Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22: Trauma Bersama
Malam setelah penyelamatan, Arsen membawa Aluna langsung ke rumah sakit pribadi yang ia kenal tempat di mana tidak akan ada pertanyaan diajukan, tidak ada laporan polisi dibuat.
Aluna diperiksa oleh dokter sementara Arsen menunggu di luar dengan tubuh yang tidak berhenti gemetar. Tangannya yang sudah dibersihkan dari darah Darren tetapi masih berbalut perban tebal tidak bisa diam. Ia terus mengepalkan dan membukanya, seolah masih merasakan sensasi memukul wajah Darren.
"Tuan Arsen," panggil dokter yang keluar dari ruang periksa. "Nona Aluna baik-baik secara fisik. Beberapa luka lecet di pergelangan tangan dan kaki akibat ikatan, bibir yang robek, dan dehidrasi ringan. Saya sudah memberikan obat penghilang rasa sakit dan vitamin. Tetapi..."
Dokter itu terdiam, ekspresinya khawatir.
"Tetapi apa?" tanya Arsen cepat, tubuhnya menegang.
"Secara psikologis... beliau mengalami shock. Ini normal untuk korban penculikan. Beliau butuh waktu untuk pulih. Dan mungkin..." dokter itu menatap Arsen dengan tatapan yang hati-hati, "beliau butuh konseling psikologis."
Arsen mengangguk cepat.
"Apa pun. Apa pun yang dia butuhkan."
Ia masuk ke ruang periksa dan menemukan Aluna duduk di tepi ranjang medis, menatap kosong ke lantai. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang berantakan, matanya yang biasanya cerah sekarang redup, dan tubuhnya... tubuhnya gemetar meski ruangan itu tidak dingin.
"Aluna," panggil Arsen pelan sambil melangkah mendekat dengan hati-hati seolah Aluna adalah kaca yang akan pecah jika ia bergerak terlalu cepat.
Aluna mengangkat kepalanya, menatap Arsen dengan mata yang kosong.
"Apa kita bisa pulang?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik.
"Tentu," jawab Arsen sambil melepas jasnya dan menyelimutkan nya pada bahu Aluna yang gemetar. "Kita pulang sekarang."
Di mansion, Bu Sinta sudah menyiapkan kamar dengan air hangat untuk mandi, pakaian bersih, dan teh chamomile yang menenangkan. Tetapi Aluna tidak menyentuh apa pun.
Ia hanya duduk di tepi tempat tidur tempat tidur di kamar yang biasa mereka bagi menatap tangannya sendiri dengan tatapan kosong.
Arsen berlutut di depannya, tangannya yang berbalut perban menyentuh lutut Aluna dengan lembut.
"Aluna, sayang. Kamu harus mandi. Kamu harus..."
"Saya tidak bisa," bisik Aluna tiba-tiba. "Saya tidak bisa sendirian. Saya... saya takut."
Jantung Arsen tercekat mendengar ketakutan dalam suara Aluna.
"Aku akan di sini," ucapnya cepat. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menunggu tepat di luar pintu kamar mandi..."
"Tidak," potong Aluna sambil akhirnya menatap Arsen. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Jangan tinggalkan saya. Bahkan hanya di luar pintu. Saya... saya tidak bisa."
Arsen menatap Aluna dengan tatapan yang dipenuhi rasa sakit.
"Oke," bisiknya sambil mengusap air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya. "Oke. Aku akan bersamamu. Aku tidak akan pergi."
Ia membantu Aluna berdiri dan membawanya ke kamar mandi. Air hangat sudah mengisi bathtub besar dengan aroma lavender yang menenangkan.
Dengan gerakan yang sangat lembut lebih lembut dari yang pernah ia lakukan Arsen membantu Aluna melepas pakaiannya yang kotor. Matanya tidak menatap dengan nafsu. Hanya dengan... kepedulian. Dengan rasa sakit melihat luka-luka di tubuh Aluna.
Aluna masuk ke dalam bathtub, dan saat air hangat menyentuh kulitnya, ia akhirnya benar-benar menangis tangis yang keras, yang lepas, yang sudah ia tahan sejak penculikan.
Arsen duduk di lantai di samping bathtub, tangannya memegang tangan Aluna yang basah, membiarkan Aluna menangis sepuasnya.
"Saya sangat takut," isak Aluna di antara tangisannya. "Saya pikir saya tidak akan pernah melihat Anda lagi. Saya pikir saya akan..."
"Ssshh," Arsen memotong dengan lembut sambil tangannya yang bebas mengelus rambut Aluna. "Kamu aman sekarang. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Tidak pernah."
"Tetapi saya melihat Anda..." Aluna menatap Arsen dengan mata yang penuh air mata. "Saya melihat apa yang Anda lakukan pada Darren. Darah di tangan Anda. Tatapan di mata Anda. Anda... Anda seperti orang yang berbeda."
