David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.
Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 12) Kelinci kecilku
Ruang makan itu diterangi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu mahoni. Bayangan dua sosok yang duduk berhadapan terpantul samar di permukaan meja yang mengilap.
Di luar, malam sudah merayap menyelimuti halaman rumah besar tersebut dengan kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan cemara.
Di kursi sebelah kiri duduk Laila. Gaun rumah berwarna krem yang dikenakannya tampak sederhana, namun justru membuat wajahnya terlihat pucat.
Rambut panjangnya yang masih sedikit lembap tergerai di punggung. Ujung-ujungnya meneteskan sisa air, membasahi kain tipis yang menempel di kulitnya.
Di seberangnya, David duduk dengan punggung tegak. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung hingga siku. Rambut hitamnya tersisir rapi, garis rahangnya tegas. Tatapannya tenang.
Tak ada percakapan.
Hanya suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu.
Gemericik kecil logam yang terdengar begitu jelas dalam keheningan.
Laila menunduk. Ia memotong daging di piringnya perlahan, terlalu hati-hati. Seolah takut suara potongannya akan terdengar kasar. Ia mengunyah tanpa rasa. Lidahnya hambar. Tenggorokannya terasa kering, sebab pikirannya masih terjebak di kamar mandi tadi.
Kenangan itu membuat pipinya kembali panas.
"Mengapa dia pulang lebih cepat? Bukankah seharusnya satu bulan? Ini bahkan belum masuk minggu ketiga, tetapi ia sudah kembali tanpa pemberitahuan." batin Laila bergaduh.
Laila mau bertanya. Ingin tahu apa yang terjadi. Tapi lidahnya terasa berat. Takut David tersinggung. Atau lebih buruk lagi, marah.
Dari awal pertemuan hingga sekarang, Laila belum pernah mendapati David meninggikan suara. Namun, ketenangan yang kini berada dihadapannya itulah yang membuat Laila gentar. Lantaran ia tak pernah tahu, apa yang sebenarnya bergejolak di balik mata hitam itu.
Sendok di tangan David berhenti bergerak. Ia menatap Laila. Wanita itu tampak tegang dengan bahunya sedikit kaku. Matanya tak pernah benar-benar menatap wajahnya.
David menghela napas panjang.
Suara napas itu terdengar jelas di antara denting sendok.
"Minggu depan," ucapnya membuka obrolan, suaranya rendah namun mantap, "aku berencana mengadakan resepsi pernikahan kita."
Tangan Laila mematung di udara.
Resepsi.
Pernikahan mereka memang sudah berlangsung walau di atas surat kontrak. Tetapi kala mendengar kata resepsi itu, Laila seakan tidak terima bahwa ia telah menjadi istri David Mendoza.
Ia tak dapat melawan. Sehingga Laila pun hanya bisa mengangguk pelan.
"Jadi besok dan hari-hari berikutnya sebelum peresmian, kita mesti melakukan persiapan," lanjut David.
"Baiklah," jawab Laila singkat dan langsung memasukkan makanan ke mulut, mengunyah lebih cepat dari sebelumnya. Seolah dengan makan, ia bisa menghindari percakapan lebih lanjut.
David memperhatikannya. Dan ya, memang ada sesuatu yang berbeda.
Dulu, sebelum Laila mengetahui siapa dirinya sebenarnya, perempuan itu ramah. Senyumnya mudah merekah. Ia berbicara tanpa ragu, bahkan kadang bertingkah konyol.
Namun setelah Laila tahu bahwa David Mendoza bukan sekadar pengusaha biasa, melainkan pewaris tunggal konglomerasi besar yang namanya kerap muncul di berita ekonomi, sekaligus pria dengan reputasi kejam dibalik posisi ketua kartel, sikap wanita itu berubah drastis.
