Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan di Atas Kertas
Ruang kerja Arga sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. AC sentral gedung seolah bekerja dua kali lipat lebih keras, namun suasana di dalam ruangan justru terasa menyesakkan. Di atas meja jati yang luas itu, tidak ada dokumen tender atau laporan laba rugi. Hanya ada dua lembar kertas putih yang baru saja dicetak, berisi poin-poin yang diketik dengan rapi dan tegas.
Nara duduk di hadapan Arga, tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk.
"Ini bukan kontrak bisnis, Arga. Ini pernikahan," suara Nara terdengar sedikit serak.
Arga tidak bergeming. Ia menyodorkan sebuah pena fountain mahal ke arah Nara. "Justru karena ini pernikahan yang dimulai tanpa dasar perasaan, kita butuh batasan yang jelas. Saya ingin kita tahu apa yang diharapkan dari satu sama lain. Tanpa asumsi, tanpa drama yang tidak perlu."
Nara membaca poin-poin di sana.
*Pertama: Pernikahan ini akan dirahasiakan dari lingkungan kantor hingga waktu yang belum ditentukan.
*Kedua: Masing-masing pihak tetap memegang kendali penuh atas karir dan kehidupan pribadinya.
*Ketiga: Tidak ada tuntutan emosional yang berlebihan di tahun pertama.
Nara berhenti membaca di poin ketiga. Ia mendongak, matanya menatap Arga dengan binar kekecewaan yang coba ia sembunyikan. "Poin ketiga ini... kamu pikir perasaan bisa diatur pakai jadwal? Kamu pikir aku ini robot yang bisa mematikan sakelar hati hanya karena ada kesepakatan di atas kertas?"
"Saya hanya ingin kita realistis, Nara," jawab Arga tenang, meski sebenarnya ia merasa sedikit terusik dengan tatapan Nara. "Kita menikah karena janji pada orang tua. Saya tidak mau kita saling menyakiti karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Kamu ingin dicintai tanpa ragu, kan? Saya belum bisa memberikan itu sekarang. Jadi, lebih baik kita mulai dari nol dengan aturan yang jelas."
Nara tertawa hambar. Ia merasa harga dirinya sedikit tercabik. Di satu sisi, ia butuh pernikahan ini untuk menenangkan hati ibunya yang mulai sakit-sakitan. Di sisi lain, cara Arga memperlakukan rencana masa depan mereka seperti sebuah akuisisi perusahaan membuatnya merasa sangat kecil.
"Aku nggak setuju dengan cara ini, Arga. Ini dingin. Ini kaku," ucap Nara, suaranya mulai bergetar.
"Tapi ini efektif untuk mencegah kita berdua kecewa," sahut Arga cepat. "Tanda tangani, Nara. Anggap saja ini sebagai jaring pengaman. Hanya kita berdua yang tahu tentang kertas ini. Di depan orang tua, kita tetap akan menjadi menantu yang mereka harapkan."
Nara menatap pena di depannya, lalu menatap Arga. Pria ini sangat kokoh, seperti tembok yang tak mungkin diruntuhkan. Namun di balik kekakuannya, Nara bisa melihat bahwa Arga sebenarnya juga sedang ketakutan—takut kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nara meraih pena itu. "Aku tanda tangan bukan karena aku setuju dengan isinya. Aku tanda tangan karena aku ingin membuktikan padamu bahwa hidup nggak selamanya berjalan sesuai poin-poin yang kamu ketik ini."
Sret. Sret.
Tanda tangan Nara tergores di atas kertas putih itu, diikuti oleh tanda tangan Arga yang tegas dan tajam.
"Selesai," ucap Arga sambil menarik kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam map rahasia di laci mejanya yang terkunci. "Sekarang, kita kembali jadi CEO dan desainer. Tim kamu menunggu revisi di ruang tengah."
