NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Sarapan Pertama yang Kaku

Dia tidak keluar kamar sampai matahari meninggi.

Bukan karena tidak bisa bangun. Tapi karena setiap kali tangannya menyentuh gagang pintu, bayangan itu datang lagi—Maya di depan wastafel, handuk setengah melilit, bahu yang bergetar. Dan lebih buruk dari gambarnya: suaranya. *Aku hanya tidak terbiasa sendiri.* Kalimat itu tidak minta izin untuk masuk, tapi sudah tinggal semalaman.

Ardi sudah dua kali membuka jurnal. Dua kali menutupnya. Halaman terakhir masih berisi tulisan yang sama: *Aku seperti ayahku.*

Di bawah sinar pagi yang mulai tajam menembus celah gorden, kalimat itu terasa lebih berat dari semalam. Ayahnya menikahi wanita muda karena kesepian. Ardi membenci itu. Tapi tadi malam—apa yang dia lakukan? Berdiri di lorong, mendengarkan tangis perempuan asing sampai kakinya tidak bisa bergerak?

Bukankah itu awal dari hal yang sama?

Ardi mengusap wajahnya kasar. Dia tidak akan menjadi Bram Hartono. Tidak akan.

Pukul sembilan, dia turun.

 

Aroma kopi menyambutnya lebih dulu dari suara apa pun.

Ardi berhenti di ambang pintu dapur.

Maya berdiri di depan kompor, membalik telur dengan spatula yang terlihat sedikit terlalu besar untuk tangannya. Rambut diikat asal—karet gelang hijau yang pasti diambil dari laci junk drawer di bawah meja, karena tidak ada yang punya karet gelang hijau di rumah ini. Kemeja abu-abu, celana jeans. Kaki masih telanjang di ubin putih yang pasti dingin.

Di meja dapur: dua piring. Nasi, sayur, sambal. Dan satu cangkir kopi hitam di tempat yang kemarin Ardi duduk.

Dua piring. Dia menyiapkan untuk dua orang.

Maya menoleh. Matanya bertemu mata Ardi—dan ada sesuatu yang lewat di sana, sekilas, seperti kilat di langit cerah. Mungkin malu. Mungkin ingatan tentang semalam. Lalu dia menunduk, kembali fokus pada telur yang mulai gosong di pinggirnya.

"Aku buat sarapan," katanya pada wajan. "Maaf kalau tidak enak. Aku cuma bisa masak yang sederhana."

Ardi tidak menjawab. Dia menarik kursi, duduk.

Telur diletakkan di piringnya—kuning pecah, putihnya sedikit gosong di tepi. Tapi baunya naik ke hidungnya dan membawa sesuatu yang tidak dia undang: pagi-pagi dulu, suara ibunya di dapur, nasi hangat dan telur mata sapi yang tidak pernah sempurna tapi selalu terasa seperti rumah.

Dia mengambil sendok. Makan.

Maya duduk di seberangnya. Diam. Keduanya mulai makan tanpa suara—hanya sendok menyentuh piring, kunyahan yang canggung, dan bunyi kipas angin dapur yang berputar pelan.

Setelah beberapa menit, Maya meletakkan sendoknya.

"Tentang tadi malam..." suaranya pelan, seperti menginjak permukaan yang belum tahu seberapa tipis. "Maaf. Aku lupa mengunci pintu. Aku tidak terbiasa ada orang lain di rumah."

Ardi mengangkat wajah. "Ini rumahku."

Maya menunduk. "Iya. Aku tahu. Maaf."

Dia tidak bermaksud bersikap kasar. Kata-kata itu keluar sebelum dia sempat menahan—seperti refleks yang lebih cepat dari niatnya. Ardi melihat Maya menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya memegang sendok lebih erat dari perlu.

"Kamu tidak perlu minta maaf." Suaranya keluar sedikit melunak, dan dia benci melakukannya tapi tidak bisa tidak. "Aku yang harusnya mengetuk."

Maya mendongak.

Matanya sedikit basah—bukan menangis, tapi dekat ke sana. Lalu senyum kecil itu muncul. Senyum yang sama seperti kemarin di jendela. Pahit dan tulus sekaligus, seperti orang yang sudah lama tidak menerima permintaan maaf dan tidak tahu harus bereaksi apa.

"Terima kasih," katanya.

Ardi mengalihkan pandangan.

Mereka makan lagi. Kali ini keheningannya berbeda—tidak setajam tadi, tidak sedingin kemarin. Ardi memperhatikan Maya dari balik cangkirnya. Dia makan dengan lahap tapi rapi. Sesekali matanya melirik ke jendela, ke taman belakang—seperti orang yang masih belum percaya bahwa pemandangan itu nyata, bahwa dia benar-benar ada di sini.

