NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Ratih Terpojok

Langkah kaki Sukmawati menjauh, menyisakan gema pelan yang perlahan tertelan sunyinya lorong pendopo.

Sawitri melangkah keluar dari sudut gelap kamar itu nyaris tanpa suara. Ia membetulkan letak tas kulit di bahunya. Otaknya sudah merangkai rentetan mitigasi berikutnya.

"Kita punya racun dan buku catatan ini," bisik Sawitri. "Tapi Romo mboten akan menjatuhkan hukuman hanya bermodal kertas dan botol kaca."

Cakrawirya melirik ke arah luar jendela, menembus pekatnya malam. "Tumenggung butuh saksi hidup."

"Ratih Kumala."

Pangeran itu mengangguk setuju. Ratih adalah putri bungsu Tumenggung Danurejo dari rahim Sukmawati. Adik tiri Sawitri. Gadis itu masih muda, naif, dan memiliki mental yang rapuh di bawah cengkeraman kendali ibunya sendiri.

Mereka menyelinap melewati taman sari. Berjalan beriringan di titik buta untuk menghindari pantulan cahaya obor prajurit. Patroli malam Mataram masih sibuk membongkar setiap sudut kadipaten mencari Wandira.

Kamar Ratih berada di paviliun timur. Jendelanya memendarkan cahaya terang benderang dari belasan lampu minyak, pertanda penghuninya belum terlelap.

Pintu kayu berukir itu terbuka tanpa ketukan.

Cakrawirya melangkah masuk lebih dulu. Tangannya langsung menggeser palang kayu tebal di balik pintu. Bunyi logam bergesekan itu mengunci mereka dari dalam.

Ratih yang sedang duduk memeluk lutut di atas ranjang terlonjak kaget. Wajah cantiknya pias seketika.

"Raden? Mbakyu Sawitri?"

Gadis itu mundur hingga punggungnya menabrak pilar ranjang. Napasnya tertahan.

Cakrawirya tidak mendekat. Ia justru bersandar santai di daun pintu. Ujung jarinya mencabut sebilah belati berukir dari balik sabuk, memutar gagangnya dengan gerakan lambat yang penuh ancaman.

"Malam yang panjang nggih, Raden Ajeng Ratih."

"Kulo mboten bisa tidur karena keributan di luar." Tenggorokan Ratih bergerak naik-turun. Matanya melirik liar ke arah jendela yang tertutup rapat. "Kulo mau memanggil batur penjaga. Panjenengan berdua mboten berhak masuk ke sini."

Ujung belati Cakrawirya menunjuk lurus ke arah leher Ratih. "Silakan berteriak."

Ratih bungkam. Kakinya gemetar hebat hingga gelang emas di pergelangan kakinya berdenting pelan beradu dengan celah ranjang.

Sawitri melangkah maju melewati Cakrawirya. Ia berhenti tepat dua langkah di depan adik tirinya. Matanya memindai sosok gadis itu dari atas ke bawah.

Denyut nadi di leher Ratih berdetak terlalu cepat, diiringi napas yang memburu pendek. Gejala hiperventilasi. Ketakutan ekstrem sedang mematikan kemampuan otak rasionalnya perlahan-lahan.

"Kita mboten punya banyak waktu, Ratih." Sawitri merogoh tasnya. Ia meletakkan sebuah tabung bambu kecil di atas meja rias kayu jati.

Ratih menatap tabung itu layaknya melihat hantu. Tubuhnya semakin merapat ke tiang ranjang.

"Kulo menemukan sisa racun kalajengking di sela-sela kasur kulo dua malam lalu."

Otak forensik Sawitri bekerja merangkum data. Neurotoksin peptida. Fatal jika masuk ke jaringan otot. Mengakibatkan kerusakan saraf pusat dan gagal jantung akut dalam hitungan jam.

"Itu... kulo mboten tahu menahu soal kalajengking!" Nada suara Ratih melengking tinggi, nyaris pecah.

