Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Evelyn dengan sigap menarik tangan kecil Azzura dan membawanya menjauh ke pojok ruangan, seolah tempat itu bisa menyelamatkannya dari rasa malu yang tiba-tiba menyerbu. Ia menunduk sedikit, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan, lalu berbisik dengan nada tegas namun tetap tertahan.
“Jangan bicara yang aneh-aneh, bisa-bisa nanti onty nggak dapat jodoh kalau ngomongnya gitu,” tegur Evelyn, matanya menatap tajam ke arah Azzura.
Azzura hanya mengedip polos, sama sekali tidak merasa bersalah. Bibir mungilnya malah melengkung membentuk senyum jahil yang sudah sangat Evelyn kenal. Tatapan itu... tatapan yang selalu jadi pertanda akan ada keributan berikutnya.
Dan benar saja.
“Oh... onty suka om ganteng itu ya!” pekik Azzura dengan suara nyaring tanpa beban, bahkan sedikit berlonjak kegirangan.
Waktu seakan berhenti sejenak.
Mata Evelyn langsung membesar sempurna. Refleks, tangannya bergerak cepat menutup mulut Azzura sebelum kalimat berikutnya meluncur lebih jauh. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak tidak karuan, dan panas mulai merambat dari leher hingga ke pipinya.
“Azzura!” desisnya panik, suaranya nyaris tidak terdengar.
Namun semuanya sudah terlambat.
Suara kecil yang lantang itu jelas terdengar di seluruh ruangan yang tidak terlalu luas. Sunyi sesaat menyelimuti, sebelum sebuah suara pelan terdengar dari arah ranjang pasien.
Sementara itu, Enzo yang sedari tadi berbaring di atas ranjang, hanya bisa menahan tawanya. Sudut bibirnya terangkat, matanya menyipit penuh hiburan. Ia bahkan harus menggigit bibir bagian dalam agar tidak benar-benar tertawa keras.
Pemandangan di depannya terlalu menarik untuk dilewatkan.
Evelyn, dokter yang biasanya dingin, tegas, dan ceplas ceplos, kini berdiri kaku dengan wajah memerah seperti tomat matang. Tangannya masih menutup mulut Azzura, sementara matanya gelisah, tak tahu harus melihat ke mana.
Enzo menghela napas pendek, berusaha mengendalikan diri. Namun kilatan jahil di matanya tak bisa disembunyikan.
“Aku merasa tersanjung,” ucapnya santai, suaranya rendah namun jelas, penuh godaan halus.
Evelyn langsung menoleh cepat ke arahnya. Wajahnya semakin merah, antara malu, kesal, dan panik bercampur menjadi satu.
“Kamu jangan dengarkan dia,” ucap Evelyn buru-buru, kata-katanya keluar tanpa jeda. “Aku sama sekali tidak menyukaimu, sungguh.”
Kalimat itu meluncur terlalu cepat, terlalu tegas... hingga justru terdengar seperti pembelaan yang dipaksakan.
Azzura yang masih berada dalam genggaman, perlahan menyingkirkan tangan Evelyn dari mulutnya. Ia mengerucutkan bibir, lalu menatap Evelyn dengan ekspresi polos yang pura-pura bingung.
“Kalau nda cuka, kenapa wajah onty jadi melah gitu?” celetuknya lagi tanpa dosa.
Evelyn memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menahan sesuatu agar tidak meledak. Sabar... dia harus sabar.
Namun dari arah ranjang, suara tawa kecil akhirnya lolos juga. Karena Enzo tidak bisa menahannya lagi.
“Dokter Evelyn," panggilnya pelan, masih dengan sisa tawa di suaranya, “aku tidak keberatan kok"
Kalimat itu sederhana, tapi nada yang ia gunakan... membuat Evelyn semakin tidak nyaman.
Ia melangkah cepat mendekat ke arah ranjang, berusaha mengembalikan kendali dirinya.
“Tapi saya keberatan,” balas Evelyn ketus, mencoba kembali ke mode profesionalnya. "Kamu fokus saja pada kondisi kamu, bukan mendengarkan ocehan anak kecil.
Namun justru sikap itu membuat Enzo semakin terhibur. “Aku pikir dokter harus jujur pada perasaanmu sendiri” sahut Enzo ringan.
Evelyn langsung menatap tajam.
“Dan aku pikir pasien harus tahu kapan harus diam,” balasnya tanpa ragu.
Suasana mendadak berubah tegang... namun anehnya, ada sesuatu yang hangat terselip di antara percakapan itu.
Azzura memandang keduanya bergantian, lalu tersenyum lebar seperti menemukan sesuatu yang menarik.
“Hm... cocok,” gumamnya pelan, namun cukup terdengar.
Evelyn hampir saja kehilangan kesabarannya untuk kedua kalinya hari itu.
“Hm... cocok,” gumam Azzura pelan, namun cukup jelas untuk terdengar di telinga keduanya.
