NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Nyonya Rose

...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...

Aku langsung lari ke kamarku. Begitu pintu tertutup, aku langsung menarik napas dengan panik.

Sial.

Itu barusan intens banget.

Aku masih bisa merasakan kesemutan kuat waktu tanpa sengaja aku menggesek tubuhku ke tonjolan Cavell. Tubuhku bereaksi waktu merasakan tonjokan batang dia di antara pahaku, dan aku menekannya.

Rasa khawatir langsung memenuhi dadaku. Enggak, Cavell bilang aku gak melakukan apa pun yang salah. Dia cuma ingin aku pergi sebelum dia kehilangan kendali.

Itu bagus atau buruk?

Aku mengangkat tangan ke wajahku. Jari-jariku menyentuh bibir yang masih bengkak. Dia terasa seperti wiski. Liar dan membakar penuh gairah saat dia melahapku.

Pikiranku kembali ke percakapan kami sebelum dia menciumku, dan mataku turun ke cincin di jari aku. Agak kebesaran, tapi indah. Desain vintage dengan berlian besar.

Cavell menganggap aku kuat, dan itu alasan dia memilihku jadi istrinya.

Aku mengangkat dagu aku. Pandanganku jatuh pada kegelapan di luar balkon kamarku. aku berjalan ke pintu, membukanya, lalu keluar, meletakkan tangan di pegangan balkon dan menatap halaman belakang yang diterangi lampu taman.

Sekarang mansion ini adalah rumah aku.

Aku tunangan Cavell Rose. Gak ada orang lain yang boleh menyentuhku. Cuma Cavell.

Angin dingin menerpaku, memaksa aku kembali ke kamar. Aku berjalan ke meja rias, duduk, lalu merapikan makeupku. Mataku terpaku pada bayanganku sendiri di cermin.

Dia bakal jadi suami aku.

Begitu aku puas dengan penampilanku, aku keluar dari kamar dan turun ke bawah.

Dengan kepala tegak dan senyum tipis di bibir, aku masuk ke ruang tamu.

Mata Nyonya Persiie langsung naik ke wajahku, lalu turun ke tangan kiriku.

"Dia pakai cincinnya!" serunya sambil berdiri.

"Selamat, sayang."

Dia menarikku ke dalam pelukan dan mencium kedua pipiku sebelum mengambil tangan kiriku.

"Cocok banget sama kamu."

Saat Nyonya Rose bangkit dari kursinya, aku menjauh dari Nyonya Persiie dan mendekati calon ibu mertua aku.

"Cavell bilang cincin ini dulu milikmu," kataku dengan nada penuh hormat.

"Mamaku yang memberikannya saat aku bertunangan. Cincin ini punya nilai sentimental besar buat aku. Dia meninggal sebelum hari pernikahanku."

"Terima kasih sudah memberikannya kepadaku. Aku benar-benar merasa terhormat."

Senyum lucu muncul di wajahnya, lalu dia mengulurkan tangan. aku mendekat. Saat tangan kami bersentuhan, dia langsung menarikku ke dalam pelukan.

"Jadilah istri yang baik buat anakku," bisiknya di dekat pipiku.

"aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk jadi istri yang pantas buat pria sebesar Cavell, Nyonya Rose."

Dia mencium pipiku. "Panggil aku Dalia. Lagian sekarang kita sudah keluarga."

Rasa syukur memenuhi dadaku sampai aku harus menahan diri supaya gak menangis.

"Boleh aku panggil Tante Dalia?" tanyaku cepat sebelum menjelaskan. "Kalau cuma pakai nama depan rasanya agak kurang sopan."

"Tante Dalia juga gak masalah, anak manis."

"Oh, kamu sudah di sini. Aku akan memanggil Vloo," kata Nyonya Persiie. "Kita butuh anggur untuk merayakan kesempatan indah ini."

Saat aku menjauh dari Tante Dalia, aku melirik ke belakang dan melihat Cavell memperhatikan kami. Dia berjalan mendekat. Matanya bergantian melihat aku dan ibunya.

"Aku ganggu?"

aku cepat-cepat menggeleng.

"Aku senang mendengar kabar pertunangan kalian," kata Tante Dalia. "Aku harap kalian hidup bahagia."

