persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Tentang Bangku Kosong dan Aroma Rahasia di Perpustakaan
Jumat pagi biasanya datang dengan aroma kebebasan, tapi bagi saya, Jumat kali ini datang dengan aroma kecemasan yang dibungkus rapi dalam seragam sekolah yang sedikit kusut. Saya sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Bukan karena ingin rajin, tapi karena saya tidak mau berpapasan dengan motor sport merah itu di gerbang sekolah. Saya ingin menjadi Bumi yang sulit ditemukan hari ini.
Si Kumbang saya parkir di tempat yang paling tersembunyi, di bawah pohon kamboja tua yang bunganya sering jatuh ke jok motor saya. Saya berjalan menuju kelas dengan langkah yang saya buat seringan mungkin. Di koridor, saya melihat bayangan saya sendiri yang memanjang di lantai, tampak kesepian, tapi setidaknya bayangan itu tidak pernah berbohong soal perasaannya.
Saat masuk kelas, ternyata baru ada dua orang: Togar yang sedang asyik tidur dengan kepala di atas meja, dan Dara yang—seperti biasa—sudah sibuk dengan buku-buku tebalnya. Saya duduk di bangku saya, mengeluarkan buku paket Bahasa Indonesia yang tebalnya sudah mirip bantal, lalu mencoba fokus pada tugas analisis novel yang tertunda semalam.
Baru lima menit saya mencoba memahami alur cerita novel Siti Nurbaya, sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Itu Kayla. Dia masuk dengan nafas yang sedikit tidak beraturan, wajahnya tampak cemas. Dia langsung menuju meja saya tanpa sempat menaruh tasnya di bangku sendiri.
Bumi! Kamu beneran tidak apa-apa? tanya Kayla sambil memegang kening saya dengan punggung tangannya. Tangan itu dingin, kena sisa embun pagi.
Saya tidak apa-apa, Kay. Cuma kurang tidur saja, jawab saya sambil pelan-pelan menyingkirkan tangannya. Saya tidak mau jantung saya meledak hanya karena sentuhan sederhana itu.
Semalam aku mau ke rumahmu, tapi Ibu melarang karena sudah terlalu malam. Katanya kalau kamu sakit perut jangan diganggu dulu, biar bisa istirahat, Kayla bicara dengan nada cepat, ada nada khawatir yang jujur di suaranya. Maaf ya, Mi. Aku beneran merasa bersalah soal semalam. Rapat madingnya beneran tidak tahu waktu.
Saya menatap matanya. Mata itu masih sama, jernih dan penuh cahaya. Tapi di balik cahaya itu, saya melihat ada bayangan Arkan yang mulai menetap di sana.
Tidak usah minta maaf, Kay. Mading itu penting buat kamu. Saya ini kan cuma teman, masa saya harus marah karena kamu mengerjakan hal yang kamu suka? kata saya. Kalimat itu terdengar sangat dewasa di luar, tapi di dalam, saya sedang mencibir diri sendiri karena kepalsuan itu.
Kayla duduk di kursi di depan saya, menghadap ke arah saya. Tapi kamu bukan cuma teman, Bumi. Kamu itu... ya kamu. Kita sudah janji mau kerjain tugas Bu Ratna sama-sama, kan?
Iya, makanya sekarang kita kerjain. Mumpung kelas masih sepi, kata saya sambil menyodorkan buku catatan.
Kami mulai berdiskusi. Kayla menulis poin-poin analisis, sementara saya membacakan bagian-bagian penting dari novel. Untuk beberapa saat, suasana terasa seperti dulu lagi. Tidak ada Arkan, tidak ada mading, tidak ada motor sport merah. Hanya ada saya, Kayla, dan debu-debu yang menari di bawah sinar matahari pagi.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Pintu kelas terbuka kembali, dan Arkan masuk dengan gaya yang—seperti biasa—terlalu sempurna untuk ukuran seorang siswa yang baru bangun tidur. Dia langsung melihat ke arah kami.
Pagi, Kay! Pagi, Bumi! sapa Arkan. Dia menghampiri meja kami. Wah, rajin banget nih, pagi-pagi sudah ngerjain tugas.
Pagi, Arkan, jawab Kayla dengan senyum yang mendadak muncul secara otomatis. Iya nih, mumpung belum banyak orang.
Arkan berdiri di samping Kayla, tangan satunya masuk ke saku celana, terlihat sangat santai. Kay, nanti pas istirahat bisa ke ruang mading sebentar? Ada surat dari percetakan yang harus kita tanda tangani.
Kayla menoleh ke arah saya, lalu kembali ke Arkan. Tapi aku lagi ngerjain tugas sama Bumi, Kan. Sedikit lagi selesai kok.
Cuma sepuluh menit, Kay. Habis itu kamu bisa balik lagi ke sini. Penting banget, soalnya orang percetakannya nungguin di depan, Arkan sedikit mendesak.
Saya melihat perdebatan di mata Kayla. Saya menutup buku novel saya dengan suara yang sedikit keras. Pergi saja, Kay. Daripada nanti madingnya terhambat cuma gara-gara tugas ini. Saya bisa lanjutin sendiri dulu bagian latar belakangnya.
Bumi... Kayla menatap saya dengan raut tidak enak hati.
Sudah, pergi saja. Sana, kata saya sambil mulai menulis kembali, pura-pura sangat sibuk sehingga tidak perlu melihat mereka keluar kelas bersama-sama.