Evelyn memejamkan mata sejenak. Ucapannya itu seperti percikan kecil yang jatuh di atas tumpukan emosi yang sudah sejak tadi ia tahan. Dadanya naik turun, berusaha mengendalikan diri. Kalau saja mereka tidak berada di rumah sakit, kalau saja dia tidak sedang memakai jas dokter... mungkin Azzura sudah ia cubit gemas karena ulahnya.
Evelyn hampir saja ingin menenggelamkan wajahnya kedalam air.
“Ayo keluar dari sini. Kamu bikin malu aja,” ucap Evelyn kesal, meski nada suaranya masih berusaha ditahan. Ia kembali menarik lembut tangan keponakannya, kali ini sedikit lebih tegas.
Namun Azzura bukan tipe anak yang mudah diatur, apalagi kalau sudah merasa nyaman.
Dengan cepat, gadis kecil itu menepis tangan Evelyn. Ia mundur satu langkah, lalu memeluk sisi ranjang Enzo seperti menemukan tempat berlindung.
“Jula mau di cini temani om ganteng. Kacihan omnya nda ada yang temani,” kata Azzura dengan logat khasnya yang cadel, wajahnya terlihat begitu tulus tanpa sedikit pun kepura-puraan.
Ruangan itu seketika hening. Kalimat sederhana itu... entah kenapa terasa begitu dalam.
Enzo yang sejak tadi lebih banyak menanggapi dengan candaan, kini terdiam sejenak. Tatapannya berubah, tidak lagi sepenuhnya jahil. Ada sesuatu yang berbeda, lebih lembut, lebih hangat.
Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu, apalagi dari seorang anak kecil.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum menggoda seperti sebelumnya, tapi senyum yang tulus.
“Terima kasih,” ucap Enzo pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Azzura langsung tersenyum lebar, bangga seolah telah melakukan sesuatu yang besar.
Sementara itu, Evelyn hanya bisa berdiri di tempatnya, menatap pemandangan di depannya dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Kesalnya masih ada, tentu saja. Tapi melihat ekspresi Enzo barusan... ada sedikit sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Ia menghela napas panjang, mencoba kembali ke realita.
“Tapi onty harus praktek. Banyak pasien yang sudah nunggu onty,” kata Evelyn, kali ini nadanya lebih lembut, ditujukan pada Azzura.
Ia berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi keponakannya, mencoba membujuk dengan cara yang lebih halus.
“Kamu ikut onty, nanti kita ke ruang poli, ya?”
Namun Azzura menggeleng cepat, bahkan sebelum Evelyn selesai berbicara.
“Nda mau,” jawabnya mantap.
Evelyn mengernyit.
“Azzura...”
Belum sempat ia melanjutkan, suara Enzo kembali terdengar dari atas ranjang.
“Biarkan saja dia di sini.”
Evelyn menoleh cepat, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Enzo terlihat santai, bersandar nyaman di bantalnya. Tatapannya kini tertuju pada Azzura yang berdiri di sampingnya.
“Kalau nangis nanti aku antar dia ke ruangan mu,” lanjut Enzo, seolah itu hal yang sangat sederhana.
Evelyn menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan curiga.
“Kamu yakin?” tanyanya singkat.
“Kenapa tidak?” balas Enzo ringan. “Aku juga bosan sendirian.”
Kalimat itu terdengar santai, tapi ada nada jujur yang terselip di dalamnya.
Evelyn terdiam sejenak.
Ia menatap Azzura yang kini sudah duduk di kursi dekat ranjang, mengayun-ayunkan kakinya dengan riang. Lalu pandangannya beralih ke Enzo, yang entah sejak kapan sudah memperhatikan mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Ada jeda beberapa detik.
Evelyn menghela napas lagi, kali ini lebih pelan.
“Jangan macam-macam,” ucapnya akhirnya, menatap tajam ke arah Enzo.
“Tenang saja, Dokter,” jawab Enzo dengan nada santai, meski senyumnya kembali muncul. “Aku bukan orang jahat.”
Evelyn mendengus pelan, jelas tidak sepenuhnya percaya.
Ia lalu menatap Azzura sekali lagi.
“Jangan nakal. Jangan ganggu omnya,” pesannya.
“Iyaaa...” jawab Azzura panjang, meski senyumnya menunjukkan kemungkinan besar ia akan melakukan sebaliknya.
Evelyn berdiri tegak, merapikan jas dokternya. Ia sempat ragu sesaat, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi... namun urung.
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari ruangan.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ruangan itu menjadi lebih tenang.
Azzura menoleh ke arah Enzo, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
“Om cakit apa?” tanyanya polos.
Enzo terkekeh pelan, menggeser sedikit posisinya agar lebih nyaman.
“Tertembak,” jawabnya singkat.
Azzura mengernyit. "Teltembak pictol?" pekik Azzura.
"Iya" jawab Enzo singkat.
“Cakit nda” tanyanya lagi.
“Sedikit,” balas Enzo.
Wajah Azzura langsung berubah serius, lalu ia mengangguk pelan.
“Nda papa. Jula temani,” ucapnya mantap.
Enzo terdiam sejenak. Senyumnya kembali muncul, kali ini lebih dalam, ia benar-benar tidak merasa sendirian.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