Arsen menutup matanya, rasa sakit yang dalam mengalir di wajahnya.
"Aku tahu," bisiknya dengan suara serak. "Aku tahu aku menakuti mu. Aku tahu kamu melihat monster yang sebenarnya. Dan aku... aku tidak bisa meminta maaf untuk itu. Karena jika aku harus melakukannya lagi untuk menyelamatkanmu, aku akan melakukannya tanpa ragu."
Ia membuka matanya, menatap Aluna dengan tatapan yang intens.
"Aku akan menjadi monster untuk mu, Aluna. Aku akan membunuh untuk mu. Aku akan menghancurkan dunia untuk mu. Karena kamu... kamu adalah satu-satunya hal yang membuat hidupku masih berarti."
Aluna menatapnya lama, lalu tangannya yang basah terangkat, menyentuh pipi Arsen.
"Saya tahu," bisiknya. "Dan itu yang menakutkan. Bukan karena saya takut pada Anda. Tetapi karena saya tahu... saya akan melakukan hal yang sama untuk Anda."
Arsen tersentak mendengar pengakuan itu.
"Saat Darren menculik saya," lanjut Aluna dengan suara gemetar, "yang saya pikirkan bukan 'bagaimana saya bisa kabur.' Yang saya pikirkan adalah 'bagaimana jika Arsen terluka saat mencoba menyelamatkan saya?' Saya lebih takut Anda terluka daripada takut untuk diri saya sendiri."
Air mata terus mengalir di pipinya.
"Dan saat itu saya menyadari... saya sudah terlalu dalam. Saya sudah bergantung pada Anda dengan cara yang tidak sehat. Saya... saya tidak bisa hidup tanpa Anda lagi."
Arsen menarik napas gemetar, lalu tanpa berpikir, ia menarik Aluna ke dalam pelukannya tidak peduli bajunya basah karena air, tidak peduli apa pun. Ia hanya butuh memeluk Aluna, merasakan kehangatan tubuhnya, memastikan ia nyata.
"Maka kita sama," bisiknya di rambut Aluna. "Kita berdua rusak. Kita berdua bergantung satu sama lain dengan cara yang salah. Tetapi aku tidak peduli. Selama aku bisa memilikimu, selama kamu bersamaku... aku tidak peduli betapa rusak kita."
Mereka berpelukan lama di kamar mandi itu Aluna yang basah dalam bathtub, Arsen yang berlutut di lantai dengan baju yang basah dua jiwa yang trauma, yang bergantung, yang... tidak bisa hidup tanpa satu sama lain lagi.
Malam itu, setelah Aluna mandi dan berganti pakaian bersih, mereka berbaring di tempat tidur. Tetapi tidak seperti biasanya di mana Arsen memeluk Aluna dari belakang kali ini Aluna yang memeluk Arsen.
Ia menenggelamkan wajahnya di dada Arsen, tangannya mencengkeram kemeja tidur Arsen dengan erat, dan tubuhnya gemetar sesekali sisa dari shock yang ia alami.
"Jangan tinggalkan saya," bisiknya di dada Arsen. "Bahkan untuk pergi ke kamar mandi. Bahkan untuk sedetik. Kumohon."
Arsen merasakan dadanya sesak mendengar ketergantungan dalam suara Aluna. Ini bukan lagi tentang cinta yang sehat. Ini tentang trauma. Tentang ketakutan kehilangan yang begitu dalam hingga tidak bisa bernapas tanpa kehadiran satu sama lain.
Tetapi Arsen tidak peduli. Ia bahkan merasa... lega. Karena sekarang Aluna membutuhkannya dengan cara yang sama seperti ia membutuhkan Aluna.
"Aku tidak akan kemana-mana," janjinya sambil tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut. "Aku akan di sini. Selalu. Selamanya."
"Janji?" bisik Aluna.
"Janji," jawab Arsen sambil mencium puncak kepala Aluna. "Dengan jiwaku."
Hari-hari berikutnya menjadi siklus yang tidak sehat tetapi mereka tidak bisa lepas darinya.
Arsen tidak pergi ke kantor. Ia bekerja dari rumah, laptopnya di meja kerja di kamar mereka, sementara Aluna duduk di sofa tidak jauh dari sana tidak melakukan apa-apa, hanya menatap Arsen, memastikan ia masih ada.
Setiap kali Arsen harus ke toilet, Aluna menunggu tepat di luar pintu tangannya menyentuh pintu, memastikan Arsen masih di sana.
Setiap kali Aluna harus mandi, Arsen duduk di lantai kamar mandi tidak melihat, hanya... ada. Karena Aluna tidak bisa sendirian bahkan untuk lima menit.
Mereka makan bersama, tidur bersama, bahkan bernapas seolah sinkron.
Bu Sinta yang melihat ini menjadi khawatir. Ia mencoba mengajak Aluna jalan-jalan ke taman, tetapi Aluna menolak.
