Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Sierra Curang?
"Wah, kau luar biasa Sierra!! Harusnya aku belajar denganmu!", ucap Anastasia dengan gembira.
Nora terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia bukan juara pertama. Nora maju dan merebut hasil evaluasi dari tangan Mrs Hogwarts dengan kasar.
Mrs Hogwarts tentu merasa tidak senang dengan kelakuan Nora.
Nora melihat daftar nilai dimana namanya merosot jauh ke peringkat enam. Prestasinya anjlok karena selama beberapa minggu terakhir pikirannya habis terkuras untuk memata-matai Sierra dan meratapi sikap dingin Felix.
“Ini tidak mungkin! Bagaimana kalau Mama jadi membuka hati untuk Sierra gara-gara hal ini?” kepanikan mulai menyerang Nora. “Aku tidak bisa membiarkan Mama tahu soal ini. Apa yang harus aku lakukan agar Mama tidak datang ke sekolah?” batin Nora.
Tanpa membuang waktu, Nora berdiri dengan wajah memerah. "Saya tidak percaya! Ini pasti salah! Bagaimana mungkin seseorang yang nilainya selalu buruk selama bersekolah di Cragstone tiba-tiba jadi peringkat satu di Metropolia Internasional School?!Saya yakin Sierra berbuat curang!"
Tuduhan itu seperti pemantik api di tumpukan jerami. Murid-murid lain, yang juga merasa iri dan frustrasi dengan nilai mereka sendiri, mulai berbisik setuju. "Iya, benar! Tidak masuk akal dia bisa mengalahkan Eugene!"
Sierra yang sejak tadi hanya diam, perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Nora dengan tatapan malas yang menghina. "Heh?! Nilaiku sempurna. Biarpun aku ingin curang, siapa yang bisa aku contek di kelas ini? Nilai kalian saja semuanya jauh di bawahku!"
"Sombong sekali kau!" teriak seorang teman Nora.
Anastasia dan Eugene segera berdiri.
"Itu benar, nilai totalku saja 40 poin di bawah Sierra", bela Eugene dengan tenang. "Aku duduk di dekat Sierra saat ujian. Aku melihatnya menyelesaikan soal jauh lebih cepat dari aku dan dia keluar kelas lebih dulu. Tidak ada celah untuk menyontek."
"Memangnya seperti kalian, sudah mencontek masih saja nilainya jelek? Ck! Bisanya cuma iri, mana buktinya kalau Sierra curang?!", tambah Anastasia.
"Bisa saja dia punya kunci jawaban!" potong Nora lagi, semakin histeris. "Makanya dia bisa menjawab secepat itu!"
"Cukup!" bentak Mrs. Hogwarts. Suaranya yang menggelegar membuat kelas seketika senyap.
Sebagai guru yang sangat menghargai integritas, Mrs. Hogwarts sebenarnya sempat ragu dengan hasil ujian Sierra. Ia juga awalnya tidak suka pada Sierra karena rumor buruk tentangnya bisa merusak nama kelas A yang prestisius. Mrs. Hogwarts telah mengecek rekaman CCTV di kelas Sierra berkali-kali karena ketidakpercayaannya sendiri, dan ia tidak menemukan kejanggalan sedikit pun. Sierra mengerjakan semuanya sendiri dan ia yakin tidak ada yang manipulasi dengan hasil ujian Sierra.
Selain itu, Mrs Hogwarts memang pernah mendengar dulunya Sierra terkenal jenius sebelum dikirim ke Cragstone, jadi mungkin saja nilai-nilai Sierra yang buruk di Cragstone dipengaruhi faktor lingkungan yang tidak mendukungnya untuk belajar. Memang sifat Sierra tidak terlalu disukai oleh kebanyakan orang tapi Mrs Hogwarts yakin Sierra orang jujur.
"Hal itu tidak mungkin terjadi," lanjut Mrs. Hogwarts dengan tajam. "Soal dan kunci jawaban tidak disimpan di sekolah. Bahkan kepala sekolah dan seluruh guru tidak ada yang tahu isi soal ujian kali ini. Soal ujian baru diantarkan di pagi hari tepat sebelum ujian dimulai, dan amplopnya masih tersegel rapat saat diterima. Kalian tidak boleh sembarang menuduh tanpa bukti. Kalian bisa dituduh menyebarkan berita palsu yang mencoreng citra sekolah. Bahkan Sierra berhak menuntut kalian atas pencemaran nama baik. Kalian sudah 18 tahun, artinya hukuman orang dewasa berlaku jika polisi sampai turun tangan. Jadi pikir baik-baik sebelum bicara!"