"Terima kasih," gumamku.

Cavell mencium pelipis ibunya. "Terima kasih, Mamma."

Ibunya tertawa kecil.

"Kamu gak akan mengusirku dari mansion sekarang setelah dia akan menjadi Nyonya Rose, kan?"

"Gak, tentu gak!" seruku sambil memegang tangannya. "Jangan pernah berpikir begitu. Ini rumahmu."

"Dia cuma bercanda," gumam Cavell.

Lalu dia mengejutkanku dengan menegur Tante Dalia dengan nada bercanda. "Jangan bikin calon istriku kena serangan jantung, sebelum kita punya pewaris."

Tante Dalia tersenyum pada Cavell. "Oh? Kapan aku bisa berharap punya cucu pertama?"

"Bayi gak jatuh dari langit, Mamma," kata Cavell, nada bercandanya sudah menghilang.

Semua pembicaraan soal bayi membuat pipiku panas. Untungnya Nyonya Persiie kembali ke ruang tamu. Livinia juga masuk sambil membawa nampan berisi gelas dan sebotol anggur.

Saat Vloo bergabung dengan kami, dia mengambil botol itu dan membukanya. "Selamat atas pertunangannya."

"Terima kasih," gumamku, masih merasa kewalahan.

Sumbat botolnya meletup dan dia menuangkan cairan bergelembung itu ke dalam gelas. Begitu masing-masing dari kami memegang satu gelas, Cavell berdiri di antara aku dan Tante Dalia.

Dia mengangkat gelasnya. "aku benci bikin toast."

"Kami tahu, tapi lakukan untukku," kata Tante Dalia.

Cavell menatapku. Matanya terkunci pada mataku.

"Untuk menemukan seorang wanita yang cukup keras kepala untuk berani menatapku!"

Tanpa memalingkan pandangannya dari aku, dia meneguk Anggurnya. aku melakukan hal yang sama. aku gak kaget saat dia meletakkan kembali gelasnya ke nampan.

"Aku masih punya kerjaan."

"Gak ada istirahat untuk orang jahat," gumam Tante Dalia bercanda, tapi aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya.

Setelah Cavell dan Vloo keluar dari ruangan, Tante Dalia kembali duduk. aku gak ingin minum lagi selarut ini, jadi aku meletakkan Anggur aku di nampan.

Melihat Tante Dalia dan Nyonya Persiie masih menikmati minuman mereka, aku duduk dan bertanya,

"Kamu bisa kasih tahu aku, Cavell suka apa?"

"Maksudmu seperti apa?" tanya Tante Dalia.

"Eh... kopi dia? Makanan? Rutinitasnya saat dia di rumah?"

"Dia minum kopi hitam, pahit. Dia gak pernah suka apa pun yang manis."

Aku langsung mencatat itu di kepalaku.

"Dia makan apa saja, tapi yang paling dia suka adalah masakan rumahan."

"Baik," gumamku supaya dia tahu aku mendengarkan.

"Dia gak punya rutinitas. gak bisa diprediksi itu bagian dari keamanan. Saat kami keluar dari mansion, kami juga melakukan hal yang sama. Kami gak pernah keluar pada waktu tertentu dan selalu mengubah segalanya."

"Baik."

"Cavell bilang kita bisa pergi belanja," tambahnya, membuat aku terkejut.

"Iya, dia bilang aku harus membeli pakaian yang lebih hangat."

"Aku akan mengatur dengan para pengawal untuk keluar hari Senin. Saat kita keluar, kamu harus melakukan persis seperti yang para penjaga katakan. Berhati-hatilah dan selalu perhatikan sekitar."

"Baik," kataku sambil menyerap semua informasi itu seperti spons kering.

"Kamu harus menjadi mataku saat kita berada di tempat umum. Selalu waspada. Kalau kita diserang, jangan lepaskan aku dan tetap bersama Riffe. Kalau kita terpisah dari para penjaga, kita harus menemukan tempat aman untuk bersembunyi."

"Baik."

Sekarang aku mulai sadar kalau aku harus mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti Cavell. Aku akan berada dalam bahaya sama besarnya dengan dia, bahkan mungkin lebih.

Sekarang aku adalah anggota keluarga Rose.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!