"Saya tidak bisa meninggalkan Arsen," ucap Aluna dengan mata yang kosong. "Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya saat saya tidak ada?"
"Nona, Tuan Arsen akan baik-baik saja..."
"TIDAK!" Aluna hampir berteriak, membuat Bu Sinta terlonjak. "Anda tidak mengerti. Darren masih di luar sana. Dia bisa... dia bisa menyakiti Arsen. Saya harus melindunginya. Saya harus..."
Arsen yang mendengar dari ruang kerja langsung keluar dan menarik Aluna ke dalam pelukannya.
"Ssshh, aku di sini," bisiknya sambil mengelus punggung Aluna yang gemetar. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku aman."
Aluna menangis di dadanya, mencengkeram kemeja Arsen dengan erat.
Bu Sinta menatap mereka dengan ekspresi sedih dan khawatir, lalu pergi dengan diam membiarkan mereka tenggelam lebih dalam dalam ketergantungan yang tidak sehat ini.
Malam kelima pasca penculikan, Aluna terbangun dari mimpi buruk dengan teriakan.
Dalam mimpinya, Darren kembali. Tetapi kali ini bukan Aluna yang diculik melainkan Arsen. Dan ia tidak bisa menyelamatkan Arsen. Ia hanya bisa melihat saat Darren... membunuh Arsen di depan matanya.
"ARSEN!" teriaknya sambil terbangun dengan napas tersengal, air mata mengalir.
Arsen langsung bangun dan menarik Aluna ke dalam pelukannya.
"Aku di sini," ucapnya dengan cepat. "Aku di sini, sayang. Aku tidak kemana-mana."
"Anda mati," isak Aluna di dadanya. "Dalam mimpi saya, Anda mati dan saya tidak bisa menyelamatkan Anda dan saya..."
"Itu hanya mimpi," potong Arsen sambil tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut. "Aku hidup. Aku di sini. Rasakan."
Ia mengambil tangan Aluna dan meletakkannya di dadanya tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat.
"Rasakan jantungku," bisiknya. "Aku hidup. Aku bersamamu."
Aluna menangis lebih keras, tangannya mencengkeram dada Arsen seolah mencengkeram hidup itu sendiri.
"Saya tidak bisa kehilangan Anda," isaknya. "Saya sudah kehilangan segalanya. Kuliah saya, teman-teman saya, kebebasan saya. Anda adalah satu-satunya hal yang saya punya. Jika saya kehilangan Anda juga, saya... saya tidak akan selamat."
Arsen merasakan air matanya sendiri mengalir. Karena ia mengerti. Ia mengerti dengan sempurna.
"Kita sama," bisiknya sambil dahinya menyentuh dahi Aluna. "Kita berdua tidak akan selamat tanpa yang lain. Maka kita harus berjanji kita tidak akan pernah berpisah. Tidak peduli apa yang terjadi. Kita akan selalu bersama."
"Janji?" tanya Aluna dengan suara kecil seperti anak-anak.
"Janji," jawab Arsen. "Dengan hidupku."
Mereka berpelukan erat dalam kegelapan, dua jiwa yang trauma, yang bergantung, yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi tanpa menghancurkan keduanya.
Ini bukan lagi cinta yang sehat.
Ini adalah obsesi yang lahir dari trauma.
Ini adalah ketergantungan yang terbentuk dari ketakutan kehilangan.
Ini adalah ikatan yang tidak bisa diputus tidak peduli betapa rusak, betapa gelap, betapa salah.
Karena mereka sudah melewati batas. Sudah terlalu jauh untuk kembali.
Dan sekarang, mereka hanya bisa terus maju bersama, dalam kegelapan, saling berpegangan dengan putus asa.
Karena tanpa satu sama lain, mereka tidak akan selamat.
Dan mereka berdua tahu itu.
...Jangan lupa VOTE ⭐ COMMENT 💬 dan SHARE 🔄 ya!...
...OH MY GOD! 😭💔 Ini bukan lagi dark romance... ini TRAUMA BONDING yang INTENSE BANGET! Aluna dan Arsen udah nggak bisa pisah SAMA SEKALI! Bahkan ke toilet pun harus ada yang nungguin! ...
..."Saya sudah kehilangan segalanya. Anda adalah satu-satunya hal yang saya punya" - ALUNA SEKARANG BERGANTUNG TOTAL PADA ARSEN! 😱...
...Dan mimpi buruk Aluna tentang Arsen yang mati... sekarang DIA yang takut kehilangan Arsen, bukan sebaliknya lagi!...
...Ini codependency level maksimal! Mereka udah bonded through trauma dan nggak bisa hidup tanpa satu sama lain!...
...Kalian gimana nih? Sedih? Khawatir? Atau malah merasa ini romantis dengan cara yang twisted?...
...Follow untuk update part selanjutnya!...