Sawitri membuka tutup tabung bambu itu. "Kalajengking gurun bersengat merah ini mboten ada di Mataram. Seseorang harus membelinya khusus lewat pedagang pasar gelap di pesisir."

"Kulo mboten pernah keluar dari gerbang kadipaten seumur hidup kulo!"

Cakrawirya menimpali dari arah pintu. "Tapi batur pribadi panjenengan sering mondar-mandir ke pasar hewan setiap pasaran Pon. Kulo punya catatan kunjungannya di pos penjagaan luar."

Ratih menggeleng kuat-kuat. Tangannya meremas kain kebayanya hingga kusut masai. Ia tampak seperti hewan buruan yang sudah kehabisan jalan keluar.

Sawitri tidak memberinya jeda untuk bernapas. Ia meletakkan benda kedua di atas meja rias.

Tiga buah jarum perak panjang berukuran presisi. Jarum akupunktur.

Mata Ratih terbelalak. Tubuhnya meluruh perlahan, jatuh terduduk di atas lantai berkarpet rotan. Bau keringat dingin mulai menguar dari tubuh gadis itu.

"Lalu bagaimana dengan jarum ini, Ratih?"

Ratih mulai terisak. Pertahanannya hancur tak bersisa. Air mata merusak riasan bedak tipis di wajahnya, meninggalkan jejak luntur yang berantakan.

"Raden Mas Danuarga ditemukan tewas di kamarnya dua hari lalu." Sawitri menunduk, menatap tajam adik tirinya. "Putra tunggal Ki Demang Suryanegara dari wilayah utara. Kematiannya mboten wajar, tapi tabib bodoh keraton menganggapnya serangan jantung mendadak."

"Kulo mboten tahu menahu soal kematian itu..."

"Mereka mungkin mboten tahu." Sawitri memotong ucapan gadis itu telak. "Tapi kulo sempat memeriksa jenazahnya sebelum dimandikan. Ada titik memar sekecil ujung jarum di pangkal leher belakangnya. Tepat menembus pusat kendali pernapasan otak."

Ratih menutup telinganya dengan kedua tangan. Kepalanya menggeleng tak tentu arah. "Hentikan, Mbakyu!"

"Masalahnya, Raden Dananjaya sekarang dikurung di bawah tanah. Dia dituduh membunuh sepupunya sendiri demi warisan kademangan."

Cakrawirya melangkah mendekat. Hawa keberadaannya membuat suhu ruangan terasa turun drastis. Ratih semakin meringkuk menyembunyikan wajahnya di lantai.

"Dananjaya bersikeras dia mboten membunuh Danuarga," timpal Cakrawirya. "Satu-satunya alibi yang dia miliki adalah dia meminjamkan set jarum akupunktur miliknya kepada panjenengan siang itu. Alasannya untuk mengobati migrain panjenengan."

Cakrawirya berjongkok di depan gadis itu. Matanya menatap tanpa ampun.

"Jika panjenengan mboten buka mulut malam ini, Dananjaya akan dipancung di alun-alun besok lusa," desak Cakrawirya. "Hukum Mataram mboten kenal ampun untuk pembunuh pewaris tunggal seorang Demang. Darah sepupunya akan ada di tangan panjenengan."

"Mboten! Kulo mboten berniat membunuh Raden Danuarga!" Ratih menangis histeris. Ia menengadah menatap Sawitri dengan raut memelas. "Sumpah demi Gusti Allah, kulo mboten tahu jarum itu akan dipakai Ibu untuk membunuhnya!"

Sawitri terdiam sesaat. Kalimat pengakuan itu akhirnya keluar juga.

"Lalu Ibu yang menyuruh panjenengan meminjam jarum itu dari Dananjaya?"

Ratih mencengkeram tepi meja rias untuk menopang tubuhnya. Buku-buku jarinya memutih saking kuatnya pegangan itu.

"Nggih. Ibu Sukmawati yang memerintahkan kulo mengambilnya."

Sawitri ikut berjongkok. Ia menyejajarkan pandangannya dengan mata Ratih yang sudah bengkak merah.

"Termasuk urusan kalajengking itu?"