Ia menjadi hati-hati. Menganggap bahwa setiap kata yang keluar harus ditimbang lebih dulu. Seolah David adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Mencerna semua itu David menghela napas lagi, lebih pelan. Lalu, sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
Dengan refleks alami, ia mengambil potongan ayam panggang dari piring saji di tengah meja. Ia meletakkannya di piring Laila.
"Makanlah yang banyak, kelinci kecilku…" ucapnya mengembangkan senyum hangat.
Julukan itu membuat Laila tersentak. Dadanya bergetar pelan. Lantas, ia pun perlahan mengais lauk tersebut dan memasukkannya ke mulut.
David menopang dagunya dengan sebelah tangan, siku bertumpu di meja. Ia memandang Laila dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada geli dan kekaguman yang terselip di sana.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mengambil lauk lain. Menaruhnya lagi di piring Laila.
Wanita itu terdiam sejenak, lalu tetap memakannya.
Dan lagi.
Dan lagi.
David melakukannya berulang-ulang.
Senyumnya semakin lebar setiap kali melihat pipi Laila membulat penuh makanan. Matanya menyipit. Seperti benar-benar sedang menonton seekor kelinci kecil yang tengah makan wortel.
Tanpa sadar, suasana yang tadinya tegang mulai sedikit mencair. Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih ringan.
Laila mulai merasa perutnya penuh. Tapi setiap kali ia hendak berhenti, potongan lauk baru sudah mendarat di piringnya.
Akhirnya, ketika satu potong daging lagi hampir menyentuh piringnya, Laila spontan mengangkat tangan.
"Sudah cukup, Dev… jangan tambah lagi. Aku kenyang," ucapnya dengan pipi menggembung.
Tangannya terangkat di udara, seperti anak kecil yang meminta ampun.
David membeku.
Sendok di tangannya berhenti.
Ia tertegun memandangi Laila, tepat ketika wanita itu menyebut namanya dengan panggilan singkat yang sudah lama tak terdengar.
Bukan David maupunTuan, atau bahkan panggilan formal yang sering Laila gunakan.
Melainkan Dev.
Senyum David melebar perlahan. Ada semburat malu yang tak biasa di wajahnya. Ia menurunkan sendok itu, lalu terkekeh pelan.
"Baiklah, sayang," ucapnya lembut. " "Permintaanmu adalah perintah bagiku."
Deggg.
Jantung Laila mendadak berdebar.
Ia menunduk cepat, pura-pura fokus mengunyah. Namun di balik bulu matanya yang panjang, ada sesuatu yang tersirat.
"Dasar pria aneh," batin Laila.
Malam semakin larut.
Setelah makan selesai, Laila berdiri untuk membereskan meja. Namun David lebih dulu bangkit.
"Biarkan saja. Kan ada pelayan yang mengurus," katanya.
Laila menapak jidatnya, "oh iya."
Ia hampir lupa bahwa rumah ini memiliki banyak pelayan, karena saking gugupnya.
Laila berbalik, berniat pergi. Entah ke kamarnya atau mungkin sekadar ke taman untuk menghirup udara malam. Ia butuh jarak ataupun ruang untuk bernapas sejenak setelah melewati suasana barusan.
Tetapi baru dua langkah ia melangkah, bayangan tinggi David menghalangi jalannya.
Laila membatu. Ia mendongakkan kepala perlahan. Pria itu berdiri begitu dekat. Tingginya menjulang, tubuhnya tegap sempurna dalam balutan kemeja putih yang kini bagian atasnya terbuka satu kancing. Aroma maskulin samar tercium, bercampur wangi kayu dan sedikit mint.
"Mau kemana?" tanya David, alisnya terangkat tipis.
"A-aku…" Laila tercekat. "Aku hanya ingin..."
"Ikut aku."
Hanya dua kata. Tegas. Tidak keras. Namun tak menyisakan ruang untuk penolakan.
Laila menelan ludah. Tak ada pilihan. Ia sontak mengangguk pelan, lalu mengekori David dari belakang.
