NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai ruang rawat VIP rumah sakit, menyinari wajah Dita yang tampak sedikit lebih segar meskipun selang infus masih terpasang di punggung tangannya. Di atas meja lipat kecil yang diletakkan di atas ranjang, beberapa lembar kertas ujian dan alat tulis sudah tertata rapi.

Dinda berdiri di samping ranjang, tangannya tak henti-hentinya merapikan rambut Dita yang sedikit kusut. Kecemasan terpancar jelas dari raut wajahnya.

"Dita, sayang... kamu benar-benar yakin kuat?" tanya Dinda untuk kesekian kalinya. Suaranya bergetar pelan. "Kalau kepalamu pusing atau sesak lagi, bilang ya? Kakak bisa minta pengawas untuk tunda sebentar. Kesehatanmu jauh lebih penting dari nilai apa pun."

Dita mendongak, memberikan senyum terbaik yang ia miliki. Bibirnya yang pucat dipaksakan untuk melengkung. "Kak Dinda, jangan khawatir terus. Dita sudah belajar semalam sama Bang Dika. Dita mau lulus, Kak. Dita nggak mau sia-siakan biaya sekolah yang sudah Kakak perjuangkan."

Dika, yang duduk di kursi sebelah ranjang dengan seragam sekolah yang rapi—meski nampak sedikit kaku karena jarang dipakai belakangan ini—menyahut dengan nada khasnya yang dingin namun penuh perhatian.

"Dia keras kepala, Kak. Tadi subuh saja dia sudah bangun minta dibacakan ringkasan rumus," ujar Dika. Ia kemudian menatap Dita. "Kalau nggak kuat, jangan dipaksa. Aku nggak mau lihat kamu pingsan gara-gara soal matematika."

"Bang Dika tenang saja! Dita kan pintar," balas Dita dengan nada ceria yang dipaksakan untuk menenangkan kedua kakaknya.

Tak lama kemudian, dua orang pengawas berpakaian seragam guru masuk ke ruangan, membawa amplop cokelat besar yang tersegel. Mereka memberikan salam sopan, menyadari bahwa ini bukan ujian biasa di dalam kelas, melainkan perjuangan hidup di tengah bangsal rumah sakit.

Dinda melangkah mundur, memberikan ruang bagi para pengawas. Ia menatap kedua adiknya dengan perasaan campur aduk. Bangga, namun juga tersayat sembilu. Ia tahu, fasilitas ujian di rumah sakit ini bukanlah keajaiban, melainkan kuasa dari pria yang ia benci.

*

Sebelum ujian dimulai, Dinda melangkah keluar ke koridor untuk menghubungi Alan. Ia perlu memastikan posisinya. Sejak kejadian makan siang dengan Nyonya Sofia, Dinda merasa setiap detik hidupnya diawasi.

Panggilan itu diangkat pada nada kedua. "Ya, Dinda?" suara berat Alan terdengar dari seberang sana.

"Tuan, ujian nasional adik-adik saya dimulai hari ini. Saya... saya minta izin untuk tidak masuk kantor selama beberapa hari ke depan. Saya harus mendampingi mereka di sini," ucap Dinda dengan nada formal, mencoba menjaga jarak emosional.

Ada jeda sejenak di seberang telepon. Alan terdengar sedang menghela napas. "Aku sudah tahu jadwal mereka. Tidak perlu minta izin secara formal, Dinda. Fokuslah pada adik-adikmu. Jika kau butuh buku tambahan, vitamin, atau apa pun untuk mereka, katakan pada Leo. Dia akan menyediakannya dalam sekejap."

"Terima kasih. Tapi saya rasa bantuan Tuan sudah lebih dari cukup," jawab Dinda dingin.

"Dinda," panggil Alan sebelum Dinda memutus sambungan. "Jangan terlalu lelah. Kau juga baru saja... kau juga butuh istirahat."

Dinda memejamkan mata rapat-rapat. Kata-kata Alan yang seolah peduli itu justru mengingatkannya pada malam di apartemen. Rasa muak kembali merayap di dadanya. "Saya baik-baik saja, Tuan. Permisi."

Dinda mematikan ponselnya. Ia bersandar di dinding koridor, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Di dalam ruangan itu, masa depan adik-adiknya sedang dipertaruhkan, sementara di luar sini, ia sedang terjerat dalam jaring laba-laba seorang Allandra Ryuga.

***

Di sisi lain kota, di dalam ruang kerja pribadinya yang berbau aroma terapi mahal, Nyonya Sofia Ryuga duduk dengan tenang sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Di hadapannya, asisten pribadinya meletakkan sebuah map hitam berisi dokumen-dokumen yang dicari sejak kemarin.

