Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Matahari Yogyakarta bersinar cerah saat Linggar melangkah masuk ke kantor Pak Richard.
Ia mengenakan setelan blazer yang pas di tubuhnya, rambutnya digelung rapi, memancarkan aura profesionalisme yang baru.
Tidak ada lagi keraguan seperti saat ia di Jakarta; di sini, ia adalah wanita yang dihargai.
"Selamat pagi, Linggar. Sudah siap bekerja?" sapa Pak Richard ramah.
"Pagi, Pak. Saya sangat siap," jawab Linggar dengan senyum cerah.
Pak Richard kemudian menunjuk ke arah sofa di ruangannya, di mana seorang pria sedang duduk menanti.
"Linggar, perkenalkan, ini Fabian. Dia adalah mitra bisnis sekaligus klien besar kita. Dialah yang akan memimpin proyek pengembangan wisata budaya di Yogyakarta ini."
Linggar menoleh dan terpaku sejenak. Fabian adalah pria yang sangat tampan dengan brewok tipis yang tertata rapi, memberikan kesan maskulin namun ramah.
Sorot matanya tajam, namun ia tersenyum dengan sangat tulus saat menjabat tangan Linggar.
"Fabian, ini Linggar. Asisten pribadi saya yang paling andal. Linggar, saya ingin kamu mengurus semua keperluan proyek baru ini bersama Fabian," lanjut Pak Richard.
"Senang bertemu denganmu, Linggar. Pak Richard banyak bercerita tentang kehebatanmu," ucap Fabian dengan suara bariton yang hangat.
"Terima kasih, Pak Fabian. Mohon bimbingannya," jawab Linggar profesional.
Menjelang siang, Fabian menutup map dokumennya.
"Linggar, sepertinya kita butuh suasana baru untuk membahas detail teknis ini. Bagaimana kalau kita makan siang di luar? Ada restoran gudeg legendaris yang tidak jauh dari sini."
Linggar setuju. Di restoran, suasana menjadi jauh lebih santai.
Fabian ternyata bukan tipe klien yang kaku. Ia menceritakan berbagai kejadian lucu bin konyol yang dialaminya selama merintis proyek tersebut.
"Lalu dia bilang, 'Pak, ini batunya tidak bisa dipindah karena ada penunggunya!' Padahal itu hanya batu besar biasa," cerita Fabian sambil tertawa.
Linggar tertawa terbahak-bahak, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia lakukan.
"Serius, Pak? Lalu Bapak percaya?"
"Tentu saja tidak! Tapi saya harus pura-pura menghormati penunggunya supaya mereka mau kerja," jawab Fabian jenaka.
Tiba-tiba, Fabian berhenti tertawa. Matanya menatap bibir Linggar.
"Maaf, Linggar. Ada sedikit saus di sudut bibirmu."
Sebelum Linggar sempat bereaksi, Fabian sudah mengambil selembar tisu.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, ia mengusap sudut bibir Linggar.
Jarak mereka menjadi sangat dekat, dan Fabian menatap mata Linggar dengan sorot yang penuh perhatian.
Tanpa mereka sadari, salah satu rekan Fabian yang juga sedang makan di sana mengambil foto momen manis tersebut dan menandai akun media sosial Fabian dengan tulisan: "Bapak bos sedang perhatian sama asisten baru."
Setelah makan siang yang penuh tawa itu, Fabian tidak langsung mengajak Linggar kembali ke kantor.
Ia berdiri, membenarkan kemejanya, lalu menatap Linggar dengan binar mata yang lebih dari sekadar urusan profesional.
"Linggar," panggil Fabian lembut, membuat Linggar mendongak.
"Yogya itu paling cantik kalau malam hari. Kamu baru pindah ke sini, kan? Sayang sekali kalau hanya melihat kantor dan rumah."
Linggar tersenyum tipis, sedikit tersipu. "Iya, Pak. Saya memang belum sempat keliling."
"Kalau begitu, nanti malam jalan-jalan ke Malioboro denganku, mau? Kita cari wedang ronde atau sekadar melihat seniman jalanan di sana," ajak Fabian.
Sebelum Linggar sempat menjawab, Fabian menambahkan dengan telunjuk di depan bibir,
"Tapi ada syaratnya."
"Apa itu, Pak?"
"Nanti aku jemput jam tujuh malam. Dan, jangan bahas proyek sama sekali. Anggap saja ini sesi pengenalan kota untuk teman baru," ucap Fabian dengan kedipan mata yang membuat jantung Linggar berdesir kecil.
Linggar merasa ragu sejenak, namun rasa nyaman yang diberikan Fabian membuatnya merasa aman. Ia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baik, Pak. Jam tujuh ya."
