NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Proposal from the South

Istana Araluen — Aula Agung

Lonceng istana berdentang satu kali.

Para bangsawan berhenti berbincang saat utusan Kerajaan Kairo melangkah masuk. Jubah putih-gading dengan benang emas khas selatan, lambang matahari Kairo tersemat di dada.

Ia berlutut rapi.

“Atas nama Paduka Raja Kairo,” ucapnya lantang,

“kami membawa lamaran resmi.”

Bisik-bisik langsung memenuhi aula.

Utusan itu mengangkat kepalanya.

“Putri sulung kami, Sophia Karin Kairo,

dilamar—untuk dipersunting oleh

Putra Mahkota Araluen, William Whiston Aurelius.”

Udara seakan membeku.

Kaisar Araluen menegang di singgasananya.

“Langkah ini akan menguatkan selatan dan utara,” lanjut sang utusan.

“Perdagangan, militer, dan stabilitas kawasan.”

Semua mata beralih ke satu sosok yang baru saja melangkah masuk aula.

Archduke Aurelius.

Rambut peraknya tersisir rapi, tongkat kehormatan di tangannya.

Ayah permaisuri.

Kakek William.

Dan pemegang pengaruh yang tak pernah benar-benar hilang.

Di sisinya berjalan Lunara  Aurelius, permaisuri.

Archduke berhenti di tengah aula.

“Lamaran yang masuk akal,” katanya tenang.

“Kerajaan Kairo kuat. Putrinya terdidik. Garis darahnya bersih.”

Kaisar menatapnya.

“Ayah—”

Archduke mengangkat tangan, menghentikannya.

“Liam sudah lebih dari cocok untuk menikah.”

Satu kalimat.

Namun seperti palu.

Keheningan mutlak.

Kaisar tahu—

jika Archduke menyetujui,

ia tidak punya kuasa untuk menolak.

“Araluen menerima lamaran Kerajaan Kairo,” ucap Archduke tegas.

Utusan Kairo tersenyum dan menunduk hormat.

Di tempat lain — Kediaman Blackwood

Anthenia sedang membaca laporan wilayah saat pintu terbuka tergesa.

“Lady Anthenia!” seru seorang pelayan.

“Berita dari istana—”

Ia berhenti.

Wajah pelayan itu pucat.

“Kerajaan Kairo… melamar Putra Mahkota.”

Kata-kata itu terasa jauh.

“Apa…?” suaranya hampir tak terdengar.

“Putri Sophia Karin Kairo.

Lamaran telah diterima.”

Anthenia berdiri terlalu cepat.

Dunia bergetar.

Diterima?

Dadanya sesak.

Jantungnya berdenyut tidak beraturan.

Jadi… begini.

Ia mencoba menarik napas—gagal.

Tanpa disadari, setetes air jatuh ke punggung tangannya.

Lalu satu lagi.

Ia menatapnya dengan bingung.

“…Kenapa,” gumamnya pelan,

“rasanya sakit?”

Anthenia menutup mulutnya cepat, menoleh ke jendela agar tak ada yang melihat.

Namun dadanya bergetar.

Air mata jatuh diam-diam.

Istana — Paviliun Selir

Heilen berdiri membeku setelah mendengar laporan.

“Kerajaan Kairo…?” bisiknya.

Tangannya mengepal.

“Jika itu terjadi,” ucapnya lirih dengan ketakutan yang jujur,

“maka pondasinya akan semakin kuat.”

Kairo.

Aurelius.

Putra Mahkota.

Aliansi yang nyaris tak tergoyahkan.

Dan di tengah semua itu—

nama Anthenia Blackwood kembali muncul di pikirannya.

Ini buruk, pikir Heilen.

Sangat buruk.

Kamar William — malam hari

William berdiri membelakangi jendela, menatap kota Araluen yang bermandikan cahaya.

Ia sudah mendengar keputusan itu.

Ekspresinya tenang. Terlalu tenang.

Tangannya perlahan mengepal.

Jadi mereka bergerak sekarang.

