Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dead End!
"Kita butuh bukti konkret dimana cuma bisa kita dapet dari PDX," kata Andrean.
"Cuma Renald yang bisa kita andelin," kata Alena lalu menyeruput lattenya.
"Jujur, gue masih ragu soal Renald," kata Andrean sambil menatap Alena.
"Spy maksud lo?" tanya Alena. Andrean mengangguk.
"Gue juga nggak sepenuhnya percaya sama dia. Kita gambling disini," kata Alena.
"Kita nggak bisa percaya sepenuhnya sama orang-orang yang ada hubungannya sama kasus ini," lanjut Alena. Andrean mengangguk setuju lalu meminum espresso robustanya yang mulai dingin.
"Gue curiga. Gue rasa produsen minyak Kita Sehat sebenernya juga ikut ambil bagian disini," kata Andrean. Alena mengerutkan alisnya.
"Lo coba pikir, ngapain pejabat pemerintah malsuin minyak? Pasti ada tujuannya. Dan pas gue tanya ke Roni tentang berita politik apa yang lagi jadi pembicaraan sebelum ada kasus pemalsuan minyak itu, lo tau nggak apa?" tanya Andrean. Alena menggeleng, tatapannya serius.
"Subsidi minyak goreng!" kata Andrean dengan nada berbisik. Mata Alena membulat.
"Yang paling gong lagi, merek minyak Kita Sehat menjadi salah satu dari lima merek minyak goreng yang masuk dalam daftar kandidat minyak goreng bersubsidi," lanjut Andrean.
"Brengsek!" umpat Alena.
"Gue rasa pernyataan resmi mereka yang mengatakan bahwa mereka tak berkaitan dengan pabrik pengolahan di dermaga itu hanya untuk melimpahkan semua kesalahan pada pihak pengelola di dermaga," kata Andrean.
"Sial!" lagi-lagi Alena mengumpat.
"Kalo saja waktu itu kita lakuin investigasi lebih mendalam, kita bakal dapet bukti kalo produsen resmi dan pabrik pengolahan dermaga itu ada hubungannya," kata Alena.
"Sorry," kata Andrean. Alena mengerutkan kedua alisnya.
"Kenapa?" tanya Alena bingung.
"Waktu lo mau mastiin sampel dari produsen resmi gue bilang nggak mungkin," kata Andrean. Alena menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Lo nggak salah soal itu," kata Alena. Andrean menatap Alena.
"Harusnya kita nggak minta sampel. Harusnya kita lakuin investigasi lebih dalam terhadap komplotan itu terlebih dahulu sebelum akhirnya meminta pernyataan resmi dari produsen resmi," lanjut Alena.
"Yah, meskipun bakal memakan banyak waktu. Tapi seenggaknya kita dapet fakta yang utuh, nggak sepotong-sepotong kek gini," kata Alena.
Andrean menatap Alena yang sedang menyeruput lattenya. Dia merasa bersalah karena tidak melakukan investigasi dengan benar karena ingin terlihat ahli dibidang jurnalisme di mata Alena.
'Kalo aja waktu itu gue nggak egois,'
***
"Lo yakin, Rey?" tanya Lisa dengan nada berbisik. Renald mengangguk mantap.
"Gila lo!" kata Lisa, masih dengan nada berbisik.
"Kalo ketauan bisa mati gue," kata Lisa.
"Lo mau kerja kek gini terus? Lo sendiri bingung kan? Lo pengen resign tapi tanggungan lo banyak. Nggak ada perusahaan lain yang gajinya sebesar disini. Apalagi lo single parents, anak lo dua. Gue tau, Lis," kata Renald, masih dengan nada berbisik.
"Kalo lo tau, kenapa lo libatin gue?" tanya Alena dengan nada berbisik.
"Karena cuma lo yang masih di pihak netral kek gue," jawab Renald.
"Lo bukan netral lagi. Lo mau jatuhin PDX,"
"Bukan PDX. Tapi Pak Rangga,"
"Sama aja. Kalo Pak Rangga ditangkep, nilai saham perusahaan turun, otomatis gaji gue melayang Renald," kata Lisa dengan wajah sedih. Renald menghela nafas panjang. Sepertinya membujuk Lisa tidak semudah bayangannya.
