"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan yang mempertemukan 2 Jiwa
Disebuah Jalanan.. raungan mesin 1000cc itu memecah keheningan malam, meraung serak.
Brap, brap, braaaap!
Brummm brummm..
seolah memanggil nyawa untuk bertaruh di aspal panas
Suara knalpot free-flow mereka meledak serentak, menciptakan dentuman bass yang menggetarkan dada dan membuat kaca-kaca jendela dibangunan pinggir jalan bergetar hebat.
Hanya dalam hitungan detik, suaranya berubah menjadi dengungan tinggi yang memekakkan telinga.
wuuuusshh!
sebelum menghilang ditelan tikungan pertama
Mereka melesat, meninggalkan jejak suara raungan yang melengking, kombinasi antara mesin empat silinder yang berputar di RPM maksimal dan pekikan angin.
Suara knalpot motor-motor itu bukan sekadar bising, tapi seperti raungan monster yang lapar, menggeram intens.
Saat persneling berpindah, terdengar suara clack-clack-braap! kasar dan tajam, menandakan tenaga penuh yang sedang dilepaskan
Raungan, geraman, lengkingan, dentuman, bass, serak, nyaring, menggelegar, yang sangat memekakkan telinga, tak membuat Aluna menoleh. Telinganya ditutupi headphone, tanganya memegang Buku bacaan, dan bibirnya komat kamit membaca dengan sangat cepat di sisi trotoar jalan itu.
💫💫💫
Deru mesin moge Azeus membelah keheningan jalanan. Kecepatan di speedometer sudah menyentuh angka gila. Angin menderu kasar di balik helm full-face Azeus. Di depannya, aspal lurus seolah tanpa ujung, namun tikungan maut sudah menanti. Saat Azeus menarik tuas rem, hatinya mencelos. Ringan. Tak ada tekanan sama sekali. Remnya blong.
"Sial!" umpatnya panik. Motor oleng hebat. Di depannya, seorang gadis bernama Aluna sedang berjalan tenang, tenggelam dalam buku di tangannya dan headphone yang menutup rapat telinganya dari dunia luar.
BRAKK! (Dunia Novel)
Hantaman keras tak terelakkan. Tubuh Aluna terlempar seperti boneka perca. Azeus ikut terseret, terguling-guling di atas aspal kasar, hingga jaket pelindungnya robek bersentuhan dengan aspal.
Saat dunianya berhenti berputar, hal pertama yang Azeus lihat tepat di depan wajahnya adalah headphone putih Aluna yang retak. Di ujung sana, Aluna terkapar diam, darah segar mulai mengalir dari kepalanya, membasahi sampul buku yang ia baca.
Pandangan Azeus mengabur. Tepat beberapa inci di depan hidungnya, sebuah headphone putih tergeletak retak.
Azeus meringis, mencoba menggapai headphone itu dengan jemari gemetar. Namun, pemandangan di depannya jauh lebih mengerikan.
Azeus melihat tubuh gadis itu, Dari sela rambut hitamnya, darah merah pekat mengalir deras, membasahi sampul buku yang kini tergeletak terbuka di sampingnya.
"Zeus! Lo nggak apa-apa?" Teman-temannya turun dan lari dari motor masing masing. panik melihat kondisi sahabat mereka dan gadis yang malang itu.
"Bawa... bawa dia ke rumah sakit..." rintih Azeus sebelum rasa sakit di kakinya membuat kesadarannya menipis
Lantai rumah sakit yang putih kini ternoda bercak darah dari seragam balap Azeus yang compang-camping. Ia duduk di kursi tunggu dengan kaki yang dibalut perban darurat, menunggu kabar dari ruang IGD tempat Aluna sedang berjuang antara hidup dan mati.
Langkah kaki yang berat dan menghentak bergema di lorong. Ayah Azeus datang dengan wajah merah padam. Tanpa bertanya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Azeus hingga kepalanya terhentak.
PLAK!
"Apa yang kamu lakukan, Azeus?! Kamu bukan cuma menghancurkan motormu, kamu menghancurkan hidup orang lain!" suara Ayahnya menggelegar, membuat perawat di sekitar menoleh.