Ratih mengangguk lemah. Isakannya menggema memantul di dinding kamar kayu jati.

"Ibu butuh jarum Dananjaya agar keluarga Suryanegara saling bunuh. Dengan Danuarga mati dan Dananjaya dieksekusi, wilayah utara akan kosong dan jatuh ke tangan Ibu." Ratih mengatur napasnya yang tersendat. "Ibu juga yang menyuruh orang menaruh kalajengking itu di ranjang panjenengan, sementara Kulo mengalihkan Batur jenengan dengan keributan."

Ratih meraih lengan baju Sawitri, mencengkeramnya erat-erat. Air matanya menetes mengenai punggung tangan Sawitri yang dingin.

"Ibu mengancam akan menikahkan kulo dengan adipati tua yang berpenyakit kusta di pesisir utara jika kulo menolak. Kulo mboten punya pilihan, Mbakyu. Ibu mengendalikan segalanya."

Sawitri menepis tangan Ratih perlahan namun terukur. Fakta forensik dan kesaksian sudah berpadu utuh.

Motivasi Sukmawati jelas tergambar sempurna. Wanita itu menggunakan taktik adu domba untuk membersihkan semua rintangan demi kekuasaan absolut. Danuarga dibunuh untuk menghancurkan klan Suryanegara. Dananjaya dijebak sebagai kambing hitam. Sawitri diincar mati lewat racun hewan, dan Tumenggung Danurejo dibunuh perlahan dengan arsenik. Sebuah kudeta sunyi yang direncanakan dengan sangat rapi.

"Panjenengan harus bersaksi di depan Romo besok pagi menceritakan semua ini."

"Mboten saged! Ibu akan memenggal kulo malam ini juga jika dia tahu kulo buka mulut!"

Cakrawirya bangkit berdiri. Ia menyarungkan kembali belatinya ke balik sabuk kainnya.

"Dia mboten akan sempat menyentuh panjenengan. Kulo akan menyiagakan dua prajurit sandi kulo di depan pintu kamar ini sampai fajar menyingsing."

Sawitri berdiri tegap. Ia membereskan kembali jarum dan tabung racun ke dalam tas kulitnya. Waktu mereka hampir habis dan daftar pekerjaan mereka masih panjang.

Mereka harus bergerak membelah malam menuju Hutan Jatiwangi sekarang juga. Jika Sukmawati berniat menyingkirkan Wandira ke pesisir utara, mereka harus merebut gadis itu dari tangan gerombolan Ki Lurah sebelum jejaknya hilang ditelan laut.

Tiba-tiba, rentetan suara kentongan dari arah menara pengawas keraton dipukul bertalu-talu.

Teng. Teng. Teng.

Iramanya memburu cepat, membelah kesunyian malam layaknya badai yang tiba-tiba turun menyambar bumi. Itu adalah kode bahaya tingkat tinggi milik kadipaten.

Langkah kaki puluhan prajurit berderap kencang menyusuri jalanan pelataran keputren. Suara besi beradu dengan tameng kulit terdengar bergemuruh dari segala arah mata angin.

Suara berat Tumenggung Danurejo menggema keras dari luar taman sari. "Tutup semua gerbang keputren timur sekarang juga!"

Cakrawirya langsung merapat ke sisi jendela. Ia mengintip dari celah tirai bambu tipis. Matanya menyapu formasi prajurit bersenjata tombak yang kini mengepung rapat paviliun Ratih.

Ratusan obor menyala serentak. Malam yang pekat berubah terang benderang menyilaukan mata.

Sawitri bergeser ke samping Cakrawirya. "Ada pergerakan apa di luar?"

Pangeran itu menoleh pada Sawitri. "Romo panjenengan ada di pelataran bersama pasukan panah Mataram."

Dari arah pelataran batu bata, seruan Tumenggung Danurejo kembali memecah udara malam. Suaranya terdengar lebih murka dari sebelumnya.

"Geledah setiap kamar sampai bersih! Tangkap anak durhaka Sawitri malam ini juga!"

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!