NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11 Bibit, Bobot, Bebet

Happy reading

Setelah punggung Rama menghilang dari pandangan, Hawa memutar tumit. Ia membawa langkahnya masuk ke dalam gerbang yang sudah dibukakan oleh Ijah.

Rupanya, Ijah sempat menyaksikan interaksi hangat antara sang nona dan pemuda berparas rupawan itu.

"Ehem, baru pulang, Non?" goda Ijah.

Hawa sedikit terhenyak. "Eh... sejak kapan Bibi di sini?"

"Sejak tadi, waktu Non sama Mas Rama ngobrol di depan gerbang." Ijah tertawa kecil.

"Ternyata Mas Rama tampan sekali ya, Non. Lebih tampan daripada calon kakak ipar," imbuhnya setengah berbisik.

Hawa hanya menanggapi dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Kalau Bibi lihat-lihat, kalian itu serasi. Yang cewek cantik dan baik hati, yang cowok tampan dan saleh. Perpaduan sempurna."

Hawa berdecak pelan lalu menghela napas panjang, berusaha mengusir sisa rasa sesak yang masih mengendap di rongga dada.

"Tadi, Bibi dengar... Mas Rama bilang terima kasih karena Non Hawa sudah hadir ke dunia. Menurut Bibi, kata-katanya manis tapi tidak berlebihan, Non."

Hawa enggan menanggapi. Ia tak ingin Ijah melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Alih-alih menyahut, ia malah menyodorkan kantung plastik berisi dua bungkus pecel yang sedari tadi didekapnya hangat.

"Ini titipan dari Rama. Katanya buat Bunda dan Bibi," ucapnya, berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil.

Mata Ijah berbinar saat menerima oleh-oleh itu. "Wah, ternyata Mas Rama tahu makanan kesukaan Bibi dan Nyonya. Sampaikan terima kasih ya, Non."

Hawa mengangguk samar. "Iya, nanti aku sampaikan. Aku masuk dulu, Bi. Gerah, mau mandi."

"Iya, Non." Ijah sedikit membungkuk, mempersilahkan Hawa masuk ke dalam rumah.

Langkah Hawa yang semula terburu-buru seketika terhenti di ruang utama. Di sana, Gistara tengah sibuk merangkai bunga, namun perhatiannya langsung beralih begitu menyadari kehadiran sang putri.

"Hawa, baru pulang, Sayang?" sapa Gistara.

"Iya, Bun." Hawa memaksakan diri untuk tenang. Ia berjalan mendekat, meraih tangan bundanya untuk dicium dengan takzim.

"Tadi, Damar mampir ke rumah." Gistara meletakkan gunting bunganya, menatap lekat manik mata putrinya yang masih tampak berkaca.

"Dia bilang, sekarang kamu tidak mau lagi berangkat dan pulang kuliah bareng karena sedang dekat dengan seseorang. Apa benar begitu?"

Hawa menarik napas panjang. Ia membalas tatapan sang bunda dengan tatapan yang dalam.

"Benar, Bun," jawabnya tanpa terselip ragu. Tidak berdusta, juga tak sepenuhnya jujur.

"Damar juga bilang, orang itu... cuma pelayan."

"Rama bukan pelayan, Bun!" Hawa menyahut cepat.

Ada amarah yang meletup di dadanya. Rasa cintanya pada Damar kini kian terkikis, berganti menjadi kebencian yang nyata.

"Dia mahasiswa Fakultas Humaniora yang bekerja paruh waktu," lanjutnya.

Gistara menghela napas, ia mengikis jarak dan melabuhkan usapan lembut di bahu Hawa yang menegang. "Hawa, Bunda tidak melarang kamu bergaul dengan siapa pun. Tapi, tolong jaga batasan. Bunda tidak ingin kamu salah memilih teman hidup. Bobot, bibit, bebet itu penting dalam memilih suami, demi masa depanmu sendiri."

Hawa menunduk, menahan ledakan rasa yang menyesaki lisan. "Maaf, Bunda... Hawa mau mandi."

Tanpa menunggu balasan, ia bergegas pergi.

Gistara hanya bisa terdiam, menghirup udara dalam-dalam sambil menatap punggung putri bungsunya hingga menghilang di balik pintu kamar.

.

.

Hawa segera menutup pintu kamar, lalu menguncinya dari dalam.

Saat ini ia hanya ingin menyendiri, membungkam kegaduhan yang sedari tadi berkecamuk di pikiran dan hati.

Sungguh, ia tidak menyangka Damar tega bertindak sejauh itu hingga membuat bundanya memandang rendah Rama.

"Dam, sebenarnya... apa maumu?" Hawa bermonolog lirih. Tatapannya sendu, tertuju pada cincin pemberian Damar yang masih melingkar di jari manis.

"Kenapa kamu setega itu? Setelah meruntuhkan duniaku, kamu masih saja mencampuri hidupku."

