Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusasaan Tian Ao
Zian terus melangkah santai. Dia berhenti tepat di depan ujung kaki Tian Ao. Bayangan tubuh Zian menutupi cahaya bulan, membuat wajahnya terlihat sangat gelap dan mengerikan.
"Tuan Muda Tian Ao," sapa Zian pelan. "Kemarin kau terlihat sangat gagah saat memakai jubah emasmu. Kenapa sekarang kau mengotori celanamu sendiri?"
"Zian... Tuan Zian! Aku salah! Aku sungguh minta maaf!" Tian Ao langsung bersujud. Dahinya membentur tanah berlumpur berulang kali. Dia tidak peduli lagi pada harga diri sektenya. "Ampuni nyawa anjingku ini! Aku berjanji tidak akan menginjakkan kaki di Kota Daun lagi!"
Zian berjongkok di depan Tian Ao. Dia menatap wajah lawannya yang kotor oleh lumpur dan air mata. "Kau pikir kata maaf bisa menyembuhkan ayahku yang muntah darah?"
"A-aku akan membayar semuanya!" Tian Ao buru-buru melepas cincin penyimpanan di jari telunjuknya. Tangannya gemetar parah saat dia menyodorkan cincin itu ke arah Zian. "Di dalam sini ada ribuan keping emas! Ada puluhan pil dewa penyembuh luka! Ada gulungan sihir tingkat tinggi! Ambil semuanya, Zian! Semua ini milikmu sekarang!"
Zian melirik cincin itu sebentar, lalu kembali menatap mata Tian Ao. "Aku bisa mengambil cincin itu dari mayatmu sebentar lagi."
Tian Ao tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya makin pucat. "K-kau butuh wanita? Aku bisa mencarikan ratusan wanita cantik dari sekteku untukmu! Ah, benar! Lin Yue! Kau masih menyukai Lin Yue, kan? Ambil dia kembali! Aku tidak butuh pelacur sombong itu! Dia milikmu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tian Ao. Tamparan itu tidak menggunakan tenaga penuh, tapi cukup untuk merontokkan lima gigi Tian Ao dan membuat rahangnya bergeser.
Tian Ao memuntahkan darah dan gigi ke tanah. Dia mengerang kesakitan, tapi dia menahan diri untuk tidak menjerit keras.
"Jangan sebut nama kotor itu di depanku," kata Zian dingin. "Kalian berdua sama-sama sampah. Bedanya, Lin Yue masih punya waktu untuk mencuci lehernya di ibu kota. Sedangkan waktu mandimu sudah habis malam ini."
Tian Ao menangis keras. "Zian! Keluarga kami sangat berkuasa! Kalau kau membunuhku, ayahku pasti akan mengerahkan seluruh pasukan Sekte Api Emas untuk menghancurkan rumahmu! Pikirkan ayah dan adikmu, Zian!"
"Terima kasih sudah mengingatkanku pada keluargaku," Zian berdiri perlahan. Matanya menyipit, memancarkan niat membunuh yang murni dan buas. "Tepat di ruang utama rumahku, kau memerintahkan pengawalmu untuk menghajarku. Kau menendang dadaku. Kau menginjak punggungku sampai tulang rusukku patah. Dan yang paling tidak bisa kumaafkan..."
Zian mengangkat kaki kanannya dan menginjak lutut kiri Tian Ao.
"...kau menatap adikku dengan mata kotormu."
KRAAAK!
"AARRRGHHH!"
Jeritan Tian Ao membelah langit Hutan Hitam. Burung-burung malam beterbangan panik meninggalkan sarang mereka. Lutut kiri Tian Ao hancur lebur di bawah injakan sepatu Zian. Tulangnya remuk menjadi serpihan kecil yang menusuk daging dari dalam.
Tian Ao memegangi kakinya yang hancur. Matanya melotot lebar menahan rasa sakit yang luar biasa gila. Dia belum pernah terluka parah seumur hidupnya. Selama ini dia selalu berlindung di balik punggung pengawal dan tetua sektenya.
"Sakit?" tanya Zian santai. Dia mengangkat kaki kanannya lagi dan memindahkannya ke lutut kanan Tian Ao. "Waktu itu aku juga merasa sakit. Tapi aku tidak menangis sepertimu."
KRAAAK!
