Kisah cinta Xavier dan Aruna yang harus melewati banyak hal dalam rumah tangga mereka. Xavier adalah tipe suami posesif. sedangkan Aruna adalah istri cuek. sehingga beda sifat mereka kadang membuat mereka berselisih dan berseteru.
Namun hal itu tak membuat cinta keduanya luntur dan menghilang begitu saja. Malah hal itu membuat mereka menjadi semakin saling mencintai.
namun di balik kebahagiaan mereka ternyata ada orang yang ingin memisahkan keduanya. mampukan mereka melewati badai besar dalam rumah tangganya? dan siapakah orang itu....ikuti terus kisah cinta mereka berdua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier-Aruna 11
"Bu Merlyn, Bu Nadia dan Bu Anggi anda di tunggu di ruangan HRD," ujar resepsionis saat mereka baru tiba di kantor Hananta satu jam setelah lewat jam makan siang karena harus membawa Merlyn ke rumah sakit.
"Loh ada apa ya?" tanya Anggi kaget sekaligus takut.
"Maaf Saya sendiri juga kurang tahu, hanya saja beliau meminta anda semua untuk segera datang ke ruangannya setelah," jawab resepsionis.
"Apa karena kita telat datang ya? Padahal kita sudah izin atasan kalau ke rumah sakit dulu?" tanya Nadia.
"Selamat siang Pak Xavier ..." sapa orang-orang saat melihat Xavier Barus aja datang ke kantor.
Xavier hanya mengangguk pelan melewati mereka semua termasuk Merlyn dan kedua temannya. Seolah keberadaan mereka tidak pernah dilihat oleh Xavier.
"Astaga, wangi banget!" celetuk Anggi membuat Merlyn menatapnya tajam.
"Ayo kita ke ruangan HRD, sepertinya kita mendapat teguran karena datang terlambat!" ujar Nadia yang bisa merasakan ketegangan diantara kedua temannya.
Mereka bertiga menuju ruangan HRD dengan perasaan yang tak karuan. Karena mereka tidak tahu apa salahnya hingga harus dipanggil ke ruangan ini. Ruangan yang biasa mereka datangi untuk memperbaharui kontrak kerja. Tapi sekarang entah ada apa mereka di panggil ke sana.
"Maaf Pak, apa anda memanggil kami?", tanya Merlyn saat masuk ke dalam ruangan HRD.
"Silahkan duduk!" jawabnya dingin dan terlihat seperti menahan amarah kepada mereka bertiga.
Ketiganya duduk dengan perasan campur aduk. Rasanya kursi empuk yang mereka duduki berubah menjadi kursi yang berisikan jarum. Rasanya seperti di tu-/suk dan tidak nyaman untuk duduk di sana. Mereka ingin segera pergi dan meninggalkan tempat itu.
"Ini surat pemecatan kalian secara tidak hormat. Pemecatan kalian di minta langsung oleh Pak Xavier. Sebenarnya kesalahan fatal apa yang sudah membuat Pak Xavier marah kepada kalian hingga membuat kalian harus dipecat secara tidak hormat seperti ini?"tanya Pria bernama Pak Agam.
"Apa? Bagaimana mungkin kami dipecat secara tidak hormat seperti ini, Pak? Kami tidak merasa melakukan kesalahan apapun kepada Pak Xavier. Maaf kami menolak untuk di berhentikan secara tak hormat seperti ini. Kecuali kalau kami melakukan kesalahan saat bekerja!" tolak Merlyn.
"Terserah anda mau bicara apa. Namun yang jelas sepertinya kalian sudah melakukan kesalahan fatal yang membuat Pak Xavier marah dan memutuskan kontrak kalian. Kalau kalian mau tetap bekerja juga tak masalah, namun kalian tak akan mendapat gaji. Karena status kelakuan sudah berhenti di sini," jelas Pak Agam membaut Merlyn mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Apa mungkin karena wanita tadi melapor kepada Pak Xavier? Bagaimana kalau wanita itu memang benar adalah istri Pak Xavier?" bisik Nadia yang sudah menangis karena di pecat begitupun dengan Anggi yang sudah menangis sesegukan.
"Pak Xavier Memeng sudah menikah dengan Bu Aruna. Apa kalian tidak tahu? Jangan bilang kalau kalian melakukan kesalahan dengan menyakiti hati Bu Aruna. Kalian sudah melakukan kesalahan besar. Bu Aruna bukan hanya disayangi oleh Pak Xavier. Melainkan dia juga sangat disayangi oleh Pak Devan dan juga Bu Violet. Sebaikalnya kalian minta maaf kepada Pak Xavier atau Bu Aruna. Semoga saja dia berbaik hati dan mengurungkan pemecatan kalian ini," ujar Pak Agam membuat mereka bertiga saling pandang.
