NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.Senjata Makan Tuan

HAPPY READING!!!

Steven mencoba menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan pisau itu, namun Lora yang menyadari gerakan tersebut langsung menekan pisaunya lebih dalam hingga sedikit menyayat lapisan kulit leher Steven.

Setetes darah langsung merembes keluar.

“Jika kamu berani bergerak sedikit lagi aku pastikan pisau ini akan menancap tepat di lehermu. Kamu tidak tahu kan berapa gilanya aku?”

Tatapan Lora begitu tajam, penuh tekad dan sama sekali tidak terlihat ragu.

Steven menelan ludah dengan susah payah.

“Akkhh… baiklah. Apa yang kamu inginkan dariku?”

Ia benar-benar tidak berani bergerak lagi ketika merasakan hangatnya darah mulai mengalir di lehernya.

Lora menatapnya tanpa berkedip.

“Kemana Donni menyuruhmu membawaku?”

Pertanyaan itu membuat Steven langsung terbelalak.

“Bagaimana kamu mengetahuinya?”

Lora mendengus kecil.

“Tidak perlu bertanya balik kepadaku, Steven. Aku bukan wanita bodoh yang gampang masuk ke perangkapmu.”

Pisau itu kembali ditekan sedikit di leher Steven.

“Jawab!”

“Baik… baik. Aku akan menjawabnya. Tapi jika kamu bisa membayarku dengan uang seperti yang telah dijanjikan Pak Donni kepadaku, bagaimana? Tidak ada yang gratis di dunia ini, Lora. Apalagi kamu adalah istri pemilik perusahaan ini. Pasti uangmu jauh lebih banyak dibandingkan Donni dan Delia.”

Lora menyipitkan matanya.

“Aku akan membayarmu dua kali lipat dari apa yang dijanjikannya. Atau bahkan tiga kali lipat jika kamu mau berperan menjadi mata-mata ganda.”

Steven terdiam beberapa detik.

“Aku tahu, Steven. Kamu tidak hanya bekerja untuk Donni, tapi juga Delia dan antek-antek yang ada di divisi keuangan untuk mencelakaiku. Benar bukan?”

Steven tertawa kecil, meskipun masih terasa gugup.

“Wah, kamu terlalu pintar rupanya. Aku tidak menyangka jika kamu sepandai ini membaca situasi.”

Lora tidak tertarik mendengar pujian itu.

“Aku tidak butuh pujianmu sekarang. Cepat katakan apa yang diperintahkan Donni kepadamu.”

“Baiklah… baik. Tapi bagaimana jika kamu menyingkirkan benda tajam ini dulu dari leherku? Kita sudah memiliki kesepakatan tadi. Tenang saja, jika uang lancar, info dan kinerjaku juga akan sangat memuaskan. Kamu tidak perlu mengancamku sekejam ini. Aku mudah berpaling jika itu soal uang yang banyak.”

Lora menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menurunkan pisaunya dari leher Steven. Namun ia masih menggenggam benda itu erat-erat, siap menggunakannya lagi jika pria itu mencoba berbuat curang.

Steven menghela napas lega sebelum akhirnya mulai menceritakan semuanya.

Ia menjelaskan rencana Donni secara detail.Alamat tempat yang harus ia tuju.Orang-orang yang sudah disiapkan untuk mengeroyok Lora.

Dan apa yang Donni inginkan terjadi pada perempuan itu.

Beberapa menit kemudian, Lora mengambil ponselnya.

“Baiklah, aku sudah mentransfer tiga puluh juta ke rekeningmu.”

Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada Steven.

Steven langsung mengerutkan kening.

“Tapi bagaimana kamu tahu nomor rekeningku?”

Lora tersenyum tipis.

“Surat lamaran kerjamu. Dan masih banyak lagi yang aku ketahui tentangmu. Termasuk pekerjaanmu sebagai pria sewaan tante-tante kesepian.”

Steven langsung terdiam.

“Tidak hanya kamu. Semua informasi karyawan di divisi itu sudah aku pelajari lebih dulu.”

Lora lalu menyimpan kembali ponselnya.

“Sekarang jalankan mobilnya. Kita pergi ke tempat yang diperintahkan Donni.”

Steven masih terlihat syok dengan semua informasi yang baru saja ia dengar. Ia menatap Lora beberapa detik sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil.