"Pah... remnya—"
PLAK!
Tamparan kedua lebih keras dari sebelumnya. "Jangan buat alasan! Balapan liar, pamer nyawa, dan sekarang ada gadis yang mungkin tidak akan bangun lagi karena kebodohanmu!"
Ayahnya menarik kerah baju Azeus, memaksa putranya yang sedang cedera kaki itu untuk berdiri tegak meski Azeus meringis kesakitan karena luka di kakinya berdenyut hebat.
"Kalau gadis itu mati, Ayah tidak akan pernah menganggapmu anak lagi. Mengerti?!"
Azeus hanya bisa terdiam, air mata jatuh bukan karena perih di pipinya, tapi karena melihat bayangan darah Aluna yang masih membekas di tangannya.
Pintu IGD terbuka. Dokter keluar dengan guratan lelah yang jelas. Ayah Azeus segera menyongsong, sementara Azeus berusaha berdiri dengan satu kaki yang gemetar hebat, menahan nyeri yang menusuk tulang.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ayahnya tajam.
"Benturan di kepalanya sangat keras. Pasien mengalami pendarahan intrakranial. Saat ini, Nona Aluna berada dalam kondisi koma," ujar Dokter pelan.
"Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun."
Kata-kata itu menghantam Azeus lebih keras dari aspal tadi. Koma? Gadis berseragam sekolah yang tidak ia kenal itu kini terjebak dalam kegelapan karena egonya. Azeus melirik teman-temannya yang tertunduk di pojok lorong.
mereka hanyalah sekumpulan mahasiswa yang mencari adrenalin, tapi malam ini mereka membawa maut.
Ayah Azeus berbalik. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, melainkan kekosongan yang jauh lebih menakutkan.
"Dengar, Azeus," suara Ayahnya rendah, namun bergetar.
"Aku tidak pernah melarangmu main motor. Aku membiarkanmu menjadi laki-laki dengan hobi itu. Tapi saat hobimu membuatmu menjadi kriminal yang menghancurkan hidup orang lain... aku selesai dengan mu."
Ayah Azeus merogoh kantong Azeus yang sobek, mengambil kunci moge dan dompetnya.
"Fasilitasmu ditarik. Semua rekeningmu akan diblokir malam ini. Motor yang kamu banggakan itu akan saya sita atau saya hancurkan sekalian," ucap sang Ayah sambil melempar tatapan jijik.
"Dan satu hal lagi... jangan pulang ke rumah sampai gadis itu membuka matanya. Kamu punya waktu untuk merasakan bagaimana rasanya tidak punya apa-apa, seperti gadis itu yang kehilangan masa depannya."
Azeus terhuyung. Tanpa uang, tanpa motor, dan dengan kaki yang cedera parah, ia ditinggalkan di koridor rumah sakit yang dingin. Ia merogoh saku jaketnya yang tersisa, menemukan satu-satunya benda yang tertinggal.
headphone putih Aluna yang sudah hancur.
Azeus terduduk di lantai, memeluk headphone itu sambil menangis tanpa suara di tengah kesunyian rumah sakit.
Azeus menatap mobil ayahnya yang menjauh dari lobi rumah sakit dengan tatapan kosong. Di tangannya hanya ada headphone rusak milik Aluna. Kaki kirinya kini terasa sangat kaku, darah yang mengering membuat celana jinnya terasa lengket dan keras.
"Ze, ayo balik ke Basecamp," suara Gathan, salah satu temannya, memecah kesunyian.
Tanpa banyak bicara, keempat temannya langsung bertindak. Raka dan Dion memapah Azeus dengan hati-hati menuju mobil, sementara yang lain memastikan tidak ada barang Azeus yang tertinggal. Mereka tidak menyalahkan Azeus, tidak juga menceramahinya. Bagi mereka, solidaritas adalah harga mati.
Basecamp mereka adalah sebuah bangunan tua dua lantai yang disulap menjadi bengkel sekaligus tempat nongkrong. Begitu sampai, mereka tidak membiarkan Azeus banyak bergerak.
