NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Slice of Life / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter⁹ — Skenario Surya Gagal Total.

Surya menatap jalanan desa dari balik kendaraan dinasnya, Mobil Malvin sudah lama menghilang, tapi bayangannya masih tertinggal. Sangat mengganggu dan menyebalkan.

Ia tersenyum tipis, senyuman orang yang sudah terbiasa memutar keadaan. Jika kekuasaan tak lagi cukup untuk menekan, maka cerita harus diciptakan. Nama baik bisa dibangun, dan lebih mudah lagi... dihancurkan.

Lastri.

Nama itu berputar di kepalanya seperti duri kecil yang lama dibiarkan, kini mulai bernanah. Perempuan itu terlalu banyak tahu, terlalu sering berada di tempat yang seharusnya bukan miliknya.

Kini, bahkan Lastri bukan lagi bayang-bayang di belakangnya. Wanita itu telah berubah menjadi garis tanding, berdiri sejajar dengannya. Bukan sekadar duri kecil yang bisa diinjak lagi, melainkan ancaman yang nyata. Surya menyadari satu hal yang membuat dadanya mengeras, perempuan yang dulu ia kendalikan… kini menjadi lawannya sendiri.

Dan Malvin… pria itu jelas bukan orang sembarangan.

Surya meraih ponselnya, ibu jarinya bergerak pelan penuh perhitungan. Fitnah tidak boleh terlihat sebagai fitnah. Itu harus terdengar seperti kekhawatiran warga, seperti gosip yang tumbuh alami, seperti kebenaran yang “tanpa sengaja” bocor.

“Kalau mereka mau bermain bersih, aku yang akan mengotori papan.”

Surya bersandar, napasnya tenang. Di kepalanya, skenario baru mulai tersusun rapi. Kali ini, ia tidak akan menyerang langsung, ia akan membuat orang lain melakukannya untuknya.

Surya pulang ke rumah dinasnya, ia mengetuk layar ponselnya sekali lagi, lalu meletakkannya terbalik di atas meja. Matanya mengarah ke luar jendela, seolah desa itu papan catur yang sudah ia hafal setiap kotaknya.

Ia tahu betul siapa saja yang mudah digerakkan, siapa saja yang punya hutang budi padanya. Siapa yang cukup miskin untuk takut kehilangan bantuan, dan siapa yang paling cepat menyebarkan cerita tanpa perlu diminta dua kali.

“Laki-laki selalu punya kelemahan,” gumamnya. “Dan perempuan… selalu jadi celahnya.”

Ia berbalik, melangkah ke meja kerja. Laci dibuka, di dalamnya ada beberapa berkas tersimpan rapi. laporan bantuan tani, proposal yang pernah direvisi diam-diam, tanda tangan yang sedikit dimajukan tanggalnya. Tak ada yang benar-benar bersih di desa ini, dan Surya selalu memastikan jika kotorannya tak pernah menempel di tangannya sendiri.

“Wanita itu tak paham jika berdiri tanpa perlindungan hanya akan membuatnya jadi sasaran empuk. Apalagi sekarang, ketika dia terlihat dekat dengan orang luar. Tak perlu bukti, cukup dugaan.“ Surya tersenyum kecil.

Manajer proyek dan perempuan janda, akan jadi berita yang menghebohkan. Apalagi secara hukum, Lastri belum resmi bercerai darinya. Prosesnya masih berjalan di pengadilan agama dan putusan belum keluar.

Bagi Surya, fakta itu jelas. Lastri belum sepenuhnya lepas darinya. Dia akan menempatkan Lastri bukan sebagai korban, melainkan sebagai tersangka yang tak pernah diberi kesempatan membela diri.

Namun saat hendak menutup laci, tangan Surya berhenti. Bayangan wajah Lastri melintas sekilas, saat di balai desa tatapan wanita itu begitu tenang. Cara Lastri berdiri tanpa menunduk, tanpa memohon, dan tanpa gentar. Ada sesuatu di sana yang membuat rahangnya mengeras.

Kenapa dia semakin terlihat berani?

Surya menutup laci dengan bunyi pelan, terlalu pelan untuk disebut marah. Ia menarik napas panjang, menegakkan bahu. Retakan kecil itu tak boleh melebar.

“Tenang, aku sudah sering menghadapi hal-hal yang lebih besar dari ini.”

Ponselnya bergetar, satu pesan masuk. Tanda bahwa instruksi pertamanya mulai bergerak. Surya menatap layar itu beberapa detik, lalu tersenyum dingin.

“Sebentar lagi, Kita lihat. Siapa yang benar-benar punya kuasa di desa ini?!”

Sore itu, kabar bergerak lebih cepat dari angin sawah.

Beberapa warga mulai berbisik, ada yang bilang Lastri sering ke rumah Malvin. Ada yang menambahkan bumbu, Lastri sering datang sore dan pulang larut malam. Tak ada yang melihat jelas, tapi cerita sudah lebih dulu membesar. Seperti yang Surya inginkan.

Selesai magriban, Lastri berjalan menyusuri jalan desa sambil membawa rantang. Isinya sederhana—sayur asem, ikan goreng, dan sambal terasi. Ia berhenti di sebuah rumah sederhana yang baru disewa Malvin, alamat yang dikirim lelaki itu tadi siang. Lampu teras rumah itu menyala terang.

Lastri mengetuk pelan.

“Assalamualaikum, Pak Malvin?”

Tak menunggu lama pintu terbuka, tapi bukan hanya ada Malvin yang di dalam. Di ruang tamu, duduk Denis, dua staf lapangan, dan Pak RT. Di sudut lain, ada Bu Yani. Tetangga depan rumah sekaligus pemilik rumah yang disewakan pada Malvin, wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu tengah mengaduk kopi di cangkirnya.

“Oh mangga, silakan masuk Bu Kades—eh, punten… Neng Lastri,” sapa Bu Yani ramah. Wanita itu salah satu warga desa yang dikenal berkecukupan, dan sejak dulu jarang berurusan dengan Surya.

Lastri sempat terdiam, lalu tersenyum kecil. “Wah, ramai juga. Alhamdulillah...”

Malvin menepuk kursi di sampingnya. “Duduk di sini.”

Lastri berjalan masuk, dan pintu tertutup. Tapi belum sempat ia meletakkan rantangnya di meja, suara gaduh terdengar dari luar. Beberapa warga datang beriringan dengan wajah tegang, dan terlihat emosi.

“Lastri! Keluar kamu!” panggil salah satu warga.

Pintu terbuka lebar, cahaya dari dalam rumah menyorot wajah-wajah yang datang dengan niat menggerebek.

Hening.

Yang mereka lihat bukan dua orang yang sedang berduaan, tapi yang mereka lihat adalah ruang tamu yang ramai.

Pak RT sontak berdiri. “Ada apa ini, Kang? Datang rame-rame begini.”

Seorang warga menggaruk tengkuknya, ragu-ragu sebelum bicara. “Ehm… kami dengar kabar. Katanya ada hal yang tidak pantas di rumah ini. Lastri sering datang ke sini, bahkan sampai malam.”

Malvin menatap mereka tenang. “Kalian keliru, saya baru saja pindah. Lastri baru pertama kali datang ke sini, dan itu pun tidak berdua dengan saya. Ada Pak RT, ada Bu Yani... pemilik rumah yang saya sewa. Selain itu, ada beberapa staf lapangan yang akan ikut bekerja bersama saya dan Lastri. Mereka akan terlibat langsung dalam pengembangan proyek, dan hari ini kami ingin mulai membicarakan rencana kerjanya.”

Tak seorang pun langsung menjawab, keterkejutan dan rasa malu membuat mereka terdiam.

“Aduh... punten pisan, Neng Lastri. Kami kebawa omongan, padahal teu ningali sorangan. (Padahal nggak lihat sendiri).“

Satu per satu, kepala menunduk. “Iya, Neng… hampura,” sahut yang lain.

Surya berdiri kaku di tengah kegelapan, tidak jauh dari rumah itu. Semua rencananya runtuh sebelum sempat dijalankan. Tak ada skandal yang bisa ia gunakan, tak ada cerita yang dapat menyeret nama Lastri maupun Malvin.

Malvin bicara lagi, tatapan matanya tajam. “Kalau ada kekhawatiran silahkan sampaikan dengan cara baik, jangan menghakimi lebih dulu seperti ini.”

Pak RT mengangguk tegas. “Benar seperti yang Pak Malvin sampaikan, Lastri memang baru sekali datang ke sini. Jadi jangan ada lagi yang menyebarkan fitnah seperti ini.“

Warga pun akhirnya bubar dengan langkah canggung. Beberapa sempat menoleh ke Lastri, lalu kembali menunduk. Surya sendiri sudah berbalik pergi, rahangnya mengeras karena skenarionya gagal total.

Di dalam rumah, Lastri menghembuskan napas pelan. “Terima kasih… sudah mengantisipasi.”

Malvin mengangguk. “Di tempat seperti ini, kebenaran harus ada saksinya.”

Lastri tersenyum tipis, rasa lega merambat pelan. Ia memahami satu hal penting lagi tentang Malvin, lelaki itu adalah sosok yang bisa dipercaya.

1
Nie
mantap,keren Lastri..kamu memang perempuan hebat yg pantas mendampingi Malvin
anita
sinta biar di nikahi denis
Tiara Bella
mantap akhirnya ngaku dan langsung ditangkap polisi.....
Tiara Bella
viralin aja Lastri pak hadi biar kapok dia
Fia Ayu
Up lagi kak re,,,, 😁
Rere💫: Eh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
tambah ga sabar aja aku nunggu kelanjutannya Thor semangat ya nulis 💪🙏
vj'z tri
ow ow ow tanggung jawab Thor cerita nya seruuuu up nya double double hayoooo 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Kelen si bapake
Evi Lusiana
lah anak manja msuk desa,justru kau tk sebanding dgn wanita setangguh lastri
Astrid valleria.s.
woww makin seru ya thor...semangat thor..sambil ngopi dulu☕️
panjul man09
lastri tidak boleh tinggal terpisah dgn malvin ,bisa culik sama orang pak hadi dan surya
panjul man09
sejauh ini , ceritanya sangat menarik apalagi di awal2 , ringan tdk banyak konflik. tata bahasanya lumayan , harus sesuai kehidupan di desa ..
panjul man09
thor , suruh pulang kekota itu si fahira , terlalu banyak pemeran bikin pusing saja
juwita
kades sm angota DPR sm" bejat saling menutupi kebohongan mrk.
Tiara Bella
ceritanya bagus aku suka....
Tiara Bella
langsung tangkap aja tuh Hadi sama aja sm Surya kelakuannya....11 12....
Aidil Kenzie Zie
wah-wah ternyata banyak rahasia si Surya
Tiara Bella
sombong sh fahiranya jd disasarin jalannya wkwkwkkw....
Fia Ayu
Kaga usah di jodohin pak,, mereka emang dah jodoh😁
Shee_👚
semangat lastri kamu bisa, jangan jadi wanita lemah yang selalu diem walai di tindas, saat nya kamu buktikan bahwa wanita juga mampu berdiri di kaki sendiri dan bisa maju bersanding dengan laki-laki💪💪💪🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!