NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Teman Barunya

Sore yang sangat cerah, padahal sudah jam lima waktu Indonesia bagian barat. Aku menyendoki es krim gelas yang dibelikan Fedi di tempat yang kami lewati tadi. Aku yang duduk di belakang Fedi di sebuah motor skuter Vespa warna putih tampak begitu menikmati perjalanan ini. Tidak ada yang lebih baik dibanding bisa menikmati udara Jakarta di jalanan penuh pohon rindang yang tidak terlalu macet, di sebuah motor skuter sambil makan es krim, apalagi setelah menangis tersedu-sedu. Dalam hati aku bersyukur pada Tuhan telah menciptakan Fedi dan mengenalkannya kepadaku. Aku tersenyum kegirangan, walau jika ada yang melihat pasti mereka heran pada perempuan yang sedang senyum kepada sendok es krim.

Fedi membetulkan spion kaca kanannya untuk bisa melihatku. Aku tersenyum kepadanya lewat pantulan cermin spion dan mengucapkan terima kasih dengan artikulasi mulutku sebaik mungkin supaya ia dapat menangkapnya. Fedi hanya memamerkan gigi kikirnya dan lanjut menatap ke depan untuk mengendarai motor vespa yang ia kemudikan dengan benar.

Aku seperti sedang mengarungi jalanan di Wina bersama Fedi dengan motor skuternya. Di depanku tampak pelangi yang sangat jelas memunculkan ketujuh warnanya di sela-sela bangunan kota. Musik orkestra tiba-tiba bergema dari antah berantah, ikut membuat suasana menjadi sangat menyenangkan. Dari kejauhan langit yang masih berjarak pandang standar, ada burung-burung yang melewati kami seakan memberi salam. Di depan kami pun tampak kawanan bule yang menyambut kami memegang spanduk ‘Najma, kamu tiada duanya!’ lalu menyambut tanganku layaknya idola yang sedang lewat. Motor kami dilempari confetti dan riuh tawa canda. Sungguh pemandangan yang spektakuler.

“Terima kasih sudah mengantar ke kantor.”

“Merasa baikan?”

“Super!” jawabku sambil membuat tanda damai.

“Kapan ke Sambung lagi?”

“Tunggu kabar dari Mbak Esya, deh.”

“Fine, kalau gitu gue yang ke sini.”

“Hah?”

“Supaya nggak ada Vanya atau siapapun.”

“Hah?”

Fedi mendekatkan wajahnya kepadaku yang kebingungan, “Gue mau brainstorming tentang satu ide yang bisa kita buat berdua.”

“Ide apa?”

“Making life more interesting. Gimana?”

Aku hanya menatapnya penuh tanya, tapi aku tahu bahwa idenya pasti datang dari dialog-dialog kami yang telah lalu. Seketika aku jadi penasaran kepadanya.

“Fedi, boleh tanya?”

“Please.”

“Sikap lo yang seperti ini menunjukkan perilaku asli lo kepada setiap perempuan, ataukah lo sedang menggoda gue? Gue anaknya ge-eran jadi gue mau konfirmasi.”

“Gimana ya jawabnya? Betul karena gue memang tertarik sama lo, tapi kalau lo pikir gue seperti ini kepada setiap perempuan, gue nggak tahu.”

“Heeeeh???” responku totalitas. Saking totalnya aku tak sadar kalau bibirku sumbing sebelah.

“Ahaha, reaksi lo sungguh menyebalkan tahu, nggak?” sahutnya lalu membetulkan poniku. Aku melotot sebagai reaksi kaget atas perlakuannya barusan.

“Gue punya banyak teman cowok, tapi nggak ada tuh yang benerin poni gue barusan kayak lo.”

“Gue nggak pernah punya teman. Jadi, gue nggak tahu harus jawab apa.”

“Ah, seriusan? Bokis!”

“Apa tuh?”

“Bokis itu bohong.”

“Bahasa apa itu?”

Wah, ternyata benar Fedi berasal dari dunia yang berbeda denganku.

“Lo selama ini tinggal dimana, sih?”

“Jakarta empat puluh persen, Perth enam puluh persen. Bulak balik sesuai keinginan orang tua.”

