Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjuang
"Sepertinya ini orang tipe aku deh Jeng Daisy," ucap Dokter Lucky ke Daisy dengan bahasa Indonesia, membuat istrinya mendelik.
"Tipe kamu? Apa kamu mulai belok, mas?" desis Daisy judes.
"Eh? Bukan sayang, bukan tipe buat kaum boti ... Maksudku, karakternya mirip aku yang slengean gitu," jawab Dokter Lucky cepat-cepat.
Daisy menyipitkan matanya."Kalau ngomong itu yang benar, mas!"
"Aku tuh normal Jeng Daisy."
Jeff menoleh ke arah Arletta. "Apakah mereka baik-baik saja?"
"Kamu tenang saja. Itu love language mereka," jawab Arletta. "Dan kamu ...." Gadis itu menatap Jeff dengan wajah sebal. "Arti nggilani adalah cara kamu merayu itu menyebalkan."
"Ah masa sih?" kerling Jeff membuat Arletta semakin sebal.
"Oke kalian berdua, jangan ribut karena ada bayi," tegur Dokter Lucky.
"Oom Lucky juga yang ribut sama Mbak Dash!" balas Arletta.
Keduanya saling berpandangan tajam, membuat Daisy menggelengkan kepalanya.
"Ampun deh kalian tuh!" Daisy menatap Jeff yang hanya melongo melihat kedua orang itu. "Suamiku tidak punya adik perempuan atau pun laki-laki kandung jadi kalau bersama saudaraku ... Seperti itu."
"Apa ... Kamu tidak cemburu? Tidak takut ada hal-hal yang tidak diinginkan?" tanya Jeff. "Banyak kan cerita."
"Tidak karena masing-masing orang tahu diri! Orang-orang yang bisa selingkuh dengan iparnya, adalah orang yang tidak tahu diri! Bagaimana bisa merebut pasangan saudaranya sendiri! Tidak ada namanya macam begitu!" jawab Daisy.
Jeff mengangguk. "Adab yang bagus itu."
"Wajib!" senyum Daisy.
Jeff menatap Dokter Lucky. "Saya minta maaf, Dokter Lucky. Sungguh saya tidak ...."
Tiba-tiba suara ponsel Jeff berbunyi. Pria itu langsung siaga karena yang menghubungi rumah sakit.
"Dokter Clarke ... Baik. Saya akan kesana sekitar sepuluh menit lagi!" ucap Jeff. Dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kamu naik mobil?" tanya Arletta.
"Tidak," jawab Jeff sambil meringis.
"Pakai mobilku saja!" ucap Dokter Lucky. "Aku antar kamu. Ada kasus apa?"
"Tabrakan karambol dekat stadium Emirates."
Dokter Lucky menoleh. "Kandangnya Arsenal?"
Daisy dan Arletta mengangguk.
"Ya sudah. Aku antar!" Dokter Lucky mengambil kunci mobilnya.
"Bagaimana dengan Snowy?" tanya Daisy.
"Aku minta tolong titip dulu di sini ya? Dia sudah biasa toilet training," pinta Jeff. "Soal makan ...."
"Gampang. Kami punya daging sapi sisa semalam. Biar nanti aku rebus untuk makan Snowy. Is that okay?" tanya Daisy.
"It's okay."
Dokter Lucky pun keluar sambil memakai jasnya. "Ayo, aku antar kamu."
Jeff mengangguk sopan ke Daisy dan Arletta. "Kami pergi dulu."
Dokter Lucky mencium bibir Daisy lembut lalu berjalan keluar pintu. Jeff hendak maju ke Arletta tapi gadis itu sudah memasang wajah garang.
"Awas berani cium-cium!" hardiknya.
Dokter Lucky lalu kembali dan menarik kerah jaket Jeff. "Ayo! Pasien! Pasien!"
"Ah ... Nanti ya Letta!" cengir Jeff.
"Tidak ada nanti!" Dokter Lucky tetap menarik Jeff keluar apartemen.
Daisy dan Arletta hanya menggeleng. "Astaghfirullah, kekacauan deh nanti di mobil," gumam Daisy.
"Mama ...."
Daisy dan Arletta menoleh ke arah Kenzie yang keluar dari kamarnya bersama Snowy.
"Ya Kenzie?" tanya Daisy.
"Oom Jeff kemana?" tanya Kenzie sementara Snowy langsung berlari ke depan pintu.
"Ada pasien darurat dan diantar papa karena Oom Jeff tadi jalan kaki kemari," jawab Daisy. "Yuk, buat maem Snowy."
Kenzie mengangguk. "Snowy, ayo sini. Kita masak yuk!*
Arletta mengernyitkan dahinya. "Alamat Snowy bisa dibawa pulang Kenzie."
