NovelToon NovelToon
Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pernikahan Kilat / Pelakor
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?

"Aku pergi bukan untuk kembali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Mirza memperhatikan Raymond papanya, yang sepertinya gugup. Terlihat dari jemarinya yang gemetar saat mengisap rokok. Sudah lima belas menit berlalu. Raymond masih bungkam. Hanya jemarinya yang sibuk menjentikkan abu rokok di asbak. Atau mematikan rokok padahal masih tersisa separuh.

"Papa mau ngomong apa sebenarnya?" Mirza mulai tidak sabaran. Telah berkali-kali dia menghela nafas panjang melihat kelakuan papanya.

"Baiklah, Papa bicara to the point saja. Karena kamu memang sudah dewasa. Tentu kamu bisa melihat masalah ini dari dua sudut pandang yang berbeda."

"Mungkin kamu akan marah pada Papa. Menyalahkan Papa akan semuanya."

"Sebenarnya apa yang hendak Papa bicarakan. To the point tapi mengelambir kemana-mana." sindir Mirza.

Raymond menarik nafas panjang. Dia memang harus jujur supaya tidak terjadi kesalah pahaman. "Papa sudah menikah lagi. Itulah sebabnya Mama kamu minta cerai."

Mirza tidak kaget mendengarnya. Tapi tak urung dia mengepalkan tangannya saat mendengar pengakuan papanya.

"Papa tidak mau menceraikan Mamamu. Asal Mamamu mau menerima Tante Khaty di rumah ini. Papa akan bersikap adil pada kalian berdua." ucap Raymond setelah beberapa saat hening.

"Tapi mama kamu ngotot minta cerai. Jadi, Papa harap kamu mau membujuk Mama, supaya mengurungkan niatnya itu. Mama sudah tua, tentunya tidak aman kalau dia berada di luar rumah sendirian."

"Siapa bilang Mama akan sendirian. Mirza akan menemani Mama kapan dan dimana saja pun." ucap Mirza penuh penekanan. Matanya menyorot tajam.

"Mirza, kamu harus selesaikan kuliahmu. Tidak akan ada yang berubah dari Papa, sekalipun kami bercerai."

"Tapi aku tidak akan izinkan siapa pun untuk menyakiti Mama. Termasuk Papa. Cukup perlakuan buruk Papa kepada Mama di masa lalu. Tapi sekarang, Papa harus langkahi dulu Mirza sebelum menyakiti Mama lagi!"

"Mirza! Kenapa kamu selalu membela Mama kamu. Padahal Papa yang telah membiayai hidupmu selama ini. Mama kamu tidak pernah menghasilkan uang sepersen pun di rumah ini."

"Papa mau hitungan ya. Jadi selama ini pengabdian Mama sebagai istri Papa tidak ada artinya kah? Pengorbanan Mama merawat Nenek? Setelah dua puluh tahun, mendampingi Papa, semua itu tidak berarti ya, Pa?" beliak Mirza menatap papanya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Raymond gelagapan mendengar jawaban Mirza. Tidak menyangka kalau putranya berani bicara sejauh itu padanya. Kenapa Mirza begitu menyayangi Ribka. Padahal Ribka bukan ibu kandungnya. Apakah harus aku ungkapkan hal yang sebenarnya, agar anak ini bisa mengarahkan kemana pengabdiannya.

Tapi kalau aku bicara sekarang, tentu Mirza akan semakin membenciku. Bukan hanya kepadaku. Kepada Khaty yang nota bene adalah ibu kandunya juga akan berimbas. Padahal rencananya, secara perlahan mereka akan memberitahu Mirza.

Raymond menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Belum waktunya. Ini bukan saat yang yang tepat. Mirza akan murka dan berbalik membenci mereka.

"Lupakan apa yang barusan Papa bicarakan. Papa memintamu untuk membujuk Mama, supaya mengurungkan niatnya itu. Demi kebaikan kita semua." ucap Raymond perlahan.

"Apakah itu artinya Papa membatalkan pernikahan dengan Khaty?" tohok Mirza tanpa tedeng aling-aling. Raymond merasa tersudut.

"Itu tidak mungkin. Papa sudah menikahi Tante Khaty." Raymond menghela nafas.

Mirza juga ikut menghela nafas." Berarti sikap Mirza juga sudah jelas Pa."

"Mirza? Kamu ...." Mirza tidak menjawab. Dia langsung meninggalkan papanya sendirian. "Brengsek! Anak itu benar-benar sudah dicuci otaknya oleh Ribka!" makinya seraya melempar asbak ke dinding. Asbak itu hancur berkeping.

Ponsel Raymond berdering. Bu Nora yang menelpon. Dengan kesal Raymond menjawab.

["Raymond, kenapa Ribka belum datang juga menemani Ibu di rumah sakit? Perut Ibu gak enak. Nafas Ibu juga sesak."] adu Bu Nora di seberang.

"Bu, kasih tau perawat Bu, keluhan Ibu. Malam ini Ray gak bisa jaga Ibu. Besok Ray mau kerja."

["Ribka dimana? Biasanya kan dia yang datang jaga, Ibu."]

Raymond menghela nafas berat. "Menyuruh Ribka juga gak mungkin Bu. Kami barusan bertengkar hebat, Bu."

["Apa?" seru Bu Nora kaget. Lalu menyalahkan anaknya. " Ibu kan sudah bilang, jangan kasar lagi pada Ribka. Harusnya kamu bisa membujuknya. Bukan semakin membuatnya marah!"]

"Abis aku kesal Bu, Ribka mempengaruhi Mirza sehinga melawan padaku."

["Apa?" Bu Nora kembali kaget saat nama Mirza disebut. Apakah cucunya pulang? "Mirza ada di rumah ya? Kamu berantam di depan Mirza? Astaga, Raymond. Kamu sudah gila apa?"] sentak Bu Nora menyesalkan tindakan Raymond.

Bu Nora bisa bayangkan sikap Mirza kalau ibubya diperlakukan buruk. Sedari kecil dia selalu membela Ribka. Apalagi setelah dia sekarang sudah dewasa. Tentu sikap Mirza akan lebih keras.

["Mirza sudah tau neneknya di rumah sakit? Ibu mau bertemu Mirza."]

"Iya, Bu, nanti Ray bilang sama Mirza."

["Malam ini siapa yang menemani Ibu, di rumah sakit, Ray? Ibu takut tidur sendirian."]

"Iya, iya Bu. Raymond yang nemani. Bentar lagi Ray datang." terpaksa Raymond mengiyakan, menemani ibunya di rumah sakit. Padahal besok pagi dia mau ada pertemuan di kantor.

'Huh, gara-gara ulahmu Ribka. Aku jadi susah begini." Raymond menggaruk kepalanya. Lalu mengambil jaketnya dan bergegas ke rumah sakit.

Ribka tersenyum sinis melihat kepanikan Raymond. Yang terpaksa harus tidur di rumah sakit. Padahal dulu, dialah yang menjadi garda terdepan. Mengurus ibu mertuanya di rumah sakit.

Bolak balik antara rumah dan rumah sakit. Mengurus suami dan anak juga. Menyiapkan makan semua anggota keluarga tanpa dibantu ART. Dua iparnya perempuan tidak bisa diharapkan tenaganya. Namun, semua pengorbanannya itu tidak pernah dihargai suaminya.

Dia malah dianggap pembantu gratis. Istri pajangan, yang diperbudak. Bahkan dia merawat anak dari selingkuhan suaminya sendiri dengan membuang anak kandungnya.

Bertahun-tahun dia didera penyesalan. Dimanipulasi, tidak berdaya dan menjadikan semua perlakuan buruk suami dan keluarga mereka. Sebagai penebusan atas kesalahannya itu.

Selama ini sikap dingin suaminya bisa dia terima. Karena memang sudah layak dia terima atas kesalahannya dulu. Berharap suatu saat suaminya mau memaafkannya. Dia merawat Mirza penuh kasih sayang, untuk menebus kesalahannya itu.

Namun, sekarang harapannya itu musnah. Penghianatan suaminya memupuskan semua harapannya. Dan yang lebih menyakitkan. Putranya Jason hilang karena ulah licik suami dan selingkuhannya.

Tuhan memang adil. Meskipun Mirza bukan anak kandungnya. Tapi Mirza mengasihinya dan tidak berubah meskipun dia mengetahui kalau dia adalah anak adopsi.

Sekarang Ribka baru tahu alasan Raymond yang begitu memanjakan Mirza sejak kecil. Dia tidak pernah curiga kalau Mirza adalah darah daging suaminya sendiri. Ribka hanya bisa berdamai dengan hatinya selama ini. Berdamai dengan luka atas kehilangan putranya. Sebab suaminya tidak pernah berusaha mencari putra mereka.

Perhatiannya selama ini kepada Mirza tidak pernah membuatnya curiga. Bahkan ketika Mirza semakin mirip kepada suaminya. Selalu dia sanggah. Semua itu hal yang wajar. Seperti kata orang. Kalau anak adopsi itu akan mirip dengan salah satu dari keluarga yang mengadopsinya.

Entah benar atau cuma kebetulan, tapi kenyataannya memang begitulah yang terjadi pada mereka.***

1
Greenindya
syukurin karma tuh
Linda pransiska manalu: iya Mak. gak mau menghargai menantu.
total 1 replies
Erchapram
Ayo Ribka jadi perempuan yg lebih badas lagi. Jangan mau diinjak2 madesu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!