NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Hantu dari Utara

Kilas Balik: 5 Tahun Lalu. Lembah Kematian. Perbatasan Negara Arvanta – Kekaisaran Vostok.

Langit berwarna abu-abu pekat, tertutup asap mesiu dan debu ledakan. Hujan darah membasahi tanah berlumpur yang dipenuhi ribuan mayat prajurit dari kedua belah pihak.

Ini adalah hari terakhir dari "Perang 100 Hari", konflik paling brutal dalam sejarah modern antara Negara Arvanta melawan tetangga raksasanya, Kekaisaran Vostok.

Di tengah ladang pembantaian itu, dua sosok berdiri berhadapan.

Di satu sisi, berdiri Jenderal Besar Dragos. Panglima Tertinggi Vostok. Pria setinggi dua meter yang dijuluki "Beruang Besi". Ia mengenakan baju zirah tempur titanium tebal dan memegang pedang besar dua tangan yang beratnya hampir 50 kilogram. Di kakinya, tergeletak mayat lima jenderal Arvanta yang gagal menghentikannya.

Di sisi lain, berdiri Zero.

Saat itu Jay masih muda, seragam tempurnya robek di mana-mana, memperlihatkan tubuh yang penuh luka sayatan. Ia tidak membawa senapan serbu. Pelurunya sudah habis berjam-jam yang lalu.

Di tangan kanannya, ia hanya memegang sebilah Katana Taktis berwarna hitam pekat pedang rampasan dari seorang perwira musuh.

"Menyerahlah, Bocah!" suara Dragos menggelegar seperti guntur. "Pasukanmu sudah habis! Arvanta sudah kalah! Berlututlah di hadapan Kekaisaran Vostok, dan aku akan memberikanmu kematian yang cepat!"

Zero tidak menjawab. Ia hanya menyeka darah yang menutupi mata kirinya. Napasnya teratur, tenang, seolah ia sedang bermeditasi, bukan menghadapi kematian.

"Kau membunuh lima seniorku hari ini, Dragos," kata Zero pelan. Suaranya dingin, menembus kebisingan perang. "Itu artinya aku harus memotong lehermu lima kali lebih dalam."

"SOMBONG!"

Dragos menerjang maju. Tanah bergetar di setiap langkahnya. Ia mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal, sebuah tebasan yang bisa membelah tank baja menjadi dua.

WOOSH!

Zero tidak menangkis. Menangkis serangan seberat itu dengan katana kecil sama saja bunuh diri.

Sebaliknya, Zero meluncur ke depan, menjatuhkan tubuhnya hingga hampir menyentuh lumpur, melewati bagian bawah ayunan pedang Dragos.

Sreeet!

Katana Zero menyayat paha dalam Dragos, tepat di celah baju zirah.

"AARGH!" Dragos meraung, tapi ia tidak jatuh. Ia memutar tubuhnya, menghantamkan gagang pedangnya ke wajah Zero.

Zero terpental mundur, darah segar muncrat dari hidungnya.

"Kuat juga kau," gumam Zero, meludah darah. "Tapi terlalu lambat."

Duel itu berlanjut selama sepuluh menit yang terasa seperti selamanya. Denting baja beradu menciptakan percikan api di tengah hujan.

Dragos mengandalkan kekuatan murni. Setiap serangannya menghancurkan tanah. Zero mengandalkan kecepatan dan presisi bedah. Ia menari di antara kematian, memberikan luka-luka kecil yang fatal.

Hingga akhirnya, momen itu tiba.

Dragos, yang mulai kelelahan dan kehilangan banyak darah, melakukan serangan putus asa. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk membelah kepala Zero.

"MATI KAU!"

Saat pedang itu turun, Zero tidak menghindar. Ia melangkah masuk ke dalam jangkauan serangan. Ia menahan bilah pedang raksasa itu dengan bahu kirinya membiarkan baju zirahnya hancur dan tulang selangkanya patah demi mendapatkan jarak tembak.

"Skakmat," bisik Zero di telinga Dragos.

Dengan tangan kanan yang bebas, Zero menusukkan katananya menembus celah helm di leher Dragos.

JLEB.

Hening.

Pedang raksasa Dragos jatuh dari tangannya. Tubuh raksasa itu kaku, lalu ambruk ke tanah dengan dentuman keras.

Panglima Tertinggi Vostok tewas.

Ribuan pasukan Vostok yang tersisa, melihat "Dewa Perang" mereka tewas di tangan seorang prajurit tak dikenal, kehilangan semangat tempur seketika. Mereka menjatuhkan senjata dan menyerah.

Hari itu, nama "Panglima Zero" lahir. Sebuah nama yang ditulis dengan darah para Jenderal Vostok.