Setetes kristal bening luruh melintasi pipi, namun buru-buru ia seka. Ia tidak ingin kembali rapuh, apalagi terkungkung dalam nestapa yang sama.

Sekian detik, atensi Hawa terkunci pada lingkar perak di jarinya. Bisik hati menuntunnya untuk segera melepas benda itu, kemudian menyimpannya kembali ke dalam kotak kado berwarna biru muda.

Ia ingin mengubur dalam-dalam kenangan manis yang pernah tercipta di Warung Merapi--saat Damar memberinya kejutan ulang tahun yang kini terasa hambar.

Mulai detik ini, Hawa memantapkan hati untuk menutup lembaran lama. Ia akan menulis bab baru tanpa bayang-bayang masa lalu; melepas dan merelakan Damar untuk hidup bahagia bersama Hanum--satu-satunya kakak perempuan yang ia miliki.

Hawa terhenyak saat mendengar ketukan pintu. Ia bergegas menyimpan kotak kado berisi cincin, selembar foto, dan buku harian ke dalam laci nakas.

"Siapa?" tanyanya, sedikit berteriak.

"Ini Bi Ijah, Non," jawab Ijah dari luar sana.

Hawa membuka pintu perlahan. Ia mengizinkan Ijah masuk, lalu mengunci pintu itu kembali seolah ingin memutus dunia luar.

"Pecelnya enak, Non. Sambelnya mantul!" puji Ijah begitu mereka duduk bersisian di sofa.

Ijah memilih bungkam, tak ingin melukai hati Hawa dengan cerita bahwa satu bungkus lainnya telah berakhir di tempat sampah atas perintah Nyonya Gistara bahkan sebelum aromanya sempat tercium.

"Bibi suka?" Hawa memaksa bibirnya melengkung, menyamarkan sendu yang masih membingkai wajah.

"Suka banget, Non."

"Kapan-kapan... kita makan bareng di tempatnya, Bi. Di Warung Sobo Ndeso. Tempatnya teduh, menyatu dengan alam. Bibi pasti suka."

"Iya, Non. Mas Rama diajak juga, gantian ditraktir," Ijah kembali menggoda.

Hawa menunduk, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Ijah. Nyaman.

"Bunda melarangku berhubungan 'dekat' dengan Rama, Bi," gumamnya lirih.

"Loh, kenapa, Non?" Jari Ijah refleks mengusap rambut Hawa penuh kasih.

"Bunda mengingatkanku tentang bobot, bibit, bebet." Hawa menjeda, menghirup dalam-dalam aroma khas jarik yang dikenakan Ijah.

"Damar... dia bilang pada Bunda ... 'Rama cuma pelayan', dan karena itu Bunda langsung mengultimatum agar aku menjaga batasan."

Ijah terdiam sejenak. Ada rasa perih yang menjalar di hati wanita paruh baya itu.

"Non..." Ijah berdeham pelan, mencoba menyingkirkan serak di tenggorokan.

"Bukan Bibi ingin lancang, tapi kadang orang yang punya segalanya lupa, kalau berlian pun awalnya terkubur di dalam tanah yang kotor."

Ia menjeda kalimatnya. Jemarinya yang kasar namun hangat terus mengusap puncak kepala Hawa dengan ritme teratur, seolah sedang menyalurkan kekuatan yang ia punya.

"Bagi Bibi, bibit itu bukan soal kasta, tapi soal ketulusan yang ditanam. Bobot bukan soal harta, tapi soal beratnya tanggung jawab yang sanggup dipikul. Dan bebet... bukan soal gelar, tapi soal bagaimana seseorang menjaga kehormatan dirinya meski di tempat yang paling rendah sekalipun. Bibi rasa... Mas Rama punya itu semua, Non."

Kalimat itu meluncur tenang, menjadi kontras yang tajam bagi prinsip kaku yang baru saja dideklamasikan Gistara di ruang utama.

Ijah ingin Hawa tahu bahwa nilai seorang manusia tidak bisa diukur hanya dari tahta ataupun harta yang dimiliki.

Hawa memejamkan mata. Membiarkan air matanya lolos tanpa suara.

Setiap kalimat yang diucapkan oleh Ijah sangat mengena di hati. Bijak dan hangat. Berbanding terbalik dengan kata-kata yang sering terlisan dari bibir bundanya--yang selalu terasa tajam dan penuh tuntutan.

Air matanya kian deras mengalir, membasahi kain jarik--di pangkuan Ijah, satu-satunya tempat di rumah mewah ini--di mana ia merasa benar-benar diterima tanpa syarat.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
Nofi Kahza
beeeugh! badas si Rama. sukakkk
Nofi Kahza
ini baru jantan..👍
Nofi Kahza
Rama, aku padamu🥰
Ayuwidia: Aku bilangin Bang Jae
total 1 replies
Nofi Kahza
pengorbanan apa sih??
Nofi Kahza
keren nih🥰
Nofi Kahza
nggak ada tawar menawar katanya, tapi situ sendiri baru aja nawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!