Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Cairan merah pekat yang memenuhi wadah perak bersih itu habis tak bersisa. Keheningan yang ganjil segera menyergap setiap sudut ruang isolasi, hanya menyisakan suara napas Lusy yang awalnya menderu dengan sangat cepat sebelum akhirnya perlahan-lahan melambat dan menjadi lebih tenang.
Perlahan, keajaiban yang juga sangat mengerikan itu terjadi sekali lagi di hadapan mata Axel yang tidak pernah berkedip melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh wanita yang ia cintai itu. Selaput merah pekat yang biasanya menutupi seluruh bagian mata Lusy mulai perlahan menyusut ke arah irisnya, kemudian warna cokelat jernih yang sangat Axel cintai dan kenal dengan baik muncul kembali perlahan seperti matahari yang baru saja menyembul dari balik gerhana yang sangat gelap dan panjang.
Lusy mengerjap kedua kelopak matanya dan penuh kesadaran yang baru saja kembali. Ia menatap dengan sangat hati-hati bagian tangan kanannya yang masih sedikit gemetar akibat efek sisa dari rasa lapar yang baru saja ia alami, kemudian beralih melihat wadah perak yang kini sudah kosong dan hanya menyisakan sedikit bekas noda darah mengkilap di bagian dalamnya.
Kesadaran akan semua yang telah terjadi menghantamnya dengan kekuatan yang seperti gelombang pasang sangat besar dan menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang pernah ia bangun dalam dirinya untuk melindungi diri dari kenyataan yang menyakitkan itu.
Memori tentang rasa lapar yang sangat primitif dan tidak bisa dikendalikan, suara geraman binatang yang keluar dari dalam kerongkongannya dengan sendirinya, dan rasa amis darah yang barusan ia sesap dengan sangat rakus, mulai berputar liar dan sangat cepat di dalam kepalanya hingga merasa sakit karena terlalu banyak menerima informasi sekaligus.
"Axel..."
Axel yang sebelumnya berdiri penuh dengan ketegangan segera menghambur mendekati kaca pembatas yang memisahkan dirinya dengan Lusy. Wajahnya segera menempel pada permukaan kaca, membuatnya merasa sedikit lebih tenang karena bisa lebih dekat dengan wanita yang ia cintai. Matanya sudah berkaca-kaca, melihat dengan sangat jelas bagaimana ekspresi wajah Lusy yang kembali menjadi seperti biasanya.
"Lusy? Sayangku, ini aku—Axel. Aku ada di sini denganmu. Kamu tidak sendirian lagi."
Lusy dengan sangat hati-hati bangkit dari atas brankar medis yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama ini dengan gerakan yang sangat rapuh. Ia berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih menuju arah kaca pembatas itu, kakinya seolah tidak sanggup lagi menopang beban kenyataan yang begitu berat dan menyakitkan.
Begitu bagian telapak tangannya menyentuh permukaan kaca itu, tubuhnya tidak bisa lagi menahan berat badan dan rasa sakit yang ia rasakan sehingga ia jatuh terduduk dengan sangat lembut di lantai ruang isolasi itu, kemudian mulai menangis dengan sangat hebat hingga tubuhnya terguncang-guncang karena isak tangis yang keluar dari dalam dirinya. Isak tangis itu terdengar begitu memilukan dan menyakitkan hati untuk didengar.
"Bunuh aku, Axel... kumohon, bunuh aku sekarang juga. Aku ingat semua hal yang telah kulakukan, semua hal yang telah kuhasilkan. Aku ingat bagaimana rasanya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mencabik-cabikmu dengan tangan dan gigi ku sendiri. Aku ingat dengan sangat jelas rasa darah itu yang masih menempel di lidahku dan di dalam mulutku. Aku bukan manusia lagi, Axel! Aku ini hanya sebuah monster yang hanya bisa membawa penderitaan bagi orang-orang yang aku cintai!"
"Tidak, Lusy! Jangan sekali-kali mengatakan hal seperti itu padaku! Kamu sedang sakit parah, sayangku. Ini hanya efek dari zat kimia yang kamu minum secara tidak sengaja itu. Semua ini bukanlah salahmu—ini adalah salahku yang ceroboh dan tidak bisa menjagamu dengan baik! Aku yang membiarkanmu berada di dekat zat itu dan akhirnya membuatmu meminumnya tanpa sengaja!"
