Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~26
"Dek Maria oh dek Maria, ternyata yang ku cari-cari adalah tetangga kampung sendiri." ujar Paijo setelah mendatangi Marni yang sedang menyapu di halaman belakang rumahnya itu.
Marni menyesal kenapa tadi melepaskan hijabnya, untungnya ia masih mengenakan pakaian sopan saat pergi bersama Firman tadi siang.
"Aku tidak mengerti maksudmu mas, permisi." Marni pun segera beranjak pergi dengan sapu di tangannya tersebut.
"Yakin mau pergi dek Maria padahal aku ingin membuat penawaran denganmu," tukas Paijo dengan senyuman sinisnya.
Marni pun sontak berhenti. "Sepertinya mas Paijo salah orang karena aku Marni bukan orang yang mas maksud itu," kilahnya tanpa berbalik badan jangan sampai pria mesum itu tahu yang sebenarnya siapa dirinya.
Mendengar itu pun Paijo langsung terkekeh. "Bagaimana dengan foto-foto ini dek Maria, kau pikir ada dua orang yang sama persis hm? lalu bagaimana jika foto-foto ini tersebar di kampung ini?" ucapnya seraya menunjukkan layar ponselnya dan mau tak mau Marni langsung berbalik badan menatapnya terutama menatap gawai pria itu.
Deg!
Wanita itu pun nampak terkejut ketika melihat beberapa foto candidnya saat sedang bersenang-senang bersama beberapa tamu yang mungkin waktu itu ia tak sadar sedang di foto oleh mereka.
Marni hendak merebutnya tapi pria itu langsung menjauhkan ponselnya tersebut, "Bagaimana, apa mau menerima tawaranku manis?" ucapnya seraya melangkah semakin mendekat.
Marni merasa sangat jijik dengan pria itu, sebelumnya ia memang tak pernah melayaninya karena jadwalnya yang penuh mengingat semua pelanggan seakan ingin berebut dirinya untuk menjadi pemandu lagu di ruangan yang telah mereka booking.
"Jangan pernah mendekat jika tak ingin sapu ini melayang ke wajahmu!" Marni langsung mengangkat sapu lidinya seakan siap memukuli pria tersebut.
"Galak sekali dek Maria tapi sayangnya aku makin suka karena itu menandakan bagaimana kamu saat di ranjang nanti," bukannya takut pria itu justru kembali memasang wajah mesumnya.
"Pergi dari sini jika tidak aku akan berteriak!" ancam Marni kemudian.
Paijo pun nampak mengedarkan pandangannya, bagaimana pun kebejatannya juga jangan sampai diketahui oleh warga kampung karena bisa-bisa itu akan mempermalukannya sendiri karena selama ini ia membangun citra dirinya sebagai pria family man dan bertanggung jawab agar orang yang bekerja sama dengannya mudah percaya.
"Dek Maria jangan galak-galak dong mas hanya ingin bicara baik-baik denganmu," ucapnya dengan suara mulai pelan dan penuh rayuan.
"Namaku Marni," ketus Marni menanggapi.
"Baiklah, siapa pun namamu mas tidak perduli intinya berapa yang kamu minta akan mas berikan asalkan malam ini kita pergi kencan." bujuk pria itu dengan merendahkan suaranya.
Marni langsung menatapnya sinis, tidak tahukah pria itu jika ini bulan puasa? benar-benar kasihan sekali istrinya memiliki suami sepertinya. "Aku tidak tertarik," balasnya singkat dan juga ketus.
"Berapa yang kamu minta dek Maria, apa 5 juta? 10 juta? di tasku ini ada 50juta tapi malam ini kamu harus menemaniku sampai pagi, mau ya?" bujuk Paijo lagi tak menyerah seraya menunjukkan tas kecilnya.
Pria itu saat ini memang baru menarik uangnya dari bank sebesar 50 juta untuk menggaji karyawannya tapi tak apalah ia pakai dahulu asalkan keinginannya untuk bersama wanita itu bisa tercapai karena sudah lama ia menginginkannya.
Sebenarnya tawaran yang sangat menarik buat Marni karena dengan uang segitu ia bisa memperbaiki rumah orang tuanya namun jika harus menjual kesuciannya ia takkan melakukannya.
