Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Lebih dekat
Setelah selesai mengaji, Gus Nathan berbincang dengan Mama Sarah di ruang tamu. "Gus Nathan sudah punya calon belum Gus?" tanya Mama Sarah dengan nada yang santai.
"Belum Bu," jawab Nathan dengan singkat.
"Kalau begitu sama Zira aja Gus, sapa tau Zira mau seperti dulu kalau di bimbing sama Gus Nathan," ucap Mama Sarah sedikit nada bercanda.
"Kalau boleh tau emang nya Zira kenapa dulu bu?" jawab Nathan dengan rasa ingin tahu.
"Zira yang dulu anak nya Sholehah banget Gus, Hafizah juga sering menghadiri acara pengajian dan mengisi kajian kalau ada waktu luang. Ada kejadian di masa lalu yang membuat Zira putus asa karna prilaku ayah yang sudah mengecewakannya, dulu Zira masuk pesantren dan hafalan Alquran karna ingin kedua orang tua masuk surga dan menutup auratnya agar ayah tidak menanggung dosa nya. Tapi karna kejadian tersebut merasa bahwa ayah nya berhak menanggung dosa Gus, saya sedih bangett jika melihat Zira berpakaian kurang bahan Gus, baru kali ini Zira kembali memakai pakaian longgar hati saya sedikit ada harapan bahwa Zira bisa kembali seperti dulu," ucap Mama Sarah sambil menitikkan air mata.
"Kalau boleh tau masalah nya apa yah Bu sampai - sampai Zira berubah total kaya gitu, maaf kalau terlalu ikut campur urusan keluarga Bu Sarah," ucap Nathan dengan nada yang lembut.
"Suami saya selingkuh sampai punya anak di luar nikah Gus," jawab Mama Sarah dengan nada yang berat.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Nathan dengan rasa tak percaya.
"Terima kasih yah Gus sudah mau mengajari Rayyan ngajai, jadi saya bisa mendengarkan suara merdu dari Zira," ucap Mama Sarah dengan nada yang syukur.
"Udah kewajiban saya untuk membimbing santri saya Bu," jawab Gus Nathan dengan nada yang santai.
"Yaudah bu saya pamit dulu sudah sore juga," ucap Nathan sambil berpamitan pada Mama Sarah dan Rayyan yang masih ada di ruang tengah.
Zira datang dari lantai 2, "Ehh Gus mau pulang sekarang?" tanya Zira dengan nada yang santai.
"Iyah saya mau pulang," jawab Gus Nathan tanpa menoleh ke sumber suara.
"Kebiasaan deh, kaya bicara sama patung," kesal Zira dengan nada yang lucu.
"Nih pakai yah, sebenarnya saya mau kasih ke adek saya cuman kamu yang lebih butuh jadi saya kasih," ucap Nathan sambil menyerahkan bingkisan yang berisi hijab untuk Zira.
"Gerah Gus pakai ini, tapi gak papa kalau Gus Nathan mau kasih ke Zira sapa tau Gus Nathan mulai jatuh hati ke Zira," ucap Zira dengan pede nya.
"Saya pulang dulu assalamualaikum," ucap Nathan dengan nada yang santai.
"Waalaikumsalam," jawab Zira dengan nada yang santai.
Gus Nathan meninggalkan rumah Zira dengan perasaan yang berbeda, dia merasa ada sesuatu yang menarik dirinya ke Zira. Zira yang melihat Gus Nathan pergi, tersenyum dan memegang bingkisan yang berisi hijab.
"Gus Nathan, kamu tidak tahu betapa aku ingin kembali seperti dulu," ucap Zira dalam hati.
Zira kembali ke kamar dan membuka bingkisan yang berisi hijab. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda, ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
"Aku harus lebih dekat dengan Gus Nathan," ucap Zira dalam hati.
Zira mulai merencanakan cara untuk lebih dekat dengan Gus Nathan, dia ingin tahu apa yang membuat Gus Nathan begitu spesial.
Gus Nathan yang sudah sampai di rumah, membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda, ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
"Aku harus lebih berhati-hati, Zaba jadi bahaya bagi aku," ucap Gus Nathan dalam hati.
Gus Nathan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Sesampainya di rumah, Nathan berpapasan dengan Umi Aisyah.
"Bang, kamu gak lupa kan beli kerudung buat adek kamu itu?" tanya Umi Aisyah.
"Hmm, itu mi, Nathan sudah beli tapi kerudungnya buat seseorang yang lagi membutuhkan mi, maaf nanti Nathan beli lagi habis bada Maghrib," jawab Gus Nathan.
"Siapa gadis itu yang menerima hadiah dari kamu bang? Jarang-jarang kamu kayak gitu, dekat sama lawan jenis aja jarang," ucap Umi Aisyah.
"Itu kakak Rayyan yang sedang di jalan yang salah, umi. Kata ibu nya, Zira itu dulu orang yang Sholehah banget, terus cara berpakaian nya sesuai syariat Islam, tapi karna kejadian yang membuat dirinya kecewa, dia berubah total mi. Jadi Nathan kasih hijabnya ke Zira," jawab Nathan.
"Zira, nama yang cantik. Pasti orang cantik yah bang? Buruan di khitbah, takut zina bang," ucap Umi Aisyah.