Langkah kaki David menyusuri lorong panjang rumah itu. Sepatu kulitnya menimbulkan bunyi pelan di atas marmer. Laila mengikuti beberapa langkah di belakang, menjaga jarak. Jantungnya berdetak lebih cepat, bersamaan dengan setiap meter yang mereka tempuh.
Dan mereka ke sana… kamar David.
Setibanya di depan pintu besar berwarna hitam dengan gagang emas mengilap, David berhenti. Ia membuka pintu lebar-lebar, lalu melirik Laila yang berdiri kaku di ambang lorong.
Mata mereka bertemu.
David memainkan ujung matanya, memberi isyarat halus agar Laila masuk lebih dulu.
Laila tersentak. "Oh…" gumamnya pelan, menyadari isyarat itu.
Perlahan, ia melangkahkan kakinya masuk.
Kamar itu luas.
Dominasi warna hitam dan emas menciptakan kesan elegan sekaligus dingin. Tempat tidur king size dengan headboard tinggi berdiri megah di tengah ruangan. Tirai tebal berwarna hitam menjuntai dari langit-langit hingga lantai. Lampu-lampu dinding memancarkan cahaya temaram, menciptakan bayangan dramatis di setiap sudut.
Aroma kayu cendana samar tercium.
"Duduk," ujar David, menunjuk sofa kulit hitam di dekat jendela.
Laila menurut tanpa melawan. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangan terlipat di pangkuan. Seperti murid yang sedang menunggu hukuman.
David memperhatikannya sesaat, lalu berkata, "Tunggu di sini." Ia berbalik dan keluar kamar.
Laila mengerjap.
Ia sendirian.
Perlahan, ia mengedarkan pandangan. Kamar tersebut sangat mencerminkan pemiliknya: rapi, terorganisir, nyaris tanpa cela. Meja kerja besar berdiri di sisi kanan, dengan laptop, beberapa map dokumen, dan pena mahal tersusun simetris.
Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sebuah bingkai foto di atas meja kerja itu.
"Apa itu? Foto keluarga kah?" batinnya.
Samar-samar, ia bisa melihat sosok pria dan wanita muda berdiri di samping seorang anak kecil. Mereka tampak tersenyum.
Laila memusatkan perhatiannya. Sebab sejak tiba di kediaman Mendoza, Laila memang tak pernah melihat satupun foto keluarga David. Rumah ini seperti tidak memiliki masa lalu. Hanya masa kini yang dingin dan terkontrol.
Rasa penasaran menggelitik. "Apa jangan-jangan, itu adalah foto keluarga David?"
Laila hendak berdiri.
Baru saja tubuhnya sedikit terangkat dari sofa, suara hentakan langkah kaki membuatnya tersentak.
David kembali.
Laila cepat-cepat duduk lagi, seolah tertangkap basah melakukan kejahatan besar.
David membawa mangkuk kecil berisi es batu dan selembar kain bersih. Ia berjalan mendekat tanpa banyak bicara. Duduk di samping Laila. Jarak mereka begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
Laila menahan napas.
David memasukkan beberapa potong es batu ke dalam kain itu, lalu menggulungnya dengan telaten.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Laila pelan.
David meliriknya sekilas. "Matamu bengkak."
Laila terdiam.
"Aku minta maaf," lanjut David, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Karena telah membuatmu menangis di kamar mandi tadi."
Deggg.
Jantung Laila bergetar.
"Tolong tutup matamu," pinta David pelan.
Laila dengan patuh memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian, sensasi dingin menyentuh sudut matanya. Ia sedikit tersentak.
"Tenang," bisik David.
Tangannya besar, hangat, kontras dengan dinginnya es. Ia mengompres perlahan, sangat hati-hati, seolah sedang menangani benda paling rapuh di dunia.
Laila bisa merasakan napas David yang dekat. Aroma tubuhnya semakin jelas. Sentuhannya lembut. Tidak kasar atau tergesa-gesa.