"TIDAAAK! KAKIKU! AMPUN! TOLONG BUNUH SAJA AKU!" Tian Ao bergulingan di tanah berlumpur. Dia mencakar-cakar tanah, memohon kematian untuk mengakhiri penderitaannya.
"Bunuh kau sekarang? Tentu saja tidak," jawab Zian. Nada suaranya sangat tenang, tapi justru ketenangan itu yang membuat Tian Ao merasa sedang berhadapan dengan iblis neraka. "Kau bilang kau suka melihat lalat merangkak memohon ampun, kan? Sekarang merangkaklah."
Tian Ao terus menangis histeris. Ingusnya bercampur darah. "Zian... iblis... kau iblis jahanam!"
Zian tidak peduli dengan makian itu. Dia membungkuk dan mencengkeram pergelangan tangan kiri Tian Ao.
"Ini untuk ayahku yang kau suruh tutup mulut," bisik Zian. Dia memutar pergelangan tangan Tian Ao dengan kasar.
KRAK!
Tangan kiri Tian Ao melintir patah seketika.
"AARRGH! BUNUH AKU! BUNUH AKUUU!" raung Tian Ao dengan suara yang sudah hampir habis. Tenggorokannya robek karena terlalu keras menjerit.
Zian pindah mencengkeram pergelangan tangan kanan Tian Ao. "Dan ini untuk ibuku yang menangis pingsan karena ulahmu."
KRAK!
Tangan kanan pewaris Sekte Api Emas itu patah total. Kini, keempat anggota geraknya hancur tanpa sisa. Tian Ao berbaring telentang di atas lumpur basah. Napasnya putus-putus. Matanya menatap langit malam dengan pandangan kosong. Tubuhnya sesekali kejang menahan rasa sakit yang melampaui batas kewarasan manusia. Dia benar-benar sudah hancur, baik secara fisik maupun mental.
"Lihat dirimu sekarang," kata Zian menatap jijik ke bawah. "Menyalak seperti anjing liar, tapi rapuh seperti kerupuk. Bukankah itu kata-katamu sendiri?"
Tian Ao tidak menjawab. Mulutnya hanya mengeluarkan busa bercampur darah. Dia benar-benar berharap maut segera menjemputnya.
"Aku sudah bosan melihat wajahmu," Zian mengangkat tangan kanannya. Dia merapatkan kelima jarinya, membentuk bilah tangan yang lurus dan kokoh sekeras pedang baja.
Zian mengayunkan tangannya dengan cepat ke arah leher Tian Ao.
Sraat!
Tanpa energi sihir, murni hanya mengandalkan kepadatan Tulang Asura dan kecepatan gesekan angin, ayunan tangan Zian memotong leher Tian Ao dengan sangat mulus. Kepala Tuan Muda Sekte Api Emas itu terlepas dari tubuhnya dan menggelinding jatuh ke genangan air sungai.
Penderitaan Tian Ao akhirnya selesai.
Hutan Hitam kembali sunyi. Hanya suara aliran Air Terjun Hitam yang membasuh bebatuan berdarah di sekitarnya.
Zian menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Niat membunuhnya yang tadi menggebu-gebu kini mulai mereda. Balas dendam pertamanya tuntas. Tidak ada lagi rasa amarah yang mengganjal di dadanya.
"Kerja bagus, Bocah," puji leluhur Asura dari dalam kepalanya. "Kau menuntaskan dendam tanpa ragu sedikit pun. Inilah jalan yang benar untuk mengembangkan kekuatan fisikmu. Semakin sering kau membunuh tanpa keraguan, Tulang Asuramu akan semakin kuat menyerap aura kematian di sekitarmu."
"Aku hanya membersihkan rumahku dari lalat pengganggu," jawab Zian santai.
Zian berjongkok di dekat mayat Tian Ao. Dia mengambil cincin penyimpanan yang tadi sempat ditawarkan oleh Tian Ao. Zian juga berjalan ke arah mayat Tetua Wu dan mencabut cincin penyimpanan emas dari jari orang tua itu.
"Dua cincin dari orang kaya. Pasti isinya cukup untuk membiayai pengobatan ayah dan kehidupan kami selama beberapa tahun ke depan," gumam Zian pelan sambil menyimpan kedua cincin itu ke dalam saku bajunya.