Dan entah kenapa—

wajah yang muncul di benaknya

bukan Sophia Karin Kairo.

Melainkan mata abu-abu yang berusaha terlihat kuat

saat memilih menjauh.

“…Anthenia,” gumamnya.

Untuk pertama kalinya,

Putra Mahkota menyadari—

jarak tidak lagi cukup untuk melindungi apa yang ia inginkan.

Istana Araluen — Aula Agung

Setelah keputusan Archduke Aurelius diucapkan, aula tak lagi dipenuhi bisik—

melainkan keheningan yang menekan.

Permaisuri Lunara Aurelius berdiri di sisi ayahnya. Wajahnya tenang, namun matanya tajam membaca reaksi satu per satu bangsawan.

“Lamaran ini,” ucap Lunara akhirnya,

“akan dipertimbangkan sesuai adat kekaisaran.”

Kalimat diplomatis.

Namun semua orang tahu—

jika Archduke telah berbicara, pertimbangan itu hanyalah formalitas.

Kaisar Whiston menggenggam sandaran singgasananya lebih erat.

Sebagai kaisar, ia berkuasa.

Sebagai anak, ia terikat.

Dan sebagai ayah—

ia tahu putranya tidak diminta pendapat.

Koridor istana — tak jauh dari aula

Nelia Whiston berdiri di balik pilar marmer, tubuhnya kecil dibandingkan kemegahan istana.

Ia mendengar semuanya.

“Kakak… akan menikah?” bisiknya pelan.

Tangannya mencengkeram gaun.

Putri Sophia Karin Kairo.

Nama itu asing, namun berat.

Nelia menelan ludah.

“Bukankah Kakak William…,” suaranya mengecil,

“…belum pernah bilang apa-apa?”

Ia tidak mengerti politik.

Tidak mengerti aliansi.

Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana:

kakaknya selalu ada.

Dan sekarang, seseorang dari selatan datang untuk mengambil tempat itu.

Air matanya menggenang, namun Nelia cepat-cepat mengusapnya.

“Tidak boleh menangis,” gumamnya,

“aku putri kaisar.”

Namun hatinya gemetar.

Kediaman Blackwood — malam menjelang

Anthenia duduk di tepi ranjang, lampu kristal redup memantulkan bayangan wajahnya di cermin.

Lamaran itu resmi.

Disetujui.

Tidak ada ruang untuk salah dengar.

Jadi… ini alurnya, pikirnya getir.

Bukan aku.

Ia menekan dadanya dengan telapak tangan.

Detaknya masih tidak teratur.

“Jane,” bisiknya pada dirinya sendiri,

“kau sudah tahu akhir seperti ini tidak seharusnya menyakitkan.”

Namun tubuhnya tak mendengarkan logika.

Bayangan William—

bukan sebagai putra mahkota,

melainkan sebagai pria yang berdiri di sampingnya di koridor sunyi—

muncul lagi.

Anthenia bangkit berdiri.

“Tidak,” katanya tegas, seolah pada bayangannya sendiri.

“Aku tidak berhak.”

Ia menarik napas panjang.

Jika William akan menikah demi kekaisaran,

maka ia akan melakukan hal yang sama—

menjadi Anthenia Blackwood,

putri Duke,

bukan Jane dari abad 21

yang lupa bahwa perasaan adalah kelemahan.

Paviliun Selir — Heilen

Heilen duduk kaku, jemarinya mengetuk meja tanpa ritme.

“Archduke ikut campur langsung…” gumamnya.

Ia menyipitkan mata.

Putra Mahkota + Kairo \= tembok baja.

Jika William memiliki permaisuri dari kerajaan kuat,

maka peluang anaknya—

Alistair—

akan semakin tipis.

“Tidak,” bisiknya dingin.

“Aku tidak boleh diam.”

Dan di kepalanya,

nama Anthenia Blackwood kembali berputar.

Selalu gadis itu.

Kamar Putra Mahkota

William berdiri di depan meja, pedangnya tergeletak di samping.