"Duduk di sini, Ze. Jangan banyak gaya dulu," ujar Raka sambil menarik kursi sofa usang yang paling empuk.
Dion segera mengambil kotak P3K. Dengan telaten, ia mulai membersihkan luka di kaki Azeus. Azeus meringis saat alkohol menyentuh kulitnya yang robek, tapi ia tidak mengeluh. Pikirannya masih di ruang ICU.
"Ayah lo beneran blokir semua kartu, ya?" tanya Gathan sambil meletakkan sebotol air mineral dan sebungkus nasi di depan Azeus.
"Iya. Gue nggak punya apa-apa sekarang," jawab Azeus datar.
"Lo punya kita," potong Raka cepat sambil menepuk bahu Azeus keras.
"Gue udah pesenin kasur tambahan buat lo di lantai atas. Soal makan, rokok, atau biaya pengobatan lo, biar kita yang urus sementara. Kita yang ngajak balapan malam ini, jadi ini tanggung jawab kita bareng-bareng."
Azeus melihat keempat sahabatnya. Mereka adalah mahasiswa yang sering dicap urakan, tapi di saat ayahnya sendiri membuangnya, mereka justru menjadi pelindung.
"Gue harus tanggung jawab sama cewek itu," bisik Azeus pelan sambil menatap headphone putih di atas meja.
"Pasti. Kita bakal bantu lo pantau kondisi dia setiap hari di rumah sakit," balas Dion mantap
"Sekarang, lo istirahat. Biar kaki lo sembuh dulu."
Di tengah pengusiran dan hilangnya semua fasilitas mewah, Azeus menyadari bahwa di Basecamp inilah ia akan memulai perjuangan panjangnya untuk menebus kesalahan pada Aluna.
Lampu neon di langit-langit Basecamp berkedip redup. Azeus menyandarkan kepala ke dinding bata, membiarkan kakinya yang berbalut perban berdenyut nyeri. Di atas meja kayu yang penuh bekas kopi, tergeletak benda-benda "sisa" kecelakaan itu.
sebuah buku bersampul darah yang sudah mengering dan headphone putih yang retak.
"Gue penasaran, Ze," gumam Raka sambil menatap buku itu.
"Pas di IGD tadi, mukanya ketutup masker oksigen total. Nggak ada satu pun keluarga yang datang sampai kita cabut. Cuma ada tas sekolahnya yang dekil."
Azeus terdiam. Ia meraih headphone itu, lalu tanpa sengaja melihat sebuah gantungan kunci kecil yang tersembunyi di balik kabel. bentuk kartu identitas pegawai dari sebuah kafe lokal.
Di sana tertera nama: Aluna. Foto di kartu itu menunjukkan gadis dengan senyum paling ceria yang pernah Azeus lihat. sangat kontras dengan kondisi gadis yang tadi terkapar bersimbah darah.
"Dia bukan anak orang kaya yang bakal dicari keluarganya pakai pengacara, Ze," bisik Dion pelan sambil mengecek ponselnya.
"Gue tanya temen gue yang di sekitar lokasi... katanya itu anak Panti Asuhan yang baru lulus dan tinggal sendiri di kontrakan kecil. Dia emang setiap hari pulang pergi ke sekolah jalan kaki katanya. Dia kerja part-time buat biaya sekolah sama hidup."
Hening seketika mencekik ruangan itu. Azeus merasa dadanya sesak. Ternyata, yang ia tabrak bukan sekadar orang lewat, tapi seseorang yang sedang berjuang sendirian mempertahankan hidupnya di kota ini. Seseorang yang hanya punya buku dan musik sebagai teman.
Azeus mencengkeram headphone itu erat-erat. "Jadi... kalau dia nggak bangun, nggak ada siapa-siapa yang bakal nungguin dia di sana?"
Pertanyaan Azeus menggantung di udara, tak terjawab. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jalanan tempat ia hampir merenggut nyawa satu-satunya milik Aluna. Azeus menatap ke arah pintu, tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.