***
Royal Hospital London
"Dok! Korban banyak dan jumlah dokter sedikit!" lapor suster yang merasa lega dengan hadirnya Jeff.
"Apa boleh tambah satu dokter lagi? Dokter darurat?" tawar Dokter Lucky. "Aku dokter bedah di Indonesia."
"Anything! Kami benar-benar kewalahan!" ucap Suster itu.
"Mana yang paling krusial?" tanya Jeff sambil mengajak Dokter Lucky ke ruang ganti baju dan mereka pun segera berganti scrub dan baju operasi setelahnya cuci tangan.
"Ada wanita hamil sembilan bulan. Di ruang OR dua! Dokter Debby sedang berusaha menstabilkan mereka."
Jeff dan Dokter Lucky yang sudah steril, langsung masuk ke ruang operasi dan dokter Debby langsung lega melihat rekannya masuk.
"Selamat siang. Dokter Jeff Clarke dan ...."
"Dokter Lucky Buwono," jawab Dokter Lucky.
"Kita akan menyelamatkan dua nyawa," lanjut Jeff.
***
Lampu ruang operasi menyilaukan, memantul di permukaan alat-alat bedah yang berkilat. Suara monitor jantung berdetak cepat, tidak stabil
beep … beep … beep …
Seolah ikut panik bersama semua orang di ruangan itu.
“Tekanan darah turun!” seru seorang perawat dengan suara bergetar.
Dokter Lucky menatap tajam ke arah layar monitor, rahangnya mengeras. “Kita kehabisan waktu. Jeff, kita harus ambil keputusan sekarang.”
Di atas meja operasi, seorang ibu hamil terbaring tak berdaya, tubuhnya dipenuhi luka akibat kecelakaan. Perutnya yang membesar naik turun tak beraturan. Dua nyawa dipertaruhkan.
Jeff Clarke berdiri di sisi lain meja, sarung tangannya sudah berlumuran darah. Tatapannya tajam, fokus, tapi ada ketegangan yang jelas terlihat di matanya.
“Detak jantung janin melemah,” kata Jeff cepat. “Kalau kita tidak lakukan operasi sekarang, kita bisa kehilangan keduanya.”
“Dan kalau kita gegabah, kita juga bisa kehilangan keduanya,” balas Dokter Lucky, suaranya tegas namun penuh tekanan.
Sejenak, waktu terasa berhenti.
“Scalpel,” kata Jeff.
Perawat segera menyodorkan pisau bedah ke tangannya.
Dokter Lucky menghela napas dalam, lalu mengangguk. “Kita lakukan bersama. Fokus pada ibu, tapi kita harus siap selamatkan bayinya kapan saja.”
Ruangan kembali dipenuhi instruksi cepat.
“Tambahkan cairan infus!”
“Siapkan unit darah!”
“Monitor janin terus!”
Tangan Jeff bergerak cepat namun presisi, membuat sayatan dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Sementara Dokter Lucky mengawasi setiap perubahan kondisi pasien, memberikan instruksi tanpa jeda.
Tiba-tiba ...
“Dok, tekanan darah anjlok lagi!”
“Damn it…” gumam Dokter Lucky. “Jeff, percepat!”
Keringat mulai membasahi pelipis Jeff, tapi tangannya tidak goyah. “Sedikit lagi… aku hampir sampai.”
Monitor berbunyi lebih cepat, lebih kacau.
Beepbeepbeepbeep ...
“Detak jantung janin hampir hilang!” teriak perawat.
“Sekarang!” bentak Dokter Lucky.
Dengan satu gerakan tegas, Jeff menyelesaikan prosedurnya.
Sejenak, semua orang menahan napas.
Kemudian ...
Tangisan bayi memecah keheningan.
Satu detik.
Dua detik.
Ruangan yang tadinya penuh kepanikan seolah membeku.
“Bayinya … hidup,” bisik seorang perawat, hampir tidak percaya.
Dokter Lucky menutup mata sejenak, lega. “Bagus. Sekarang kita belum selesai. Fokus kembali ke ibunya.”
Jeff tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Kita tidak akan kehilangan siapa pun hari ini.”
"Anda berdua hebat Dok!"
Dan dengan itu, mereka kembali bertarung, melawan waktu, melawan takdir, di bawah cahaya putih yang tak pernah berbelas kasihan.
***
Yuhuuuu up Siang yaaaa
thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁
chef Letta tampaknya mulai ada rasa penasaran 🤫
Jeff kaga usahh ke GR an yaa gegara di kirim makan sama Letta
menyebalkannya tapi ngangenin lho😅😅🤭