelesaikan sesi latihan bebannya yang luar biasa berat. Otot-otot lengannya tampak menonjol, dan perut sixpack-nya yang keras berkilat karena peluh. Ia menyeka dahinya dengan handuk kecil, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah mandi selama lima belas menit, Vino keluar. Seperti kebiasaannya selama tinggal sendiri dua tahun ini, ia hanya melilitkan handuk putih di pinggulnya yang rendah, membiarkan dada bidang dan perutnya yang atletis terbuka terkena udara dingin AC. Tetesan air masih mengalir dari rambut pendeknya, jatuh ke bahunya yang lebar.

Ia berjalan menuju tempat tidur untuk mengambil pakaian di lemari. Tanpa sadar, ia melepaskan lilitan handuknya setelah mengenakan celana pendek, lalu melempar handuk yang masih lembap itu ke atas kasur—tepat di sisi tempat Alisa tidur semalam.

Vino hendak menuju meja kerja di sudut kamar ketika pintu kamar terbuka tiba-tiba.

"Mas, ini kuenya sudah ja—"

Kalimat Alisa terhenti di tenggorokan. Ia berdiri membeku di ambang pintu dengan piring berisi kue di tangannya. Matanya tak sengaja menangkap sosok suaminya yang sedang berdiri tanpa atasan. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar memantul di kulit kecokelatan Vino, mempertegas setiap lekukan otot di perut dan dadanya yang bidang.

Alisa menelan ludah. Sebagai dokter, ia sering melihat anatomi tubuh pria, tapi entah kenapa, melihat milik Vino secara langsung dalam jarak sedekat ini membuatnya merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.

Vino menoleh, ekspresinya tetap datar meski ia menyadari Alisa sedang memperhatikannya. "Sudah kubilang, ketuk pintu dulu sebelum masuk."

Kesadaran Alisa kembali secepat kilat. Matanya kemudian turun ke arah kasur dan melihat handuk basah yang tergeletak di sana. Rasa kesalnya langsung mengalahkan rasa canggungnya.

"Mas Davino!" Alisa melangkah masuk dengan berani, meletakkan piring kue di meja kecil dengan kasar. "Berapa kali aku harus bilang? Jangan taruh handuk basah di atas kasur! Itu lembap, Mas. Itu bisa jadi tempat berkembang biak bakteri dan jamur. Kita tidur di sini!"

Vino menatap handuk itu, lalu menatap Alisa dengan kening berkerut. "Hanya handuk, Alisa. Nanti juga kering."

"Tidak bisa begitu! Ini masalah kebersihan dasar. Aku ini dokter, aku tidak bisa membiarkan kasurku jadi sarang kuman hanya karena suamiku malas menggantung handuk pada tempatnya!" Alisa mengambil handuk itu dengan ujung jarinya—seolah-olah itu adalah limbah medis berbahaya—dan menggantungnya dengan sentakan keras di rak handuk dekat kamar mandi.

Vino memperhatikannya dengan tangan bersedekap di dada, membuat otot-otot dadanya semakin terlihat jelas. "Kamu cerewet sekali untuk urusan kecil."

"Ini bukan urusan kecil, ini prinsip!" Alisa berbalik, wajahnya memerah, entah karena marah atau karena ia sadar ia baru saja membentak seorang perwira polisi yang bertubuh dua kali lipat darinya. "Dan tolong, pakai bajumu. Ada Fani di bawah, kalau dia tiba-tiba naik dan melihatmu begini, aku yang malu."

Vino mengambil kaos oblong hitamnya dengan santai. "Ini rumahku. Aku bebas berpakaian seperti apa pun."

"Sekarang ini juga rumahku!" balas Alisa telak.

Vino terdiam sejenak. Kalimat "ini juga rumahku" entah kenapa terdengar berbeda di telinganya. Ada rasa hangat yang aneh muncul, namun ia segera menepisnya. Ia memakai kaosnya dengan cepat.

"Mana kuenya?" tanya Vino, mencoba mengalihkan suasana.

Alisa menunjuk piring di meja. "Itu. Fani dan Bi Ijah yang bantu buat. Kalau Mas mau, turunlah ke bawah. Fani ingin menyapamu."

Vino mengambil satu potong cookies dan menggigitnya. Rasanya manis, sangat berbeda dengan makanan hambar yang biasa ia konsumsi. "Lumayan. Aku akan turun nanti."

Alisa segera berbalik untuk keluar, namun langkahnya terhenti saat Vino memanggilnya.

"Alisa."

"Apa?" Alisa menoleh dengan sisa kekesalan.

"Lain kali... kalau mau ceramah soal bakteri, pastikan kamu tidak sedang menatap perutku terlalu lama. Itu membuat ceramahmu jadi kurang meyakinkan." Vino memberikan senyum miring yang sangat tipis, hampir tak terlihat.

Wajah Alisa memanas seperti kepiting rebus. "Aku tidak... aku tidak menatapnya! Aku cuma... Argh!"

Alisa menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar dengan cepat, menutup pintu dengan bunyi dentum yang cukup keras. Di dalam kamar, Vino terkekeh rendah—suara tawa pertama yang keluar dari mulutnya setelah sekian lama. Ada sesuatu tentang Alisa yang mulai mengusik ketenangan dunianya yang selama ini kaku.

Di bawah, Fani melihat Alisa turun dengan wajah yang sangat merah. "Lho, Al? Kok wajahmu seperti habis dijemur? Mas Polisimu itu melakukan sesuatu?"

"Dia menyebalkan, Fan! Sangat, sangat menyebalkan!" Alisa duduk di kursi dapur dan mulai mengunyah kue dengan rakus.

Bi Ijah hanya tersenyum bijak dari sudut dapur. "Biasanya kalau sering berdebat begitu, tandanya sudah mulai ada percikan, Non."

"Percikan emosi, Bi! Bukan yang lain!" bantah Alisa cepat.

Namun, di dalam hatinya, Alisa tidak bisa melupakan bagaimana jantungnya berdegup kencang saat melihat suaminya tadi. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri: Ini hanya kesepakatan satu tahun. Jangan jatuh ke dalam pesonanya, Alisa. Ingat handuk basahnya!

Sore itu, rumah yang dulunya dingin dan sunyi, kini dipenuhi oleh tawa Fani, aroma cokelat yang manis, dan perdebatan-perdebatan kecil yang tanpa disadari mulai mengikis tembok tinggi di antara Vino dan Alisa. Meski teror masih mengintai di luar sana, untuk beberapa jam ini, rumah itu benar-benar menjadi sebuah rumah.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!