Nara berdiri, merapikan blazernya dengan gerakan yang sedikit kasar. "Kamu mungkin menang di atas kertas, Arga. Tapi pernikahan bukan tentang siapa yang punya aturan paling banyak. Kita lihat saja nanti."
Nara melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Arga terdiam di kursinya, matanya tertuju pada laci tempat ia menyimpan kesepakatan itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia merasa telah melakukan hal yang benar, namun entah kenapa, ada rasa sesak yang tertinggal di dadanya melihat punggung Nara yang menjauh.
Di balik meja kantor itu, janji sudah terikat secara hukum dan rahasia. Arga mengira ia telah mengendalikan segalanya, namun ia lupa satu hal: pucuk yang tumbuh di antara badai tidak pernah tumbuh menurut garis lurus yang kaku.
---
Arga menghela napas panjang setelah pintu jati itu tertutup rapat. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit-langit ruangannya yang tinggi. Kertas itu adalah caranya bertahan hidup. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh, dan perasaan adalah variabel yang paling sulit diprediksi. Dengan adanya kesepakatan itu, ia merasa telah memagari dirinya dari kemungkinan patah hati—atau lebih tepatnya, dari kemungkinan kehilangan kendali atas logikanya sendiri.
Ia bangkit, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar menuju ruang kolaborasi di mana tim Nara dan beberapa stafnya sedang berkumpul.
Suasana di luar sangat berbeda. Suara tawa kecil dan diskusi riuh terdengar dari balik partisi kaca. Begitu Arga masuk, suasana mendadak sedikit lebih formal, namun Nara tetap terlihat tenang. Ia sedang berdiri di depan layar besar, menunjuk beberapa detail warna pada logo baru.
"Untuk bagian gradasi di pucuk daun ini, saya ingin warnanya lebih tegas. Bukan hijau pucat, tapi hijau yang kuat," ucap Nara tanpa menoleh pada Arga yang baru saja bergabung.
Arga berdiri di belakang kerumunan karyawannya, melipat tangan di dada. Ia memperhatikan bagaimana Nara bekerja. Perempuan itu sangat berbeda saat sedang memegang kendali atas karyanya. Tidak ada lagi keraguan atau getaran di suaranya. Ia terlihat sangat kompeten, sangat bersemangat, dan—Arga harus mengakuinya—sangat cantik dalam profesionalitasnya.
"Bagaimana, Pak Arga? Ada masukan?" tanya salah satu manajer pemasaran Arga.
Arga melangkah maju, berdiri tepat di samping Nara. Jarak mereka cukup dekat hingga ia bisa mencium samar aroma parfum vanila yang menenangkan dari tubuh Nara. "Saya setuju dengan Nara. Kekuatan ada pada detail yang tegas. Jangan ada keraguan dalam desain ini."
Nara melirik Arga sekilas. Ada kilat sindiran di matanya yang seolah berkata, 'Oh, soal desain kamu minta ketegasan, tapi soal perasaan kamu malah minta batasan.'
"Baik, Pak. Kami akan segera finalisasi," jawab Nara pendek.
Saat rapat kecil itu bubar dan staf Arga mulai kembali ke meja masing-masing, Nara sibuk membereskan kabel laptopnya. Arga tetap berdiri di sana, pura-pura memeriksa tumpukan dokumen di meja rapat.
"Nara," panggil Arga pelan setelah mereka hanya berdua.
Nara tidak berhenti bergerak. "Ya, Pak CEO?"
"Nanti malam... Ibu minta kita ikut memilih desain undangan di rumah," ucap Arga dengan nada yang lebih manusiawi, meski tetap terasa kaku.
Nara berhenti bergerak sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Arga dengan senyum yang dipaksakan. "Tentu. Sesuai kesepakatan, kan? Di depan orang tua kita jadi peran yang sempurna, tapi di balik pintu ini, kita kembali jadi orang asing yang punya aturan masing-masing."
Nara menyampirkan tasnya ke bahu. "Jangan khawatir, Arga. Aku jago akting. Tapi ingat, kertas di laci mejamu itu... suatu saat mungkin akan jadi hal yang paling kamu sesali."