Mulutku melongo, Fedi beneran jauh dijangkau.

“Gue nggak punya teman. Setiap gue mencoba menemukan teman selalu ada Vanya yang menghadang.” Ujarnya lalu tersenyum simpul.

“Vanya? Jadi dia penyebab lo nggak punya teman?”

Fedi diam saja, lalu ia menatap lobi depan gedung perkantoranku. “Gede juga ya, gedungnya. Berhubung nggak terlalu jauh dari Sambung, gue akan sering main ke sini. It’s okay, right?”

Aku masih berusaha mencerna ucapan Fedi. Ingin sekali aku menggali lebih dalam tentang kasus ini, tapi Fedi sepertinya enggan membahasnya.

“By the way, motor gue mirip punya lo, kan? Gue pilih warna putih karena warna yang lain terlalu mencolok buat gue. Tapi punya gue keren, kan?”

“Iya. Gue baru tahu lo suka pakai skuter juga. Kirain pakai sopir kayak Vanya.”

“Sebelumnya sih pakai mobil kemana-mana, tapi melihat motor lo kemarin, kayaknya keren juga kalau gue punya. So I bought this one yesterday. Kita nanti konvoi bareng, ya?”

Fedi tersenyum girang layaknya anak kecil yang bertanya pada Ayahnya untuk diajak tamasya ke Taman Safari. Tapi aku hanya bisa melongo tak berkesudahan karena tak percaya. Fedi ini orang atau pangeran Disney, sih?

“Nggak heran gigi lo rata kayak gitu, pasti lo kikir ke dokter, ya? Dasar orang kaya.”

“Gigi? Kenapa gigi gue?”

Aku memilih mengabaikan pertanyaannya, “Eh, terus kalau lo tinggal di luar negeri ngapain lo ikut kursus bahasa Inggris? Di kampus lagi bukan di bimbel?”

Ia kembali pamer gigi, “Karena gue pernah lewat kampus itu dan gue rasa asyik juga bisa spending time di situ. Gue cari info dan ternyata mereka buka kelas Bahasa Inggris. So there I am!”

“Oh. Kalau Vanya?”

“Don’t know. Don’t care.”

Aku diam saja dan berniat menyudahi perbincangan kami yang cukup lama sehingga Mas-mas penyambut mobil terus memperhatikan kami.

“Balik gih, lo kan kabur dari kantor.”

“See you tomorrow, Najma.”

“Okeh. Bye.”

Fedi pun membalikkan kemudi motornya dan melambaikan tanganku riang. Tanpa jaket dan sarung tangan, ia mengemudikan motor barunya menuju kantornya yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari kantorku. Aku pun berbalik masuk menuju kantorku di lantai tujuh belas dan bersiap dimintai keterangan oleh semua orang yang begitu penasaran dengan kejadian hari ini.

Tapi satu hal yang akan kurahasiakan kepada siapapun bahwa Fedi sangat seksi hari ini. Dengan kemeja biru muda yang begitu fit di badannya, serta wajah dan leher yang berkeringat karena cuaca panas ibu kota, desiran darahku begitu kuat mengalir ke segala arah. Aduh, aku tak tahan melihatnya terus-terusan.

Tolong!

Masa aku suka pada manusia paling seenaknya di dunia?

Sadar kamu, Najma!

**

Butuh udara super segar untuk bisa melupakan kejadian yang lalu, bahwasanya Vanya mengancamku untuk tidak mendekati Fedi namun aku malah menantangnya langsung dengan menggiring Fedi lebih dekat kepadaku. Jujur saja, aku takut sikapku yang nekat ini bisa membawa keburukan pada AMD project yang bahkan belum kami mulai. Jika Vanya berani datang ke rumahku dan membuat kejadian pelik seperti kemarin, aku yakin ia bisa merekayasa kejadian lain yang pastinya lebih heboh dari ini.

Tapi, Vanya juga tidak tahu kepribadianku yang begitu keras kepala jika menginginkan sesuatu. Akan kuhadapi segala rintangan walaupun nyawa taruhannya.

Vanya tidak tahu aku sekuat itu.

Najma dan Aga di Taman Bunga

“Aku pikir kamu nggak akan pernah menghubungi aku lagi, Najma.”