Meskipun diperingatkan, api kecemburuan tidak padam begitu saja. Saat sesi pengambilan rapor oleh orang tua dimulai, suasana kelas 12-A memanas. Sebelum Mrs. Hogwarts sempat membuka sambutan, para orang tua murid sudah menyerbu dengan protes. Mereka menuduh adanya kebocoran soal dan menuntut Sierra dikeluarkan karena dianggap membawa pengaruh negatif yang merusak nilai anak-anak mereka. Mereka tidak mau menerima fakta bahwa nilai anak-anak mereka jatuh karena soal ujian kali ini yang memang luar biasa sulit.
Di tengah kekacauan itu, Anastasia yang merasa muak melihat sahabatnya dipojokkan, diam-diam mengirim pesan pada pamannya. Karena orang tua Anastasia sedang berada di luar negeri, jdai sama seperti Sierra, tidak ada wali yang hadir untuknya juga.
Sementara itu, Nora menjalankan rencananya. Sebelum Samantha masuk ke area kelas, Nora sudah berada di klinik sekolah. Dengan bantuan bedak yang sengaja dipulaskan lebih tebal agar tampak pucat, ia menelepon Samantha sambil merintih.
"Mama... Bisakah mama ke sini? Aku ada di klinik... kepalaku sangat sakit," rintih Nora.
Samantha yang panik langsung berbelok menuju klinik, membatalkan niatnya untuk mengambil rapor di kelas 12-A. "Nora! Apa yang terjadi? Tadi pagi bukankah kau sangat bersemangat? Ya ampun, kau sangat pucat sayang! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
Nora pun berhasil membawa Samantha pergi dari sekolah. Nora tidak mau Samantha tahu kalau Sierra yang menjadi peringkat pertama. Namun, di tengah jalan menuju rumah sakit, Nora buru-buru minta pulang ke rumah dengan alasan ingin istirahat saja di rumah karena sudah merasa lebih baik. Ia takut jika diperiksa di rumah sakit, kebohongannya akan terbongkar.
Kembali ke sekolah, situasi semakin tidak kondusif. Kepala sekolah yang baru, Mr. Jonas, sampai harus turun tangan ke kelas 12-A. Bahkan guru dari kelas lain yang sudah selesai membagikan rapor ikut mendatangi kelas 12-A.
"Baiklah, untuk membuktikan kebenaran sekaligus menenangkan para orang tua," ujar Mr. Jonas dengan bijak, "saya mengusulkan tes dadakan. Sierra, apakah kau bersedia menjawab pertanyaan dari para guru di sini, saat ini juga, dengan soal yang belum pernah diujikan sebelumnya?"
"Tentu," jawab Sierra tenang. "Tapi aku minta satu syarat. Jika aku berhasil menyelesaikan semua soal itu, setiap orang yang menuduhku curang harus meminta maaf secara terbuka."
Tepat saat itu, pintu kelas terbuka lebar. Langkah kaki yang mantap menggema di koridor. Adrian Blackwood masuk bersama James Harrington. Kehadiran mereka membawa aura dominan yang membuat perdebatan terhenti seketika.
"Aku setuju dengan syarat itu," ujar Adrian dengan suara dingin yang mengintimidasi. "Dan aku pastikan, siapa pun yang menolak meminta maaf akan menerima surat tuntutan hukum dari firma hukum terbaik di negara ini."
Beberapa orang tua mengenali James Harrington sebagai asisten kepercayaan Adrian Blackwood, namun mereka tidak mengenali Adrian yang jarang tampil di publik. "Siapa Anda?" tanya salah satu orang tua dengan nada yang mulai menciut.
"Aku wali Sierra," jawab Adrian singkat. Para orang tua tidak berani memprotes lagi. Pria ini datang bersama James, identitasnya pastilah sangat luar biasa, tapi tidak ada yang menebak jika pria ini adalah Adrian Blackwood.