Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konser dadakan di balik cadar sunyi
Malam pertama di pesantren bagi Zayna Almeera terasa seperti dikurung di dalam museum purbakala. Tidak ada suara dentum musik dari kelab bawah tanah, yang ada hanya suara kodok yang saling bersahutan, seolah sedang melakukan tadarus bersama.
Zayna duduk bersila di atas kasur tipisnya dengan wajah ditekuk. Di depannya, Zoya, santriwati berwajah bulat yang menjadi teman sekamarnya, sedang asyik melipat mukena.
"Zoy, kamu nggak merasa hidupmu ini datar banget?" tanya Zayna sambil mengikir kuku. "Maksudku, rutinitas kalian cuma: bangun, sujud, makan, baca kitab, sujud lagi. Apa nggak pengen gitu sekali-kali party pakai lagu NewJeans?"
Zoya terkekeh, "Mbak Zayna, di sini party-nya beda. Kita kalau sudah selawatan bareng, adrenalinnya lebih kencang dari naik roller coaster."
Zayna memutar bola matanya. "Oke, fiks. Kamu sudah terinfeksi virus alim. Aku harus bertindak sebelum aku juga mulai bicara pakai bahasa langit."
Zayna mengambil sebuah speaker bluetooth kecil yang ia selundupkan di dalam tumpukan pakaian dalamnya—tempat yang ia pikir tak akan pernah digeledah oleh pengurus keamanan. Ia tersenyum miring. Misi pertama: Membuat kegaduhan tingkat dewa.
Esok paginya, saat waktu Dhuha, suasana pesantren sedang tenang-tenangnya. Para santriwati biasanya sedang mengaji di serambi masjid. Gus Haidar tampak berjalan melintasi koridor asrama putri (tentu dengan pengawalan dan mata yang tetap tertuju pada lantai ubin) untuk menuju kantor madrasah.
Tiba-tiba, kesunyian itu pecah.
“Hype boy, bae! I’m out of my chemical, hype boy!”
Suara musik K-Pop berdentum keras dari arah kamar Zayna. Tidak hanya itu, Zayna keluar ke balkon asrama dengan mengenakan mukena, tapi memakainya seperti jubah superhero, lengkap dengan kacamata hitam dan sikat gigi sebagai pengganti mikrofon.
"Ayo semuanya! Put your hands up! Mana suaranya santriwatiiii?!" teriak Zayna sambil melakukan gerakan dance yang asal-asalan.
Para santriwati di bawah melongo. Ada yang menahan tawa, ada yang istighfar sambil mengelus dada.
Gus Haidar menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang—napas yang panjang sekali, seolah sedang menghirup seluruh stok sabar di udara. Ia tidak mendongak, namun suaranya yang tenang menggelegar melalui pengeras suara kecil yang dibawa abdi dalemnya.
"Mbak Zayna Almeera," panggil Haidar. Tetap menunduk.
Zayna berhenti bergoyang. Ia bersandar di pagar balkon, menatap ke bawah pada puncak kepala Gus Haidar yang tertutup peci hitam. "Eh, ada Gus Penjaga Lantai. Gimana Gus? Lagunya asyik kan? Daripada dengerin jangkrik terus, mending dengerin ini biar sel-sel otaknya nggak jamuran."
Haidar memejamkan mata sejenak. "Mbak Zayna, musik itu ibarat bumbu. Kalau terlalu banyak, makanannya pahit. Dan sekarang, bumbumu sudah tumpah satu karung."
"Wah, kalau gitu hukum saya dong, Gus! Keluarin saya dari sini! Saya sudah melanggar aturan tingkat tinggi, kan? Ayo, pulangkan saya sekarang!" tantang Zayna dengan semangat membara.
Gus Haidar terdiam sesaat. Jemarinya memainkan butiran tasbih dengan ritme yang tetap stabil. "Hukumannya bukan pulang, Mbak Zayna."
"Terus apa? Membersihkan toilet? Nggak takut, saya punya koleksi sabun wangi!"
"Hukumannya," Haidar menjeda, akhirnya ia sedikit mengangkat kepalanya, namun pandangannya tetap tidak langsung ke mata Zayna, melainkan ke arah dahan pohon mangga di samping balkon. "Mbak Zayna harus menulis lirik lagu itu ke dalam huruf Arab pegon sebanyak sepuluh halaman. Dan besok pagi, Mbak harus membacakannya di depan saya—tanpa musik."
Zayna melongo. "Hah? Arab pegon? Apaan tuh? Ayam jago?"
"Zoya akan mengajarimu," lanjut Haidar. "Dan jika Mbak tidak menyelesaikannya, lusa saya tambah menjadi dua puluh halaman."
Gus Haidar kemudian berlalu begitu saja, langkahnya tetap tenang dan kokoh.
"Haidar berjalan sambil sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibir yang tak terlihat oleh siapa pun. 'Tulisannya pasti akan berantakan seperti hatiku saat ini,' batinnya. Sementara di balkon, Zayna melempar sikat giginya ke lantai. Rencananya gagal total. Alih-alih diusir, ia malah disuruh kursus kaligrafi dadakan."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp