NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Break A Leg, Captain!

Fraya yakin sekarang wajahnya pasti sudah berubah semerah tomat. Kalimat Florence barusan seperti sebuah tinju yang menghantam langsung ke wajah Fraya dengan keras.

Kali ini bukan hanya alisnya saja yang naik, tapi matanya membelalak lebar kearah Florence. "Kamu ini bicara apa, sih! Ngelantur, deh."

​"Kamu tidak tahu, atau menyangkal untuk tahu?"

​Fraya tertegun sejenak. Ia juga bingung sebenarnya, dengan perasaan asing yang menyelinap masuk kedalam hati Fraya sejak kemarin itu.

​Karena Florence belum juga dapat jawaban dari teman disampingnya ini, Florence melempar tatapan pada Asa dan mengulurkan tangan.

"Let me see those tape," ujar Florence singkat sambil meminta kotak kaset ditangan Asa.

Asa yang sejak tadi ingin sekali ikut nimbrung pembicara Florence dan Fraya itu menyerahkan kotak kaset ditangannya dengan enggan.

​Florence menatap deretan judul lagu berbahasa Jerman dibelakang halaman sampul. Matanya kembali terangkat untuk memandang Fraya.

"Bahasa Jerman ku mungkin payah juga, Alexa, tapi setidaknya aku bisa tahu kalau lagu-lagu yang ada didalam kaset ini adalah lagu-lagu cinta."

​Fraya mengedipkan mata, tidak lagi kaget maupun terbelalak seperti tadi. Tapi hatinya jadi mulai berdegup dengan aneh, membuatnya jadi hilang kata-kata.

Florence kembali melayangkan tatapan kepada Asa yang masih saja terdiam dengan wajah kesal.

​"You're an expert with this language. And since you read those title first before me, do you agree when i say that these setlist is all about love song?"

​Manik mata Fraya terangkat untuk memandang Asa yang daritadi hanya bungkam, seperti enggan menjawab.

Namun dengan terpaksa pada helaan napas panjang, Asa menjawab, "Iya, semua lagu-lagu disana itu lagu-lagu cinta."

​"See? I told you," erang Florence sambil menghempaskan punggung ke kursi yang didudukinya.

​"So what?" seru Fraya dengan napas tertahan, "mungkin memang kebeteluan saja dia hanya punya lagu-lagu itu untuk dia berikan padaku sebagai bahan belajar. Dia tahu aku sangat payah di metode mendengar ini. Percayalah, lagu-lagu ini tidak berarti apa-apa baginya."

​"I agree with that!" kembali Asa melemparkan pernyataan setujunya yang dengan praktis bikin kaki Florence menendang Asa dari bawah meja.

Asa mengusap kakinya yang berdenyut akibat ujung sepatu Florence yang tadi diantukkan cukup keras ke tulang kering kakinya. "I better go outside, to get some fresh air."

​Fraya dan Florence menatap punggung Asa yang menjauh dan menghilang dari balik pilar besar perpustakaan. Begitu sosok Asa menghilang, Florence menghadap Fraya lagi.

​"Alexa, apa yang Damian berikan ke kamu itu bukan hanya kebetulan atau iseng saja."

​Fraya berdecak sebal, "Tidak, Flo. Kaset ini hanya untuk bahan belajarku supaya aku bisa melatih metode sialan ini saja. Aku tidak mau berkhayal sampai sejauh itu hanya karena lagu-lagu didalamnya adalah lagu-lagu cinta."

​Florence menaikkan kedua alisnya, mendengar ucapan Fraya yang rasanya seperti penyangkalan.

​"Alexa, percayalah jika kukatakan Damian itu satu-satunya makhluk paling mematikan Milford Hall yang tidak pernah sekalipun terlihat mengejar perempuan. Baik didalam Milford maupun diluar Milford. Kalau para gadis mengemis perhatian di kakinya, itu sudah jadi makanan pokok semua orang disini. Reputasinya tidur dengan banyak perempuan juga sudah melalang buana di seluruh Inggris, tidak perlu diragukan lagi. Tapi melihat sosok dingin itu sampai menyeret seorang gadis ke tribun hanya untuk membuatnya menonton pertandingan supaya dia menang, rela menjadi tutor padahal dia sendiri hampir tidak pernah ikut kelas Mr. Müller, sampai bersedia mendatangi rumah seorang gadis, itu bukan seperti Damian Harding yang orang-orang kenal. Kami disini, tidak kenal dengan Damian versi itu."