"Bram sudah berangkat?" Nama ayahnya terasa asing di lidahnya sendiri.

Maya menggeleng. "Jam lima pagi. Ada urusan di Surabaya. Bilang beberapa hari."

Beberapa hari.

Ardi hampir tertawa—tapi tidak lucu. Ayahnya menikah, lalu meninggalkan istri barunya di rumah orang asing. Di rumah yang bahkan ARTnya libur. Seperti biasa, Bram Hartono lebih tahu cara mengurus bisnis daripada manusia.

"Kamu ditinggal?" Nada sinisnya tidak sepenuhnya tersembunyi.

Maya mengangkat bahu kecil. "Aku sudah biasa."

Ardi berhenti mengunyah.

Sudah biasa.Tiga kata yang diucapkan dengan nada datar—bukan luka, bukan keluhan. Hanya fakta. Seperti menyebut cuaca atau harga bensin. Dan justru karena itu, kalimatnya mengganjal di suatu tempat di dadanya yang tidak dia izinkan untuk disentuh.

Sebelum dia sempat bertanya, bel pintu berbunyi.

Mereka berdua menoleh ke arah ruang tamu.

Maya setengah berdiri, ragu. Ardi mengangkat tangan—isyarat dia yang akan membuka.

Di balik pintu: Sari. Senyum lebar, rambut diikat tinggi, dress bunga-bunga yang terlalu ceria untuk Sabtu pagi. Dua kantong plastik buah-buahan menggantung di tangannya.

"Pagi!" Dia melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan—seperti biasa, seperti selalu. Matanya menyapu ruangan sekilas, menangkap Ardi, lalu melirik lebih jauh ke dalam. "Aku dengar ayahmu nikah. Aku bawain buah. Biar sopan."

Ardi menutup pintu. Mengikuti dari belakang, dadanya tidak nyaman dengan cara yang tidak bisa dia jelaskan.

Sari berhenti di ambang dapur.

Maya masih di meja—piring setengah kosong, kopi di tangan. Mereka saling memandang dua detik.

Sari tersenyum. Bukan senyum basa-basi. Senyum hangat, seperti cara Sari selalu tersenyum pada orang yang baru dia temui—terbuka, tanpa curiga, tanpa pertimbangan panjang. "Kamu pasti Maya? Aku Sari. Pacarnya Ardi." Dia meletakkan kantong belanjaan di meja. "Maaf baru datang. Ardi baru cerita kemarin."

Maya berdiri. Menyeka tangannya di celana jeans sebelum mengulurkannya. "Iya. Senang bertemu kamu."

Ardi memperhatikan dari dekat pintu.

Ada sesuatu yang bergeser. Sesuatu yang kecil tapi tidak bisa dia abaikan: Maya tersenyum pada Sari dengan cara yang berbeda. Lebih terbuka. Lebih santai. Seperti otot di wajahnya yang selama ini tegang akhirnya menemukan alasan untuk mengendur.

Mungkin karena Sari perempuan. Mungkin karena Sari tidak memandangnya dengan curiga sejak detik pertama.

Sari sudah duduk di samping Maya, sudah mengambil alih udara di ruangan. "Aku dengar kamu kurator seni? Keren banget. Aku suka seni tapi nggak ngerti-ngerti amat."

"Dulu." Maya mengangguk kecil. "Sekarang tidak bekerja."

"Kenapa?"

Jeda. Mata Maya melirik Ardi sekilas—cepat, hampir tidak terlihat—lalu kembali ke Sari. "Ingin fokus keluarga dulu."

Keluarga.

Ardi meletakkan cangkirnya ke wastafel. Pelan, supaya tidak terdengar. Tapi kata itu sudah masuk—kecil tapi tajam, seperti serpihan kaca yang tidak kelihatan sampai kamu menginjak.

Keluarga apa? Suaminya berangkat jam lima pagi. Anak tirinya tidak mau menatap matanya. Rumah ini bahkan belum hafal namanya.

"Bagus, sih." Sari mengangguk antusias, tidak menangkap apa pun. "Rumah segede ini pasti butuh banyak yang ngurusin."

Maya tertawa kecil. Pendek, seperti suara yang tidak terbiasa keluar.

"Mungkin," katanya.

Ardi berdiri. "Aku ke kantor."

"Tunggu." Sari menoleh. "Aku baru datang. Kamu nggak bisa temani sebentar?"

"Ada rapat."

