Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Pertemuan yang Semakin Dekat
Pagi itu suasana Aegis Corp terasa berbeda.
Bukan lebih ramai, tetapi lebih tegang. Bahkan sebelum Kim Ae Ra duduk di mejanya, ia sudah melihat beberapa staf berjalan cepat sambil membawa dokumen tebal. Percakapan dilakukan dengan suara rendah, namun ekspresi mereka cukup untuk menjelaskan bahwa sesuatu sedang dipersiapkan.
Pertemuan dengan Haesung.
Nama itu kini hampir terdengar setiap jam.
Ae Ra membuka agenda hari itu. Jadwal rapat dipadatkan, ruang konferensi utama sudah dipesan sejak pagi, dan tim legal terlihat keluar-masuk ruangan CEO lebih sering dari biasanya.
Ia menarik napas pelan.
Hari ini pasti panjang.
Pintu ruang CEO terbuka.
Hyun Jae Hyuk keluar sambil merapikan manset kemejanya.
“Kopi.”
Permintaan singkat itu sudah cukup familiar.
Ae Ra berdiri, namun sebelum ia pergi, Jae Hyuk menambahkan,
“Dan kau juga ambil satu untukmu.”
Ae Ra berkedip.
“…Baik.”
Perhatian kecil itu masih terasa aneh baginya.
---
Menjelang siang, Han Sin Woo datang membawa map baru.
“Daftar final peserta dari Haesung sudah dikirim.”
Ae Ra menerima dokumen itu dan mulai membaca.
Nama direktur, analis, dan perwakilan strategi tercantum rapi.
Namun lagi-lagi, satu posisi masih kosong.
**Perwakilan Eksekutif — akan hadir langsung saat pertemuan.**
“Rahasia sekali,” gumam Ae Ra tanpa sadar.
Jae Hyuk yang mendengarnya hanya berkata,
“Itu berarti mereka ingin memberi kejutan.”
Nada suaranya tidak terdengar senang.
---
Hari berjalan lambat hingga sore.
Ae Ra hampir tidak punya waktu istirahat. Namun kali ini ia tidak merasa kewalahan. Ada ritme baru yang mulai ia pahami.
Saat ia membawa dokumen ke ruang CEO, ia melihat Jae Hyuk berdiri di dekat jendela.
Langit mulai gelap lagi.
“Hujan akan turun,” katanya tanpa menoleh.
Ae Ra ikut melihat keluar.
“Akhir-akhir ini sering sekali.”
Jae Hyuk terdiam beberapa detik.
“Ada orang yang tidak suka hujan.”
Ae Ra tertawa kecil. “Saya juga sepertinya begitu.”
Ia tidak melihat bagaimana ekspresi Jae Hyuk berubah sesaat.
---
Malam hari, Ae Ra kembali ke toserba.
Rutinitas yang kini terasa seperti jeda aman.
*Klining…*
Bo Ram sedang menata snack.
Seo Jun berdiri di dekat rak minuman.
“Kau terlambat.”
“Persiapan rapat besar.”
Ae Ra menjatuhkan tubuhnya ke kursi kecil.
“Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ikut tegang.”
Bo Ram langsung dramatis. “Kalau perusahaanmu perang, aku pindah negara!”
Mereka tertawa.
Namun Seo Jun hanya tersenyum tipis.
“Apa nama perusahaan itu?” tanyanya santai.
“Haesung.”
Gerakan Seo Jun berhenti sepersekian detik.
Hampir tidak terlihat.
“Begitu,” jawabnya pelan.
Ia kembali bekerja, tetapi tatapannya menjadi lebih dalam.
---
Di luar toko, malam terasa sunyi.
Tidak ada mobil hitam kali ini.
Namun jauh di kantor Aegis, Hyun Jin Suk duduk sendirian membaca laporan pertemuan yang akan datang.
Nama Haesung membuatnya menghela napas panjang.
“Waktu yang buruk…” gumamnya.
Pikirannya melayang pada masa lalu yang ingin ia lupakan.
Api.
Kesalahan.
Dan seorang anak kecil yang selamat.
Ia menutup mata sejenak.
Takdir yang ia coba kubur bertahun-tahun lalu kini perlahan kembali mendekat.
---
Di toserba, Ae Ra berdiri di dekat pintu sebelum pulang.
Hujan mulai turun lagi.
Seo Jun menyerahkan payung.
Namun Ae Ra mengangkat payung hitam yang sudah ia bawa.
“Aku punya.”
Seo Jun memperhatikannya beberapa detik.
Payung itu bukan miliknya.
Ia tahu.
Dan entah kenapa, perasaan tidak nyaman muncul perlahan di dadanya.
Ae Ra melangkah keluar, tersenyum kecil sambil melambaikan tangan.
Lampu jalan memantulkan bayangannya di genangan air.
Tanpa ia sadari, pertemuan besar yang akan datang tidak hanya mengubah arah perusahaan…
tetapi juga masa lalu yang selama ini tersembunyi.