Setelah mereka pergi, saya melempar pulpen saya ke atas meja. Saya merasa seperti sebuah naskah yang hanya dibaca saat naskah utamanya hilang. Saya merasa seperti bangku kosong yang hanya diduduki saat orang tidak punya tempat lain untuk pergi.
Jangan terlalu sering memberi izin untuk ditinggalkan, Bumi. Nanti orang akan terbiasa melakukannya, suara Dara tiba-tiba terdengar.
Saya menoleh. Dara masih menatap bukunya, tapi saya tahu dia sedang bicara pada saya.
Maksud kamu apa, Dara?
Maksud saya, kamu terlalu baik. Dan di dunia ini, orang baik itu sering dianggap sebagai orang yang tidak punya perasaan, jadi orang lain merasa bebas untuk menyakitinya berulang kali, kata Dara. Dia lalu menutup bukunya dan berdiri, berjalan menuju meja saya.
Kamu mau tahu kenapa saya memberikan buku astronomi itu? tanya Dara.
Karena kamu ingin saya tahu kalau saya ini cuma titik kecil?
Bukan. Supaya kamu tahu bahwa di alam semesta ini, tidak ada satu pun planet yang bisa bertahan tanpa memiliki porosnya sendiri. Kalau porosmu adalah orang lain, maka saat orang itu bergerak, kamu akan hancur. Jadilah porosmu sendiri, Bumi.
Dara meletakkan sebuah cokelat batang kecil di atas meja saya, lalu pergi keluar kelas. Saya menatap cokelat itu, lalu menatap pintu kelas yang kosong. Kata-kata Dara rasanya seperti air es yang disiramkan ke kepala saya di pagi hari. Dingin, mengejutkan, tapi menyadarkan.
Pelajaran dimulai, tapi pikiran saya tidak ada di sana. Saya melihat Kayla masuk kembali ke kelas sepuluh menit kemudian, tapi dia tidak duduk di sebelah saya lagi karena Bu Ratna sudah masuk dan memulai pelajaran Sejarah. Sepanjang jam pelajaran, saya melihat Kayla sesekali menoleh ke arah Arkan di barisan sebelah, dan Arkan membalasnya dengan senyuman kecil atau anggukan kepala.
Saya merasa ada sebuah benang yang sedang ditarik dari dua arah yang berbeda. Satu arah adalah masa lalu kami yang penuh dengan kenangan manis, dan satu arah lagi adalah masa depan yang sepertinya sedang ditulis oleh Arkan. Dan saya, saya hanya bisa diam melihat benang itu semakin tipis dan hampir putus.
Saat bel istirahat berbunyi, saya tidak menunggu Kayla. Saya langsung berdiri, mengambil tas, dan keluar kelas. Saya tidak pergi ke kantin. Saya pergi ke atap sekolah, sebuah tempat yang jarang didatangi siswa karena panas dan banyak debu. Di sana, saya bisa melihat pemandangan kota Bandung dari ketinggian.
Saya mengeluarkan ponsel, lalu mengetik sebuah pesan di grup WhatsApp kelas yang isinya cuma pemberitahuan tugas. Saya tidak mengirim pesan ke Kayla. Saya ingin melihat, berapa lama dia akan menyadari kalau saya hilang.
Angin di atap sekolah ini terasa jujur. Dia bertiup tanpa peduli siapa yang dia tabrak. Saya duduk di tepi beton, membiarkan kaki saya berayun di udara. Saya teringat kata-kata Ayah, bahwa menjadi Bumi itu harus kuat menampung beban. Tapi hari ini, saya ingin berhenti sejenak menjadi Bumi. Saya ingin menjadi angin, yang bisa pergi ke mana saja tanpa harus terikat pada satu tempat.
Satu jam saya di sana, sendirian. Ponsel saya tidak bergetar sama sekali. Tidak ada pesan dari Kayla. Mungkin dia sedang sibuk merayakan keberhasilan tanda tangan surat percetakan itu. Mungkin dia sedang tertawa mendengar cerita golf Arkan yang lainnya.
Saya tersenyum pahit. Ternyata benar kata Dara, saya terlalu sering memberi izin untuk ditinggalkan sampai orang-orang lupa kalau saya juga butuh diajak untuk tetap tinggal.
Saat saya baru mau turun, sebuah pesan masuk.
Dari Dara: Kamu di atap? Jangan loncat. Nanti saya susah cari teman diskusi yang aneh.
Saya tertawa kecil. Dara ini sepertinya punya bakat jadi detektif. Saya mengetik balasan: Saya tidak akan loncat. Saya cuma lagi cari poros saya yang hilang.
Saya turun dari atap dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa memaksa Kayla untuk tetap melihat saya sebagai pusat dunianya. Tapi saya bisa memaksa diri saya untuk berhenti menjadikan Kayla sebagai satu-satunya alasan saya untuk tetap berputar.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa mencintai seseorang itu adalah urusan hati, tapi menjaga harga diri adalah urusan kewarasan. Saya akan tetap menjadi teman bagi Kayla, tapi saya tidak akan lagi menjadi teman yang bisa ditinggalkan kapan saja hanya untuk kepentingan orang lain.
Malam itu, di kamar, saya tidak menulis puisi tentang Kayla. Saya membuka buku astronomi dari Dara dan mulai membaca tentang Galaksi Andromeda yang sedang bergerak mendekati Bimasakti. Jutaan tahun lagi mereka akan bertabrakan. Tapi itu masih lama. Dan saya masih punya banyak waktu untuk memperbaiki poros saya sendiri sebelum badai yang sebenarnya datang.