Ternyata benar, wanita yang Merlyn ancam di restoran adalah istri dari Xavier. Kenapa mereka tak percaya dengan ucapan dia dan malah percaya ucapan Merlyn. Sehingga mereka juga harus mendapatkan imbasnya dengan dipecat seperti ini.
"Di mana saya bisa bertemu dengan Bu Aruna?" tanya Merlyn.
"Bu Aruna pemilik perusahaan Runa'z. Kalian bisa datang ke sana," jawab Pak Agam semakin membuat mereka tak percaya.
"Ternyata Bu Aruna pemilik perusahaan baru yang sedang naik daun itu?" kaget Nadia, Pak Agam mengangguk.
",Silahkan pergi dan bawa surat pemecatan tidak hormat ini. jika kalian sudah meminta maaf kepada keduanya, semoga saja Pak Xavier berubah pikiran dan kembali mencabut surat ini. Lain kali jangan suka menghina orang lain, karena kita tidak tahu siapa sebenarnya orang yang kita hina itu. Belum tentu dia lebih rendah dari kita. Bisa saja dia adalah orang yang berkali-kali lipat jauh lebih baik dari kalian yang menghinanya. Lain kali jaga mulut dan perbuatan kalian," ujar Pak Agam.
Ketiganya keluar dengan wajah murung, sedangkan Anggi tak berhenti menangis. Nadia juga kembali terisak saat melihat surat pemecatan mereka.
"Kalau aku di pecat mau kerja di mana? Untuk bisa bekerja di sini saja aku harus bekerja keras bersaing dengan banyak orang. Sedangkan sekarang aku menyia-nyiakan semuanya dan dipecat dengan tidak hormat seperti ini. Bagaimana dengan ibuku? Adikku? Dari mana aku bisa mendapatkan biaya untuk kebutuhan mereka?" rengek Anggi kembali tergugu.
"Kamu hanya staf, sedangkan Aku sudah berada di titik menajdi wakil manager di sini sangat sulit dan berat. Aku tak terima dengan pemecatan sepihak ini! Aku akan minta Pak Xavier menarik keputusannya! Ini tak adil, aku yang terluka tapi aku juga yang harus menanggung akibatnya dipecat seperti ini! sedangkan wanita itu tak kenapa-napa!" geram Merlyn kesal.
Dengan susah payah selama dua tahun terakhir dia mengajar karir di perusahaan Hananta. Hanya untuk bisa dilirik oleh Xavier. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu dia diangkat menjadi wakil manajer. Selama itu memang mereka belum pernah bertemu di kantor secara langsung untuk meeting atau apapun. Sehingga Xavier tak pernah mengetahui keberadaan Merlyn. Tadi saja saat menghubungi Pak Agam, Xavier sedikit bingung.
"Kamu seriusan mau datang ke ruangan Pak Xavier? Jangan sampai kamu malah membuat ulah lagi dan posisi kita menjadi sulit. Jaga emosimu! karena kamu pasti akan sangat emosional! Kita kesana minta maaf dan jangan banyak bicara apapun lain selain minta maaf!" cegah Nadia menarik tangan Merlyn.
"Iya, kita akan meminta maaf dan Xavier harus melihat jika yang terluka bukan wanita itu. Melainkan aku! Aku harus menunjukkan Jiak wanita itu tak lebih dari seorang yang jahat dan pintar memutar balikkan fakta kepada Pak Xavier!" jawab Merlyn sambil menunjuk luka di pipi dan tangannya.
Dia akan menggunakan luka yang di buat oleh Aruna sebagai alasan meminta Xavier untuk membatalkan keputusannya memecat mereka secara tidak hormat. Mana rela dia melepaskan jabatan wakil manager dengan segala fasilitas yang baru dia rasakan dua bulan ini. Fasilitas yang di berikan dari Perusahaan Hananta memang tidak kaleng-kaleng. Sehingga dia tak rela kehilangan semua itu. Apalagi hanya karena wanita yang katanya istri Xavier.
"Akan aku buktikan kalau kamu kalah Aruna! Aku akan mengatakan jika lu-ka yang aku dapatkan Ini semua karena kamu! Dan setelahnya kamu tak akan lagi di percaya oleh Xavier. Aku yang akan menggantikan posisimu dengan segera! Apalagi aku di sini merupakan salah satu karyawan kebanggaan Perusahaan Hananta!" ucap Merlyn memuji dirinya sendiri dan berharap semua yang Kana dia katakan akan di percaya oleh Xavier. Memang the real cari perkara dengan orang yang salah.
awas az s danar berulah n mulai culas n tamak harta
ini mah harus baca ulang dari awal
thanks teh 💪