Sehingga membuatnya sangat berbeda dari bayangan yang selama ini Laila bangun tentang pria itu.
Tentunya di luar rumah ini, David Mendoza dikenal sebagai ketua kartel paling ditakuti di Sao Paulo. Namanya berbisik seram di dunia bawah tanah. Keputusannya tak pernah ditawar. Musuh-musuhnya menghilang tanpa jejak.
Tetapi pria yang kini duduk di sampingnya, nampak begitu hati-hati dan manusiawi.
"Inikah David Mendoza yang sebenarnya? Atau malah dia sedang membangun citra baiknya untuk menjebak seekor mangsa?" batin Laila, kebingungan.
"Masih sakit?" tanya David pelan.
"Tidak," jawab Laila hampir berbisik.
David memindahkan kompres ke sisi lainnya. Jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit pipi Laila.
Hangat.
Lembut.
Napas David tertahan sesaat.
Dengan mata terpejam, wajah Laila kelihatan lebih tenang. Bulu matanya panjang, melengkung indah. Hidungnya kecil dan lurus. Dan bibir itu… Merah alami. Sedikit terbuka karena ia bernapas pelan.
David meneguk air liurnya, kasar.
Pemandangan itu terlalu menggoda. Ia bisa saja mendekat sedikit lagi. Toh tak ada yang akan berani menghentikannya. Sebab ia adalah suami sah Laila selama setahun kedepan.
Namun sesuatu menahannya.
Rasa hormat, serta kekhawatiran bahwa satu langkah yang salah akan membuat Laila menangis, atau paling fatalnya yakni benci.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Hanya alunan napas mereka yang terdengar.
Akhirnya David menarik kompres itu menjauh. Ia menatap wajah Laila, mengamati dengan seksama.
"Sudah," katanya pelan. "Bengkaknya berkurang."
Laila membuka mata perlahan.
Tatapan mereka bertemu sangat dekat.
Jantung Laila berdebar. Ia bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam David.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
David mengangguk. "Sekarang, kau sudah bisa kembali ke kamarmu."
Nada suara David kembali lebih formal dan terkendali. Seolah momen lembut barusan tidak pernah terjadi.
Laila berdiri cepat. "Iya."
Ia melangkah menuju pintu. Tetapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Dev…" panggilnya pelan.
David menengadah.
"Selamat malam," kata Laila akhirnya melebarkan senyuman. Meski terkesan spontan entah karena bersyukur sudah diobati atau apapun itu, namun kalimat tersebut membuat satu hantaman panah asmara, seolah menusuk dada David.
Deg... Deg... Deg.
"Selamat malam, Laila." Balas David menutupi perasaan senangnya.
Laila hampir berlari kecil meninggalkan kamar itu. Napasnya terasa tak teratur.
"Ada apa denganku? Mengapa aku tiba-tiba bertingkah begitu, sampai mengucapkan selamat malam segala? Akkk, dasar aku..." batin Laila dengan pipi dan telinganya panas.
Sementara di dalam kamar, David masih duduk di sofa.
Ia mendengus pelan.
"Kendalikan dirimu, David," gumamnya.
Ia menyandarkan kepala ke sofa, memejamkan mata.
Bibir Laila tadi terus terbayang. Baik caranya menahan napas maupun ketika menyebut namanya.
David mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayangan itu.
"Lagi lagi, aku kalah... Laila..."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, David Mendoza si pria yang ditakuti satu kota, merasa kalah.
Bukan karena musuh atau senjata.
Melainkan oleh seorang wanita dengan mata bengkak dan hati yang masih takut padanya.
Dan David tahu, jika ingin benar-benar memiliki hati Laila, ia harus menaklukkan satu hal terlebih dahulu.
Yaitu...
Dirinya dan Laila itu sendiri.
"Sepertinya aku harus menjinakkanmu terlebih dahulu, wahai kelinci kecilku..." gumamnya menyeringai.