NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Aku menyimpannya di hal hal sederhana pada tawa yang tak perlu alasan,pada diam yang tak canggung pada pulang yang tidak perlu dipertanyakan"

BERCINTA DENGAN HIDUP

Ruang makan rumah Rekai terisi suara tawa riang Elona dan Rekai yang sedang bersandar di kursi setelah menyantap makanan yang lezat. Meja yang penuh dengan piring bersih menunjukkan bahwa mereka benar-benar menikmati hidangan yang dibuat Ibu Sherly.

“Waduh Ibu, masakan ibu semakin enak aja ya!” puji Elona sambil mengusap perutnya yang kenyang. “Aku hampir tidak bisa bergerak lagi karena terlalu banyak makan.”

Ibu Sherly hanya tertawa lembut sambil membersihkan meja. “Kalau suka ya tinggal saja di sini terus dong, Elona. Kamu kan sudah seperti anak kandungku sendiri. Apalagi nenekmu juga sering bilang kalau kamu sering sendirian di rumah ketika dia harus pergi menjual makanan di pasar.”

Elona segera duduk tegak dengan wajah yang sedikit terkejut. Rekai juga melihat ke arah ibunya dengan ekspresi yang tidak terduga. Ibu Sherly kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Elona dengan pandangan yang penuh kasih sayang.

“Elona, ibu punya sesuatu yang ingin kamu dengar,” ujar Ibu Sherly dengan suara lembut tapi tegas. “ibu dan ayah Rekai sudah membicarakan hal ini. Kamu bisa pindah tinggal ke rumah kita saja. Kamu akan punya kamar sendiri, bisa lebih mudah mengikuti kegiatan sekolah, dan tidak perlu lagi khawatir tentang nenekmu karena kita bisa mengurusnya bersama dengan baik.”

Elona merasa hati nya terasa hangat karena tawaran yang diberikan Ibu Sherly. Dia tahu bahwa keluarga Rekai benar-benar mencintainya seperti keluarga sendiri. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan neneknya yang sudah merawatnya sendirian selama ini.

“Ibu Sherly… aku sangat menghargai tawaran ini,” ujar Elona dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku merasa sangat beruntung punya keluarga seperti kalian. Tapi aku tidak bisa meninggalkan nenekku. Dia sudah tua dan butuh orang yang merawatnya setiap hari. Selain itu, rumah kita kecil dan sederhana tapi itu adalah tempat yang aku cintai dan dimana aku merasa benar-benar di rumah.”

Ibu Sherly mengangguk dengan pemahaman dan segera mengambil tangan Elona dengan lembut. “Aku mengerti sayang. Kamu adalah anak yang baik hati dan penyayang. Tawaran ini akan selalu ada kapan saja kamu mau menerimanya ya. Selain itu, kapan saja kamu ingin makan atau tinggal semalam di sini, kamu sangat diterima dengan senang hati.”

“Terima kasih banyak Ibu,” ujar Elona dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rekai segera mendekat dan menepuk bahunya dengan lembut.

“Tenang aja Elona, kita tetap bisa sering bertemu kok. Selain itu, kita juga bisa sering membantu nenekmu bersama-sama kan?” ujar Rekai dengan senyum hangat.

Tepat saat itu, ada suara ketukan pintu yang kemudian diikuti dengan suara yang akrab. “Halo halo! Ada orang yang lapar dan ingin gabung makan malam kah?”

Kalash masuk dengan senyum lebar, mengenakan kaos basket dan celana pendek yang sudah sedikit kotor karena bermain bola tadi sore. Dia langsung terkejut melihat meja yang sudah bersih.

“Waduh, aku terlambat ya? Sudah tidak ada makanan lagi kan?” tanya Kalash dengan ekspresi sedikit kecewa.

Ibu Sherly segera berdiri dengan senyum. “Tidak apa-apa nak, Ibu masih menyimpan sisa makanan di kulkas. Cepat cuci tangan saja ya kemudian aku panaskan lagi untukmu.”

Setelah Kalash selesai makan dan mereka semua berbincang santai di ruang tamu, Rekai mengajak untuk pergi bermain bola basket di taman kecil belakang rumah yang dilengkapi dengan ring basket sederhana.

“Aku sudah lama tidak bermain basket !” seru Elona dengan semangat. Dia segera mengambil sepatu olahraga yang pernah disimpan di rumah Rekai dan bergabung dengan dua cowok itu.

Di taman, mereka bermain dengan sangat riang. Kalash yang memang jago bermain bola sering menunjukkan gerakan canggihnya, sementara Rekai lebih suka bermain dengan santai dan sering membuat kelucuan yang membuat Elona tertawa terbahak-bahak. Saat matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga yang indah di langit, Kalash mengambil ponselnya dan mengajak untuk berfoto bersama.

“Ayo kita foto dulu sebelum pulang! Biar bisa diunggah di Instagram!” ujar Kalash dengan antusias. Mereka berdiri berdekatan dengan pose riang – Elona di tengah dengan kedua tangan mengangkat ke atas, sementara Rekai dan Kalash berdiri di sisinya dengan senyum lebar.

Setelah foto diambil, Kalash segera mengunggahnya ke akun Instagram-nya dengan caption:

“Cintaa tapii asudahlahh 😅 Duluan yah manusia kaku 😉🏀 #TemanTerinci #BolaBasket #HidupItuIndah”

 

Sementara itu, Biru sedang duduk di kamar nya membaca buku ketika ponselnya berbunyi memberi tahu ada notifikasi baru dari Instagram. Dia membuka aplikasinya dan langsung melihat foto yang diunggah Kalash. Wajahnya yang biasanya dingin sedikit rileks dengan melihat ekspresi bahagia Elona di foto itu.

Dia melihat caption yang ditulis Kalash dan langsung mengerti bahwa kata “manusia kaku” itu merujuk padanya. Dia tersenyum kecil dan segera memberikan suka pada foto tersebut. Di dalam hati, dia merasa sedikit iri karena tidak bisa ikut bermain bersama mereka, tapi juga merasa senang melihat Elona bisa bahagia bersama teman-temannya.

Biru kemudian mengetik komentar singkat di bawah foto:

“Jangan terlalu larut bermain sampai lupa waktu pulang. – OskarBiru 😉”

Saat dia menekan tombol kirim, dia merasakan bahwa mungkin saja nanti dia bisa juga bergabung dengan mereka bermain bola basket. Mungkin itu adalah cara yang baik untuk mendekati Elona dengan lebih santai dan tidak terlalu formal seperti di sekolah.

Di taman, Kalash melihat notifikasi komentar dari Biru dan langsung tertawa terbahak-bahak. “Waduh, Pak Ketua baca caption kita lho! Malah komentar gitu!”

Rekai dan Elona segera melihat ponsel Kalash dan juga tertawa. Elona membaca komentar Biru dengan senyum lembut, merasakan sesuatu yang hangat di dalam hatinya yang dia tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.

Malam itu mereka bermain hingga cukup larut sebelum memutuskan untuk beristirahat. Elona merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-temannya yang dicintainya. Sementara itu, Biru sedang duduk di balkon rumahnya, melihat bulan yang mulai muncul di langit malam, dan merencanakan bagaimana cara untuk lebih dekat dengan Elona di hari-hari yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!