Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Fakta menantu idaman
Kevandra yang mendengar gumaman Almaira terkejut. mendadak tubuhnya menegang saat ibunya sendiri mengucapkan nama itu.
"Ada apa dengan Salsa, Ma?" tanya Kevandra dengan tatapan penuh selidik, Apa semua ini ada hubungannya dengan Salsa? pikir Kevandra.
Almaira beralih menatap Kevandra. "Di mana Salsa? Kenapa dia tidak ikut menemani kamu di sini?" tanya Almaira dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Kevandra terdiam untuk beberapa saat. Apa yang harus ia katakan tentang Salsa?
Sebelum menjawab pertanyaan Almaira pandangannya beralih menatap sang Dokter.
"Dokter! apa selain masalah itu, apakah ada gangguan lain terhadap kesehatan Mama Saya?" tanya Kevandra mencoba mengalihkan perhatian Almaira.
"Tidak, Tuan! Sesuai apa yang saya jelaskan tadi, ini hanya bersipat sementara dan setelah saya memeriksanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nyonya Almaira baik-baik saja." jelas sang Dokter. "Kalau begitu saya pamit dulu Tuan, Nyonya." lanjut sang Dokter bergegas keluar dari ruangan itu. Kevandra hanya memberi anggukan singkat.
Setelah kepergian Dokter. Almaira kembali bersuara. "Kevan! Apa yang kamu sembunyikan dari Mama." lirih Almaira, saat melihat gelagat aneh Kevandra yang tidak bisa berbohong.
"Tidak ada apa-apa, Ma! Sebaiknya Mama istirahat, Mama baru saja siuman." ucap Kevandra, dengan cepat ia meraih tangan Almaira. Dan berusaha menormalkan ekspresinya.
"Jika tidak apa-apa, lalu kemana Salsa, kenapa tidak bersama kamu Kevan?" tanya Almaira dengan nada menuntut, Almaira melihat Kevandra yang semakin gusar membuat kecurigaannya semakin menjadi-jadi.
Kevandra mengepalkan tangannya erat-erat, saat mengingat Salsa dan Raka, ia tidak bisa mengatakan bahwa menantu idaman ibunya ternya berselingkuh.
Tepat setelah Kevandra hendak membuka mulut tiba-tiba ada sebuah siaran langsung di televisi. yang ada di ruangan VIP itu— membuat Almaira syok, saat melihat menantu kesayangannya sedang di hotel bersama pria lain, dan di sana ada Kevandra yang sedang menahan amarah. Almaira membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Lalu ia menatap Kevandra yang menundukkan kepalanya.
"Apa-apaan semua ini?!" geram Almaira, air matanya lolos begitu saja saat melihat putranya dikhianati oleh istrinya sendiri.
Tiba-tiba suara Almaira tercekat, seketika dadanya merasakan sakit. Kevandra yang melihat tubuh Almaira gemetar langsung menghampiri Almaira, sebelum itu ia langsung mengambil remote televisi yang berada di atas nakas dan menekan tombol off untuk mematikan tayangan itu.
"Ma! tenang, Ma!" ucap Kevandra lembut, Kevandra meraih gelas yang berisi air di atas nakas lalu memberikannya untuk Almaira, pelan-pelan Kevandra membantu ibunya untuk minum sedikit demi sedikit.
"Mama tidak boleh memikirkan yang berat-berat, Mama baru saja siuman, dan harus istirahat Ma!" ujar Kevandra dengan nada lembut, ia mencoba menormalkan kembali ekspresinya, rahang yang mengeras tiba-tiba melembut di hadapan Almaira.
Tiba-tiba Almaira memeluk putranya dengan erat tubuhnya gemetar hebat, mendapatkan kenyataan wanita yang di pilihkannya ternyata tidak lebih dari seorang jalang.
"Maafkan Mama, Kevan!" suara Almaira yang terisak di pelukan Kevandra.
Kevandra membalas pelukan ibunya tidak kalah erat. "Mama tidak perlu minta maaf, semua ini bukan salah Mama!"
"Sebaiknya kamu secepatnya urus perceraian kalian, Kevan. Mama tidak sudi melihat wanita itu lagi di keluarga kita."
"Kevan, sedang mengurusnya Ma."
Sementara saat ini, di tempat lain Raka baru saja tiba di apartemen yang ia tinggali dengan Liora.
Langkah kakinya terasa kaku saat melangkah menyusuri koridor.
Dari kejauhan ia melihat tumpukan baju dan barang-barangnya yang berada di depan pintu, ternyata Liora benar-benar mengusirnya, dia tidak main-main dengan apa yang dia katakan, kini dirinya di usir dari apartemen ini.
Raka mengambil barang-barang miliknya dengan kasar, Bugh! Bugh! suara Raka meninju tembok apartemen, meluapkan kemarahannya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. ia melihat buku-buku jarinya berdarah tapi Raka menghiraukan itu.
"Bodoh! kenapa aku harus terbuai dengan rayuan Salsa." umpat Raka dengan kesal ia menendang sisa-sisa barangnya.
Ia melangkah kembali dan membereskan barang-barangnya, tidak ada cara lain selain ia harus kembali ke rumahnya.
Raka bersiap untuk kembali ke rumahnya, ia bergegas keluar dari apartemen dengan tertatih-tatih.
Jika Raka sedang gusar entah apa yang harus dia lakukan. Di tempat lain Salsa masih terduduk di pojokan bau apek dan debu-debu membuat napasnya terasa sesak.
Traumanya akan masa kecil terus berputar-putar.
"Sudah aku bilang, aku tidak ingin bercerai Bisma." teriak Andini mengema di kepala Salsa.
"Aku sudah tidak mencintaimu Andini!" teriakan Bisma semakin membuat kepala Salsa berputar-putar. Ia meringis memegang kepalanya sambil meringkuk di pojok ruangan.
"Jangan bertengkar, jangan lakukan itu." gumam lirih Salsa dengan mengerang memegang kepalanya. "Aku benci kehidupanku yang tidak seberuntung sahabatku, aku benci kehidupannya aku ingin hidupnya seperti kehidupanku." ucap Salsa yang selalu merapalkan kata-kata itu di dalam pikiran dan hatinya. Saat trauma itu datang.
Tiba-tiba suara langkah kaki menggema.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara itu memecah keheningan di ruangan tersebut, Salsa masih terduduk di pojokan dengan memegang kedua lututnya, sambil terus bergumam.
Ia mengabaikan kehadiran seseorang yang kini tersenyum miring melihat keadaannya. "Lihatlah dirimu, Salsa. sangat menyedihkan sekali." sebuah suara masuk ke dalam pendengarannya, seketika memaksanya untuk sadar dari kilasan masa lalu yang menghantuinya.
Salsa tersentak, lalu ia perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap wanita itu— Siska ibu tirinya kini berdiri di hadapannya.
Siska berjongkok di hadapan Salsa, ia mengangkat kedua tangannya seketika mengusap air mata Salsa. Salsa merasakan usapan lembut itu. "Kenapa kamu menangis? meratapi kegagalanmu karena tidak bisa menghancurkan kebahagian sahabatmu? Atau menyesal karena Kevandra menceraikanmu?" tanya Siska dengan nada mengejek.
"Aku... aku tidak tau kenapa aku melakukannya." adu Salsa dengan lirih.
"Ingat Salsa siapa yang membuatmu seperti ini? Ibumu meninggalkanmu, Ayahmu membencinya karena dia berselingkuh."
Salsa terdiam. Ingatan-ingatan itu mulai muncul kembali membuatnya mengerang, ia memeluk lututnya erat-erat.
"Hanya aku yang ada untukmu, aku yang ada di saat kamu di tinggalkan ibumu." bisik Siska tepat di samping telinga Salsa.
"Ingat Salsa, Liora tidak pernah tau rasanya dibuang, dia hidup bahagia bersama keluarganya, di sayangi ibunya, di cintai ayahnya, dan bahkan dia sangat di lindungi kakak laki-lakinya. Sedangkan kamu? kamu tidak memiliki satupun hal itu, bahkan untuk mendapatkan perhatian ayahmu. Kamu harus mengemisnya, Salsa. Jadi jangan berhenti sekarang. Pastikan Liora merasakan apa yang kamu rasakan! bukankah sahabat harus berbagi segalanya." lanjut Siska, dengan nada lembut penuh dengan tipu muslihat.
Salsa menatap mata ibu tirinya rasa iri dan dendam yang semula hilang kini kembali membakar hati dan logikanya.
"Aku... aku tidak akan membiarkannya hidup bahagia." bisik Salsa, kini tatapan matanya mulai kembali dengan penuh rasa iri dan obsesi akan kehidupan sahabatnya sendiri.