"Jadi, namanya Adinda Maheswari. Mantan buruh pabrik tekstil kita di cabang." Sofia membaca baris demi baris riwayat hidup Dinda dengan senyum sinis. "Lalu tiba-tiba dipindahkan ke kantor pusat sebagai sekretaris pribadi CEO tanpa kualifikasi pendidikan yang memadai. Menarik."

"Bukan hanya itu, Nyonya," asisten itu menambahkan. "Adiknya, Anindita, menderita leukemia stadium lanjut. Biaya rumah sakit internasional yang sangat mahal itu semuanya didebet langsung dari rekening pribadi Tuan Allandra. Tidak ada catatan asuransi perusahaan yang digunakan."

Sofia tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau di atas piring porselen. "Anakku yang malang. Dia pikir dia sedang menjadi pahlawan dalam novel. Membeli kesetiaan seorang gadis miskin dengan biaya rumah sakit adiknya."

"Apakah Nyonya ingin saya menghentikan aliran dana itu? Atau mendatangi rumah sakit sekarang?" tanya si asisten sigap.

Sofia menggeleng pelan, jemarinya yang mengenakan cincin zamrud besar mengetuk-ngetuk meja. "Jangan. Biarkan saja dulu. Biarkan Alan merasa dia telah menang. Biarkan gadis itu merasa aman di bawah perlindungan anakku."

"Tapi Nyonya, bukankah ini akan merusak rencana perjodohan dengan Wardhana Group?"

"Justru ini adalah kartu as kita," mata Sofia berkilat tajam. "Jika aku menghancurkan mereka sekarang, Alan akan memberontak lebih keras. Tapi jika aku menunggu sampai gadis itu benar-benar bergantung pada Alan, lalu aku menarik semua fasilitas itu secara tiba-tiba... bayangkan betapa hancurnya mereka. Alan akan dipaksa memilih: membiarkan adik gadis itu mati, atau menuruti kata-kataku."

Sofia menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk. "Biarkan mereka menikmati 'kebahagiaan' ini sebentar lagi. Aku ingin melihat sejauh mana Alan akan mempertaruhkan reputasi Ryuga Corp demi seorang buruh pabrik yang sudah tidak suci lagi di tangannya sendiri."

***

Waktu ujian sesi pertama berakhir. Para pengawas keluar untuk memberikan waktu istirahat bagi Dita. Dinda segera masuk membawa semangkuk bubur hangat dan air putih.

"Hebat, Dita! Gimana soalnya?" tanya Dinda sambil mencium kening adiknya.

"Lumayan susah, Kak. Tapi Dita bisa jawab sebagian besar. Tadi Bang Dika juga kasih kode semangat dari kursinya," cerita Dita dengan mata yang berbinar, meskipun wajahnya tampak sangat lelah.

Dika mendekat, ia membawa handuk kecil basah untuk mengelap wajah Dita. "Jangan banyak bicara dulu. Makan, terus istirahat. Masih ada satu sesi lagi nanti siang."

Dika kemudian menatap Dinda. Tatapannya sedikit melunak melihat kakaknya yang sejak pagi terus berdiri di depan pintu. "Kakak sudah makan? Jangan cuma urusin kami. Kalau Kakak sakit, siapa yang kerja buat bayar 'asuransi' itu?"

Dinda tersenyum pahit. "Kakak sudah makan tadi di kantin, Dik. Kamu jangan khawatir."

Dika mengangguk, namun ia menyadari sesuatu. Ia melihat Dinda memegang ponselnya dengan sangat erat setiap kali ada notifikasi masuk. "Kak, Bos Kakak itu... dia nggak marah kan Kakak izin?"

"Nggak, Dik. Dia... dia sangat mengerti kondisi kita," jawab Dinda singkat, menghindari kontak mata.

"Baguslah. Karena kalau dia macam-macam, aku nggak peduli seberapa kaya dia. Aku akan seret Kakak keluar dari kantor itu," ucap Dika tegas.

Dinda hanya bisa terdiam. Ia memandangi kedua adiknya yang begitu tulus. Ia tahu, kebohongan yang ia bangun ini seperti istana pasir di pinggir pantai. Sangat indah dilihat, namun hanya butuh satu ombak besar untuk meruntuhkan segalanya. Dan ombak itu, dalam wujud Nyonya Sofia, sedang bersiap untuk menggulung mereka semua.

"Dita... Dika..." gumam Dinda dalam hati sambil menyuapi adiknya. "Maafkan Kakak yang harus membohongi kalian. Kakak hanya ingin kalian hidup tercukupi dan bahagia."

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!