Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Tiga hari Penderitaan Pt. 2
Ruang Latihan Pribadi — Hari Ketiga, Pukul 05.00 Pagi
Arthur tidak yakin bagaimana ia masih hidup.
Dua hari terakhir terasa seperti kabut tebal yang dipenuhi rasa sakit dan koreksi tanpa henti, karena Valerine yang entah bagaimana selalu menemukan seribu satu cara baru untuk “mendidiknya”—atau lebih tepatnya, menyiksanya—atas nama pelatihan.
Jika pada hari pertama Arthur dilatih mengatur postur tubuh, cara berjalan, serta teknik dasar berpedang, maka hari kedua benar-benar menghapus anggapan bahwa hari pertama sudah cukup berat.
Latihan ketahanan yang brutal. Berlari mengenakan zirah penuh hingga napas terasa seperti bara di dada. Bertarung melawan boneka sihir yang dikendalikan langsung oleh Valerine. Menahan posisi plank sementara Valerine duduk santai di punggungnya—membaca buku. Ia benar-benar membaca buku dan menjadikan Arthur sebagai furnitur hidup tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Dan kini, hari ketiga—hari terakhir sebelum mereka berangkat ke Aurelius esok pagi—Valerine menyatakan bahwa fokus pelatihan hari ini adalah “sinkronisasi sihir”.
Apa pun arti istilah itu, Arthur yakin satu hal, itu pasti menyakitkan.
Ia berdiri di tengah lingkaran rune yang sama seperti dua hari sebelumnya, mengenakan pakaian latihan yang telah basah oleh keringat meskipun sesi baru berjalan sepuluh menit. Udara pagi masih dingin, namun tubuhnya sudah terasa panas dan tegang.
Di hadapannya, Valerine berdiri dengan sikap tenang, tampak menyebalkan karena terlihat segar dan sepenuhnya terkendali, meskipun ia juga bangun sejak pukul empat pagi untuk mempersiapkan semuanya.
Di sudut ruangan, Sebastian Thorne duduk dengan secangkir teh di tangan, mengamati dengan ekspresi yang merupakan perpaduan antara simpati tipis dan hiburan yang sama sekali tidak disembunyikan.
“Sebastian,” panggil Arthur tanpa mengalihkan pandangan dari Valerine, “mengapa kau ada di sini?”
Sebastian menyesap tehnya dengan anggun, seolah ia sedang menyaksikan pertunjukan teater.
“Duchess meminta saya hadir untuk mengamati perkembangan Yang Mulia. Dan juga…” Ia berhenti sejenak, senyum tipis terukir di wajahnya.
Arthur melanjutkan datar, “Lebih tepatnya, kau di sini untuk menonton aku disiksa.”
“Itu bisa dibilang benar, Yang Mulia.”
Valerine mengangkat tangan, membungkam keduanya.
“Cukup berbasa-basi. Kita punya enam jam sebelum kau perlu beristirahat untuk perjalanan besok.” Ia menatap Arthur dengan mata perak yang sangat serius. “Hari ini akan lebih intens dari dua hari sebelumnya.”
Arthur mengerang dalam hati.
Lebih intens? Aku hampir mati kemarin dan itu bisa lebih intens lagi?
“Dua hari terakhir fokus pada fisik—membuatmu terbiasa bergerak dengan tubuh yang distabilkan mana,” lanjut Valerine. “Hari ini, kita fokus pada sihir.”
Ia melangkah lebih dekat, menyisakan jarak hanya sejengkal di antara mereka.
“Saat kita terhubung di arena besok, kau akan memiliki akses ke mana-ku. Itu artinya kau bisa—secara teori—menggunakan sihir seperti biasa.”
“Tapi?” Arthur sudah tahu pasti ada ‘tapi’.
“Tapi,” Valerine mengangguk, “jika kau tidak mengendalikannya dengan sempurna, jika kau menarik terlalu banyak mana terlalu cepat, atau jika kau kehilangan kontrol maka—”
Ia menatap Arthur lurus-lurus.