Masa Kini. Istana Musim Dingin. Ibu Kota Kekaisaran Vostok.

Di dalam bunker komando yang dingin, seorang pria muda dengan seragam Jenderal penuh medali sedang menatap sebuah foto tua yang buram. Foto itu diambil oleh drone pengintai lima tahun lalu, memperlihatkan sosok Zero yang berdiri di atas mayat Jenderal Dragos.

Pria muda itu adalah Ivan Dragos. Putra kandung Jenderal Besar Dragos. Pewaris dendam sang ayah.

"Lapor, Jenderal Ivan," seorang perwira intelijen masuk dengan tergesa-gesa.

"Katakan," jawab Ivan dingin.

"Desas-desus itu terkonfirmasi. Agen kami di pasar gelap informasi 'Vanko's Timepiece' berhasil menyadap komunikasi terenkripsi. Panglima Zero... dia tidak mati seperti propaganda Arvanta. Dia pensiun."

Mata Ivan berkilat. "Pensiun?"

"Ya, Tuan. Dia bersembunyi di Kota Langit Biru, menyamar sebagai warga sipil. Dia menggunakan nama 'Jay Ares'."

Ivan meremas foto di tangannya hingga hancur. Lima tahun ia hidup dalam bayang-bayang kegagalan ayahnya. Lima tahun ia berlatih setiap hari, bersumpah untuk membalaskan dendam Kekaisaran dan memulihkan kehormatan nama Dragos.

"Dewa Perang Arvanta... ternyata sekarang menjadi tikus kota," desis Ivan.

Ivan berjalan ke dinding yang memajang pedang besar milik ayahnya yang retak benda pusaka yang dikirim balik oleh Zero sebagai tanda penghormatan.

Ivan mengambil pedang itu.

"Siapkan Unit Serigala Merah (Red Wolves Spetsnaz)," perintah Ivan.

"Tapi Jenderal, mengirim pasukan khusus ke wilayah kedaulatan Arvanta adalah deklarasi perang. Presiden tidak akan setuju," bantah perwira itu.

"Siapa bilang kita akan memakai seragam Vostok?" Ivan tersenyum kejam. "Kita akan masuk sebagai turis. Kita akan masuk sebagai hantu. Dan kita tidak akan pulang sebelum kepala Jay Ares tergantung di gerbang istana ini."

"Berapa orang yang harus disiapkan?"

"Semuanya. Zero membantai dua belas jenderal kita sendirian. Jangan remehkan dia hanya karena dia sudah pensiun. Singa tua tetaplah singa."

Kota Langit Biru. Apartemen Jay. Malam Hari.

Jay sedang duduk di ruang tamu, membersihkan sebuah belati tempur tua dengan kain flanel. Itu bukan senjata biasa. Itu adalah potongan dari Katana Taktis yang patah saat ia membunuh Dragos dulu. Ia menyimpannya sebagai pengingat.

Angeline sudah tidur lelap di kamar.

Tiba-tiba, bekas luka panjang di bahu kiri Jay bekas tebasan pedang Dragos terasa nyeri. Berdenyut sakit.

Ini bukan masalah medis. Ini adalah insting.

Setiap kali musuh lamanya mendekat, luka ini selalu bereaksi.

Jay meletakkan belati itu. Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah utara. Langit malam terlihat gelap dan berat.

"Keluarga Ares dari Barat... Keluarga Arkady dari Dalam... dan sekarang, Vostok dari Utara," gumam Jay pelan.

Ponsel khususnya berbunyi. Pesan dari Ghost.

[Ghost: Komandan, radar militer mendeteksi pergerakan pesawat kargo tak dikenal melintasi perbatasan udara utara. Terbang rendah di bawah radar. Tidak ada rencana penerbangan. Sinyalnya mengarah ke sini.]

Jay tersenyum miris.

"Kau tidak sabaran sekali, Ivan Dragos," bisik Jay pada angin malam.

Jay mengambil secarik kertas, menuliskan tiga nama musuhnya, lalu membakar kertas itu di asbak.

Situasi kini berubah menjadi Perang Tiga Faksi.

Jay sendirian. Di belakangnya ada Angeline yang harus dilindungi. Di depannya, tiga gelombang tsunami kematian sedang menuju ke satu titik kumpul: Kepala Jay Ares.

"Baiklah," mata Jay berubah menjadi mata pembunuh yang sama seperti lima tahun lalu di Lembah Kematian. "Jika kalian semua ingin reuni... akan kupastikan pestanya meriah."

Jay mengambil earpiecenya.

"Leon, Echo, Whiskey, Ghost. Siaga Satu."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!