"Rapat Sabtu pagi?" Sari menyipit. Matanya membaca Ardi dengan cara yang sudah dia kenal bertahun-tahun—cara yang tidak bisa dia bohongi sepenuhnya. "Kamu bohong."

Ardi tidak menjawab. Dia mencuci piring, mengeringkan tangan.

"Aku cuci saja." Maya sudah berdiri, tangannya meraih piring kotor yang tersisa sebelum Ardi sempat bereaksi. "Kalau mau pergi, tidak usah repot."

Ardi menatapnya.

Wanita ini berdiri di samping Sari dengan piring kotor di tangan, gerakannya ragu—seperti orang yang tahu posisinya belum resmi di dapur ini, tapi tetap bergerak karena tidak tahu cara lain untuk ada. Istri yang tidak diinginkan. Tamu yang tidak bisa pergi. Tapi tetap bangun pagi dan menyiapkan dua piring.

"Terima kasih," kata Ardi.

Dia keluar dapur.

Sari menyusul ke ruang tamu. "Di, aku ikut?"

"Tidak usah. Temani Maya saja." Ardi mengambil jaket dari gantungan. "Aku benar ada rapat."

Sari diam sebentar. Lalu tangannya meraih pergelangan tangan Ardi—bukan menggenggam, hanya menyentuh. "Kamu baik-baik saja?"

"Kenapa tidak?"

"Karena kamu aneh." Matanya mencari mata Ardi. "Aku tahu kamu marah soal pernikahan ayahmu. Tapi Maya... dia kelihatan baik, Di. Mungkin kamu bisa coba menerimanya?"

Ardi menarik tangannya. Pelan. "Kamu baru kenal dia lima menit."

"Lima menit cukup untuk lihat kalau seseorang tidak punya niat buruk." Sari tersenyum kecil—senyum yang lembut, tapi terasa seperti kritik yang dibungkus kapas. "Kadang kamu terlalu cepat menghakimi."

Ardi membuka pintu. Melangkah keluar.

Di teras, sebelum menuruni anak tangga, matanya bergerak ke jendela dapur—hampir tanpa sengaja. Sari dan Maya sudah berdampingan di meja, Sari menunjukkan sesuatu di ponselnya sambil tertawa. Maya mendengarkan. Dan di wajahnya ada sesuatu yang tidak dia tunjukkan sekalipun pada Ardi sejak kemarin: ekspresi yang mendekati tenang.

Ardi membalikkan badan. Berjalan ke mobil.

Di kantor, laptopnya menyala. Tidak ada yang dia kerjakan.

Matanya menatap layar—tapi kepalanya masih di dapur itu. Di telur gosong yang rasanya seperti sarapan dulu. Di *aku sudah biasa* yang diucapkan tanpa nada. Di senyum Maya yang muncul untuk Sari dengan cara yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

Ardi membuka jurnal.

Bukan pencari harta. Wanita pencari harta tidak bangun pagi untuk memasak telur gosong untuk anak tiri yang membencinya. Tidak tersenyum pahit saat suaminya pergi sehari setelah menikah. Tidak bilang sudah biasa dengan nada yang lebih menyakitkan dari keluhan mana pun.

Aku salah. Tapi itu tidak berarti aku harus menyukainya.

Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang mengingatkanku pada seseorang. Aku tidak tahu siapa. Mungkin diriku sendiri.

Tapi aku tetap waspada. Aku tidak akan membiarkan dia merusak apa pun yang tersisa.

Dia menutup jurnal. Memasukkannya ke laci.

Ponselnya bergetar. Foto dari Sari: dia dan Maya selfie di dapur, Sari senyum lebar seperti biasa. Dan Maya—tersenyum. Bukan senyum pahit yang Ardi kenal. Bukan senyum kecil yang menahan sesuatu. Senyum yang terlihat seperti seseorang yang untuk sesaat lupa bahwa hidupnya sedang tidak mudah.

Ardi menyimpan ponselnya tanpa membalas.

Tapi foto itu tidak ikut tersimpan. Terus muncul di antara baris angka yang tidak bisa dia baca, di antara rapat yang tidak bisa dia ikuti sepenuhnya. Wanita yang semalam menangis di kamar mandi, pagi ini memasak untuk orang yang membencinya, siang ini bisa tersenyum seperti itu pada orang asing.

Ardi tidak tahu kenapa dia peduli. Dia tidak seharusnya peduli.

Tapi benci dan peduli, ternyata, bisa tumbuh dari tanah yang sama.

Dan dia belum tahu mana yang lebih berbahaya.

Ardi tidak benar-benar bekerja hari itu. Malamnya, dia duduk terlalu lama dengan lampu mati, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah—sampai pagi datang tanpa izin.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!