NovelToon NovelToon
Pewaris Kekuatan Dewa Api

Pewaris Kekuatan Dewa Api

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Harem / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wang Qiu'er

Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.

Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.

Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam menyelimuti Hutan Liar Seribu Gunung dengan kegelapan yang pekat. Bintang-bintang di atas terlihat samar-samar melalui kanopi pepohonan raksasa. Lin Feng dan Ye Qingyu memutuskan berhenti di tepi sungai kecil yang airnya masih hangat karena mineral api di dasarnya. Api unggun kecil menyala di antara mereka—bukan api biasa, melainkan percikan api keemasan dari telapak tangan Lin Feng yang ia lepaskan begitu saja. Api itu tidak membakar kayu terlalu cepat, tapi tetap hangat dan terang, seolah menolak kegelapan malam.

Ye Qingyu duduk di batu besar di seberang api, lututnya ditarik ke dada. Jubah hitamnya sedikit terbuka di bagian bahu karena angin malam, memperlihatkan kulit putih seperti giok yang samar-samar bercahaya di bawah nyala api. Lonceng kecil di pinggangnya diam, seolah menghormati keheningan.

Lin Feng duduk bersandar pada pohon di belakangnya, mata menatap api unggun tanpa benar-benar fokus. Pikirannya melayang—ke keluarga Lin yang ditinggalkan, ke dendam yang masih membara di dadanya, dan sekarang… ke gadis di depannya yang tiba-tiba terasa begitu dekat.

“Kau tidak tidur?” tanya Ye Qingyu pelan, memecah keheningan.

Lin Feng menggeleng. “Tubuh Api Tak Hancur tidak butuh banyak tidur. Api ini… terus berjaga.”

Ye Qingyu tersenyum kecil. “Beruntung sekali. Aku iri.”

Ia melempar sebatang kayu kecil ke api. Percikan kecil beterbangan, menerangi wajahnya sesaat.

“Lin Feng,” panggilnya lagi, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Sejak kapan kau mulai… merasa api ini bukan hanya senjata?”

Lin Feng menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Sebelumnya, matamu hanya penuh dendam. Api itu seperti bara kebencian yang siap membakar segalanya. Tapi sekarang… ada sesuatu yang lain. Saat kau mengambil Bunga Api Abadi tadi, aku melihatnya. Api itu tidak hanya ganas. Ada… kehangatan di dalamnya.”

Lin Feng diam lama. Api unggun berderak pelan, seolah menunggu jawabannya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya. “Dulu, api ini lahir dari hinaan, dari dantian rusak, dari tatapan kecewa ayahku, dari pembatalan pertunangan. Setiap kali aku membakar seseorang, rasanya seperti membalas dunia yang pernah merendahkanku. Tapi sekarang…”

Ia menatap Ye Qingyu langsung. Mata emas cairnya bertemu dengan mata hitam gadis itu yang seperti malam tanpa bintang.

“Sekarang aku mulai bertanya-tanya… apakah aku masih ingin membakar segalanya? Atau ada yang ingin kulindungi?”

Ye Qingyu menunduk, jari-jarinya memainkan ujung jubahnya. Pipinya sedikit memerah—bukan karena panas api, tapi karena kata-kata itu.

“Kau tahu,” katanya pelan, “aku juga dulu seperti itu. Setelah sekteku dihancurkan, aku hidup hanya untuk balas dendam. Aku belajar ilusi bayangan, membunuh dari kegelapan, tidak pernah percaya siapa pun. Tapi saat aku melihatmu membakar naga es tadi… bukan karena kau ingin membunuh, tapi karena kau melindungi dirimu sendiri. Itu membuatku berpikir… mungkin aku juga bisa melindungi seseorang lagi. Bukan hanya adikku.”

Ia mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak menangis.

“Lin Feng… terima kasih sudah mau ikut ke kota. Bukan hanya karena bunga tadi. Tapi karena… aku tidak ingin pergi sendirian lagi.”

Lin Feng merasakan sesuatu bergerak di dadanya—bukan Tungku Api Abadi yang berputar ganas, melainkan bara kecil yang hangat, yang tidak membakar, tapi justru membuatnya merasa… hidup.

Ia berdiri perlahan, melangkah mengitari api unggun, lalu duduk di samping Ye Qingyu—jaraknya cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

“Qingyu,” panggilnya dengan nama panggilan yang baru saja disepakati, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Aku bukan orang yang baik. Aku sudah membunuh banyak orang. Api ini… masih haus darah.”

Ye Qingyu menggeleng pelan. “Aku tahu. Dan aku juga bukan orang baik. Tangan ini sudah berlumur darah. Tapi… mungkin kita bisa jadi baik bersama. Setidaknya… untuk satu sama lain.”

Ia memiringkan kepala, menyandarkan pelan ke bahu Lin Feng. Rambut hitamnya menyentuh lengan jubahnya, lembut dan harum seperti bunga malam.

Lin Feng tidak menolak. Ia malah mengangkat tangan kanannya perlahan, membiarkan percikan api kecil melayang dari telapaknya dan membentuk lingkaran cahaya hangat di atas mereka—seperti bintang kecil yang ia ciptakan khusus untuk malam ini.

“Kalau kau kedinginan,” katanya pelan, “api ini bisa lebih hangat.”

Ye Qingyu tertawa kecil—tawa yang ringan, yang belum pernah Lin Feng dengar sebelumnya.

“Aku tidak kedinginan. Tapi… boleh aku minta satu hal lagi?”

“Apa?”

“Peluk aku. Hanya sebentar. Biar aku tahu… api ini juga bisa melindungi, bukan hanya menghancurkan.”

Lin Feng diam sejenak. Lalu, dengan gerakan yang masih agak kaku—karena ini pertama kalinya baginya—ia melingkarkan lengan kanannya di bahu Ye Qingyu, menarik gadis itu lebih dekat ke dadanya.

Tubuh Ye Qingyu menempel erat. Ia bisa merasakan detak jantung Lin Feng yang cepat, panas dari Tubuh Api Tak Hancur yang seolah membungkusnya seperti selimut hangat. Lonceng kecil di pinggangnya berdenting pelan setiap kali ia bernapas.

“Lin Feng…” bisiknya. “Jangan pernah padamkan api ini, ya? Karena… aku mulai suka kehangatannya.”

Lin Feng tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mempererat pelukannya sedikit, membiarkan percikan api kecil beterbangan di sekitar mereka seperti kunang-kunang emas.

Di dalam kesadarannya, Yan Di Shen Zun bergumam pelan, hampir seperti menghela napas.

“Api Abadi yang dulu hanya membakar… kini mulai belajar mencinta. Menarik sekali… tapi berbahaya. Cinta bisa membuat api lebih kuat… atau justru memadamkannya.”

Lin Feng mengabaikannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh dendam, ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang bukan amarah.

Malam itu, di pinggir sungai yang hangat, dua jiwa yang pernah terbakar oleh dunia mulai menemukan kehangatan satu sama lain.

Dan api di dada Lin Feng… untuk pertama kalinya, tidak hanya membakar dendam, tapi juga mulai menyala untuk melindungi.

1
Dian Pravita Sari
gak gaya tamat Curtis ngambang srmua
Dian Pravita Sari
dlogok jarang gak teks aku pules kau smbil. links. gak tanggung jawab jgn hynkejst kontrak yo. lejat reputasi fukl th mana bagian boro konsumen mau aku protes biar do blek. list kmli
Lekat Wahyudi
😍👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍
Wang Chen: semoga terhibur ya kak
total 1 replies
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
Wang Chen: terimakasih, kak.
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantap
Wang Chen: terimakasih kak
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Mulai baca
Wang Chen: selamat membaca kak
total 1 replies
Wang Chen
Jika suka dengan karya ini, jangan lupa kasih like, comment, share, subscribe, dan follow ya hehe
Wang Chen
bantu likom ya gess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!