NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

Pembangunan sekolah alam terapung itu dimulai bukan dengan suara ekskavator, melainkan dengan denting palu manual dan diskusi hangat di pinggir sungai. Andi bersikeras menggunakan material kayu sisa produksi yang telah diawetkan secara alami, sementara Mahesa sibuk memasang panel surya transparan yang menyerupai daun di atas atap rumbia modern.

"Ayah, kenapa kelasnya harus mengapung?" tanya Arlan sambil membantu menarik tali tambat berbahan serat kelapa.

Andi menyeka keringat di dahinya, lalu menunjuk ke arah permukaan sungai yang fluktuatif. "Hutan ini bernapas, Lan. Air sungai bisa naik dan turun kapan saja. Jika kita membangun gedung yang kaku di pinggir sungai, kita hanya akan melawan alam. Tapi dengan mengapung, sekolah ini akan ikut menari bersama aliran air. Kita mengajari anak-anak untuk adaptif, bukan konfrontatif."

Siska datang membawa beberapa cetakan kurikulum yang baru saja ia selesaikan bersama tim pendidik lokal. Ia berdiri di atas dek kayu yang masih baru, menghirup aroma kayu ulin yang kuat. "Kurikulumnya sudah siap, Ndi. Kita tidak akan mulai dengan buku teks tebal. Kelas pertama adalah 'Mendengar Hutan'. Mereka akan duduk diam selama satu jam hanya untuk mengidentifikasi suara hewan dan arah angin."

"Dan aku sudah menyiapkan kejutan untuk kelas sains," sela Mahesa yang muncul dari bawah dek setelah memeriksa sistem pelampung. "Aku memasang kamera bawah air di setiap kelas. Jadi, saat mereka belajar biologi, mereka bisa melihat langsung ekosistem ikan di bawah kaki mereka melalui layar di lantai kelas."

Pagi itu, sekelompok anak dari desa sekitar mulai berdatangan dengan perahu-perahu kecil mereka. Mata mereka membelalak melihat bangunan kayu yang seolah melayang di atas air. Siska menyambut mereka dengan senyuman yang paling tulus, bukan sebagai CEO dari perusahaan raksasa, melainkan sebagai seorang ibu yang ingin memberikan dunia yang lebih baik bagi generasinya.

"Selamat datang di sekolah kalian," ujar Siska lantang. "Di sini, tidak ada dinding yang membatasi kalian dari dunia luar. Hutan ini adalah guru kalian, dan sungai ini adalah perpustakaan kalian."

Saat anak-anak itu mulai masuk ke kelas dengan riang, Andi bersandar di salah satu tiang penyangga sekolah, menatap Siska yang sedang asyik bercerita kepada anak-anak tentang pentingnya menjaga mata air.

"Mereka adalah jembatan yang sesungguhnya, kan Sis?" bisik Andi saat Siska menghampirinya sejenak.

Siska mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Andi sambil memperhatikan Arlan yang mulai mengajari anak-anak cara menggunakan sensor kelembapan tanah yang sederhana. "Kita hanya membangun fondasinya, Ndi. Merekalah yang akan menentukan ke mana arah jembatan ini selanjutnya."

Di tengah gemericik air sungai dan suara tawa anak-anak yang memenuhi udara, sekolah terapung itu mulai menjalankan fungsinya. Bukan sekadar tempat belajar, tapi sebuah bukti nyata bahwa peradaban manusia bisa tumbuh subur tanpa harus mencabut akar kehidupan yang ada di bawahnya.

Matahari semakin tinggi, menyinari atap sekolah yang berkilauan. Di sana, di jantung Kalimantan, sebuah harapan baru sedang dididik untuk menjadi penjaga masa depan—sebuah warisan yang jauh lebih abadi daripada gedung pencakar langit mana pun yang pernah mereka bangun.

Hari pertama sekolah alam itu dimulai bukan dengan bunyi bel logam yang kaku, melainkan dengan tiupan alat musik bambu tradisional yang dibunyikan oleh salah satu tetua adat setempat. Suaranya menggema rendah, menyatu dengan deru air sungai dan kicauan burung yang seolah ikut menyambut para murid baru.