​Fraya kembali termenung mendengar ucapan Florence. Dan belum sampai disitu, Florence kembali melanjutkan, "Sebelum kamu datang, Damian itu tidak tersentuh sedikitpun. Para gadis menyuguhi banyak perhatian, yang diterima dengan tangan terbuka walaupun tindakan mereka atau apapun yang mereka berikan kepada Damian pada akhirnya tidak benar-benar pria itu terima. Tapi dengan kamu, kamu membuatnya seperti manusia pada umumnya, seperti siswa-siswa lain. Sebelum kamu datang, sosok Damian hanya akan hadir di kelas saja. Atau di lapangan Lacrosse kalau sedang latihan. Dia tidak akan muncul tiba-tiba di perpustakaan, atau ikut makan di kafetaria seperti akhir-akhir ini yang sering dilakukannya dengan kamu. Dan semua itu hanya terjadi pada saat kamu hadir di Milford."

​Fraya ingin sekali menyangkal, tapi sebagian hatinya yang kerap bertanya sejak beberapa hari ini seperti mengamini penjelasan Florence. Seolah tanpa sadar, kalimat teman dekatnya itu telah menjawab pertanyaan tak terucap dalam hati Fraya selama ini.

​"Tapi... Aku? Untuk apa orang seperti Damian suka sama gadis sepertiku? Apalagi perkenalan awal kita rasanya tidak pernah terjadi dengan tepat."

​"Alexa, cinta datang dengan cara paling tidak terduga. Menurut kamu, kenapa si culun Asa itu jadi sering mau ikut denganku kalau bukan karena dia juga naksir sama kamu. Kamu sadar tidak sih, kamu itu sebenarnya cantik sekali?"

​Untuk kalimat ini, Fraya cuma bisa memutar mata sambil berdecak, "Jangan meledekku!"

​"Aku serius. Fraya, kalau saja Asa punya kuasa seperti Damian di sekolah ini, pasti dia juga sudah terang-terangan mendekati kamu. Selama ini dia hanya menahan diri, karena dia tahu saingannya itu Damian Harding. Namanya disandingkan dengan Damian saja sudah pasti kalah telak. Makanya dia cuma bisa menyelipkan perhatian-perhatian kecil di sela-sela saja, supaya tidak terlalu kentara oleh Damian."

​Fraya masih kehilangan kata-kata. Membayangkan setiap keping kejadian yang telah dilaluinya bersama Damian, seolah perlahan membuka pintu-pintu di pikiran Fraya yang selama ini berusaha ia kunci rapat.

Sebenarnya Fraya sudah sering dirundung kebingungan dengan segala keanehan Damian—bagaimana cowok itu selalu punya cara, entah seberapa kasarnya, untuk memaksa Fraya agar terus hadir di dekatnya. Padahal Fraya merasa dirinya bukan siapa-siapa bagi Damian.

​Kalaupun dibilang teman, seumur hidupnya, teman laki-laki Fraya tidak ada yang se posesif Damian.

Bahkan hanya untuk sekadar mengobrol dengan Asa saja, Damian bisa menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan, memotong pembicaraan mereka dengan arogansi yang hanya dimiliki seorang Harding.

​"So... What can I do?" Hanya itu kalimat yang berhasil lolos dari kerongkongannya yang mendadak kering.

​"Yang kamu rasakan sendiri apa sekarang?" Florence balik melempar tanya, sebuah pertanyaan retoris yang hanya dijawab Fraya dengan gelengan kepala pelan.