Nara melangkah pergi, meninggalkan Arga yang terpaku. Untuk pertama kalinya dalam karirnya yang cemerlang, Arga merasa seperti sedang kalah dalam sebuah negosiasi yang dia sendiri yang buat aturannya. Ia menatap punggung Nara yang hilang di balik lift, menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar janji di atas kertas, tapi sebuah medan perang baru bagi ego dan hatinya.
---
Arga kembali ke ruangannya dengan langkah yang tidak semantap biasanya. Ia duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini ia merasa kursi itu terlalu luas, terlalu sepi. Ia melirik laci tempat map rahasia itu disimpan. Poin-poin kesepakatan itu seharusnya memberinya ketenangan, tapi kenapa kata-kata Nara tentang "penyesalan" justru terasa seperti gema yang mengganggu konsentrasinya?
Ia mencoba membuka laptop, namun fokusnya terpecah saat melihat asisten pribadinya, Bayu, mengetuk pintu kaca.
"Pak Arga, maaf mengganggu. Ini ada beberapa berkas dari bagian legal yang perlu tanda tangan Bapak segera," ujar Bayu sambil meletakkan map biru di meja.
Arga meraih pena—pena yang sama yang digunakan Nara tadi. Saat ujung pena itu menyentuh kertas, ia mendadak teringat bagaimana jemari Nara sedikit gemetar saat menandatangani "kontrak" pernikahan mereka. Ada rasa bersalah yang menusuk, namun ia segera menepisnya. Ini demi kebaikan bersama, batinnya mencoba membela diri.
"Bayu," panggil Arga saat asistennya hendak keluar.
"Ya, Pak?"
"Menurut kamu... apa yang paling penting dari sebuah kemitraan?" tanya Arga, terdengar lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Bayu tampak bingung sejenak. "Wah, kalau menurut saya sih, kepercayaan dan fleksibilitas, Pak. Kalau aturannya terlalu kaku, biasanya pas ada masalah di tengah jalan malah gampang pecah."
Arga terdiam. Fleksibilitas. Kata itu tidak ada dalam kamusnya, dan jelas tidak ada dalam kesepakatan yang ia paksa Nara tanda tangani tadi.
"Oke, makasih. Kamu boleh keluar," usir Arga halus.
Ia kembali menatap jam dinding. Pukul lima sore. Harusnya ia masih punya waktu satu jam untuk mengecek laporan keuangan, tapi bayangan Nara yang sedang berjuang sendirian membereskan peralatan desainnya di luar sana membuatnya tidak tenang.
Arga meraih ponselnya, ragu-ragu sejenak, lalu mengetik pesan singkat.
“Saya tunggu di parkiran B2 sepuluh menit lagi. Kita berangkat bareng ke rumah Ibu. Mobil kamu biar di sini saja, besok saya minta orang kantor jemput.”
Ia menunggu. Satu menit, dua menit.
“Oke. Tapi jangan harap aku mau basa-basi di dalam mobil,” balas Nara singkat.
Arga mendengus kecil, sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di wajahnya. Setidaknya, Nara masih punya energi untuk melawannya. Ia mematikan lampu kantor, mengunci lacinya rapat-rapat, dan melangkah keluar.
Di balik meja kantor yang dingin itu, Arga mungkin merasa menang secara hukum. Namun, saat ia melangkah menuju lift, ia sadar bahwa malam ini adalah ujian sesungguhnya. Ia harus belajar bagaimana menjadi "calon suami" di depan ibunya, sambil tetap menjaga jarak yang ia buat sendiri di atas kertas. Dan yang paling sulit adalah menghadapi Nara—perempuan yang baru saja ia ikat dengan aturan, tapi entah kenapa, mulai mengusik keteraturan hidupnya.
Lampu lift berdenting. Arga masuk, siap menghadapi badai yang ia buat sendiri.