Siska duduk bersila di atas lantai kayu ulin yang harum bersama anak-anak. Di depannya, sebuah peta besar yang terbuat dari kain tenun menggambarkan aliran sungai dan sebaran pohon-pohon besar di sekitar mereka.

"Coba tutup mata kalian," pinta Siska lembut.

Keheningan segera menyelimuti kelas terapung itu. Anak-anak yang tadinya gelisah mulai terdiam. Arlan ikut bergabung, duduk di barisan belakang sambil mengamati bagaimana ibunya memimpin.

"Apa yang kalian dengar?" tanya Siska setelah beberapa saat.

"Suara air, Bunda!" jawab seorang anak laki-laki dengan semangat.

"Suara angin di daun pohon karet," timpal yang lain.

"Ada suara monyet yang sedang bertengkar di seberang!"

Siska tersenyum luas. "Benar. Itulah pelajaran pertama kita. Hutan ini sedang bicara pada kita setiap saat. Tugas kalian di sekolah ini adalah belajar bahasanya, agar kalian bisa menjaga mereka seperti mereka menjaga kita."

Sementara itu, di sisi lain dek, Andi dan Mahesa sedang memeriksa sistem penyaringan air yang terintegrasi dengan struktur bangunan. Mereka tidak ingin sekolah ini menghasilkan limbah sekecil apa pun ke sungai.

"Lihat ini, Andi," Mahesa menunjuk ke sebuah tabung transparan yang memperlihatkan proses filtrasi alami menggunakan pasir, kerikil, dan akar tanaman air. "Anak-anak bisa melihat langsung bagaimana air kotor menjadi jernih kembali. Ini lebih efektif daripada seribu diagram di buku teks."

Andi mengangguk, tangannya mengusap tiang kayu sekolah yang kokoh. "Aku ingin mereka merasa bahwa bangunan ini adalah bagian dari tubuh hutan. Tidak ada sekat, tidak ada rahasia."

Saat jam istirahat tiba, anak-anak tidak berlari ke kantin semen, melainkan melompat ke area pinggiran sungai yang dangkal dan aman, mencari batu-batu unik atau sekadar mengamati serangga air. Arlan dengan cepat menjadi idola baru; ia mengajari teman-teman barunya cara membaca data dari sensor kelembapan portabel yang ia bawa, mengubah sains menjadi permainan yang seru.

Siska menghampiri Andi yang sedang berdiri di ujung dermaga, menatap keriuhan kecil itu dengan rasa syukur yang mendalam.

"Dulu, saat kita baru memulai Gunawan Group, aku pikir kesuksesan adalah melihat namaku di puncak gedung," ujar Siska pelan sambil menggenggam tangan suaminya. "Tapi melihat mereka tertawa dan belajar untuk mencintai tanah ini... rasanya jauh lebih hebat dari apa pun."

Andi merangkul Siska, menarik napas dalam-dalam. Udara di sini terasa begitu bersih, penuh dengan aroma kehidupan. "Kita sudah membangun banyak gedung, Sis. Tapi bangunan yang satu ini... aku rasa ini adalah mahakarya kita yang sebenarnya."

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan di atas permukaan sungai. Sekolah terapung itu tampak bercahaya, seolah-olah menjadi permata yang tertanam di jantung Borneo. Di sana, di tengah belantara, sebuah generasi baru sedang dibentuk—bukan untuk menjadi penakluk alam, melainkan untuk menjadi sahabatnya.

Setiap tawa dan pertanyaan kritis dari anak-anak itu adalah batu bata baru bagi jembatan masa depan yang sedang mereka susun. Sebuah jembatan yang kini sudah sangat nyata, sangat kuat, dan sangat hijau.

Delegasi dari lembaga pendidikan internasional tiba dengan raut wajah yang awalnya penuh keraguan. Mereka datang dengan kemeja rapi dan sepatu yang tampak terlalu kaku untuk tanah Kalimantan, membawa standar-standar global tentang bagaimana seharusnya sebuah sekolah beroperasi. Namun, begitu mereka melangkah ke atas dek sekolah terapung yang bergoyang lembut mengikuti arus, keraguan itu mulai memudar.

