Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXVII—Hidup
Jay menutup buku kuno itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Halaman-halaman yang baru saja ia baca bukan sekadar tinta di atas kertas semata, melainkan rekaman rasa sakit yang begitu nyata. Ia melihat kilas balik kehidupan dari Garlak, sang raja sekaligus panglima perang yang dikhianati oleh kesetiaannya sendiri, dan Aridius, raja yang bijaksana dan religius namun terbuang oleh sesembahannya sendiri.
Jay terdiam, matanya yang sayu menatap kosong ke arah dinding menara yang dingin. Penderitaan mereka beresonansi dengan detak jantungnya sendiri. Ia teringat masa kecilnya, hari-hari di mana ia harus mengais sisa makanan, penyiksaan yang ia terima dari orang-orang yang tak punya hati, dan pengkhianatan demi pengkhianatan yang menjadikannya pria sinis yang berdiri di ambang jembatan waktu itu.
“Penghianatan... penyiksaan... kehilangan,” gumam Jay pelan. “Dunia kalian maupun dunia yang aku tempati memang tidak pernah ramah pada mereka yang memiliki hati.”
Ia menarik napas panjang, mencoba menekan amarah yang mulai membara di dadanya. Rasa simpati yang aneh muncul. Ia tidak melihat Garlak dan Aridius sebagai monster atau sebagainya, melainkan sebagai cerminan dari dirinya sendiri.
“Asha,” panggil Jay, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Cahaya biru muncul di hadapannya, membentuk sosok asisten sistem yang setia. “Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?”
“Setelah aku mendapatkan skill Overlord’s Ethereal Command, apakah aku bisa menghidupkan monster juga? Maksudku... menghidupkan kembali mereka yang sudah tiada sebagai bagian dari pasukanku?”
Asha terdiam sejenak, memproses data dari parameter sistem yang baru saja terbuka. “Tentu saja, Tuan. Sebagai pemegang otoritas Overlord Ethernal, Anda memiliki kendali penuh atas esensi kehidupan dan kematian makhluk yang terikat dengan mereka yang ingin mereka hidupkan kembali. Anda bisa membangkitkan mereka selama 'jangkar' jiwa mereka masih ada.”
Mendengar itu, urat ketegangan di wajah Jay sedikit mengendur. Sebuah kelegaan muncul, namun di balik mata sayu itu, tersimpan keinginan tersembunyi yang sangat gelap. Ia tidak hanya ingin pengikut tetapi ia ingin memberikan kesempatan bagi mereka yang telah dihancurkan oleh takdir untuk membalas dendam.
“Aku ingin menghidupkan mereka berdua,” ucap Jay tegas. “Garlak dan Aridius.”
Asha memberikan respon mekanis yang cepat. “Permintaan diterima. Menghitung syarat aktivasi... Dibutuhkan peninggalan dari masing-masing subjek. Mencari dalam Inventory...”
Sistem kemudian menarik dua item yang sebelumnya tersimpan di dalam ruang penyimpanan Jay. Sebuah kapak milik Garlak Vorpal Abyssal Axe yang penuh noda darah kering, dan Jubah Shroud of the Nameless Monarch milik Aridius.
“Syarat terpenuhi. Memulai proses Overlord’s Ethereal Command.”
Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi oleh kabut hitam yang pekat. Petir-petir kecil berwarna ungu menyambar di antara pusaran energi yang muncul di lantai. Tanah bergetar hebat saat dua pilar cahaya gelap menjulang tinggi. Udara menjadi dingin, begitu dingin hingga napas Jay mengeluarkan embun.
Perlahan, dari dalam pusaran energi itu, dua sosok mulai terbentuk. Mereka tidak lagi memiliki daging atau rupa manusia yang sempurna. Mereka bangkit dalam wujud roh bayangan yang solid, dengan aura hitam yang menyelimuti tubuh mereka dan cahaya ungu menyala di bagian mata dan sendi-sendi mereka.
Garlak bangkit lebih dulu, tangan bayangannya meraba lehernya sendiri, seolah memastikan bahwa kepalanya masih ada di sana. Sementara Aridius berdiri dengan anggun namun gemetar, jubah bayangannya berkibar tanpa angin.
“Di mana... ini?” suara Garlak terdengar seperti gesekan logam yang berat. “Kenapa... aku masih bisa merasakan kehidupan?”
Aridius menatap tangannya yang kini berupa energi ungu. “Kematian seharusnya menjadi akhir... dariku kenapa malah aku hidup kembali?”
Keduanya menoleh serentak dan melihat Jay yang berdiri dengan tenang di depan mereka. Tekanan aura dari Overlord’s Ethereal Command membuat kedua entitas legendaris itu merasa seolah-olah mereka harus berlutut, meski harga diri mereka memberontak.
“Kenapa kami harus hidup kembali?” tuntut Aridius dengan nada penuh kemarahan dan kebingungan. “Tugasku telah selesai dan biarkan aku mati…”
Jay berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai batu. Ia menatap mata ungu menyala milik Aridius, lalu beralih ke Garlak.
“Kalian belum saatnya mati,” jawab Jay lugas. Tidak ada nada kasihan dalam suaranya, hanya sebuah kepastian yang dingin.
“Lihat diri kalian,” lanjut Jay sembari menunjuk bayangan mereka. “Kalian sekarang terikat padaku malah sekarang kalian ingin mati?. Sayangnya aku tahu mati bukanlah yang kalian berdua inginkan? Aku tahu apa yang kalian inginkan maka dari itu ikutilah aku!"
Garlak mengepalkan tinjunya, energi hitam memercik dari sela jarinya. “Untuk apa? Untuk menjadi budakmu?”
Jay tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung pemahaman mendalam tentang rasa sakit. “Bukan budak. Tapi sekutu. Aku telah tahu sebagian masalalu kelam kalian. Aku tahu bagaimana kalian dikhianati, bagaimana kalian disiksa oleh takdir, dan bagaimana kalian kehilangan segalanya. Aku... aku juga merasakan hal yang sama.”
Jay berhenti tepat di tengah-tengah mereka berdua. “Kalian harus tetap hidup karena dendam kalian belum tuntas. Bukankah kalian ingin membalaskannya sampai ke akar-akarnya? Menghancurkan mereka yang tertawa di atas penderitaan kalian? Langit harus bergetar saat mendengar kehancuran mereka, bukankah begitu, Aridius?”
Mendengar kata-kata yang pernah diucapkan kepadanya di masa lalu oleh seorang pria yang membawa sebuah janji, Aridius tersentak. Ingatannya tentang pembalasan yang dijanjikan kembali membara.
“Kalian akan menjadi ujung pedangku,” kata Jay lagi, suaranya kini dipenuhi otoritas mutlak sang Overlord. “Ayo kita bersama-sama menjadi lebih kuat, kekuatan yang lebih besar dari yang pernah kalian bayangkan saat kalian masih bernapas. Kita akan menghancurkan tatanan dunia ini. Dewa, iblis, atau manusia yang berkhianat... tidak ada yang akan tersisa.”
Garlak menundukkan kepalanya, aura kemarahannya kini berubah menjadi kepatuhan yang haus darah. “Dendam sampai ke akar-akarnya... ya aku mau itu aku mau mereka menebus apa yang telah di perbuat pada seluruh pendudukku.”
Aridius perlahan berlutut, diikuti oleh Garlak. Jika memang anda bisa memberikan mereka penderitaan yang sama seperti yang saya rasakan, maka jiwaku yang hancur ini adalah milik anda, Tuan.”
Jay menatap kedua sosok itu dengan pandangan puas. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lebih utuh. Ia tidak lagi sendirian dalam kegelapan ini. Ia kini memiliki dua monster legendaris yang didorong oleh motif yang sama dengannya: pembalasan dendam yang murni.
“Bagus,” ucap Jay pelan. “Asha, siapkan data lantai 3. Kita akan melaju kesana”
Cahaya ungu di mata Jay menyala terang, selaras dengan aura kedua roh di hadapannya. “Ayo kita mulai kawan.”