Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Luka
Malam itu, tiga tahun yang lalu, California tidak secerah biasanya. Jalanan aspal di arena balap itu masih menyimpan sisa panas dari latihan sore, namun di dalam kepala Zeus Sterling, yang ada hanyalah kedinginan yang membakar.
Kebenaran yang dikunci rapat oleh keluarga Sterling bukan hanya tentang kematian sang putra mahkota, Zayn. Kebenaran itu lebih busuk: Zeus selalu iri. Ia iri pada senyum Zayn yang tampak tanpa beban, iri pada bagaimana orang tua mereka menatap Zayn seolah dia adalah mahakarya Tuhan, sementara Zeus hanyalah sketsa kasar yang terlupakan di sudut ruangan.
Malam itu, Zeus yang memacu mobil di lap pemanasan dengan kecepatan gila, mencoba membuktikan bahwa dia bisa lebih cepat, lebih berani, Dari pada Zayn sendiri.
Saat mobil itu hilang kendali dan Zayn masuk untuk menyelamatkannya, segalanya berakhir. Zayn tewas karena mencoba menarik Zeus dari kobaran api. Zeus hidup, namun jiwanya tertinggal di dalam puing-puing yang terbakar. Itulah sebabnya ia menjadi narsis; ia harus mencintai dirinya sendiri karena ia merasa tidak ada lagi yang mencintainya setelah "cahaya" keluarga mereka padam.
Kembali ke masa kini, di perpustakaan kampus, Nomella sedang menatap layar laptopnya dengan jemari yang gemetar. Ia baru saja akan mengirimkan draf artikel itu ke redaksi koran kampus ketika tiba-tiba layar monitornya berubah putih. Seluruh akses datanya terkunci. Akun emailnya dideaktivasi dalam sekejap.
"Apa yang terjadi?" bisiknya panik.
Ia mencoba menyegarkan halaman, namun yang muncul hanyalah logo Sterling Group yang berputar-putar.
Kekuatan keluarga Sterling bukan hanya soal uang; mereka memiliki kendali atas infrastruktur digital di wilayah ini. Zeus telah menggunakan pengaruh ayahnya untuk mematikan serangan Nomella sebelum peluru itu sempat keluar dari selongsongnya.
Nomella merasa sesak. Ia bangkit, mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek, dan memutuskan untuk pergi ke toilet di gedung sayap timur yang sepi untuk membasuh wajahnya. Ia butuh kejernihan untuk menyusun langkah berikutnya.
Namun, baru saja Nomella mengunci pintu bilik toilet, sebuah hantaman keras terdengar di pintu utama toilet wanita. Bunyi kunci yang diputar dari dalam membuat bulu kuduk Nomella berdiri.
Brak!
Pintu bilik Nomella didorong paksa dari luar sebelum ia sempat bereaksi. Sosok tinggi Zeus Sterling berdiri di sana. Matanya tidak lagi biru jernih; matanya gelap, dipenuhi kegilaan yang murni. Ia masuk ke dalam bilik yang sempit itu, memojokkan Nomella ke dinding porselen yang dingin.
"Kau pikir kau memegang kendali, hah?" desis Zeus. Suaranya rendah dan sangat mengancam. "Kau pikir koneksi New York-mu bisa mengalahkan kerajaan keluargaku di tanah ini?"
Nomella mencoba mendorong dada Zeus, namun pria itu seperti tembok baja. "Keluar dari sini, Zeus! Ini toilet wanita, kau gila!"
"Bukankah itu yang kau katakan tadi?" Zeus tertawa, tawa yang kering dan mengerikan. "Kau bilang aku gila. Kau bilang aku pasien jiwa. Jadi, biarkan aku menunjukkan padamu apa yang bisa dilakukan oleh orang gila."
Tanpa peringatan, Zeus mencengkeram bahu Nomella dan tangan satunya bergerak kasar, meremas dada Nomella dengan kekuatan yang membuat gadis itu memekik tertahan. Rasa sakit dan nyeri yang tajam menjalar di dada Nomella, membuatnya hampir kehilangan napas.
"Kau akan hancur seperti ini, Mella," bisik Zeus tepat di depan bibir Nomella. Cengkeramannya semakin kuat, mengabaikan rintihan kesakitan gadis di bawahnya. "Jangan mengira kau memegang rahasiaku maka kau aman. Aku bisa saja menidurimu di balik pintu toilet ini sekarang juga, dan tidak akan ada yang bisa menolongmu. Aku orang gila, ingat? Orang gila tidak punya aturan."
Nomella bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya membuat matanya berair, namun api kebencian di dalam dirinya belum padam. Ia merasa terhina, merasa tubuhnya diperlakukan seperti barang yang tidak berharga.
"Kurang ajar..." suara Nomella serak, tertahan oleh rasa nyeri. "Kau pikir kau siapa, hah? Kau menyentuhku sesuka hatimu... kau melecehkanku!"
Zeus tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru menekan tubuhnya lebih rapat ke arah Nomella, membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang liar.
"Apa?" tanya Zeus dengan nada menantang. "Kau yang mulai mengganggu hariku, Nomella. Kau yang masuk ke dalam labirinku, mengorek luka yang sudah kututup rapat. Jadi jangan merasa menjadi korban sekarang."
Zeus melepaskan remasannya dengan sentakan kasar, meninggalkan rasa nyeri yang berdenyut di dada Nomella. Ia menatap Nomella yang bersandar lemas di dinding toilet, wajahnya pucat pasi dengan air mata yang mulai jatuh.
"Setiap tindakan punya konsekuensi," ujar Zeus, suaranya kini kembali datar dan dingin. "Kau mencoba membakar rumahku, maka aku akan memastikan kau ikut terbakar di dalamnya. Artikelmu tidak akan pernah terbit. Rekaman itu sudah kuhapus dari servermu. Kau tidak punya apa-apa lagi, Nomella."
Zeus mundur satu langkah, merapikan kemejanya yang sedikit kusut seolah-olah ia tidak baru saja melakukan tindakan kriminal. Ia menatap pantulan dirinya di cermin toilet sejenak, memperbaiki tatanan rambutnya agar kembali terlihat sempurna, kembali menjadi sang pangeran kampus.
"Tetaplah di sini sampai kau sadar di mana tempatmu," ucap Zeus sebelum berbalik. Ia membuka kunci pintu utama toilet dan melangkah keluar dengan tenang, meninggalkan Nomella yang jatuh terduduk di lantai toilet yang dingin.
Nomella memeluk dirinya sendiri, tangannya meraba dadanya yang masih terasa nyeri dan panas. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kehancuran harga dirinya. Ia adalah Nomella Kamiyama, gadis ambisius yang selalu menang. Namun di tangan Zeus, ia merasa seperti debu.
"Brengsek... kau akan membayar ini, Zeus," isak Nomella di tengah kesunyian toilet.
Ia menyadari bahwa melawan Zeus dengan cara yang ia pelajari di New York tidak akan cukup. Zeus bukan hanya seorang narsis; dia adalah seorang penyintas yang bersedia menghancurkan apa pun agar rahasianya tetap terkubur. Dan jika Nomella ingin menang, ia harus berhenti bermain dengan aturan dan mulai masuk ke dalam kegelapan yang sama dalamnya dengan pria itu.
Nomella berdiri perlahan, membasuh wajahnya di wastafel. Ia menatap matanya yang memerah di cermin. Rasa takut itu mulai berubah menjadi tekad yang membeku. Zeus menganggapnya lemah karena dia seorang wanita, tapi Zeus lupa satu hal: wanita yang sudah kehilangan harga dirinya tidak akan takut kehilangan apa pun lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