Aku hanya tersenyum pada Aga, lalu kembali memandang udara.

“I miss you.”

“Aku juga, karena itulah kita bisa ketemu lagi.”

“Aku hanya bisa minta maaf atas semua yang Rosie lakukan ke kamu, ya.”

“Apa kabar dia? Sakit lagi?”

“Iya. Katanya mau endoskopi hari ini.”

“Aku keterlaluan, ya?”

“No! Dia yang keterlaluan. Aku sih, aku yang paling keterlaluan.”

“Aga, pernahkah kamu berpikir kenapa aku tetap menarik kamu ke arahku di saat aku udah tahu semuanya?”

Aga menggeleng, “Aku selalu penasaran dan nggak habis pikir, Najma. Kamu udah tahu rahasia terburukku. Kamu tahu aku lemah dan bukanlah seorang cowok yang bisa membuat kamu happy.”

“Aku memang sudah tahu semuanya, tapi aku nggak peduli.”

Aga terkesiap. Ia mendekatkan tubuhku padanya dan memelukku pelan.

“Maaf ya, kamu harus menyukai lelaki sepertiku. Jika saja kita bertemu jauh sebelum aku ketemu dia, pasti nggak begini.”

“Aku benci kata ‘jika’, so please jangan bilang hal seperti itu lagi.”

“Maaf.”

“Kamu bisa ngomong hal selain maaf nggak, sih?”

“Hm, oke. Kalau gitu aku mau bikin puisi buat kamu.”

Aga masih memelukku, tangannya dengan lembut membelai rambutku yang sebahu dan terikat bando tali.

“Oke!”

“Dengerin, ya. Jangan dibales!”

Aku mengangguk dan balas memeluknya erat.

“Teruntuk perempuan paling keras kepala di dunia, ingatkah ketika hujan tiba, aku berlari dan panik untuk melindungimu agar tidak basah, namun kamu tertawa begitu senang dan menawarkan kegiatan yang membuat kita sakit kemudian? Apakah buatmu berlarian di bawah hujan sambil berpegangan tangan adalah hal paling indah di dunia? Seberapa sering pun aku bilang itu tidak baik untuk kesehatan kita?”

Aku hanya tertawa mendengarnya.

“Ingatkah bahwa ketika kita makan burger kesukaanku, kamu mengeluh lesu dan tak memakan sedikitpun hingga aku yang memakan semua bagianmu? Dan di saat aku sakit perut karena kekenyangan kamu malah menertawakanku jahanam? Kamu tahu kamu begitu menyebalkan?

“Ahahaha! Iya, aku inget!”

“Ssst, belum selesai!” Aga menatap wajahku sesaat, lalu meneruskan ucapannya dengan intonasi bak penulis sajak profesional.

“Wahai perempuan tulang baja otot besi, tahukah kamu bahwa aku selalu khawatir karena kamu tak pernah lelah? Malahan kamu lupa bahwa ada aku di sini yang bisa membantumu untuk pergi kemana-mana? Kamu menganggapku apa? Seseorang yang hanya bisa menyukaimu tanpa bisa membuatku merasa berguna? Apakah begitu adanya?”

Aku yang kini menatap wajahny bertanya dengan raut wajahku tentang apakah ia benar-benar ingin aku menjawabnya. Tapi, aku rasa tidak. Ia hanya mengumandangkan berbagai pikiran tentang apapun itu.

“Teruntuk Najma sang bintang yang berpijak, apakah suatu hari kamu akan terus mengingatku walaupun aku tak layak untuk jadi masa depanmu?”

Najma kembali ke masa kini

“Nice place! Gue baru tahu ada taman se-oke ini di Jakarta!”

Aku sontak menoleh 180 derajat, otomatis membalikkan kepalaku menuju sumber suara di kejauhan. Fedi datang dan menghampiriku dengan wajah cengegesannya seperti biasa. Aku menyuruhnya mempercepat langkah karena komentarnya barusan bersumber dari jaraknya yang masih sepuluh meter dari posisiku. Kebayang, kan, betapa berisiknya Fedi?

“You’re unexpected, like usual.”