"Kamu melihat apa yang kulakukan tadi, kan?" Lusy dengan sangat lambat mendongak untuk melihat wajah Axel yang sudah penuh dengan air mata.
"Aku minum darah. Darah yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang sedang dalam kesusahan! Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan ingatan yang begitu memalukan ini? Bagaimana mungkin aku bisa kembali menatap wajah Ayah atau Ibuku lagi setelah tahu bahwa aku telah melakukan hal yang begitu keji dan tidak bisa dimaafkan itu?"
Ia mulai memukul-mukul permukaan kaca dengan kepalan tangan yang lemah dan sudah mulai merah akibat benturan itu, namun rasa sakit yang ia rasakan dari pukulan itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.
"Jangan biarkan aku bangun lagi sebagai benda yang tidak manusiawi itu. Tolonglah, kalau kamu benar-benar mencintaiku dan peduli padaku, suntikkan sesuatu yang bisa menghentikan jantungku sekarang juga. Aku sungguh memohon padamu untuk melakukan itu!"
Hati Axel terasa seperti sedang diremas oleh tangan raksasa yang sangat kuat dan tanpa ampun. Mendengar wanita yang paling ia puja dan cintai dengan sepenuh hati di dunia ini memohon agar dirinya dibunuh adalah sebuah siksaan yang jauh lebih kejam daripada neraka mana pun yang pernah ia bayangkan dalam hidupnya.
Ia menempelkan dahinya ke permukaan kaca itu, air matanya yang terus mengalir deras jatuh dan membasahi permukaan bening kaca itu, kemudian bersatu dengan uap napas mereka yang saling beradu dan menciptakan kabut tipis di kedua sisi kaca pembatas itu. Ia bisa merasakan panas dari tubuh Lusy yang ada di sisi lain kaca itu, dan itu hanya membuatnya semakin merasa tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat wanita yang ia cintai menderita seperti ini.
"Aku tidak bisa melakukan itu, Lusy. Aku tidak akan pernah bisa membunuhmu—bahkan jika itu adalah permintaanmu sendiri."
"Dengarkan baik-baik apa yang kukatakan padamu sekarang. Samuel dan aku sedang bekerja tanpa henti—siang dan malam kami habiskan untuk mencari cara untuk menyembuhkanmu dari kondisi ini. Kami sudah menemukan pola tertentu pada proses mutasi yang terjadi di dalam tubuhmu. Aku bersumpah demi sisa napas yang ada di dalam tubuhku, aku akan menemukan penawar yang bisa menyembuhkanmu sepenuhnya. Aku akan membawamu kembali ke dirimu yang asli, tidak peduli apa yang harus kukorbankan untuk mencapai itu—bahkan jika itu harus dengan mengorbankan karirku sebagai dokter, kehormatanku, atau bahkan nyawaku sendiri."
Lusy menggelengkan kepalanya, kemudian menyandarkan bagian kepalanya ke permukaan kaca itu tepat di posisi yang sama dengan dahi Axel yang masih menempel di sisi lain kaca itu.
"Tetapi monster itu... dia selalu ada di sana di dalam diriku, Axel. Dia bersembunyi dengan sangat rapi di balik mataku yang kamu cintai itu, terus-menerus menunggu darah berikutnya yang akan memberinya kekuatan untuk muncul kembali dan menguasai diriku sepenuhnya. Aku sangat takut... aku sangat takut pada diriku sendiri dan pada apa yang mungkin kulakukan ketika dia kembali muncul lagi nantinya."
"Jangan pernah takut padanya atau padamu sendiri lagi, sayangku. Aku akan selalu ada di sini untuk menjagamu dan melindungimu dari segala sesuatu yang mungkin membahayakanmu—termasuk dari dirimu sendiri yang sedang dalam kondisi tidak stabil ini."
"Tetaplah bersamaku. Bertahanlah sebentar lagi—hanya sebentar saja. Aku akan mengembalikan hidupmu yang penuh dengan harapan dan kebahagiaan seperti dulu, meskipun aku harus menukar nyawaku untuk itu atau melakukan segala cara yang mungkin untuk mencapainya."
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