NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesempatan

"Mau minta maaf." Alana berbicara lirih. Bibirnya mengerucut. Tatapannya tampak takut-takut.

"Minta maaf buat apa?"

"Yang tadi."

"Yang tadi apa?"

"Pas aku cium Mas Juna."

Aku refleks menelan ludah. Nggak ada malu-malunya dia mengatakan hal itu.

"Mas Juna beneran marah ya?" Aku diam. Belum menimpali.

"Maafin aku ya, Mas. Aku bukannya mau kurang ajar sama Mas Juna. Juga bukan maksudku melecehan Mas Juna. Tadi aku tuh cuma spontan."

"Spontan? Spontan gimana?" Aku mengernyitkan kening.

"Pas liat bibirnya Mas Juna yang ngegemesin, spontan pengen cium."

Glekkkk....

Aku kembali menelan ludah.

'Gemesin dia bilang?' batinku.

"Maafin aku ya, Mas!" Alana mengulangi kata-kata permintaan maafnya.

"Aku janji, aku nggak akan kayak gitu lagi. Misal mau kayak gitu pun, aku akan izin dulu sama Mas Juna. Baru deh aku akan cium."

"Apa!!!" Aku terkejut.

"Hehehe .... bercanda." Alana terkekeh.

"Aku dimaafin nggak?" tanyanya.

Aku pura-pura menimbang-nimbang permintaan maafnya. Walau sebetulnya aku mana mungkin terus-terusan marah sama dia.

"Oke, Mas maafin. Tapi lain kali bercandanya jangan kelewatan ya!" kataku.

"Oke, Mas Juna Sayang."

"Sayang?" Aku heran dengan panggilan Sayang yang dia sematkan.

"Iya, Sayang. Aku kan sayang sama Mas Juna."

"Hah!" Aku tertegun. Ekspresiku begitu kentara.

"Emang nggak boleh ya, adekk sayang sama kakaknya?"

'Ah, iya. Benar juga ya. Ngapain aku pakek heboh dia manggilku kayak gitu? Bodoh!!!' Aku sibuk merutuk di dalam hati.

Tap ... Tap ... Тар ....

Terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Aku panik. Pasti itu Liliana. Nanti apa kata dia kalau dia memergoki Alana tengah berada di kamar ini bersamaku. Mana aku sedang bertelanjang dada, hanya berbalut handuk.

"Gawat, Alana. Mbakmu udah pulang." Aku mengutarakan kekhawatiranku.

"Emang kenapa kalau dia udah pulang?"

Setttt....

Aku meraih pergelangan tangan Alana.

"Kita harus sembunyi. Dia mau masuk ke kamar ini."

Belum sempat Alana menimpali kata-kataku, aku sudah lebih dulu menggeretnya masuk ke kamar mandi. Kini kami pun berada di ruangan lembab tersebut berdua.

Cekrekkk....

Samar-samar terdengar suara pintu yang dibuka. Benar dugaanku, Liliana masuk ke kamar ini.

"Hmmm.....Hmmm ...." Dia bersenandung.

Sepertinya sedang melepas sepatunya, atau melepas kemeja kerjanya.

Tap ... Tap ... Тар ....

Sepertinya Liliana akan menuju ke kamar mandi. Mungkin untuk kencing, atau mencuci kaki.

"Gawat!!!" Aku kembali panik.

"Ayo kita masuk ke sini!" Aku kembali meraih pergelangan tangan Alana. Kali ini aku mengajaknya masuk ke area bathub. Area yang terhalang oleh tirai sebagai penyekat. Aku dan Alana berdiri di sisi bathub.

Alana kupepet ke tembok, sedang aku berada di hadapannya seolah agar tubuh Alana terhalang oleh tubuhku.

Cekrekkk....

Liliana benar-benar masuk ke kamar mandi. Ia masih bersenandung kecil.

"Kita ngapain bersembunyi sih, Mas_" Alana tiba-tiba berbicara. Meski dengan suara lirih, aku langsung menghentikannya. Aku takut suaranya terdengar Liliana. Maka, semakin kupepet tubuhnya, kubekap bibirnya.

"Ssssttt ...."

Alana mengangguk. Dia patuh, dan langsung mengerti. Sekarang ia sama sekali tak bersuara. Dia hanya menatapku dalam. Dan aku balas menatapnya. Aku melepas bekapanku.

Aku tak mau dia kesakitan karena telapak tanganku. Namun tubuhku masih berposisi seperti semula. Dada dan perutku yang tak berbalut apa-apa menempel ke tubuh Alana. Bahkan sedikit menekan dua pepaya Alana yang menonjol.

Pukkkk....

Tiba-tiba wajah Alana bersandar ke dadaku.

"Kamu ngapain?" Aku bertanya dengan volume suara yang benar-benar lirih. Bahkan hampir tak terdengar.

"Ternyata tubuh Mas Juna anget banget, nyaman."

Mengejutkan, dia melingkarkan tangannya ke tubuhku. Dia memelukku. Aku terlonjak kaget. Aku ceroboh. Aku menimbulkan suara.

"Mas, kamu lagi berendam?" Yang kutakutkan terjadi. Liliana mendengarnya. Liliana tahu aku ada di sini.

"Sial!!!" umpatku pelan. Untung dia sedang sibuk membersikan wajahnya. Jadi aku masih sempat melakukan sesuatu.

Aku cepat-cepat mengarahkan Alana masuk ke dalam bathtub. Aku pun juga. Kehidupkan kran bathup. Air segera menggenangi tempat berendam tersebut. Lalu kutuang sabun cair ke dalamnya. Hingga air penuh dengan busa sabun.

Aku duduk layaknya tengah menikmati air dan busa sabun tersebut. Kemudian, aku menarik tubuh Alana. Aku menyuruhnya untuk duduk di pangkuanku. Punggungnya bersandar di perutku.

"Kamu tahan dulu sebentar ya!" bisikku.

"Iya, Mas."

Aku membenamkan kepala Alana. Kini seluruh tubuhnya masuk ke dalam air.

Krekkk....

Tirai terbuka. Liliana melongok untuk melihatku.

"Hufff... Ternyata benar kamu. Aku kirain hantu, Mas," gumamnya. Aku hanya tersenyum menanggapi.

Krekkkk....

Liliana kembali menutup tirai. Kembali meneruskan kegiatannya yang berjeda. Aku menarik keluar kepala Alana dari dalam air.

"Kamu tak apa-apa?" Aku bertanya lirih. Aku khawatir.

Dia mengangguk sambil menoleh ke arahku.

"Kamu jangan bersuara dulu ya. Mbakmu belum keluar."

Dia kembali mengangguk. Kali ini sambil tersenyum girang. Entah apa yang membuatnya girang. Aku fokus mendengar gerak-gerik Liliana. Sedang Alana, ia tiba-tiba mengganti posisi tubuhnya. Masih duduk di atas pangkuanku, tapi kali ini menghadap ke arahku. Aku bingung apa yang akan dia lakukan.

Pukkkk....

Dia menyandarkan pipi kanannya ke dadaku. Seperti tadi dia memelukku. Aku ingin memrotes, tapi aku tak mau menimbulkan suara gaduh lagi. Aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Akhirnya aku membiarkannya. Setidaknya sampai Liliana keluar dari kamar mandi ini.

Cekrekkk....

Terdengar pintu dibuka dan ditutup. Yang kutunggu-tunggu terjadi, Liliana pergi. Pelan-pelan aku mengintip lewat tirai di sampingku. Benar, Liliana sudah tidak ada di kamar mandi ini.

"Huffff ...." Aku menghela nafas lega.

"Ayo kita keluar dari sini!"

Mendengar ajakanku, Alana tetap tak berganti posisi. Ia masih menyandarkan wajahnya di dadaku, sambil memelukku.

"Entar aja lah, Mas. Lagi enak kayak gini, kok."

Aku mengernyit. Bisa-bisanya dia berkata seperti ini. Cepat-cepat kujauhkan Alana dengan gerakan sedikit memaksa.

"Nanti keburu Mbak kamu balik lagi ke sini." Kuraih pergelangan tangannya. Kugeret dia agar berdiri. Kami keluar dari bathup, dan dari ruangan yang bersekat tirai tersebut.

Aku dan Alana berdiri di depan pintu kamar mandi. Perlahan-lahan aku membukanya. Aku melongok keluar. Di ruangan kamar tak ada Liliana.

"Ayo keluar!" Aku kembali menarik pergelangan tangan Alana. Kami sama-sama keluar dari ruangan kamar mandi.

Aku melangkah ke pintu. Sama seperti yang barusan, aku perlahan membuka pintu itu. Melongok untuk memastikan keadaan. Aku tak melihat Liliana. Mungkin dia sedang di dapur atau di ruangan lain yanng tak terjangkau oleh pandangan mataku saat ini.

"Di luar sudah aman. Kamu keluarlah dari kamar ini," tuturku kepada Alana.

"Oke."

Aku mendorong pundaknya. Mengarahkannya agar segera pergi dari ruangan ini.

"Bye, Mas Juna!!!" pamitnya. Ia masih bertingkah ceria seperti biasa. Sama sekali tak ada ekspresi kepanikan seperti yang aku rasakan sedari tadi.

Setelah Alana keluar, aku menutup pintu rapat-rapat. Aku menghela nafas, mengelus dadaku. Lega. Aku benar-benar lega.

"Kamu dari mana?" Aku samar-samar mendengar suara Liliana. Suara dari luar kamar ini. Sepertinya dia sedang berbicara dengan Alana. Sepertinya mereka berpapasan usai Alana keluar dari sini.

Kutempelkan daun telingaku ke permukaan pintu. Aku menajamkan pendengaran.

"Kenapa bajumu basah semua?" Liliana melontarkan pertanyaan yang membuat kepanikanku kembali menyerang.

"Aku habis mandi. Mandi bareng sama seseorang."

Aku terkejut dengan jawaban Alana.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!