"Ingat istri dan anak-anakmu di rumah mas, ingat mbak Lastri bisa-bisanya mengkhianati mereka." ucapnya mengingatkan pria itu.
Paijo pun mulai tak sabar. "Itu bukan urusanmu dek Maria dan awas mengadu ke istriku atau Astuti jadi lebih baik segera terima tawaranku karena kesempatan tidak akan datang dua kali," ancamnya namun Marni kekeuh menolak pria itu lalu pura-pura berteriak memanggil ibunya hingga wanita itu nampak datang dan mau tak mau pria itu langsung kabur begitu saja.
"Ada apa sih nduk?" ibunya Marni pun keluar rumahnya dengan tergopoh-gopoh.
"Itu ada tikus got," sahut Marni sedikit kencang biar saja pria itu dengar.
"Cuma tikus got kirain ibu ular," sahut wanita paruh baya itu lantas mereka pun bersama-sama masuk ke dalam rumahnya.
Marni langsung bernapas dengan lega namun mulai hari ini mungkin hidupnya tidak akan tenang lagi karena Paijo pasti takkan menyerah begitu saja, sebenarnya ia masih heran kenapa pria itu tiba-tiba bisa kaya raya padahal sebelumnya lumayan miskin sama sepertinya bahkan beberapa kali Lastri istrinya datang ke rumah Astuti untuk meminjam uang atau hanya sekedar minta makan.
Tidak mungkin hanya dalam satu tahun orang bisa kaya raya, mungkinkah pria itu memiliki pesugihan? meskipun ia tak percaya hal seperti itu, sebenarnya ia dengar jika Paijo memiliki bisnis pasir mungkin itu yang membuatnya kaya tapi bukankah bisnis seperti itu juga memerlukan modal tak sedikit?
Karena trauma dengan kedatangan Paijo beberapa hari ini Marni enggan keluar rumahnya, kebetulan ia juga sedang haid jadi lebih baik di rumah saja dan juga menolak beberapa kali ajakan Firman untuk menemaninya pergi dengan alasan sedang membantu ibunya membuat kue hari raya.
Selama itu juga ia lihat Paijo jadi sering ke rumah Astuti entah sendiri atau membawa anak istrinya dengan menggunakan mobilnya, seperti hari ini pria itu datang dengan istrinya menggunakan mobil pribadinya yang sengaja di parkir di halaman rumahnya.
Pria itu nampak membawa sekeranjang buah dan juga banyak makanan untuk saudara sepupunya tersebut.
"Astuti pasti sangat senang punya sepupu sebaik nak Lastri dan suaminya, lihatlah setiap datang selalu di bawakan banyak makanan." ucap ibunya Marni yang nampak mengintip dari jendela ruang tamu mereka.
"Biarkan saja bu tidak usah mengurusi orang," tukas Marni menanggapi sembari memetik sayuran untuk persiapan hidangan buka puasa keluarganya.
"Makanya kamu harus cari suami kaya agar kalau pulang ke rumah ibu juga bisa seperti mereka bawa banyak oleh-oleh," ujar sang ibu tak mau kalah setelah hatinya panas melihat Paijo dan istrinya itu.
Marni hanya menghela napasnya. "Laki-laki kaya juga pilih-pilih bu cari istri paling tidak ya setara dengan mereka, kalau Marni apa sih bu cuma wanita kampung putus sekolah lagi," ucapnya merendah.
"Ah kamu itu nduk memang ga bisa diharapkan pokoknya kamu harus bisa bantu ibu kuliahkan Marwan biar nanti dapat istri yang setara, memang sepertinya cuma Marwan yang bisa menyenangkan ibu." gerutu wanita paruh baya itu sembari berlalu pergi ke belakang.
Marni nampak menggeleng kecil, begini lah nasib anak pertama anak yang paling berjasa tapi tak pernah terlihat. Terkadang ia sangat marah dengan sikap ibunya namun ia juga tidak ingin menjadi anak durhaka dan seandainya waktu bisa di putar ia tak ingin dilahirkan ke dunia.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu