🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 | Lutut yang Menunduk
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Angka-angka di layar raksasa itu masih menyala, memantulkan cahaya keemasan di pupil mata ku. Tiga koma lima miliar dollar. Dalam satu hari perdagangan yang gila, pria ini tidak hanya menyelamatkan warisan keluarga ku; dia telah mendefinisikan ulang apa artinya kekuasaan di Shanghai. Aku menatap punggung Satya Samantha saat dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Bund. Bahunya yang tegap, caranya berdiri yang tenang, semuanya memancarkan aura seorang penguasa yang baru saja menaklukkan sebuah benua.
"Bagaimana mungkin?" kata ku dalam hati. "Bagaimana mungkin seorang pria yang datang dengan koper butut dan kemeja murah bisa menjinakkan badai yang membuat Bank Sentral pun gemetar? Siapa kau sebenarnya, Satya? Apakah kau malaikat pelindung ku, atau iblis yang akan menelan jiwa ku?"
Aku merasakan dorongan posesif yang luar biasa membakar dada ku. Selama ini, aku adalah orang yang memegang kendali. Aku adalah orang yang memberikan perintah. Namun malam ini, melihat nya berdiri di sana, aku menyadari bahwa aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa, membiarkan pria ini berjalan keluar dari pintu Grup Dragon. Jika dia pergi, dia akan menjadi ancaman terbesar bagi dunia bisnis. Tapi jika dia tetap di sini... dia akan menjadi jantung dari segalanya.
Aku melangkah mendekat, suara tumit sepatu ku beradu dengan lantai marmer yang kini sunyi. Di sudut ruangan, Detektif Chen masih berdiri, menatap Satya dengan tatapan yang sangat ku benci: tatapan penuh rasa ingin tahu dan kekaguman yang disamarkan.
"Detektif Chen," kata ku, suara ku kembali menjadi dingin dan tajam seperti es. "Terima kasih atas kunjungan nya, tapi seperti yang Anda lihat, Tuan Satya baru saja melalui hari yang sangat melelahkan. Kami memiliki urusan internal perusahaan yang harus diselesaikan segera."
Chen menyipitkan mata, tangan nya masih memegang kartu nama emas yang diberikan Satya. "Urusan internal atau urusan pribadi, Nona Wang?"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan. "Di level kami, kedua nya seringkali tidak ada bedanya. Silakan keluar."
Setelah Chen pergi dengan langkah yang enggan, aku mendekati Satya. Dia tidak berbalik, mata nya masih menatap lampu-lampu Shanghai yang berkelap-kelip seperti berlian yang tumpah di atas beludru hitam.
"Kau merasakan nya, bukan?" tanya nya tanpa menoleh. Suara nya rendah, bergetar dengan frekuensi yang membuat kulit ku meremang. "Dunia sedang bergeser. Malam ini, banyak orang kaya yang menangis karena kehilangan segalanya. Tapi di kota ini, tangisan mereka adalah musik bagi kita."
"Satya," panggil ku lembut. Aku berdiri tepat di belakang nya. Aroma maskulin nya bercampur dengan bau kertas saham dan adrenalin. "Aku tidak akan berbasa-basi. Ayah ku ingin memberi mu cek bonus yang sangat besar, tapi aku tahu pria seperti mu tidak bisa dibeli hanya dengan uang tunai."
Satya akhirnya berbalik. Dia menatap ku dengan mata yang masih menyisakan kilatan merah mistis itu. "Lalu, apa yang ingin kau tawarkan, Meiling?"
Aku menarik napas panjang, menyingkirkan harga diri ku sebagai CEO. Aku berlutut secara mental di hadapan nya, meskipun tubuh ku tetap berdiri tegak. "Posisi Direktur Strategis Global. Akses tanpa batas ke semua anak perusahaan Grup Dragon. Pesawat pribadi, kediaman di puncak Menara Jin Mao, dan otoritas penuh untuk mengambil keputusan atas nama ku."
Satya menaikkan satu alisnya. "Itu posisi yang sangat tinggi untuk seorang sampah dari Indonesia."
"Jangan pernah menyebut diri mu begitu lagi!" aku membentak pelan, tanpa sadar melangkah maju hingga tubuh ku menempel pada dada nya. Aku mendongak, menatap nya dengan intensitas yang mengejutkan diri ku sendiri. "Kau adalah naga, Satya. Dan naga membutuhkan sarang yang layak. Aku menawarkan mu tempat ini. Tetaplah di sisi ku. Jadilah otak di balik tangan ku."
Satya tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangan nya, jari-jari nya yang panjang menyentuh leher ku, lalu perlahan naik ke pipi ku. Sentuhan nya terasa seperti api yang menjalar di bawah kulit ku. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi dominasi yang dia pancarkan.
"Jika aku menerima posisi itu," bisik Satya, wajah nya merendah hingga napas nya menerpa bibir ku. "Aku tidak hanya akan mengurus perusahaan mu, Meiling. Aku akan mengurus takdir mu. Apakah kau siap menyerahkan kendali hidup mu pada ku?"
Jantung ku berdegup sangat kencang hingga aku takut dia bisa mendengar nya. Sebagai Wang Meiling, aku seharusnya menolak. Aku seharusnya takut. Tapi sebagai seorang wanita yang baru saja melihat kekuatan Tuhan di tangan seorang pria, aku hanya menginginkan satu hal: menjadi milik nya agar dia tidak pernah menjadi milik orang lain.
"Ambil saja," bisik ku, suara ku parau. "Ambil kendali nya. Buat aku menjadi wanita paling berkuasa di Asia di samping mu, dan aku akan memberikan apa pun yang kau minta."
Tiba-tiba, pintu terbuka. Lin Xia, sang pramugari, masuk membawa sebuah amplop hitam. Dia berhenti sejenak melihat kedekatan kami, ada kilatan cemburu di mata nya yang indah, namun dia segera menunduk hormat.
"Tuan Satya," kata Lin Xia. "Laporan dari Jakarta. Mantan istri Anda, Clarissa, baru saja dinyatakan lumpuh permanen akibat kecelakaan itu. Keluarga nya bangkrut total sore ini karena kejatuhan Rupiah. Mereka... mereka mencari Anda. Mereka memohon bantuan lewat kedutaan."
Satya melepaskan tangannya dari wajah ku. Aura nya mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah-olah suhu di ruangan itu turun di bawah nol derajat. Dia berjalan ke meja kerja nya, mengambil amplop itu, dan merobek nya tanpa membaca nya.
"Beri tahu mereka," kata Satya, suaranya datar tanpa emosi. "Orang mati tidak bisa membantu pengemis. Pria yang mereka kenal sudah mati di hari perceraian itu."
Aku melihat ke arah Satya. Ada sisi gelap yang begitu dalam di sana, dan aneh nya, itu membuat ku semakin menginginkan nya. Aku mendekat lagi, melingkarkan lengan ku di pinggang nya dari belakang, mengabaikan keberadaan Lin Xia yang masih berdiri di sana. Aku menyandarkan kepala ku di punggung nya yang kokoh.
"Biarkan mereka membusuk, Satya," bisik ku posesif. "Kau tidak butuh masa lalu yang cacat. Kau punya aku sekarang. Kau punya Shanghai. Dan kau punya masa depan yang bisa kau bentuk sesuka mu."
Satya terdiam sejenak, lalu dia meletakkan tangan nya di atas tangan ku yang melingkari perut nya. Dia menggenggam tangan ku dengan kuat, sebuah tanda kepemilikan.
"Kau benar, Meiling," kata nya. Dia berbalik, menatap ku dan Lin Xia secara bergantian. "Kehidupan lama dari hidup ku sebagai sampah sudah ditutup. Sekarang, mari kita mulai kehidupan baru: Di mana dunia tidak akan hanya berlutut karena uang ku, tapi karena ketakutan mereka akan apa yang bisa kulihat."
Aku menatap nya dengan mata yang penuh dengan damba dan ambisi. Malam ini, di puncak gedung tertinggi di Shanghai, aku menyadari bahwa aku bukan lagi CEO yang dingin. Aku hanyalah seorang wanita yang telah jatuh cinta pada seorang cenayang, seorang pria misterius yang akan mengubah sejarah dunia.
Dan aku akan memastikan, siapa pun wanita yang mencoba mendekati nya, apakah itu polwan tangguh, artis papan atas, atau pramugari rendahan, mereka harus melalui ku terlebih dahulu. Karena Satya Samantha adalah orang yang ku temukan di tengah krisis, dan aku tidak akan pernah berbagi orang ku dengan siapa pun.
"Selamat datang di rumah, Direktur Satya," kata ku sambil menarik kerah jas nya, mencium bibir nya dengan tuntutan yang penuh gairah dan kepemilikan, menandai awal dari era baru di mana sang menantu sampah kini benar-benar menjadi penguasa takdir.
...----------------🍁----------------🍁----------------...