Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 1
Aroma parfum khas tercium dari arah seorang wanita yang berjalan memasuki gedung perkantoran. Ya, dialah Celina Andreas, putri pertama dari pengusaha terkenal di kotanya Hendra Nata dan Andrea. Ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi kantor tersebut.
Pagi ini Celina datang membawa kantong berisi makanan khusus dimasaknya sendiri demi pria bernama Azka Anggara.
Celina begitu tergila-gila kepada pria itu meskipun sudah beberapa kali ditolak. Namun, ia tak pantang menyerah. Selama Azka belum menjadi miliknya dirinya takkan mundur.
Celina membuka pintu ruang kerja Azka dan melemparkan senyum terindahnya, "Hai, tampan. Aku datang!"
Pria berusia 30 tahun itu begitu terkejut melihat kemunculan Celina. Ia sangat membenci Celina karena sudah membuat hari-harinya tak begitu berarti. Apalagi sang mama begitu menyukai Celina yang menurut Azka seperti pemeran antagonis, pandai memikat orang lain dengan cara licik.
Celina meletakkan tas kantong di atas meja kerjanya Azka. "Aku sengaja bangun pagi-pagi sekali buat masak makanan kesukaanmu. Sop ayam dan udang cabe ijo."
"Kau tidak perlu melakukannya, aku bisa menyuruh pelayan di rumah untuk membuatkannya."
"Makanan yang aku masak ini sangat spesial, aku membuatnya penuh dengan cinta!" Celina tersenyum sembari menarik kursi dan duduk.
"Aku sedang sibuk, bisakah kau meninggalkan ruangan kerjaku sekarang juga?" pinta Azka yang terlihat kesal.
Celina menggelengkan kepalanya.
"Jika kau ada di sini, pekerjaan aku bisa terganggu!" Azka beralasan.
"Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu!" kata Celina tersenyum manja.
Azka menghembus napas kasar, ia tak tahu bagaimana lagi mengusir Celina dari kantornya.
"Aku akan pergi setelah kau bersedia mencicipi makananku!" Celina memberikan pilihan.
"Aku 'kan sudah bilang, aku tidak mau menyentuh masakanmu!" Azka mempertegas ucapannya.
"Ayolah, Azka. Sebentar lagi kita akan bertunangan, apa salahnya kau mencoba membuka pintu hatimu itu?" Celina melipat tangannya dan menyandarkan dadanya di meja kerja.
"Aku tidak mencintaimu, aku sudah memiliki wanita pilihan ku. Jadi, jangan pernah berharap apapun. Tak ada pertunangan dan aku tak mau mengikuti permintaanmu!"
Celina menyandarkan tubuhnya di kursi sembari mengangkat tangan kanannya, matanya menatap dan memainkan jemarinya, "Apa kau mau rumah yang ditempati kedua orang tuamu diambil pihak bank?"
Azka terdiam. Rumah milik orang tuanya memang menjadi jaminan utang buat menyokong dana perusahaan.
"Apa kau mau aku membantumu?" Celina mengangkat wajahnya, menatap Azka dan melemparkan senyum seringai.
"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu!" Azka menolaknya.
"Hmm, baiklah!" Celina lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Bawa makananmu dan berikan kepada orang yang membutuhkan!" Azka meminta Celina mengambil tas kantong yang ada diatas meja.
"Apa aku boleh tahu siapa wanita yang beruntung mengambil hatimu?" tanya Celina masih memasang senyuman.
"Pergilah, Celina. Aku sudah muak dengan wajahmu!" Azka berdiri dan mengangkat tangannya menunjuk ke arah pintu.
"Kau mengusirku?" Celina menunjukkan wajah pura-pura sedihnya.
"Ya, aku mengusirmu. Karena kau sudah membuat pagiku ini menjadi sial!" ketus Azka.
Celina bukannya pergi, ia malah mendekati Azka. Kedua tangannya sengaja diletakkannya di kedua bahu pria itu. Sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. "Kau akan menyesal telah menolakku, Tuan Muda Azka!"
Azka menurunkan kedua tangan Celina dengan kasar. "Jangan coba merayuku, Nona Celina. Aku sama sekali tak tergoda!"
Celina pantang menyerah, tangannya mengelus dasi Azka dan berkata, "Benarkah? Apa kau tidak ingin mencobanya di atas ranjang?"
Azka mendorong tubuh Celina, "Kau pikir aku bodoh!"
"Kau memakai cara licik itu biar aku bertanggung jawab, 'kan??" tuding Azka dengan lantang.
Celina tertawa getir.
"Pergilah dari sini, jangan ganggu aku!" kata Azka.