​"Sebelum kamu bilang ini, aku memang sudah merasa ada hal aneh yang terjadi di antara aku dan Damian. Tapi aku masih percaya kalau sikapnya ini murni karena dia memang brengsek saja. Suka semena-mena dan semaunya sendiri pada setiap orang yang ia jadikan teman. But since you brought this up, I kinda feel like... weird."

​"Weird in a good way, or else?"

​Fraya menatap Florence sambil menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan saat ia merasa tersudut oleh perasaannya sendiri.

Florence terkekeh melihat reaksi itu.

​"It's okay, Alexa. Whatever you are feeling now, I won't judge and I won't shush you away."

​Fraya menimbang jawaban di kepalanya, mencari kata yang paling presisi untuk mendeskripsikan kekacauan batinnya.

"I think, it kind of... weird in a good way. Aku nggak tahu. Jujur, aku nggak pernah merasa seperti ini terhadap seseorang. Terutama, seseorang seperti Damian."

​Florence tersenyum simpul sambil menepuk punggung tangan Fraya, gestur menenangkan yang tulus. Bibirnya baru saja ingin terbuka untuk mengatakan sesuatu, ketika tiba-tiba Asa kembali muncul entah sejak kapan, wajahnya tampak agak tergopoh-gopoh.

​"Flo, pertandingannya sudah mau dimulai!"

​Florence seperti disengat listrik mendengar informasi itu. Ia seketika langsung berdiri heboh, menarik tasnya dengan gerakan cepat untuk mengenakannya kembali.

Asa sudah lebih dulu pergi lagi tanpa menoleh ke arah Fraya. Fraya hanya bisa diam, menahan diri melihat betapa antusiasnya kedua temannya ini untuk menonton pertandingan Lacrosse.

​"Are you coming with us to see your man playing?" tanya Florence, lengkap dengan atribut menontonnya yang sudah terpasang di kepala.

​Fraya menggeleng pelan sambil menunjuk walkman-nya yang tergeletak di meja. "I need to solve this thing right away."

​Florence berdecak kesal, seolah-olah Fraya baru saja melakukan dosa besar.

"Tugas itu bisa besok-besok, Fraya. Tapi pria spek dewa-mu itu tidak akan bertanding terus-terusan. Kamu mau kejadian minggu kemarin terulang lagi? Kali ini reaksinya akan lebih dahsyat karena penonton dari luar sekolah juga hadir. Tribun kita saat bakal membludak."

​Fraya tetap pada pendiriannya, ia menggelengkan kepala lagi. Akhirnya Florence menyerah, ia tidak mau melewatkan babak menit awal yang sebentar lagi akan berlangsung.

Begitu Florence menghilang dari pintu perpustakaan, meninggalkan Fraya dalam keheningan yang familiar, mata cokelat gadis itu kembali melayang. Pandangannya jatuh ke hamparan tribun Lacrosse di bawah sana yang mulai dipadati lautan manusia.

​Ada sebersit harapan yang timbul di benak Damian ketika ia memasuki lapangan hijau Lacrosse. Ia memandang setiap sudut tribun yang terhampar luas di depan matanya, memindai ribuan wajah yang bersorak.

°°°°

​Mata Damian tetap mencari. Ia mencari satu gadis itu. Walaupun dirinya sudah mewanti-wanti untuk jangan sekalipun mengharapkan kehadirannya, rencana itu pupus seketika saat ia mendengar Mr. Wilson meneriakkan instruksi agar para pemain mulai masuk ke lapangan.

​Damian mengenakan helmnya, jemarinya menggenggam stick Lacrosse dengan erat. Sesekali ia masih menyempatkan diri melirik tribun dengan ekor matanya, merapal kan doa dalam hati agar gadis sialan itu—entah bagaimana caranya Tuhan mengatur—mau muncul barang sekejap saja.

​"You're not gonna bail on us again, Harding," ujar Louis sambil menepuk punggung Damian dengan keras, menyentakkan alam sadar Damian yang sempat melayang ke mana-mana.

​Dua menit menuju pertandingan dimulai, Damian akhirnya menyerah pada bumi tempat kakinya berpijak.

Ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam harapannya. Para tim mulai menyebar, mengatur posisi masing-masing. Tim lawan dari Eastwood High juga sudah bersiap, mengunci strategi demi membawa pulang piala kejuaraan tahun ini.

​Damian sudah siap di posisinya ketika sudut matanya menangkap sesuatu.

Sosok yang nan jauh di sana, tengah berlari-lari susah payah memasuki lorong koridor tribun ditengah keramaian penonton yang berdiri.

Dengan mengikuti kata hatinya, Damian menoleh ke arah sosok yang berlarian dengan langkah lebar-lebar itu.

​Harapan yang Damian kubur beberapa menit lalu, kini bangkit kembali seolah mendapat napas baru. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok Fraya yang berdiri di koridor bawah tribun lapangan.

​Fraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memegang sebuah kertas putih dengan goresan tulisan yang hanya bisa Damian baca dengan susah payah dari jarak sejauh itu:

...​JERMAN FRAYA 60 : LACROSSE HARDING 1...

...WINNING IT FOR ME!...

​Damian tiba-tiba menyerukan sesuatu pada wasit untuk meminta jeda sebentar. Tindakan impulsif itu langsung membuat timnya waspada, terutama pelatih Damian yang seketika ingin murka.

Namun sang kapten tidak peduli. Ia berlari secepat kilat membelah hamparan lapangan hijau hanya untuk menghampiri Fraya.

​Fraya menurunkan tangannya seketika. Ia sangat terkejut melihat aksi nekat Damian yang ternyata bisa menangkap kehadirannya di tengah ribuan orang. Ia melihat Damian membuka helmnya sambil berlari mendekat.

​Napas Damian terbata-bata saat ia berdiri di depan Fraya. Dengan aksen British-nya yang kental dan berat, ia berujar, "Akhirnya kamu datang juga tanpa harus ku seret paksa lagi."

​Fraya terkekeh kecil, meski rasa malu menyergapnya. Menatap Damian sedekat ini sekarang jadi terasa begitu canggung. Ada desiran aneh yang menyelimuti hatinya, sesuatu yang ingin ia tampik dengan keras, tapi rasanya tidak sanggup untuk Fraya lakukan saat ini.

​"Memberi dukungan untuk tutorku sendiri sepertinya tidak ada salahnya. Walaupun rasanya aneh karena sejujurnya aku sama sekali tidak pernah mengerti permainan Lacrosse itu seperti apa perhitungannya," ujar Fraya dengan nada yang sengaja dibuat cuek, gaya khasnya untuk menutupi kegugupan.

​Cowok di depannya ini terkekeh, matanya menatap Fraya dengan binar terpana.

Tangan Damian terangkat, mendarat di puncak kepala Fraya seperti yang selama ini biasa ia lakukan. Namun kali ini ada yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, Fraya tidak menepis tangan besar Damian. Ia membiarkan jemari Damian mengusap rambutnya dengan lembut.

​"Wait for me till the end, would you? I'll teach you how to play after the game. Dan aku janji, aku akan menangkan pertandingan ini... untuk kamu," ujar Damian dengan senyum yang terus tersungging, membuat hati Fraya kembali berdesir hebat—sebuah rasa yang asing sekaligus menyenangkan.

​Ajaibnya, kali ini Fraya menurut. Ia menganggukkan kepala, melempar senyum hangatnya yang paling tulus sembari berbisik, "Break a leg, Captain."

​Damian terkekeh, kembali mengacak-acak puncak kepala Fraya dengan sayang.

Dan di detik selanjutnya, tanpa peringatan, Damian melangkah mendekat. Ia menundukkan kepalanya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di puncak kepala Fraya.

​Fraya membeku seketika. Seluruh sarafnya seolah berhenti berfungsi. Jantungnya terasa seperti terhempas ke tanah tanpa ia sadari.

Ia masih berdiri kaku di tempatnya bahkan saat Damian sudah kembali berlari menuju tengah lapangan, disusul bunyi peluit panjang yang melengking, pertanda permainan maut itu telah dimulai.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!