Zian berjalan mendekati sungai. Dia membasuh tangan dan wajahnya yang terkena cipratan darah menggunakan air yang dingin. Setelah merasa cukup bersih, dia menatap pantulan dirinya di air sungai. Pakaiannya robek dan kotor, tapi auranya terasa sangat kokoh, sekuat gunung yang tak tergoyahkan.
Turnamen Berburu Kota baru saja dimulai, tapi bagi Zian, turnamen ini sudah selesai. Dia sudah membasmi target utamanya. Semua pembunuh bayaran yang disewa Tian Ao juga sudah rata dengan tanah. Tidak ada lagi yang perlu dia lakukan di dalam hutan ini.
Zian berbalik arah dan melangkah pergi meninggalkan kamp yang sudah hancur lebur itu. Dia berjalan keluar dari Hutan Hitam menuju rumahnya. Dia ingin segera memeluk ibu dan adiknya, lalu memberitahu ayahnya bahwa mereka kini bisa tidur nyenyak tanpa perlu takut pada bayang-bayang Sekte Api Emas di kota ini.
Namun, langkah Zian tiba-tiba terhenti di pinggir hutan, tepat sebelum dia keluar dari batas wilayah pepohonan gelap.
Di saku bajunya, cincin penyimpanan milik Tian Ao mendadak bergetar hebat. Cincin itu memancarkan cahaya biru terang yang sangat menyilaukan.
Zian mengerutkan kening. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan cincin tersebut.
"Ada apa ini? Benda sihir di dalamnya bereaksi?" tanya Zian dalam hati.
"Hati-hati, Bocah. Itu bukan reaksi benda sihir biasa," peringat leluhur Asura dengan nada waspada. "Itu adalah panggilan komunikasi paksa tingkat tinggi. Hanya orang dari Ranah Raja atau Kaisar yang bisa menembus segel cincin penyimpanan dari jarak jauh seperti itu!"
Benar saja. Cahaya biru itu tiba-tiba melesat keluar dari cincin dan membentuk sebuah proyeksi bayangan di udara.
Bayangan itu perlahan menebal, menampakkan sosok seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah kebesaran berlambang singa es bersayap. Pria itu berdiri dengan tangan di belakang punggung. Auranya, meskipun hanya berupa proyeksi cahaya, terasa sangat menekan dan dingin, jauh lebih mengerikan dari Tetua Wu.
Mata pria dalam proyeksi itu menyapu sekeliling, lalu menatap tajam langsung ke arah Zian.
"Siapa kau?" suara pria itu bergema keras dan arogan, menggetarkan daun-daun di sekitar Zian. "Di mana anak bodoh Tian Ao? Aku menyuruhnya menjaga Lin Yue, tapi aku baru saja mendapat laporan bahwa giok nyawa Tian Ao dan Tetua Wu pecah berantakan di kuil sekte utama!"
Zian menatap proyeksi pria itu dengan tenang. Dia tidak mundur sedikit pun dari tekanan aura yang memancar.
"Mereka berdua sudah turun ke neraka. Kau mau menyusul mereka?" jawab Zian sangat datar tanpa rasa takut.
Wajah pria dalam proyeksi itu langsung menggelap. Niat membunuhnya yang mengerikan memancar dari matanya. "Bocah sombong! Beraninya kau membunuh calon menantuku dari Sekte Bintang Es?! Dengarkan baik-baik, tikus got! Namaku Lin Zong, Pemimpin Sekte Bintang Es sekaligus ayah dari Lin Yue! Karena kau berani menyentuh orang-orangku, aku akan memburu kepalamu sampai ke ujung benua!"
Zian terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian, sebuah senyum miring yang sangat mematikan justru terbentuk di bibir Zian.
"Ayah Lin Yue?" bisik Zian pelan. Matanya menyala penuh semangat membunuh yang baru. "Bagus. Kebetulan sekali aku sedang berencana pergi ke ibu kota. Bersihkan lehermu, Lin Zong. Beri tahu putrimu, mantan tunangannya yang cacat ini akan segera datang untuk meruntuhkan sekte kalian sampai rata dengan tanah."
Zian langsung menekan cincin penyimpanan itu dengan jarinya, memutus energi komunikasi paksa tersebut sebelum Lin Zong sempat membalas. Proyeksi cahaya itu pecah dan menghilang seketika.
Hutan kembali gelap. Zian mendongak menatap langit ibu kota di kejauhan. Jalan darah yang lebih besar baru saja menunggunya di depan mata.
cuma tinju asal ajaaa