NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23: Badai di Pulau Dewata

​Ketinggian 30.000 kaki di atas permukaan laut.

​Di dalam kabin jet pribadi Gulfstream G650 milik Cakra Corp, keheningan hanya dipecahkan oleh suara ketikan di keyboard laptop.

​Kara menyesap champagne-nya sambil menatap awan putih di luar jendela. Dia melirik ke kursi seberang. Damian Cakra masih sibuk dengan laptopnya sejak take-off dari Jakarta satu jam lalu. Pria itu bahkan tidak melonggarkan dasinya sedikit pun.

​"Pak Damian," panggil Kara iseng. "Kalau Bapak ngetik lebih cepet lagi, keyboard-nya bisa keluar api lho."

​Damian berhenti mengetik. Dia menatap Kara datar di balik kacamata bacanya (yang sialnya membuat dia terlihat makin tampan).

​"Waktu adalah uang, Nona Anindita. Kita ke Bali untuk survei proyek triliunan, bukan untuk liburan."

​"Hidup itu perlu keseimbangan, Pak. Bapak punya uang triliunan tapi kalau mati muda karena stres, uangnya buat siapa?" sindir Kara santai.

​Damian menutup laptopnya pelan. "Buat istri saya nanti. Yang jelas bukan wanita yang menghabiskan waktunya mencuci baju pria pengangguran."

​Kara mendengus. "Masih aja dibahas. Mulut Bapak itu perlu diasuransiin, takut ada yang nuntut karena sakit hati."

​"Saya bicara fakta. Saya cuma penasaran, sebodoh apa laki-laki itu sampai melepaskan wanita yang... cukup berisik seperti kamu."

​Kara terdiam. Itu hinaan atau pujian?

​Uluwatu, Bali. Pukul 13.00 WITA.

​Mobil Land Rover Defender membelah jalanan tanah berbatu menuju bukit kapur di area selatan Bali. Lokasinya terpencil, liar, namun memiliki pemandangan laut lepas yang menakjubkan.

​Begitu mobil berhenti, Damian turun. Dia memakai kemeja putih yang digulung sampai siku dan celana chino. Dia melihat Kara turun dari sisi lain.

​Damian mengira Kara akan memakai heels dan mengeluh soal debu.

Tapi Kara turun mengenakan kemeja linen, celana kargo, dan sepatu boots Timberland. Rambutnya diikat praktis. Dia terlihat siap tempur.

​"Ayo," ajak Kara sambil menunjuk jalan setapak menuju mata air. "Lokasinya 500 meter masuk ke dalam hutan pandan itu."

​Damian menaikkan alis. "Kamu yakin mau jalan? Jalurnya licin."

​"Saya pernah jalan kaki 5 kilo sambil bawa belanjaan pasar demi hemat ongkos ojek, Pak. Trek begini mah piece of cake," jawab Kara sambil melangkah duluan.

​Mereka berjalan menyusuri lahan itu. Damian harus mengakui, pilihan lokasi Kara jenius. Mata air tawar itu mengalir jernih dari celah batu karang, sebuah oase di tengah tanah tandus.

​"Ini emas biru," gumam Damian, menyentuh air itu. "Kita bisa bikin konsep Eco-Wellness Resort di sini."

​"Dan akses jalannya lewat tanah Bapak. Win-win solution," tambah Kara tersenyum puas.

​Tiba-tiba, langit yang cerah berubah gelap dalam hitungan menit. Angin kencang menderu, menggoyangkan pepohonan liar di sekitar mereka.

​DUAR!

Guntur menggelegar, disusul hujan deras yang turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa.

​"Lari ke mobil!" teriak Damian.

​Mereka berlari balik ke arah jalan setapak. Tapi terlambat. Hujan terlalu deras dan tanah kapur berubah jadi lumpur licin.

​KRAK! BRUK!

Sebuah pohon akasia tua tumbang tepat sepuluh meter di depan mereka, menghalangi jalan kembali ke tempat mobil parkir.

​"Sial!" umpat Damian.

​"Di sana!" Kara menunjuk sebuah pondok kayu reot di dekat tebing, bekas gubuk petani rumput laut atau pekerja proyek lama. "Kita berteduh di sana dulu!"

​Damian tidak punya pilihan. Dia menarik tangan Kara, melindunginya agar tidak terpeleset, dan mereka berlari menuju pondok itu.

​Pondok itu sempit, berukuran 2x2 meter. Atapnya dari seng yang berisik dihantam hujan, dindingnya kayu berlubang. Tapi setidaknya kering.

​Kara dan Damian masuk dengan napas terengah-engah. Mereka basah kuyup. Kemeja putih Damian kini transparan, menempel di tubuhnya yang atletis. Rambut Kara lepek, air menetes dari ujung hidungnya.

​"Dingin banget..." Kara memeluk tubuhnya sendiri, giginya mulai gemeretuk. Angin laut bercampur hujan badai membuat suhu turun drastis.

​Damian melihat Kara menggigil. Tanpa bicara, dia melepas jas luarnya (yang basah tapi masih tebal dan hangat karena suhu tubuhnya), lalu menyampirkannya ke bahu Kara.

​"Pakai," perintah Damian singkat.

​"Bapak gimana? Kemeja Bapak basah..."

​"Saya laki-laki. Daya tahan tubuh saya lebih bagus dari kamu. Pakai aja."

​Kara mengeratkan jas itu. Aroma parfum Damian—woody dan tobacco—menguar kuat, memberinya rasa aman yang aneh.

​Mereka duduk bersisian di lantai kayu pondok, lutut mereka hampir bersentuhan karena sempitnya ruangan. Di luar, badai mengamuk. Sinyal HP mati total.

​Hening sejenak. Hanya suara napas mereka dan hujan.

​"Kenapa?" tanya Damian tiba-tiba, suaranya pelan, tidak se-sinis biasanya.

​Kara menoleh. "Apanya yang kenapa?"

​"Kamu. Putri Anindita. Lulusan luar negeri. Cantik. Kenapa kamu mau hidup susah selama tiga tahun itu? Saya sudah baca profil Rio. Dia laki-laki rata-rata. Apa yang kamu cari?"

​Kara menatap hujan di luar. Kali ini dia tidak tersinggung. Mungkin karena atmosfer hujan, atau karena tatapan Damian yang kali ini murni penasaran, bukan meremehkan.

​"Karena saya capek, Dam," jawab Kara jujur, menghilangkan embel-embel 'Pak'.

​"Sejak kecil, saya dituntut sempurna. Nilai harus A. Penampilan harus perfect. Teman harus dari kalangan elite. Semua orang mendekati saya karena nama belakang saya."

​Kara tersenyum getir. "Waktu ketemu Rio, dia nggak tau siapa saya. Dia traktir saya nasi goreng pinggir jalan pakai uang terakhirnya. Rasanya... tulus. Saya pikir, kalau saya hidup sederhana, tanpa tuntutan, tanpa harta, saya bakal nemuin kedamaian. Saya cuma pengen jadi 'Kara' aja. Bukan 'Pewaris Anindita'."

​Damian terdiam. Dia menatap profil wajah Kara dari samping.

​"Tapi saya salah," lanjut Kara. "Ternyata kemiskinan itu bukan romantis. Kemiskinan itu ujian karakter. Dan Rio gagal dalam ujian itu. Dia berubah jadi monster karena merasa insecure."

​Kara menoleh, menatap mata Damian.

​"Saya bodoh ya? Membuang tiga tahun cuma buat eksperimen sosial yang gagal."

​Damian menggeleng pelan. Dia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, hingga bahu mereka bersentuhan.

​"Nggak bodoh. Cuma... naif," koreksi Damian lembut. "Kamu mencari ketulusan di tempat yang salah. Orang miskin belum tentu tulus, orang kaya belum tentu palsu."

​Tangan Damian tergerak, secara impulsif menyeka tetesan air hujan di pipi Kara dengan ibu jarinya. Sentuhan itu hangat. Menyetrum.

​Kara terpaku. Napasnya tercekat. Dia bisa melihat bintik-bintik cokelat di mata Damian yang biasanya dingin itu.

​"Kamu pantas dapat yang lebih baik, Kara. Seseorang yang tau nilai kamu, baik saat kamu pakai gaun Versace atau saat kamu pakai daster di kontrakan."

​Jarak wajah mereka semakin dekat. Hujan di luar seolah hilang dari pendengaran Kara. Fokusnya hanya pada bibir Damian dan tatapan intens pria itu.

​Apakah Damian akan menciumnya?

Di gubuk reot ini?

​BEEP! BEEP!

​Suara HT (Handy Talky) berbunyi nyaring dari pinggang Damian. Sinyal dari supir/tim SAR lokal masuk.

​"Monitor Pak Damian! Posisi Bapak di mana? Pohon sudah kami bersihkan!"

​Momen magis itu pecah berkeping-keping.

Damian menarik tangannya, berdehem canggung. Wajahnya kembali datar, tapi telinganya merah.

​Kara buru-buru membuang muka, jantungnya berdetak secepat drum band.

​"Kita... di pondok utara," jawab Damian ke HT dengan suara serak. "Jemput sekarang."

​Saat mereka keluar dari pondok itu menuju mobil penyelamat, tidak ada yang bicara. Tapi keduanya tahu, ada sesuatu yang berubah.

Garis batas "Rekan Bisnis" itu sudah mulai kabur.

​Dan Damian Cakra, pria yang terkenal berhati es itu, baru saja merasakan leleh untuk pertama kalinya.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
falea sezi
lanjutt
Night Watcher
terasa loncat ya thor.. tau2 mamanya kabur krn malu (kenapa?), tau2 nikah gak rencana & berunding..🤭🤭💪👌
kanjooot..
Night Watcher
loo clarisa blm ketangkep polisi too?
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!