“Ternyata kamu adalah duplikat Tuan Devon. Pantas kalian berjodoh.”

“Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya!”

Steven langsung terdiam dan fokus mengemudi.Mobil itu pun melaju meninggalkan area parkir kantor.

Menuju tempat yang telah disiapkan Donni.

_____

📞“Semuanya beres, Pak.”

Steven berbicara dengan nada santai saat menelpon Donni. Ia berdiri di sudut lorong rumah sakit, sementara di tangannya terlihat ponsel yang menampilkan foto Lora. Dalam foto itu, perempuan tersebut tampak duduk di kursi rumah sakit dengan tangan yang digips dan wajah penuh lebam. Steven bahkan sengaja mengambil beberapa sudut foto agar terlihat lebih meyakinkan. Setelah itu ia mengirimkannya kepada Donni sebagai bukti bahwa pekerjaan yang diminta sudah selesai.

📞 “Bagus. Aku akan mengirimkan uangnya kepadamu.”

Suara Donni terdengar penuh kepuasan dari seberang sana. Tanpa ingin berbicara lebih lama, ia langsung menutup telepon tersebut.

Senyum puas merekah di wajahnya.

Donni menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur rumah sakitnya. Dadanya terasa lapang membayangkan keadaan Lora saat ini. Ia benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah perempuan itu secara langsung dengan tangan yang patah—bahkan lebih parah daripada dirinya.

Namun ketika Donni akhirnya keluar dari kamar rawatnya, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Dua orang pria yang dikenalnya sebagai anak buah yang tadi ia tugaskan untuk mengeroyok Lora ternyata berdiri tepat di depan pintu ruang rawatnya.

“Ada apa kalian ke sini? Oh… apa kalian ingin melaporkan kerja kalian? Aku sudah melihatnya dan aku juga sudah mengirimkan uang atas kerja kalian.”

Donni tertawa kecil dengan wajah penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak menyadari tatapan serius dari kedua pria tersebut.

Tanpa peringatan, salah satu dari mereka langsung membekap mulut Donni dengan kain yang sudah diberi obat bius.

“Amp—!”

Donni bahkan tidak sempat melawan. Tubuhnya langsung melemas ketika aroma obat itu masuk ke dalam hidungnya.

Kedua pria itu dengan cepat menyeret tubuh Donni menyusuri lorong rumah sakit yang sepi hingga sampai pada sebuah ruangan dingin yang jarang dikunjungi orang.

Kamar mayat.

Di dalam ruangan yang dingin dan sunyi itu, mereka melempar tubuh Donni ke lantai tanpa belas kasihan.

Beberapa menit kemudian pukulan demi pukulan mendarat di wajah dan tubuh Donni yang tak berdaya.

Suara benturan terdengar pelan di ruangan itu.

Ketika mereka selesai, wajah Donni sudah babak belur. Bibirnya pecah, pipinya lebam, dan tubuhnya penuh memar.

Mereka kemudian mengangkat tubuh Donni dan membaringkannya di atas salah satu ranjang mayat yang kosong.

Di sebelahnya terdapat tubuh kaku yang sudah tertutup kain putih.

Dengan santai mereka menarik kain penutup lainnya dan menutup tubuh Donni hingga sebatas wajahnya, seolah ia juga sudah menjadi salah satu penghuni ruangan itu.

Sebelum pergi, salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dan memotret keadaan Donni yang terbaring di ranjang mayat dengan wajah babak belur.Foto itu kemudian mereka kirimkan kepada Lora.

Setelah itu keduanya pergi meninggalkan ruangan dingin tersebut tanpa menoleh lagi.

Sementara itu di sisi lain rumah sakit, Sinta baru saja keluar dari ruang dokter dengan wajah tegang. Namun begitu ia kembali ke kamar rawat suaminya, wajahnya langsung berubah panik.

Ranjang Donni kosong.

“Mas Donni?”

Sinta memanggil dengan suara cemas sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Tidak ada jawaban.

Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon nomor suaminya berulang kali.

Ponsel Donni memang berdering.Namun suara itu hanya terdengar pelan dari saku baju pasien yang dikenakan Donni—di dalam kamar mayat.Donni sendiri masih belum sadarkan diri.

.

.

.

💐💐💐Bersambung💐💐💐

Wahh siapa sangka aktingnya akkhhh Lora. Tapi kira- kira Steven bisa di percaya atau nggak ya???

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!