Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Kembali di Atas Puing
Tiga minggu telah berlalu sejak malam yang mencekam di bandara itu. Berita tentang penangkapan Clara memenuhi tajuk utama media bisnis, namun Isaac memastikan nama Luna tetap terlindungi dari konsumsi publik demi ketenangannya.
Pagi ini, suasana di apartemen terasa sangat berbeda. Sinar matahari masuk dengan hangat, menyinari Luna yang kini sudah diperbolehkan pulang. Meskipun gerakannya masih sedikit terbatas dan ada bekas luka kecil yang memudar di pelipisnya, binar di matanya telah kembali.
Isaac muncul dari dapur dengan nampan berisi sarapan bergizi. Ia tidak lagi memakai setelan jas lengkap; hanya kaus putih santai dan celana panjang, menunjukkan sisi domestik yang jarang ia perlihatkan.
“Dokter bilang kau harus menghabiskan proteinnya, Luna,” ujar Isaac sembari meletakkan nampan itu di atas tempat tidur.
Luna tersenyum—senyum yang benar-benar tulus, bukan lagi topeng formalitas. “Kau mulai terdengar seperti perawat galak di rumah sakit, Isaac.”
Isaac duduk di tepi ranjang, memerhatikan Luna dengan tatapan yang seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun. “Aku hanya tidak ingin melihatmu pucat lagi. Melihatmu terbaring di sana adalah hukuman terberat dalam hidupku.”
Luna terdiam sejenak. Ia meraih tangan Isaac dan memainkan jemari pria itu. “Soal Clara… apa kau merasa bersalah? Keluarganya hancur karena ini.”
“Aku hanya merasa bersalah karena tidak bertindak lebih cepat untuk melindungimu,” jawab Isaac tegas. “Keluarganya jatuh karena keserakahan mereka sendiri, Luna. Aku hanya membantu mempercepat prosesnya.”
Luna mengangguk perlahan. Ia merasa beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya telah terangkat. Namun, di tengah ketenangan itu, ada satu hal yang masih mengganjal—perjodohan ini. Pernikahan yang dimulai dari keterpaksaan.
“Isaac,” panggil Luna lembut. “Sekarang Clara sudah tidak ada. Ayahmu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Bisnis berjalan lancar. Apakah… apakah kau masih di sini karena kewajiban?”
Isaac meletakkan sendoknya. Ia menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya, menatap langsung ke dalam manik mata wanita itu dengan intensitas yang membuat napas Luna tertahan.
“Dengarkan aku baik-baik, Luna. Aku berada di sini bukan karena Tuan Waren, bukan karena proyek hotel, dan bukan karena surat kontrak konyol itu. Aku di sini karena aku mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu di bangku kuliah, dan aku tetap mencintaimu bahkan saat kau membenciku setengah mati.”
Isaac mengecup dahi Luna dengan sangat lama. “Aku ingin kita memulai ini dari nol. Bukan sebagai pengantin pesanan, tapi sebagai dua orang yang saling memilih. Maukah kau berkencan denganku lagi? Secara resmi?”
Luna merasakan matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini karena kebahagiaan yang meluap. Ia melingkarkan tangannya di leher Isaac, menarik pria itu mendekat. “Hanya jika kau berjanji tidak akan pernah lagi memesankan kopi pahit untukku.”
Isaac tertawa rendah, sebuah suara yang kini menjadi musik favorit Luna. “Janji. Mulai sekarang, hanya ada manis untukmu.”
Malam itu, Isaac tidak membawa Luna ke restoran mewah atau acara gala yang penuh kilatan lampu kamera. Sebaliknya, ia membawa Luna ke atap gedung kantor Waren Group yang sedang dalam tahap penyelesaian lobi—tempat yang menjadi saksi bisu pertengkaran hebat mereka beberapa minggu lalu.
Namun, suasana kali ini sangat berbeda. Isaac telah menyulap sudut atap itu dengan lampu-lampu gantung kecil yang temaram, sebuah meja kayu sederhana, dan pemandangan cakrawala kota yang berkilauan.
“Kau membawa desainer interior ke tempat kerja di malam hari?” goda Luna saat ia melangkah keluar dari lift, dibantu oleh Isaac yang memegang pinggangnya dengan protektif.
“Aku membawamu ke tempat di mana kita mulai bertengkar lagi, agar kita bisa mengganti kenangan buruk itu dengan sesuatu yang lebih baik,” jawab Isaac lembut. Ia menarik kursi untuk Luna dan menyelimuti bahu wanita itu dengan jasnya agar tidak kedinginan.
Di atas meja, bukan hidangan koki bintang lima yang tersaji, melainkan dua kotak martabak manis dan susu cokelat hangat—makanan favorit mereka saat masih menjadi mahasiswa arsitektur yang sering begadang mengerjakan tugas.
Luna tertawa kecil, matanya berbinar melihat kotak martabak itu. “Kau benar-benar ingat segalanya, ya?”
“Aku tidak pernah lupa, Luna. Bahkan saat aku di London, aku sering mencari toko makanan Asia hanya untuk mencium aroma yang mirip dengan ini,” aku Isaac jujur. Ia duduk di hadapan Luna, menatapnya dengan penuh pemujaan. “Luna, aku tahu aku tidak bisa menghapus tiga tahun yang hilang. Aku juga tidak bisa menghapus rasa sakit saat kau kecelakaan semalam. Tapi aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan kau tidak pernah merasa sendirian lagi.”
Luna menyesap susu cokelatnya, merasakan kehangatan yang menjalar bukan hanya di tubuhnya, tetapi juga di hatinya. Ia meletakkan gelasnya dan menatap Isaac lekat-lekat. “Aku sudah memaafkanmu, Isaac. Sejak aku melihatmu menangis di ruang ICU, aku sadar bahwa membencimu jauh lebih melelahkan daripada mencintaimu.”
Isaac meraih tangan Luna, lalu perlahan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku celananya. Ia membukanya, memperlihatkan cincin dengan desain minimalis namun elegan—sebuah karya yang ia pesan khusus berdasarkan sketsa yang pernah Luna buat di buku catatannya bertahun-tahun lalu.
“Cincin yang kau pakai sekarang adalah cincin perjodohan keluarga kita,” ujar Isaac sembari melepas perlahan cincin lama di jari manis Luna. “Tapi yang ini… ini adalah permintaanku. Luna, maukah kau menjadi istriku bukan karena kontrak, bukan karena ayahku, tapi karena kau memang ingin menua bersamaku?”
Air mata bahagia mengalir di pipi Luna. Ia tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Ya, Isaac. Aku mau.”
Saat Isaac menyematkan cincin itu, kembang api tiba-tiba meledak di langit kota, seolah merayakan bersatunya kembali dua hati yang sempat tersesat. Di bawah taburan bintang dan cahaya kota, mereka berciuman lembut—sebuah ciuman yang menandai berakhirnya sandiwara dan dimulainya cinta yang sesungguhnya.