“Elu! Orang yang paling diluar dugaan adalah lo, Fedi.”

“Ahahaha. Really?” lalu Fedi duduk di sampingku dan melihat ke arah laptop yang sedang kupangku. Ia mengintip dan ingin tahu tentang apa yang sedang kulakukan di taman kota, memangku laptop, sendirian.

“So, what we’re gonna make?”

Aku dan Fedi sudah berencana untuk bertemu dan merapatkan hal yang ia singgung waktu ia mengantarku ke kantor. “Making Life More Interesting” adalah tema yang kami berdua akan bahas di hari minggu ini.

Mengapa tidak mendiskusikan hal ini kemarin saja di saat kami kursus di kampus?

Oh, ayolah. Kamu tahu alasannya. Aku tak mau cari ribut lagi dengan Vanya. Jadi, yang aku lakukan kemarin hanyalah makan siang dengan Fedi dari bekal yang aku bawa bersama semua teman-teman kelasku yang lain. Aku sadar, Vanya tak akan berbuat macam-macam jika Fedi sedang bersamaku betapapun ia pasti mengikuti kami di belakang. Selama ada Fedi di kampus, aku merasa aman. Asalkan ketika aku dan Fedi tidak sedang bersama, aku akan berlari secepat mungkin menuju stasiun terdekat untuk pulang.

“Make a list! Kita akan buat sepuluh langkah untuk menjalani hidup lebih menarik.” Jawabnya sendiri. Dasar manusia nggak jelas, nanya sendiri dijawab sendiri.

“Katanya hidup gue udah menarik?!” keluhku sambil memajukan bibir, namun Fedi mengatupnya dengan kedua jari. Aku terkejut, saking terpakunya aku jadi diam saja.

“Don’t do that, please. Or, I’ll kiss you.”

“Hah?”

“Ahahaha. Setiap lo bilang ‘hah’, you crack me up! Ahaha!”

Aku tak mengerti dengan apa yang ia perbuat padaku. Apakah ia punya rasa spesial untukku atau hanya senang membuatku bingung.

“You told me you lost your bestfriends. So, please just forget them all and let’s make a new life together.”

“Hah? Nggak akanlah. Mana mungkin gue melupakan mereka semua.”

“Kenapa?”

“Karena mereka adalah salah satu faktor yang membentuk gue kayak sekarang. Gue bukan jenis manusia yang dengan mudahnya melupakan. So, big no! Never!” Aku beranjak dan berniat meninggalkan Fedi dengan kesal, tapi tangannya lebih cepat mencegahku.

“Don’t go. Lo lupa gue udah di sini?”

“You’re the one that I want to forget!”

“Don’t you know that I’m unforgettable? Duduk lagi, sekarang.”

Keluar lagi, kan, sifat seenak jidatnya sekarang!

“Najma, maaf ya. Tapi, jangan pernah pergi dari gue kapanpun lo suka. Gimanapun gue nggak akan pernah membiarkan lo meninggalkan gue. Paham?”

“Kenapa???”

“Because now you’re my one and only friend.”

Perkataan Fedi barusan membuatku terharu. Aku sekejap lupa bahwa ia adalah laki-laki egois yang menyuruhku duduk seperti peliharaan.

“Dari pertama gue lihat lo ada di sekitar gue, you know when I figured out that you’re sneaking my convo with Vanya for the first time, gue langsung tahu bahwa lo bisa jadi teman gue. Lunch and everything, sebenarnya itu hanya alasan. Gue cuma cari cara agar gue bisa menghampiri lo.”

“Jadi itu?”

“Apa?”

“Hal yang membuat lo tak pernah lelahnya mengganggu gue setiap kursus?”

Fedi memamerkan giginya dan mengambil alih laptopku. Lalu, ia segera menulis daftar yang ia bicarakan tadi dengan cepatnya.

Tunggu, aku tak tahu ada orang yang bisa mengetik dengan sepuluh jari secepat itu langsung di depan mataku! Aku melotot hingga dua bola mataku nyaris keluar dan menggelinding ke tanah.

