Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Darah Tangan Kiri
Lorong gelap itu berbau karat dan darah kering. Zian melangkah tenang menyusuri jalan menurun tersebut. Lengan kanannya yang hancur dibiarkan menggantung lemas di sisi tubuhnya, meneteskan darah segar ke lantai batu.
Di ujung lorong, cahaya obor menyilaukan mata dan gemuruh suara ribuan orang terdengar memekakkan telinga.
Zian akhirnya menginjakkan kaki kirinya ke atas pasir arena yang lengket.
"Hoo! Lihat siapa yang dikirim Xyros malam ini!" teriak suara serak dari bangku penonton paling depan.
"Seorang pengemis cacat! Dia bahkan tidak punya aura sihir sama sekali di tubuhnya!"
Tawa mengejek langsung meledak dari seluruh penjuru arena melingkar tersebut. Ribuan buronan, tentara bayaran, dan kultivator liar menatap Zian dari atas tribun seperti melihat sebuah lelucon murahan. Mereka melempar sisa makanan dan tulang belulang ke arah Zian.
Di tribun VIP yang terbuat dari batu obsidian, Xyros berdiri sambil melipat tangan di dada. Mata satu pria itu menatap tajam ke arah Zian di bawah sana dengan senyum meremehkan.
"Buka gerbang utamanya," perintah Xyros dingin kepada penjaga tuas di sebelahnya. "Mari kita lihat berapa detik tikus sombong itu bisa bernapas."
Suara roda gigi raksasa dan rantai besi yang ditarik terdengar nyaring. Gerbang baja di seberang Zian terbuka perlahan.
Bau busuk bangkai dan darah busuk langsung menyapu seluruh arena, membuat udara terasa sangat berat. Suara napas mendengus yang berat terdengar dari dalam kegelapan gerbang tersebut.
Seekor monster raksasa merangkak keluar.
Itu adalah Gorgon Hitam. Tubuhnya sebesar rumah dua lantai. Sisik reptilnya berwarna hitam pekat, memantulkan cahaya api obor layaknya baju zirah dari baja murni. Ekornya dipenuhi duri tajam yang panjangnya menyamai pedang pusaka.
Mata kuning reptil itu langsung terkunci pada sosok Zian yang berdiri sendirian. Air liur berbau asam menetes dari sela-sela taringnya yang berjejer mengerikan.
"Cincang dia, Gorgon!" teriak para penonton kegirangan, kehausan akan tontonan darah segar.
Monster raksasa itu mengaum keras hingga tribun penonton bergetar hebat. Tanpa peringatan apa pun, Gorgon Hitam melesat ke depan. Kecepatannya sangat tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar raksasa.
Rahang besarnya terbuka lebar, bersiap menelan tubuh kurus Zian bulat-bulat dalam satu gigitan.
Zian sama sekali tidak panik. Dia bahkan tidak repot-repot memasang kuda-kuda bertarung.
Saat deretan taring tajam itu berjarak hanya sejengkal dari wajahnya, Zian memiringkan tubuhnya ke samping dengan gerakan yang sangat santai. Tarikan gravitasi arena Kota Baja yang luar biasa berat justru membuat gerakan menghindarnya semakin tajam dan presisi.
Angin kencang dari sambaran rahang monster itu meniup rambut Zian.
"Terlalu kasar," gumam Zian pelan.
Gorgon Hitam menyadari mangsanya lolos. Reptil raksasa itu langsung memutar tubuhnya dengan kasar. Ekor berdurinya menyapu pasir arena dengan kecepatan kilat, menebas lurus ke arah pinggang Zian.
Zian menendang tanah dan melompat ringan ke udara. Ekor mematikan yang bisa membelah batu itu lewat tepat di bawah sol sepatunya.
Penonton yang tadinya tertawa dan bersorak kini mendadak hening.
Mereka mengucek mata mereka dengan keras. Mereka tidak percaya melihat seorang pemuda berpakaian compang-camping tanpa energi kultivasi bisa menghindari serangan monster tingkat Raja Puncak dengan begitu mudah.
"Kebetulan macam apa itu?!" umpat seorang petarung berbadan besar dari bangku penonton. "Monster itu pasti sedang mengantuk!"
Di tengah arena, Zian mendarat mulus di atas pasir berdarah. Dia mengepalkan tangan kirinya erat-erat.
Tulang Asura di sekujur tubuhnya memanas tajam. Darahnya mendidih, merespons tekanan gravitasi dan hawa membunuh murni dari monster buas di depannya. Otot-otot di kaki dan punggungnya mulai mengeras bagai batu karang.