"Panggil Fabian saja kalau di luar jam kantor. Sampai nanti, Linggar," pamit Fabian sambil berlalu pergi, meninggalkan Linggar yang masih berdiri di depan restoran dengan perasaan campur aduk.
Sementara itu Di Jakarta, Rangga sedang duduk di kursinya yang dingin, merindukan getaran ponsel dari Yogyakarta.
Ia membuka media sosial untuk memantau perkembangan bisnis, hingga matanya tertuju pada sebuah postingan yang muncul di feed-nya.
Rangga tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat foto meja makan itu.
Foto yang memperlihatkan tangan Fabian sedang membersihkan mulut Linggar dengan lembut, sementara Linggar tampak tersenyum tersipu.
BRAK!
Rangga menggebrak meja kerjanya hingga cangkir kopinya terguncang.
Napasnya memburu, matanya berkilat karena api cemburu yang membakar hebat.
"Dia bersama dengan lelaki asing," geram Rangga dengan suara rendah.
"Sepertinya aku harus mempercepat kunjunganku ke sana."
Rangga sedang kalap. Ia mondar-mandir di ruangannya sambil terus menyegarkan (refresh) halaman media sosial lelaki yang bersama dengan Linggar.
Setiap detik terasa seperti siksaan. Ia melihat Fabian mengunggah sebuah cerita singkat yang hanya memperlihatkan foto jalanan Yogyakarta dengan tulisan:
"Tidak sabar untuk jam 7 malam ini."
Rangga melempar ponselnya ke atas sofa. Darahnya mendidih.
Ia tahu persis apa arti "jam 7 malam" bagi pria seperti Fabian.
"Jam tujuh? Dia mau mengajak Linggar kencan?" gumam Rangga dengan gigi terkatup.
Tanpa berpikir panjang, Rangga meraih gagang telepon kantornya dan menghubungi asisten pribadinya yang baru.
"Siapkan tiket pesawat ke Yogyakarta sore ini juga. Paling lambat jam lima saya harus sudah terbang! Dan pesankan hotel terdekat dengan kawasan Keraton!"
"Tapi Pak, besok pagi ada rapat pemegang saham—"
"BATALKAN! Atau kamu saya pecat sekarang juga!" bentak Rangga.
Rangga tidak peduli lagi pada rapat atau bisnis jutaan dolar.
Pikirannya hanya satu yaitu ia harus sampai di Yogyakarta sebelum jam tujuh, sebelum pria bernama Fabian itu berhasil mencuri hati wanita yang baru saja ia sadari adalah nyawanya.
Di sisi lain Linggar merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah membersihkan diri.
Di pangkuannya, sebuah map biru berisi detail proyek pengembangan wisata budaya Yogyakarta terbuka lebar. Namun, alih-alih fokus pada angka-angka anggaran atau jadwal konstruksi, mata Linggar terus tertuju pada coretan-coretan kecil di pinggir kertas yang dibuat Fabian saat mereka berdiskusi tadi.
Ada gambar karikatur kecil seorang pria yang sedang kepanasan di bawah sinar matahari dengan tulisan, "Ini aku kalau kamu nggak setuju sama ideku."
Linggar menyentuh coretan itu dengan ujung jarinya, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang sulit disembunyikan.
"Fabian, lucu sekali kamu," gumam Linggar lirih.
Tawanya kembali pecah pelan saat mengingat betapa ekspresifnya pria itu saat bercerita.
Fabian berbeda dengan Rangga yang kaku dan selalu menuntut kesempurnaan dengan cara yang dingin.
Fabian memiliki energi yang menular, membuat pekerjaan yang berat terasa seperti petualangan yang menyenangkan.
Linggar melirik jam di dinding. Pukul enam sore. Ia harus segera bersiap karena satu jam lagi pria itu akan datang menjemputnya.
Ia berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Tangannya secara otomatis menyentuh leher, di mana kalung LR pemberian Rangga masih melingkar indah.
Senyumnya sedikit memudar. Ada rasa hangat yang aneh saat menyentuh liontin itu, sebuah pengingat akan luka sekaligus penyesalan terdalam seorang pria di Jakarta.
"Hanya jalan-jalan sebagai teman, Linggar. Jangan berpikir macam-macam," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.
Ia memutuskan untuk mengenakan dress batik kasual berwarna biru cerah yang membuatnya tampak segar. Ia tidak ingin terlihat terlalu formal, namun ia juga ingin menghargai ajakan Fabian.
Tanpa Linggar sadari, di luar sana, sebuah taksi melaju kencang dari Bandara YIA menuju kawasan Keraton.
Di dalamnya, Rangga sedang duduk dengan wajah tegang, terus melihat jam tangannya seolah sedang mengejar waktu yang akan habis.