“—umpan baliknya akan melukai kita berdua. Mana Core-mu bisa retak lebih parah. Dan aku, sebagai wadah, akan merasakan serangan balik yang bisa membakar jalur manaku dari dalam.”
Arthur menelan ludah.
“Jadi pada dasarnya, jika aku ceroboh, aku bisa membunuhmu?”
Valerine mengangguk pelan. “Hm, bisa dibilang seperti itu. Itulah sebabnya hari ini kita akan melatih kontrol. Kau perlu belajar bagaimana menggunakan mana-ku tanpa membahayakan kita berdua.”
Ia mengulurkan kedua tangannya dengan telapak terbuka.
“Genggam.”
Arthur meletakkan kedua tangannya di atas tangan Valerine. Jari-jari Valerine melingkar, menggenggam dengan kuat.
“Tutup mata. Fokus pada koneksinya.”
Arthur menurut. Hampir seketika ia kembali merasakan aliran mana biru—sensasi yang kini terasa familiar setelah dua hari terakhir.
“Bagus,” suara Valerine terdengar pelan, membimbing. “Sekarang, perlahan, tarik sedikit mana. Ingat—sedikit saja. Cukup untuk menyalakan api kecil di telapak tanganmu.”
Arthur memusatkan perhatian, menarik seutas benang tipis dari mana biru itu, mengonversinya menjadi ciri khasnya sendiri—api merah—dan—
FWOOSH!
Api menyembur dari telapak tangannya. Bukan kecil, melainkan sebesar bola basket, panasnya begitu intens hingga udara di sekitarnya bergetar.
“TERLALU BANYAK!” teriak Valerine, genggamannya mengerat hingga terasa menyakitkan. “Kurangi! Sekarang!”
Arthur panik. Ia mencoba memutus aliran, tetapi mana sudah mengalir terlalu deras—seperti bendungan yang jebol.
Wajah Valerine mendadak pucat.
Ia bisa merasakan tarikan yang terlalu kuat, menguras mananya jauh lebih cepat dari batas aman. Jika ini berlanjut—
Dengan usaha yang brutal, Valerine memutus koneksi itu.
SNAP.
Api di tangan Arthur padam seketika.
Namun efek sampingnya hampir menguras setengah dari cadangan mana Valerine dalam satu tarikan yang ceroboh.
Valerine hampir terjatuh, tetapi Arthur segera menahan tubuhnya dengan erat.
“Valerine, kau baik-baik saja?” tanyanya, nada suaranya dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah. “Maaf… maaf, aku tidak—aku tidak bermaksud—”
Valerine mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia diam, Valerine menyandarkan kepalanya pada dada Arthur sambil menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan diri.
Wajahnya masih pucat, peluh tipis terlihat di pelipisnya—tanda bahwa pemutusan mendadak itu benar-benar menguras energi.
Sebastian setengah berdiri dari kursinya. Kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya, tetapi Valerine menggeleng pelan—perintah tanpa suara agar ia tidak ikut campur.
Setelah sekitar tiga puluh detik, Valerine menarik napas panjang dan menatap Arthur.
“Kau terlalu agresif,” katanya, suaranya sedikit serak. “Mana-ku bukan sumber tak terbatas yang bisa kau ambil sesukamu. Ada batasnya. Dan jika kau melampaui batas itu, kau akan menguras aku sampai pingsan.”
“Aku minta maaf,” ulang Arthur, rasa bersalah yang tulus terpancar di wajahnya. “Aku tidak tahu bagaimana caranya menahan diri. Biasanya aku punya akses tak terbatas ke mana milikku sendiri. Aku tidak terbiasa harus—”
“Aku tahu.” Valerine meluruskan posturnya, meskipun jelas ia masih terdampak. “Itulah sebabnya kita berlatih.”
Menyadari jarak mereka yang terlalu dekat, Valerine segera memberi ruang. Dengan gerakan tiba-tiba, ia mendorong dada Arthur dengan kedua tangannya.
Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Arthur mundur beberapa langkah.
“Beri jarak,” perintahnya. “Kita coba lagi. Tapi kali ini, kau akan fokus pada kontrol, bukan kekuatan.”
Arthur mengangguk dan kembali mengambil posisi.
Valerine mengangkat satu tangan.
“Kali ini satu tangan saja. Lebih mudah untuk dikendalikan.”
Arthur menggenggam tangan kanan Valerine dengan tangan kirinya—berbeda dari sebelumnya.
Begitu jari-jari mereka bersentuhan, koneksi kembali terjalin.
Mana biru mengalir lagi, halus dan terkendali dari sisi Valerine.
“Fokus pada sensasinya,” instruksi Valerine. “Rasakan alirannya. Jangan menariknya—biarkan ia datang kepadamu. Seperti aliran sungai yang tenang.”
Arthur memaksa dirinya untuk rileks.
Mana biru mengalir dalam arus yang stabil—dingin, teratur, dan kuat.
Dan untuk pertama kalinya, Arthur benar-benar merasakannya.
Bukan sekadar sebagai sumber energi.
Melainkan sebagai… Valerine.
Mana itu adalah manifestasi dari jiwanya. Dan ia dapat merasakan kepribadian di dalamnya.
Kekuatan yang luas, seperti samudra yang membeku. Daya dahsyat tersembunyi di bawah lapisan es yang tenang.
Namun ada sesuatu yang lain.
Kelelahan.
Seutas benang tipis dari keletihan yang terjalin di dalam aliran mana itu.
Arthur membuka mata dan menatap Valerine.
Baru sekarang ia menyadarinya—lingkaran gelap tipis di bawah mata peraknya dan ketegangan halus di bahunya juga cara berdirinya yang sedikit lebih kaku dari biasanya.
“Kau…” gumamnya pelan, melupakan latihan sejenak. “Kau terlihat lelah.”
Valerine tidak mengalihkan pandangan dari tangan mereka yang saling menggenggam.
“Aku tahu,” jawabnya singkat. “Fokus.”
“Valerine, jika ritual ini terlalu—”
“Fokus, Arthur.”
Nada itu tidak menerima bantahan.
Namun Arthur tidak bisa mengabaikan apa yang ia rasakan.
Dua hari menjaga koneksi hampir tiap saat dan menyalurkan mana untuk menstabilkan tubuh Arthur selama berjam-jam latihan brutal. Serta kini latihan kontrol yang menuntut presisi tingkat tinggi—
Sekarang Valerine sedang menguras dirinya sendiri.
Untuknya dan tanpa keluhan sama sekali.
Namun sekarang Arthur bisa merasakan harga yang harus dibayarkan karena ritual ini.
Tanpa sadar—ibu jarinya mulai bergerak.
Dengan gerakan lembut dan perlahan, Arthur mengusap punggung tangan Valerine yang sedang ia genggam.
Bolak-balik dengan irama yang menenangkan.
Valerine membeku.
Matanya melebar, tertuju pada tangan mereka.
Ibu jari Arthur masih bergerak dengan usapan lembut, dan entah bagaimana… terasa penuh perhatian.
Valerine mengangkat pandangan ke wajah Arthur.
Ia mendapati ekspresi Arthur berkerut dalam konsentrasi, jelas sedang berusaha keras mengendalikan aliran mana.
Ia bahkan tidak sadar sedang melakukannya.
Ini… refleks? Atau isyarat penghiburan murni yang muncul tanpa dipikirkan?
Valerine merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Hangat.
Bukan hangat karena mana.
Berhenti, perintahnya pada diri sendiri. Jangan menafsirkan terlalu jauh. Ini hanya—
Namun ibu jari Arthur masih bergerak, dan setiap usapan membuatnya merinding.
“Arthur,” panggilnya, suaranya sedikit lebih lembut dari yang ia maksudkan.
“Hm?” Ia tetap fokus, tidak menatapnya.
“Tanganmu.”
“Apa?” Arthur akhirnya menoleh, kebingungan.
Valerine menunduk, memberi isyarat dengan tatapan ke tangan mereka.
Arthur mengikuti arah pandang itu—dan membeku ketika menyadari ibu jarinya sedang mengusap punggung tangan Valerine.
...***...
🤭🤭