"Lumayan untuk pemanasan otot kaki," bisik Zian pada dirinya sendiri.
Gorgon Hitam semakin marah besar. Monster itu merasa harga dirinya diinjak-injak karena gagal membunuh makhluk kecil yang biasanya hanya menjadi camilan sekali telan.
Sisik baja di punggung monster itu mulai memancarkan cahaya ungu. Hawa beracun keluar dari sela-sela sisiknya. Gorgon Hitam menerjang lagi, kali ini menyerang secara membabi buta tanpa jeda.
Cakar raksasanya menebas ke kiri dan ke kanan dengan ganas. Tebasan cakar itu menghancurkan pilar-pilar batu di pinggir arena hingga serpihan batu beterbangan ke arah penonton. Pasir arena terbelah membentuk parit-parit dalam.
Zian terus bergerak lincah. Dia menari di antara hujan tebasan cakar dan sabetan ekor berduri tersebut.
Setiap kali monster itu menyerang, Zian selalu menghindar dengan jarak yang sangat tipis. Bilah duri ekor monster itu bahkan sempat menggores kemejanya, tapi sama sekali tidak mampu menembus kulit fisiknya.
Zian sengaja tidak langsung menyerang balik. Dia menggunakan gesekan udara dan tekanan dari serangan monster itu untuk memompa aliran darah ke tangan kirinya.
Urat-urat di lengan kiri Zian mulai menonjol tebal. Kulit lengannya berubah warna menjadi merah gelap, memancarkan uap panas yang mendistorsi udara di sekitarnya. Dia memusatkan seluruh daya ledak Asuranya ke satu titik.
Di tribun atas, Xyros mengerutkan keningnya dalam-dalam. Bekas luka di wajahnya berkedut.
Xyros menyadari ada yang sangat tidak beres. Bocah cacat di bawah sana sama sekali tidak sedang berlari ketakutan untuk bertahan hidup. Pemuda itu justru sedang bermain-main dan mempelajari pola serangan sang Gorgon.
"Monster bodoh! Berhenti memukul pasir! Gunakan semburan racunmu untuk melelehkannya!" teriak Xyros marah dari atas tribun.
Seakan mengerti perintah tuannya, Gorgon Hitam mengerem serangannya secara mendadak. Pasir beterbangan saat cakar besarnya mencengkeram tanah.
Monster itu menarik napas dalam-dalam. Dada raksasanya membusung besar. Asap ungu pekat mulai mengepul dari sela-sela rahangnya yang tertutup rapat. Bunyi mendesis terdengar keras dari dalam tenggorokannya.
Melihat hal itu, Zian justru menghentikan langkahnya. Senyum iblis terukir jelas di wajahnya.
"Nah, sekarang kau diam di tempat," ucap Zian dingin.
Alih-alih mencari tempat berlindung dari semburan racun, Zian justru berlari kencang menerjang lurus ke arah wajah monster tersebut. Otot paha dan betisnya mengeras maksimal, menampung beban gravitasi berlipat ganda.
BUM!
Zian menghentakkan kaki kirinya kuat-kuat. Pasir arena meledak membentuk kawah sedalam setengah meter.
Tubuh pemuda itu melesat ke udara bagai peluru meriam yang ditembakkan dari jarak dekat. Zian terbang lurus menuju dahi Gorgon Hitam yang sedang bersiap memuntahkan racun.
Melihat mangsanya justru melompat sukarela ke arah mulutnya, mata kuning Gorgon Hitam berkilat buas. Monster itu membuka rahangnya lebar-lebar, siap menyambut Zian dengan semburan lahar racun yang bisa melelehkan tulang.
Cahaya ungu terang meledak dari dalam tenggorokan raksasa tersebut.
"Hancur," aum Zian memecah udara berat di dalam arena.
Di tengah udara kosong tanpa pijakan apa pun, Zian menarik tangan kirinya jauh ke belakang. Tulang Asura di lengan kirinya berderit sangat nyaring menahan kompresi tenaga fisik yang luar biasa gila.
Udara di sekitar kepalan tangan kiri Zian terdistorsi parah, melengkung dan membentuk pusaran angin padat akibat tarikan otot murninya.
Tepat pada detik saat lahar racun ungu itu mulai menyembur keluar dari tenggorokan Gorgon Hitam, Zian memutar pinggangnya dan melepaskan tinju sonik kirinya dengan kecepatan yang melampaui suara, mengincar lurus ke arah titik tengah dahi berlapis baja sang monster.
cuma tinju asal ajaaa