Daftar buatan Fedi:

Tulis email ke diri sendiri setiap pagi dan kirim dengan format ‘send later’

Mencoba hal baru diluar kebiasaan, seperti minum susu campur jahe

Menyapa setiap orang secara antusias hingga kamu malu sendiri

Walk – or bike to far far away

Challenge yourself even you think you can’t

Fedi menghentikan daftarnya di nomor kelima dan memandangi udara dengan wajah kebingungan. Aku terus menatap daftarnya yang terkesan biasa saja, karena aku beberapa kali melakukannya. Terutama untuk nomor dua, empat, dan lima.

“Fedi, susu dan jahe itu enak. Emang lo belum pernah minum?”

“Belum. Emang enak? Gue nggak tahu kalau itu bisa dicampur.”

“Plis deh. Di Perth nggak ada jahe?”

“Shut up, okay?”

Aku tertawa dan mengambil lagi hak milik laptopku dan kulanjutkan daftar Fedi yang masih kosong untuk lima nomor berikutnya:

Be stupid. Don’t do overthink

Dansa di luar ruangan

Makan-makanan pahit

Berpetualang.

Menyanyi di kala hujan

“Jadi, menurut lo orang-orang yang nggak kebanyakan mikir adalah orang bodoh?”

“Bukan gitu. Elo pernah dengar pepatah: Smart critiques, stupid creates?”

“Nggak.” Jawab Fedi menggelengkan kepalanya.

“Itu memang slogan iklan merek celana sih. Tapi, benar kan?”

Fedi masih berpikir sambil melihat ke langit.

“Terus, sebagai pecinta makanan asin gue rasa akan sangat menarik jika gue selingi makanan kita dengan rasa pahit.”

“Kenapa harus pahit? Kenapa nggak manis aja?”

“Karena kadang, kepahitan adalah hal terbaik untuk membukakan mata terhadap hidup. Lagian, setiap obat itu pahit, kan? Obat manis cuma cocok buat anak kecil.”

“Okay. Nice one. Lalu?”

“Berpetualang. Kita akan pergi ke tempat yang belum pernah kita jamah bersama.”

“So, kita berdua?”

“Kita berdua. Ini proyek berdua, kan?”

Fedi tersenyum manis, tanpa gigi kikirnya. “Banyak banget daftar tempat bagus di Indonesia yang ingin gue datangi. Terima kasih mau menemani.”

“Sama-sama. Terus, untuk dansa dan menyanyi, gue beneran nulis ini sebagai ungkapan denotasi loh, alias bukan kiasan belaka.”

“Baik! Gue siap jadi pasangan duet Anda, Nona.”

Aku dan Fedi saling melempar senyum, tanda sepakat bahwa satu agenda sudah dimulai.

**

Sudah di kamar namun masih dengan kostum yang belum berubah sedari pagi. Aku terserap oleh keasyikan mengutak-atik ponsel dan membuka foto-foto yang ada di galeri. Aku begitu rindu pada Magi dan Iman. Rindu hingga aku yakin bisa gila dan menderita. Aku yakin kegilaanku nanti tidak aka nada obatnya.

Tidak lama ada telepon masuk, membuyarkan lamunanku yang tidak berisi hingga membuat kedua mataku tidak berkedip dalam waktu yang lama.

“Halo.”

“Najma! Udah sampe?”

Ternyata Fedi. Aku memang sudah lihat namanya, aku tahu. Tapi perasaanku langsung senang ketika mendengar suaranya.

Loh?

“Iya, kenapa?”

“Syukurlah. Gue cuma mau mengingatkan bahwa apapun yang terjadi ke depannya, jangan pernah menyerah dengan daftar yang kita buat, ya. Lo bisa janji sama gue?”

Aku tak terlalu mengerti dengan maksud Fedi, tapi kedengarannya ia sungguh menganggap serius sepuluh hal dalam daftar yang kami buat sore tadi. Aku reflek mengangguk dan setuju bahwa kami berdua harus konsisten dengan daftar tersebut.

“Siap! Elo pun harus begitu, ya!”

“Of course! Gue nggak akan pernah hengkang dari perjanjian ini. Ciao! Good night!”

Lalu telepon ditutup tanpa menunggu aku membalas ucapannya.

Fedi, apakah ia memang secara natural adalah pria yang seenaknya?

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!