"Umi mah gitu bicaranya tentang nikah-nikah Mulu. Kalau sudah takdirnya, pasti Nathan akan menikah mi," jawab Nathan.
"Iyah deh, umi percaya sama kamu. Ehh, kalau boleh tau, itu masalahnya apa sampai-sampai berubah gitu?" ucap Umi Aisyah yang penasaran.
"Itu mi, ayahnya selingkuh sampai hamil di luar nikah, katanya ibunya Zira," jawab Nathan.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Umi Aisyah.
"Kamu jangan tiru Nathan itu berbuat yang tidak terpuji, kalau kamu nanti mempunyai istri, cintai lah istri jika dia sedang salah jalan, maka kamu bimbing sampai benar-benar istri ke jalan yang benar," ucap Umi Aisyah.
"Iyah, umi ku sayang," jawab Nathan.
"Bang, hijab putri mana? Udah beli kan yah? Gak lupa kan?" tanya putri.
"Abang gak lupa, cuma hijabnya Abang kasih ke seseorang yang yang membutuhkan, nanti habis bada Maghrib Abang beli lagi, kamu mau ikut juga gak papa, sekalian barang kali ada yang mau di beli lagi," jawab Nathan.
"Pacar Abang yah, IHH Abang pacaran itu gak boleh yah, zina tau," ucap putri.
"Bukan, cuman seseorang yang sedang di jalan yang salah, dek," jawab Nathan.
"Kalau gitu di bimbing bang, di nikahin dong," ucap putri sambil ketawa.
Gus Nathan tersenyum, "Kita lihat saja nanti, dek."
Umi Aisyah tersenyum, "Iyah, kita lihat saja nanti."
Gus Nathan dan keluarganya terus berbincang, sementara Zira masih memikirkan tentang Gus Nathan dan hijab yang dia terima.
Malam itu, di rumah Zira, suasana hangat terasa di ruang tamu. Aryan, adiknya, meminta Zira untuk mengantarnya ke mall untuk membeli buku. "Mah, Aryan mau beli buku, anterin dong mah," ucap Aryan dengan wajah ceria.
Mama Sarah, yang sedang beristirahat, menjawab, "Sama kak Zira aja, yah. Mama mau istirahat, capek banget."
Zira pun setuju dan mengajak Aryan berangkat ke mall. Di sana, mereka bertemu dengan Gus Nathan dan adiknya, Putri, di toko buku. Zira dan Gus Nathan saling bertatap muka, dan Zira merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Kak , itu Gus Nathan bukan sih?" tanya aryan sambil menunjuk ke arah Gus Nathan.
Zira menjawab, "Mana dek?"
Aryan menjawab, "Itu disana."
Sambil berjalan ke arah Gus Nathan dan adeknya. "Assalamualaikum Gus." Ucap Aryan dan zira secara bersamaan
Gus Nathan dan Putri melihat ke arah mereka, dan Gus Nathan tersenyum. "Waalaikumsalam," ucap Gus Nathan
Putri pun menjawab, "Waalaikumsalam, kakak cantik."
"Kamu bisa aja, kamu juga cantik, tapi kalau senyum lebih cantik. Kenapa cemberut, hm?" Ucap zira
Putri tertawa dan menjawab, "Itu Abang gak mau beliin putri novel, kak. Padahal putri pengin banget."
Gus Nathan menjawab, "Dek, novel kamu tuh banyak banget, belum semua habis baca, dek nanti mubazir."
Zira menawarkan, "Yaudah, beli aja, aku yang bayar."
Putri sangat gembira dan menjawab, "Ehh, beneran kak?"
Setelah membeli buku, Zira mengajak Gus Nathan dan Putri untuk makan di restoran. Di sana, mereka berbincang dan Zira merasa semakin dekat dengan Gus Nathan.
"Ini mba, pesanannys" ucap pramusaji.
" Terimakasih mba." Jawab zira
Gus Nathan dan Putri tersenyum, dan mereka mulai makan. Percakapan menjadi lebih santai, dan Zira merasa nyaman dengan kehadiran Gus Nathan.
Namun, percakapan menjadi canggung ketika Putri menyebutkan bahwa Gus Nathan telah memberikan hijab kepada Zira. Gus Nathan terlihat kaget dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi setelah selesai makan Gus Nathan dan putri pulang terlebih dahulu
Zira, yang merasa malu, mencoba untuk mengalihkan perhatian. "Kak, are you okay?" tanya Aryan, karena merasa kasian kepada kakaknya karna Gus Nathan acuh dalam menanggapi pembicaraan putri.
Zira menjawab, "I am fine, yuk pulang dek."
Aryan menambahkan, "Kak, coba aja kakak berubah penampilan seperti dulu, pasti Gus Nathan mau."
Zira menjawab, "Kamu apaan sih, kakak mau cari cowok yang benar-benar nerima kakak apa adanya dek Udah yuk pulang.
"
Di dalam mobil, Aryan menceramahi Putri karena telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. "Dek, jangan bilang gitu lagi, yah. Gak enak didengar, dek. Barang kali kak Zira ifil atau sudah punya pasangan," ucap Aryan.
Putri menjawab, "Emang kak Zira udah punya pasangan bang?"
Gus Nathan, yang mendengar percakapan itu, hanya menjawab, "Gak tau, kan. Barang kali udah. Jangan dibahas lagi."