"Kenapa lo nggak minta tim programmer? Atau pake hacker?" tanya Lisa memberi opsi.
"Gue butuh memo strategi krisis, Lis. Buktinya disitu," kata Renald gemas.
"Gue butuh skenario penanganan kasus dan data infuencer yang digerakin buat bantu meredam isu pemalsuan minyak goreng," kata Renald.
"Itu semua ada di Aji. Soft file, hard file, dua-duanya Aji yang pegang," kata Lisa. Mata Renald membulat.
"Dead end!" umpat Renald.
"Harusnya lo tau, data riskan seperti itu mana mungkin dipercayakan sama karyawan biasa-biasa kek gue," kata Lisa.
Renald tertunduk. Dia sudah berjanji pada Alena akan memberikan bukti itu. Tapi, kalau bukti itu ada pada Aji, kemungkinan untuk bisa mendapatkannya adalah nol persen. Tidak mungkin sama sekali.
"Lo salah pilih lawan, Rey," kata Lisa. Renald menatap Lisa, sedih.
"Apalagi kalo berkaitan dengan Alena, udah pasti Aji akan marah. Lo tau sendiri hubungan mereka. Rumit," tambah Lisa.
Tentu saja Renald tahu bagaimana hubungan Aji dan Alena. Kalau saja tidak ada kasus miskonfigurasi, keduanya pasti sudah menikah. Aji dan Alena memang tidak menjalin hubungan asmara. Namun, Renald tahu Aji dan Alena memiliki perasaan yang sama yang tak mereka ungkapkan.
Di hari Alena memutuskan untuk resign dari PDX adalah hari dimana Aji sebenarnya ingin melamar Alena. Aji sudah meminta saran pada Renald tentang hal itu. Namun, keputusan Alena untuk keluar dari PDX membuat Aji mengurungkan niatnya.
"Gue saranin lo segera keluar dari permainan ini. Bahaya," kata Lisa dengan nada berbisik sambil menepuk bahu Renald lalu pergi meninggalkan Renald sendiri di ruang istirahat.
Renald memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya. Dia tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan bukti tentang hubungan PDX dengan kasus pemalsuan minyak goreng itu.
"Rey," suara Aji mengagetkan Renald. Aji berjalan ke arah Renald.
"Ya?"
"Gue butuh lo buat gelar press-con terkait aplikasi terbaru kita," kata Aji.
"Oh. Ya. Gue udah hubungi pihak media dan..."
"Pastiin Hotnews.com juga hadir," kata Aji, dingin dan datar.
"Eh?" tanya Renald, memastikan dia tak salah dengar.
"Pastiin Alena Maharani dari Hotnews.com dateng ke acara press-con itu," kata Aji sambil menatap Renald dengan tatapan dingin. Nada bicaranya lebih mengintimidasi. Renald menelan ludahnya susah payah, membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.
"Oh... Oke, oke. Gue konfirmasi dulu," kata Renald sambil meninggalkan ruang istirahat dengan cepat.
Aji berdiri mematung di ruang istirahat, menatap pemandangan kota pada malam hari melalui kaca jendela perusahaan. Disini, di ruang istirahat ini, Aji dan Alena sering menghabiskan waktu bersama, bertukar pikiran tentang pekerjaan, bahkan tentang hidup.
Aji berjalan mendekat ke kaca besar yang menampilkan hiruk pikuk kota. Pemandangan yang sama yang dilihatnya bersama Alena dulu kini terasa hampa. Tawa Alena yang pernah memenuhi ruang istirahat ini, kini telah berganti sepi yang mengikat.
"Gue pikir lo beda..." guman Aji sambil menatap keluar jendela kaca.
"Gue pikir lo lebih kuat..." Aji masih bergumam.
Kini tangan kanannya masuk ke dalam saku kanan celananya, mengambil sesuatu yang seharusnya dia serahkan pada Alena dulu. Sebuah kotak kecil berisi cincin dengan nama Alena dan Aji terukir di bagian dalamnya. Aji menatap nama yang terukir di bagian dalam cincin itu lalu meraba nama Alena.
'Gue pikir... lo akan ada di samping gue... selamanya...'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