Utusan Kairo.

Archduke.

Keputusan.

Semua masuk akal.

Namun dadanya terasa kosong.

Ia menatap pantulan dirinya di jendela.

“Menikah demi kekaisaran,” gumamnya datar.

Kalimat yang sudah ia kenal sejak kecil.

Namun entah kenapa—

malam ini terasa berbeda.

Karena untuk pertama kalinya,

ia tahu apa yang akan ia kehilangan,

bahkan sebelum sempat memilikinya.

Istana Araluen — Menara Pengawal Malam

Api obor bergoyang tertiup angin.

William berdiri di atas menara, memandang jauh ke arah selatan—arah Kerajaan Kairo berada. Dari sini, perbatasan tidak terlihat, namun ia tahu di sanalah keputusan itu berasal.

Sophia Karin Kairo.

Nama itu kini resmi terikat dengannya.

Seorang ksatria mendekat dan berlutut.

“Yang Mulia, Archduke meminta Anda menghadiri pertemuan besok pagi.”

William mengangguk singkat.

“Baik.”

Ksatria pergi.

William tetap berdiri.

“Apa aku memang tak pernah punya pilihan?” gumamnya pelan.

Sebagai panglima perang, ia terbiasa memilih antara hidup dan mati.

Namun kali ini—

yang dipertaruhkan bukan medan perang.

Melainkan dirinya sendiri.

Dan tanpa ia sadari,

bayangan seorang gadis dengan mata abu-abu kembali muncul.

Jika ini takdir, pikirnya dingin,

maka aku akan menghadapinya…

Namun rahangnya mengeras.

…dengan caraku sendiri.

Kediaman Blackwood — kamar kerja Duke

Duke Kaelen Blackwood menerima laporan rahasia dengan wajah mengeras.

“Kerajaan Kairo melamar Putra Mahkota,” ulangnya pelan.

Ia terdiam sejenak.

“Dan Archduke menyetujuinya?”

“Ya, Tuan.”

Kaelen menyandarkan punggung ke kursi.

Aliansi Kairo–Aurelius bukan hal sepele.

Dan entah kenapa—

nalurinya bergerak ke arah putrinya.

“Anthenia,” gumamnya.

“Kenapa namamu selalu muncul di saat seperti ini…”

Ia menutup laporan itu.

Sebagai tangan kanan Kaisar, ia memahami politik.

Sebagai ayah—

ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Paviliun Selir — larut malam

Heilen berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri.

“Kairo,” bisiknya.

Ia tersenyum tipis—senyum penuh perhitungan.

“Jika Putra Mahkota menikah dengan luar…

maka fokus istana akan terpecah.”

Namun senyum itu pudar.

“Masalahnya… Archduke.”

Tangannya mengepal.

Selama William berada di bawah perlindungan penuh garis Aurelius,

tak satu pun rencana liciknya akan berjalan mudah.

Dan Anthenia Blackwood—

adalah variabel yang tidak ia pahami.

Kamar Anthenia — menjelang fajar

Anthenia tidak tidur.

Ia duduk bersandar di ranjang, menatap cahaya pertama pagi.

Lamaran itu nyata, pikirnya.

Dan aku… juga nyata.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini,

ia tidak memikirkan alur novel.

Tidak memikirkan siapa pemeran utama.

Yang ia pikirkan hanya satu hal sederhana—dan menyakitkan:

Jika aku pergi sekarang,

apakah aku akan menyesal?

Ia mengusap wajahnya perlahan.

“Jane,” katanya lirih pada dirinya sendiri,

“kau selalu bilang penyesalan lebih berbahaya daripada rasa sakit.”

Anthenia berdiri.

Keputusan belum ia ucapkan.

Namun satu hal sudah jelas:

Lamaran Kerajaan Kairo

bukanlah akhir—

melainkan awal dari konflik yang sesungguhnya.

Dan di tengah pusaran itu,

nama Anthenia Blackwood

tak lagi bisa dihapus dari takdir Araluen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!