"Ini bukan sekadar ruang kelas," bisik salah satu profesor dari Finlandia saat melihat anak-anak sedang berdiskusi di atas lantai kayu tanpa meja kursi. "Ini adalah ekosistem belajar yang utuh."

Siska menyambut mereka dengan ketenangan seorang pemimpin yang sudah selesai dengan urusan pembuktian diri. Ia tidak memamerkan angka kelulusan, melainkan mengajak mereka melihat bagaimana seorang anak berusia sepuluh tahun mampu menjelaskan siklus karbon hanya dengan menunjuk ke arah kanopi hutan di atas mereka.

"Di sini," Siska menjelaskan sambil berjalan di antara para delegasi, "kami tidak memisahkan subjek sains dari realitas. Saat mereka belajar matematika, mereka menghitung laju pertumbuhan bibit ulin. Saat mereka belajar bahasa, mereka menuliskan kembali legenda-legenda lokal tentang penjaga hutan. Hasilnya? Pengetahuan itu tidak hanya dihafal, tapi diresapi."

Di sudut lain, Andi dan Mahesa sedang menunjukkan sistem energi mandiri sekolah tersebut. Para delegasi terkesima melihat bagaimana sekolah itu mampu menghasilkan energinya sendiri dari aliran sungai dan panel surya tanpa menghasilkan suara bising yang mengganggu satwa.

"Kunci dari keberlanjutan adalah transparansi," Andi berkata sambil membuka panel kontrol yang bisa diakses oleh siapa saja. "Kami ingin anak-anak tahu dari mana energi mereka berasal dan ke mana limbah mereka pergi. Dengan begitu, mereka tidak akan pernah menganggap remeh sumber daya alam."

Puncak dari kunjungan itu terjadi saat jam makan siang. Anak-anak mengajak para tamu internasional itu makan bersama di atas dermaga, berbagi nasi bungkus daun pisang dan buah-buahan lokal. Arlan, yang bertindak sebagai penerjemah dadakan, tampak sangat lincah menjembatani percakapan antara teman-teman desanya dan para profesor asing tersebut.

Salah satu delegasi bertanya kepada seorang murid kecil, "Apa yang paling kamu sukai dari sekolah ini?"

Anak itu menjawab dengan polos namun tajam, "Di sini, sekolahnya tidak membuat hutan merasa sedih. Kami belajar di dalam rumah hutan, bukan di atas bekas lukanya."

Jawaban itu membuat suasana hening seketika. Siska dan Andi saling berpandangan, menyadari bahwa pesan yang mereka tanamkan telah mengakar begitu dalam.

Sore harinya, saat delegasi bersiap untuk pulang, ketua rombongan menjabat tangan Siska dengan erat. "Kami datang untuk memberikan saran tentang standarisasi. Tapi sepertinya, kamilah yang harus belajar banyak dari sini. Dunia membutuhkan lebih banyak sekolah yang punya 'jiwa' seperti ini."

Setelah perahu delegasi menjauh, Siska bersandar di bahu Andi, merasa lega namun tetap waspada. "Satu tantangan lagi terlewati, Ndi. Sekarang dunia tahu bahwa model ini berhasil."

Andi merangkulnya, menatap matahari yang mulai terbenam di balik jembatan gantung yang menghubungkan sekolah dengan area konservasi. "Ini baru awal, Sis. Setelah ini, jembatan-jembatan serupa akan muncul di tempat lain. Dan kita akan selalu ada di sini untuk memastikan fondasinya tidak goyah."

Malam turun dengan damai di sekolah terapung itu. Lampu-lampu kecil bertenaga surya mulai menyala satu per satu, tampak seperti kunang-kunang yang menjaga mimpi-mimpi anak-anak Borneo yang kini punya alasan untuk bermimpi lebih tinggi dari puncak pohon tertinggi di hutan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!