"Baiklah!" Celina mencoba tersenyum. "Jangan lupa, cicipi makananku. Kau pasti akan menyukainya!"
Celina kemudian meninggalkan ruangan kerja Azka dengan berjalan seperti layaknya seorang model. Tubuhnya tinggi, ramping, kulitnya mulus dan wajahnya begitu cantik tentunya membuat para pria tak mungkin mau menolaknya. Tetapi, hanya 1 pria yang tidak tertarik padanya yaitu Azka.
Setelah Celina berlalu, Azka menghubungi sekretarisnya dengan telepon kantor. "Segera ke ruangan saya!" lalu menutup panggilan dengan cepat.
Seorang wanita muncul dihadapan Azka, "Ada yang diperlukan, Tuan?"
"Ambil itu!"
Wanita bernama Ria menatap tas kantong di atas meja. "Makanan lagi, Tuan?"
"Ya."
"Memangnya Tuan tidak mau?" tanya Ria.
"Kalau saya menyuruhmu mengambilnya berarti saya tidak suka dengan makanannya!" jawab Azka kesal.
"Masakan Nona Celina sangat enak, Tuan." Jelas Ria yang memang beberapa kali menyantap masakannya Celina.
"Aku tidak peduli seenak dan senikmat apa makanan yang dibuatnya!" kata Azka semakin kesal.
"Baiklah, saya akan mengambilnya dan membagikannya kepada yang lainnya!" Ria memegang tas kantong makanan.
"Mulai besok, jangan pernah izinkan dia masuk ke ruangan saya!" Azka memberikan perintah.
"Tapi, Nyonya Andin...."
"Bos di perusahaan ini adalah saya, bukan mama saya. Jadi, kamu harus mengikuti perintah saya!" tegas Azka.
"Baiklah, Tuan!" kata Ria sedikit menundukkan kepalanya kemudian berlalu.
Azka menjatuhkan tubuhnya di kursi dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Sejak bertemu Celina di acara keluarga beberapa bulan lalu membuat hari-hari Azka menjadi tertekan. Apalagi kedua orang tuanya sangat menyukai dan menginginkan Celina menjadi menantu.
Azka mulai berpikir keras menjauhkan Celina dari hidupnya dan kedua orang tuanya. Ia berharap, rencana pertunangan mereka dibatalkan. Sebab, ia hanya menyukai wanita lain yang sedang di luar kota. Keduanya bertemu 2 tahun lalu ketika sama-sama berkunjung ke Korea Selatan.
Sementara itu selepas dari kantor pujaan hatinya, Celina melajukan kendaraannya menuju perusahaan milik ayahnya. Sesampainya di sana, ia bergegas ke ruangan kerja Hendra dan ibu tirinya juga berada di ruangan itu. Wanita yang sangat dibencinya apalagi setelah ia mengetahui penyebab ibunya meninggal dikarenakan istri kedua sang ayah.
"Celina, dari mana saja kamu?" tanya Hendra dengan lantang.
"Aku ke kantornya Azka. Bukankah Tante Ana sudah memberitahu Papa?" jawab Celina melirik wanita yang ada di sofa tepat di sebelah kanannya. Ya, saat dirinya sibuk di dapur Ana mengetahui jika ia sedang menyiapkan makanan buat Azka.
"Mama Ana, Celina!" Hendra mempertegas kata-katanya agar putrinya menyebut istrinya dengan 'Mama'.
"Mamaku cuma Mama Andrea!" tegas Celina.
"Celin, kenapa kamu jadi berubah begini?" Ana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati putri sambungnya.
"Jangan bersikap manis wanita penghibur!" Celina menatap marah ke arah wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya sejak 10 tahun lalu.
"Jaga bicaramu, Celina!" bentak Hendra.
"Mama dan Papa berpisah karena dia 'kan!!" Celina tak kalah meninggikan suaranya.
"Kami berpisah karena sudah tidak saling mencintai!" jelas Hendra biar putrinya tak salah paham.
"Aku tidak percaya!!" kata Celina menolak kenyataan.
"Celina, jangan membicarakan masalah keluarga kita di sini. Papa menyuruhmu ke ruangan hanya ingin menanyakan keseriusan kamu bekerja di perusahaan ini!" Hendra mencoba meredakan suasana apalagi tempat mereka berdebat di kantor miliknya, ia juga tak mau masalah keluarganya menjadi konsumsi obrolan bawahannya.
"Aku akan serius bekerja di sini, tetapi Papa harus memecat Tante Ana!" pinta Celina dengan tegas.
"Apa??" Hendra begitu terkejut mendengar permintaan putrinya.
"Jika Papa tidak bersedia, maka segera nikahkan aku dengan Azka!" kata Celina.